How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0070. La sincérité de l'empereur Kwang Sun (Ketulusan hati Kaisar Kwang Sun)



0070. La sincérité de l'empereur Kwang Sun (Ketulusan hati Kaisar Kwang Sun)


“Kamu suka dengan hadiah yang aku kirimkan?”


Itu adalah kalimat pembuka pada obrolan sepasang anak manusia yang tengah menikmati waktu makan siang di pinggir danau dekat paviliun Yeowang-ui bang. Hanya mereka berdua yang duduk di tempat tersebut, menikmati indahnya alam sekitar sembari mengobrol ringan. Sedangkan para pelayan diminta menunggu agak jauh dari bangun terbuka yang menjadi tempat mereka berdua bicara.


“Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia Kaisar. Kedepannya, Yang Mulia tidak perlu repot-repot lagi.”


Kaisar Astoria itu tersenyum ketika mendengar balasan dari lawan bicaranya. Tanpa diminta pun, ia tidak akan berhenti untuk menghadiahi berbagai hal pada cinta pertamanya itu. “Jangan menolak pemberian ku, Kayena. Aku tidak suka ketika kamu menolak pemberian ku.”


“Maaf jika penolakan saya telah melukai perasaan Yang Mulia Kaisar. Akan tetapi, saya hanya tamu yang singgah sementara di Astoria. Tolong perlakukan saya semestinya saja.”


“Aku sudah menunggu kedatangan mu cukup lama,” balas sang Kaisar. “Menetap atau tidaknya kamu di Astoria, setidaknya kamu pernah menginjakkan kaki di tanah ini. Jadi, aku ingin memberikan yang terbaik untuk mu.”


Wanita cantik yang duduk di seberang meja, tepat di hadapannya hanya bisa terdiam dengan pandangan tertuju pada cangkir keramik putih yang berisi seduhan teh bunga sakura, lengkap dengan kelopak bunga berwarna merah jambu itu di dalamnya. Di sampingnya, terhidang kue beras merah khas Astoria serta momiji sisa Kayena nikmati. Momiji sendiri adalah olahan khas negeri Sakura yang berbahan dasar daun maple. Iya, daun maple yang diolah menjadi camilan renyah bernama momiji tempura.




Momiji artinya maple, sedangkan momiji tempura adalah camilan renyah yang dibuat dari daun maple berbalut tepung, kemudian digoreng hingga renyah. Konon katanya, momiji tempura sudah ada sejak 1.300 tahun yang lalu. Bahan untuk membuat momiji sendiri juga cukup sederhana, terdiri dari tepung, wijen, gula, serta bintang utamanya, yaitu daun maple.


Ketika musim gugur telah datang, ditandai dengan daun-daun maple berubah menjadi merah, orang-orang bukan hanya berkumpul untuk menikmati keindahannya, tetapi juga menciptakan hidangan yang lezat. Seperti ketika bunga sakura bermekaran di musim semi, sebagian besar orang akan berkumpul dan piknik bersama keluarga di bawah pohon sakura sembari menikmati keindahan bunga sakura. Sebagian lagi akan membuat makanan lezat dan unik berbahan dasar bunga sakura.


“Jika kamu merasa tidak nyaman tinggal di Yeowang-ui bang, bagaimana jika kamu mempertimbangkan untuk tinggal di keulaun peulinseseu kaeseul—puri Putri Mahkota? Di sana tempatnya luas, lebih dekat dengan taman istana, kemudian berhadapan langsung dengan kediaman lama ku, yaitu paviliun Putra Mahkota.”


Kayena mendongkrak tanpa mengurangi rasa hormat. “Apakah saya tidak bisa tinggal di luar istana, Yang Mulia?” tanyanya, hati-hati.


“Tidak boleh.”


Kayena terdiam ketika mendengar Kaisar Kwang Sun menjawab secepat kilat dengan satu kalimat. “Kenapa, Yang Mulia? saya rasa tinggal di luar istana bukan ide yang terlalu buru. Justru jika saya terlalu lama tinggal di istana, takutnya menimbulkan kesalahpahaman.”


“Tidak perlu takut dengan pandangan publik, Kayena. Kamu lebih aman tinggal di istana bersama ku,” sahut Kisar Kwang Sun. “Aku juga ingin meminta maaf, karena mungkin selama kamu tinggal di sini, makanan yang disajikan oleh dapur istana berbeda dengan selera mu. Cukup sulit untuk mendapatkan tepung gandum atau gandum utuh dengan kualitas terbaik untuk membuat roti, sehingga kami mengandalkan ketan untuk membuat kue-kue tradisional.”


Kayena menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. “Anda tidak perlu meminta maaf, Yang Mulia Kaisar. Karena saya tidak pernah merasa keberatan dengan makanan yang telah disajikan untuk saya,” ungkapnya, jujur. Kayena memang tidak pemilih soal makanan, karena ia bisa mengisi perut hanya dengan beberapa butir anggur dan secangkir teh, atau dengan selembar roti gandum dengan selai, ditambah susu.


