
00120. Le nouveau rival du vilain petit canard ; Katarina (Saingan baru itik buruk rupa; Katarina)
“Posisi Ratu sudah terlalu lama kosong, apa tidak sebaiknya Yang Mulia mulai mempertimbangkan usulan dari para bangsawan?”
Pertanyaan itu diajukan oleh penasehat hukum Robelia yang baru saja menyodorkan beberapa laporan yang diminta sang Raja kepadanya. Hampir satu bulan semenjak kepergian Elang Muda Kekaisaran, kondisi kerajaan mulai stabil, walaupun belum sepenuhnya kembali seperti semula. Di bawah kepemimpinan sang Raja, pemerintahan berusaha untuk bangkit, setelah orang-orang terbaik dari pihak pertahanan meninggalkan tanah air mereka. Jika bukan pewaris terakhir yang memperbaiki segalanya selaku Raja yang berkuasa, siapa lagi yang harus mengemban tugas tersebut?
“Beberapa kandidat Lady dari keluarga bangsawan yang dekat dengan keluarga kerajaan sudah disortir oleh pengurus senior. Di antara para Lady, beberapa sudah pernah bertemu dengan Yang Mulia lewat acara season, sampai sosialisasi yang digelar oleh kalangan bangsawan.”
Pria yang tampak sibuk dengan beberapa gulungan dokumen itu tampak tidak berminat untuk mendahulukan informasi yang baru disampaikan oleh penasihat hukum. Ia akan meninjau laporan tersebut nanti, setelah pekerjaan pokoknya selesai.
“Jika kau sudah selesai bicara, segera tinggalkan ruangan ini. Laporannya akan segera ku periksa.”
Penasihat hukum itu tampak keberatan ketika “diusir” secara tiba-tiba oleh sang Raja. Namun, mau bagaimana lagi. Sudah menjadi tugasnya untuk menyampaikan masukan terkait isu yang tengah hangat diperbincangkan. Para bangsawan juga terus mendesak pihak kerajaan, supaya posisi pendamping Raja terisi oleh sosok yang tepat. Sudah ada beberapa nama Lady yang berhasil sampai ke meja kerja sang Raja. Sebagai penasihat hukum, ia hanya ingin yang terbaik untuk tanah airnya. Walaupun ia tahu bahwa sang Raja belum siap membiarkan wanita lain mengisi posisi Queen Consort sebelumnya. Bahkan wanita simpanan yang sangat dicintainya saja diturunkan ke level IV.
Hingga hari ini, kondisi hubungan Raja Robelia dengan Selir tingkat IV juga belum mendapati kemajuan. Kondisi tersebut semakin mendorong para bangsawan untuk menyodorkan calon potensial untuk mengisi mengisi posisi Queen Consort serta Selir Agung yang kosong.
“Anda belum makan siang, Yang Mulia?”
Tak berselang lama setelah penasihat hukum pergi, datang Kaelus yang sempat izin untuk mengisi perut pasca meninjau pergantian personil.
“Aku belum lapar,” jawab sang Raja.
Mendengar jawaban tersebut, Kaelus hanya bisa bernapas gusar seraya menatap malang ke arah hidangan makan siang yang pasti sudah dingin. Makanan itu telah ditata semenjak satu jam lalu di atas meja. Sampai sekarang, tidak ada satupun yang disentuh oleh Raja Robelia.
“Bagus kau kembali lebih cepat,” ujar Raja Robelia itu dengan tangan menyodorkan dokumen laporan yang tadi diserahkan oleh penasihat hukum. “Telaah untukku. Kira-kira Lady mana lagi yang mereka sodorkan? Adakah yang cocok untuk dijadikan counter Katarina?”
Kaelus mengernyitkan kening seraya menerima dokumen tersebut. Tanpa banyak kata, ia pun membuka dan mulai membaca. Menelaah sederet informasi soal beberapa Lady yang diperkenalkan bak barang dagangan yang tengah dipromosikan. Selain informasi terkait identitas, di sana juga tercantum kelebihan para Lady, mulai dari kecantikan fisik, kecakapan bicara, kecerdasan, keanggunan, keahlian, ketekunan, kebiasaan, adab dan tata cara sesuai aristokrat, dan sebagainya.
“Semua Lady yang dimuat dalam laporan ini bukanlah saingan mudah bagi Selir tingkat IV. Mereka semu memiliki identitas yang jelas, berpendidikan, berwawasan, dibekali dengan adab dan tata cara kebangsawanan—intinya benar-benar siap menjadi pendamping potensial untuk Anda,” papar Kaelus. “Bahkan ada riwayat kesehatan yang menjamin bahwa para Lady sehat serta subur. Jadi, tidak ada keraguan bagi mereka untuk segera melahirkan penerus pasca terjadi hubungan badan.”
“Wanita seperti itu justru sulit diatur,” komentar Raja Robelia. Sebenarnya ia tampak enggan menanggapi. “Adakah yang polos? Lugu? Atau penurut? Tidak ada. Mereka semua sudah dibuat sesuai keinginan para orang tua yang haus harta dan kuasa.”
Kaelus setuju dengan ujaran itu. Namun, ia menemukan nama yang membuatnya penasaran. “Bagaimana dengan Lady Cyrene? Dia adalah teman lama Ratu Kayena. Masih termasuk kerabat jauh keluarga Pexley.”
“Lady Cyrene?” ada kebingungan dalam nada bicara sang Raja.
“Iya, Yang Mulia. Lady Cyrene Asterya d’Oclean. Putri tunggal keluarga d’Oclean yang tinggal di semenanjung Robelia. Putri Grand Duke d’Oclean yang terkenal dengan sifat baik hatinya.”
Raja Robelia tampak mempertimbangkannya. Nama itu terdengar tidak asing di telinga, namun ia lupa dengan bentuk rupa. “Simpan saja namanya dalam daftar pertimbangan.”
“Baik, Yang Mulia.”
Kalus lantas memisahkan nama beserta informasi terkait Lady Cyrene Asterya d’Oclean. Sudah ada beberapa kandidat Lady yang masuk daftar pertimbangan. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan jika bulan depan posisi selir tingkat III, II, I, posisi Selir Agung, bahkan posisi Queen Consort bisa saja terisi.
Saat ini hanya ada Katarina selaku Selir tingkat IV yang sudah jarang mendapatkan waktu untuk bersama Raja Robelia. Sedangkan para Lady yang namanya masuk ke dalam daftar pertimbangan punya potensi lebih baik darinya. Selain memiliki latar belakang yang jelas, mereka juga lahir dan dididik selayaknya gadis bangsawan. Jaminan lainnya, mereka semua sehat dan subur. Katarina juga dulunya sehat dan subur, namun sekarang sangat “memungkinkan” jika kondisi rahimnya sudah bermasalah.
“Bagaimana dengan Katarina? Apa wanita itu sudah bisa beradabtasi dengan tempat tinggal barunya?” lanjut Raja Robelia, bertanya soal wanita yang belakangan ia acuhkan begitu saja.
“Sejauh ini Selir tingkat IV sudah mulai bisa beradabtasi.”
“Oh, baguslah. Belakangan ini dia juga tidak banyak bertingkah,” sahut Raja Robelia yang masih fokus pada pekerjaan.
“Dari pengamatan saya, Selir Katarina mulai kewalahan dengan hukuman yang Anda berikan. Dia juga tampak kesepian semenjak Yang Mulia jarang menyempatkan waktu untuk berkunjung.”
Kaizen Alexander Kadheston—Raja Robelia tampak menghela napas kecil. Wanita itu pasti merasa kesepian serta kesulitan, karena diturunkan menjadi Selir tingkat IV. Di mana Selir tingkat IV juga tidak lagi diperbolehkan tinggal di istana Selir Agung, melainkan harus tinggal di paviliun Selir yang terletak paling ujung. Semenjak kematian Kyara—pelayan terdekatnya, ia juga tampak selalu sendirian. Sekalipun banyak pelayan yang diminta untuk melayani semua kebutuhannya, wanita bertubuh mungil itu selalu terlihat kesepian.
“Atur jadwal kunjungan untuk besok malam. Mungkin sudah seharusnya aku mengunjungi wanita itu.”
“Anda yakin, Yang Mulia?”
Kaizen menaikkan pandangan. “Wanita itu butuh sedikit perhatian agar tetap jinak.”
Kaelus tidak lagi bertanya. Hanya anggukan kepala yang lantas diberikan. Ia paham maksud sang Raja. Lagipula, Raja Robelia juga masih seorang pria yang sehat serta tulen. Kondisi tersebut membuatnya memiliki kebutuhan yang harus dituntaskan, setidaknya untuk saat kebutuhan itu hanya dapat disalurkan pada satu wanita. Siapa lagi jika bukan Selir Katarina yang kehadirannya memang dijadikan sebagai pelampiasan hasrat Raja Robelia, disaat sang Raja tidak dapat menyalurkan fantasi gilanya pada mantan istri tercintanya.
Kaelus tidak dapat ikut campur soal keputusan Raja Robelia serta kehidupan pribadinya. Keberadaannya di sisi sang Raja pure sebagai Ksatria yang bekerja secara professional. Jika diharuskan untuk menasihati sang Raja, ia akan melakukannya. Diterima atu tidak nasihat yang ia berikat, semua kembali pada sang Raja.