“Saya justru merasa senang, karena bisa mencicipi beragam menu olahan yang inovatif. Mulai dari berbagai jenis kudapan manis yang terbuat dari tepung ketan, sampai beragam jenis olahan lain yang terbuat dari buah dan sayur langka, sampai olahan dari edible flower.”


“Edible flower?”


Kayena menganggukkan kepala. “Benar, Yang Mulia Kaisar. Edible flower adalah sebutan untuk bunga yang bisa dimakan, seperti bunga sakura yang dapat dijadikan berbagai olahan,” jelasnya seraya mengangkat cangkir keramik berisi teh bunga sakura miliknya. “Astoria sangat kaya. Makanan di negeri ini juga sangat beragam, serta dihasilkan dari tangan-tangan yang kreatif dan inovatif.”


Kaisar Kwang Sun ikut tersenyum mendengar penjabaran Kayena. Ia akui jika rakyatnya memang kreatif dan inovatif, karena seperti negeri di daratan Asia lainnya, rakyat Astoria hidup dengan mengandalkan hasil dari sumber daya alam yang melimpah ruah. “Jadi, kamu suka tinggal di Astoria?”


“Suka, Yang Mulia Kaisar.”


Ada rasa senang yang semakin berkembang di hati sang Kaisar, mendengar cinta pertamanya itu suka tinggal di tanah airnya. “Lalu bagaimana dengan tawaran yang diberikan Nenekku. Sudah kah kamu pertimbangkan?”


Kayena kontan terdiam. Terkait tawaran tersebut, sejatinya sudah ia pertimbangkan matang-matang. Namun, masih saja sukar untuk menentukan pilihan. Yang lebih sukar lagi adalah bagaimana baiknya menyampaikan apa yang telah menjadi pilihannya. Namun, mau sampai kapan pun, permasalahan ini tidak akan selesai jika ia tidak tegas dalam menyampaikan pilihan.


“Sudah,” jawab Kayena dengan lirih. “Pilihan saya mungkin akan membuat Yang Mulia Kaisar terkejut. Akan tetapi, semua ini saya ambil demi kebaikan banyak orang.” Dengan lirih, ia kemudian mengelus permukaan perutnya yang masih datar. Di dalam sama tengah bersemayam mahluk tak berdosa yang berasal dari “benih” seorang pria yang memiliki perilaku layaknya Raja Tiran.


Kendati demikian, Raja Tiran itu lah yang pernah membuat Kayena kecil mengenal apa yang namanya cinta. Raja Tiran itu pula lah yang mengenalkan impian untuk menjadi pendamping Matahari Kekaisaran yang namanya akan dikenal di seluruh pelosok negeri. Dan sekarang, Raja Tiran itu pula yang telah membuatnya kehilangan respek terhadap perasaan cinta yang dimiliknya. Namun, Tuhan itu Maha Adil dan Mengerti.


Setelah melewati kehidupan pertama yang suram, Kayena diberi kesempatan untuk mengulang kehidupan agar bisa terbebas dari cinta pertamanya yang toxic dan red fleg—berbahaya, dan menyebalkan. Pada kehidupan kali ini ia bahkan menyadari banyak hal, salah satunya adalah perasaan tulus yang dimiliki oleh sosok yang sejak dulu sudah ada di dekatnya. Membersamai tumbuh kembangnya tanpa banyak kata. Namun, sosoknya selalu ada dalam setiap momen langka.


Kayena kembali fokus menatap lawan bicaranya yang tiba-tiba mengucapkan selamat. Kira-kira selamat yang diucapkan oleh Kaisar berhati tulus itu untuk apa?


“Selamat karena kamu akan segera menjadi Ibu.”


Terdiam. Itulah yang Kayena lakukan ketika Kaisar Kwang Sun melontarkan kalimat demikian. Entah dari mana pria itu tahu jika saat ini Kayena tengah berbadan dua. Apa … tabib yang membantu memeriksa kandungannya yang memberi tahu? Mungkin iya. Mengingat orang-orang yang tinggal di istana punya kewajiban kepada sang Kaisar. Salah satunya adalah menyampaikan informasi yang sekiranya berarti bagi Kaisar.


Dengan segera Kayena menormalkan ekspresinya. “Terima kasih, Yang Mulia Kaisar.” Ada senyum tipis yang tersungging di bibir. Ia sempat tak menyangka jika ucapan selamat yang diberikan sang Kaisar adalah untuk kehamilannya. “Anda adalah orang pertama di luar lingkup keluarga yang mengucapkan selamat kepada saya.”


Orang pertama yang mengucapkan selamat tentu saja Kima. Pelayan muda yang tahu lebih awal itu mengucapkan selamat seraya menangis haru, dikarenakan ia merasa bersalah, sempat menyembunyikan kabar bahagia tersebut. Orang kedua adalah kakak sulungnya, Khayansar yang ternyata sudah tahu kabar bahagia itu terlebih dahulu. Orang ketiga adalah orang-orang yang datang bersamanya. Sedangkan dari ruang lingkup non-keluarga, Kaisar Kwang Sun adalah orang pertama yang mengucapkan selamat padanya.