“Kael.”
“Iya. Yang Mulia?”
“Bagaimana kemajuan soal pencarian Ratu? Apakah sudah ada informasi tambahan?”
Ksatria yang setia mendampingi Raja Robelia itu tampak terdiam untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya angkat bicara. “Saya sempat mendapat informasi bahwa tim khusus yang kita turunkan sudah tiba di Kekaisaran Astoria. Di Sana, mereka menggali informasi dengan cara menunjukkan lukisan sketsa wajah Ratu Kayena beserta ciri-cirinya. Satu minggu pertama, mereka kesulitan mendapatkan informasi dari rakyat biasa, karena tidak ada satupun yang mengaku pernah melihat Ratu Kayena. Kemudian pada minggu kedua, hasilnya masih tetap sama. Sampai tiba-tiba datang informan yang mengaku bekerja di istana Kekaisaran. Setelah memberinya beberapa ratus Piéces d’or sebagai imbalan, pria itu mengatakan bahwa dia pernah melihat wanita yang mirip Ratu Kayena.”
“Dimana?” tanya Kaizen, cepat.
“Di dalam istana Kekaisaran,” papar Kaelus. “Lebih tepatnya di sebuah kompleks tempat tinggal yang dibangun khusus untuk Permaisuri Kekaisaran Astoria.”
“Kompleks khusus Permaisuri?” Kaizen tidak dapat menutupi keterkejutannya.
“Tidak mungkin!” Kaezar tampak tidak terima dengan informasi yang baru saja disampaikan oleh Kaelus. “Bagaimana mungkin Ratuku menjadi Permaisuri di tempat lain?”
“Informasi ini masih belum dapat dipastikan kebenarannya, karena identitas wanita itu sangat dijaga oleh Kaisar Astoria. Bahkan informan yang membawa informasi tersebut langsung menghilang, sehari setelah melakukan transaksi dengan tim khusus yang diterjunkan oleh Yang Mulia.”
“Kalau begitu langsung turunkan satu kavaleri khusus untuk memperluas investigasi serta pencarian. Tunggu apa lagi?”
“Yang Mulia,” panggil Kaelus dengan kesabaran yang kembali distabilkan. “Astoria bukanlah wilayah kecil seperti Icrea yang mudah ditaklukkan oleh Robelia, melainkan sebuah Kekaisaran yang mencakup beberapa wilayah besar di dalamnya. Jika Yang Mulia mengutus satu kavaleri khusus, mereka bisa langsung melancarkan serangan balasan pada Robelia.”
“Kau takut, Kaelus?”
Kaelus terdiam. Rupanya sang Raja masih belum paham. “Saya tidak pernah takut jika harus berhadapan dengan medan pertempuran. Namun, yang saya takutkan adalah Robelia yang sedang berada dalam kondisi tidak stabil. Jika perang pecah antara Robelia dan Kekaisaran Astoria, saya dapat memprediksi jika presentase kemenangan mereka adalah 70%.”
Kaezar tiba-tiba merasakan kepalanya pening. Jika benar mantan istrinya ada di Kekaisaran Astoria, maka akan sulit untuk membawanya pulang. Ini semua pasti rencana Khayansar, karema memang mantan kakak iparnya itu punya banyak relasi dari berbagai kalangan, termasuk sekelas pemimpin Kekaisaran Astoria.
“Kita pikirkan masalah ini baik-baik, Yang Mulia. Saya minta, Anda jangan terburu-buru, selama belum ada kepastian terkait keberadaan Ratu Kayena.”
Kaizen tidak dapat membantah masukan tersebut, karena memang ucapan Kaelus ada benarnya. “Segera beritahu aku jika ada informasi terbaru.”
“Baik, Yang Mulia.”
“Sekarang kau boleh pergi,” ujar Kaizen setelah mengakhiri pekerjaannya siang ini. Ia lantas beranjak, hendak meninggalkan ruangan tersebut.
“Anda mau pergi kemana, Yang Mulia? biar saya mengawal Anda.”
“Tidak perlu,” tolak Kaizen. “Aku hanya ingin jalan-jalan ke istana Ratu, kemudian mampir ke rumah kaca.”
Kaelus langsung terdiam. Belakangan ini ia tahu kebiasaan baru sang Raja, diantaranya adalah “jalan-jalan” ke istana Ratu yang kosong atau rumah kaca yang sudah ditinggal pergi pemiliknya. Tujuan sang Raja pergi kesana bukan hanya ingin jalan-jalan, melainkan mengobati rasa rindu pada mantan istrinya.