Kayena tentu saja merasa senang. Ia merasa kehamilannya diterima, sekaligus diberi dukungan moril.


.


“Aku tersanjung, karena menjadi orang luar pertama yang mengucapkan selamat kepada mu.”


“Justru saya yang merasa tersanjung, karena mendapatkan ucapan selamat dari Yang Mulia Kaisar.”


Pria rupawan dengan kharisma luar biasa itu kembali tersenyum hangat dengan tatapan tak lepas dari Kayena. Ada pujangga yang pernah berkata bahwa seorang pria hanya jatuh cinta satu kali dalam hidupnya. Sisanya, hanya keharusan untuk melanjutkan hidup. Jika ditelaah dengan baik, maksud dari ucapan tersebut adalah seorang pria hanya akan jatuh cinta satu kali. Sedangkan ketika ia tidak dapat memiliki cinta tersebut, namun ia tetap bisa membuka hati untuk wanita lain, semua itu bentuk dari keharusan untuk melanjutkan hidup serta melanjutkan keturunan.


“Hari ini aku memiliki waktu luang sekitar dua jam ke depan . Mau jalan-jalan di sekitar Yeowang-ui bang?”tanya Kaisar Kwang Sun, tiba-tiba. “Sebenarnya aku ingin mengajak mu pergi berkeliling ibu kota menaiki kuda. Namun, mengingat kondisi kamu saat ini tengah mengandung, niat itu harus diurungkan,” lanjut Kaisar Kwang Sun seraya menatap ke arah luar gerbang istana, di mana ibu kota Astoria terletak. “Lebih baik kita jalan-jalan di sekitar Yeowang-ui bang. Wanita yang tengah hamil muda tidak boleh terlalu letih, bukan? Jadi, ayo kita jalan-jalan, kemudian makan camilan dingin di dapur istana.”


Kayena tersentuh dengan setiap ketulusan yang pria itu torehkan pada kalimatnya. Love language Kaisar Kwang Sun pasti word of affirmation, giving gifs, dan acts of service. Mengingat ia adalah tipikal pria yang senang mengapresiasikan perasaan dengan kata-kata sayang, memberi semangat, dan sebagainya. Ia juga kerap menunjukkan rasa sayangnya dengan cara memberikan hadiah atau kejutan. Terakhir, ia juga senang sekali memberi pelayanan, seperti menawarkan bantuan, membantu sesuatu, dan sebagainya.


“Di atas sana ada kuil Dewi Air. Setelah melewati anak tangga ini, kita akan sampai ke kuil yang sudah berdiri semenjak seribu dua ratus tahun yang lalu.”


Layaknya tour guide, Kaisar Kwang Sun menyertakan penjelasan pada setiap tempat-tempat ikonik yang mereka singgahi atau lewati. Di belakang mereka terbentang jarak sekitar dua sampai empat meter, menjadi pemisah antara mereka dan para pelayan, termasuk Kima dan pengawal yang dikirim Khayansar untuk menjaga adiknya.


“Lain kali aku akan membawa mu mengunjungi kuil Dewi Air. Sekarang kita lanjut ke tempat lain yang tidak kalah menarik.”


Kayena mengangguk patuh. Ia tidak banyak tanya, kecuali jika ada yang membuatnya penasaran. Di sepanjang jalan, Kaisar Kwang Sun tak segan untuk terus menjelaskan. Para pelayan atau penghuni lain yang berpapasan dengan rombongan Kaisar juga langsung menunduk hormat. Kayena sempat merasa canggung, karena pria nomer satu di Astoria itu terlalu jelas mengumbar kedekatan mereka. Bahkan beberapa ia tak segan meraih tangan Kayena, guna memastikan bahwa wanita yang tengah hamil muda itu tetap berada dalam jangkauan.


Sampai ketika mereka tidak sengaja bertemu dengan rombongan pelayan yang mengikuti wanita nomer satu di Astoria, yaitu nenek Kaisar Kwang Sun,. Wanita tua itu juga tampak ditemani oleh dua wanita muda yang menunduk hormat ketika berhadapan dengan Kaisar Kwang Sun yang setia berdiri di sisi Kayena.


“Kaisar?” sapa sang nenek. “Kasim Kwon bilang Yang Mulia Kaisar sedang ada kegiatan penting. Lantas, Sekarang sedang apa Kaisar di sini?”


“Nenek,” panggil Kaisar Kwang Sun ketika wanita tuan itu sudah berdiri di hadapannya. “Sebagian dari kegiatan penting ku ada di sini.”


“Di sini?” bingung sang nenek.


“Benar,” jawab Kaisar Kwang Sun, sebelum kemudian menoleh ke samping dengan senyum yang berkembang. “Hari ini kegiatan istimewa ku adalah menghabiskan waktu bersama Nona Kayena.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini kalau mau lanjut 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 25-06-23