“Biar saya menemani Anda, Yang Mulia. Saya berjanji hanya akan menemani, kemudian menunggu di luar ketika Anda masuk ke istana Ratu atau rumah kaca.”
Kaizen mendengus sebal, sebelum membuka pintu. “Terserah kau saja.”
Bagi Kaelus, itu adalah bentuk dari sebuah persetujuan. Maka dengan segera ia mengekori Raja Robelia yang hendak mengunjungi tempat tinggal mantan istrinya. Namun, siapa sangka jika di tengah perjalanan tersebut, mereka dihadang oleh seorang wanita cantik dengan pakaian berkabung—serba hitam dari hiasan kepala berupa topi Tudor dari masa Renaissance yang menutupi sebagian rambut pirang keemasan miliknya, hingga gaun model klasik dari Britania Raya yang berwarna gelap, menjuntai menutupi kaki. Dari tampilan tersebut, jelas bahwa wanita itu tengah berada dalam masa berkabung.
“Kaizen!”
Yang lebih mengejutkan lagi, wanita cantik pemilik netra sebening samudra itu terdengar dengan gamblang menyebut Raja Robelia dengan nama saja, tanpa embel-embel kehormatan apapun.
“Bajing*n, apa yang telah kamu lakukan pada Adikku?!” ketika berhasil mendekat, wanita cantik yang tampak menunjukkan gurat emosional itu langsung memukul dada bidang Raja Robelia dengan brutal.
Ketika Kaelus hendak mau untuk melerai, Kaizen tampak memberikan larangan lewat sebuah kode.
“Caecilia, tenanglah. Aku akan menjelaskannya kepada mu.” Alih-alih marah, Kaizen malah membuat wanita cantik itu tenang terlebih dahulu. Nada bicaranya juga terdengar begitu akrab dengan pemilik nama yang diambil dari nama salah satu orang suci.
Di belakang mereka, Kaelus tampak tidak dapat menutupi keterkejutannya. Rupanya, wanita cantik tersebut adalah Dowager Duchess Caecilia. Dowager sendiri adalah sebutan untuk janda bangsawan sesuai gelarnya. Karena suami Caecilia adalah seorang Duke, maka ia disebut Dowager Duchess. Dalam tradisi Inggris abad 19, ketika ada anggota keluarga yang meninggal, maka diharuskan untuk berkabung selama satu tahun. Selama satu tahun itu mereka juga diharuskan memakai pakaian berwarna hitam, dan tidak boleh mengikuti season—perayaan tahunan yang diadakan di London, setiap musim panas berlangsung. Biasanya identik dengan pesta dan sosialisasi. (Basic information by novel Something About You).
Sekarang Kaelus tahu kenapa wanita cantik yang merupakan kenalan lama dari Raja Robelia—terkhusus mantan istri sang Raja—mengenakan pakaian serba hitam. Suami Dowager Duchess Caecilia memang telah meninggal, sekitar sepuluh bulan lalu.
“Aku melepaskan mu, karena Adikku mencintai mu. Tetapi, apa yang telah kamu lakukan? Menyakitinya?” cecar Dowager Duchess Caecilia dengan air mata yang meleleh dari netra biru lautnya.
“Aku mengingkari janji kepada mu, karena aku menyakitinya. Sekarang aku bahkan kehilangan dia.”
“Itu adalah hukuman untuk mu,” balas Dowager Duchess Caecilia. “Seharusnya kamu berpikir sebelum bertindak. Di luar sana mungkin banyak wanita yang jatuh cinta, bahkan tergila-gila pada mu. Namun, mereka semua tidak dapat menyamai kebesaran cinta Adikku. Oleh karena itu, sejak dulu aku mundur ketika hendak dijadikan istri kedua mu.”
Kaizen menghela napas kecil seraya membawa tubuh wanita cantik yang sudah lama absen dari indra penglihatan ke dalam pelukan. “Aku tahu dia mencintaiku sebesar itu. Hanya saja, kali ini kesalahan ku lebih besar dari rasa cintanya.”
“Kamu memang tidak pantas mendapatkan cinta Adikku,” lirih Dowager Duchess Caecilia dengan kedua tangan yang masih menopang jarak di antara mereka. “Adikku yang malang harus menderita seorang diri karena mencintai pria seperti mu.”
Kaizen tidak lagi membalas. Di dunia ini, selain Kayena, mungkin Caecilia adalah wanita yang paling mengenal dirinya. Mereka bertiga telah mengenal sejak lama, bahkan hampir menjadi satu keluarga, jika saja Caecilia tidak menolah untuk menjadi istri kedua Kaizen.
Pada saat itu pernikahan Kayena dan Kaizen telah diputuskan. Di sisi lain, keberadaan Caecilia yang dianggap sebagai gadis suci yang baik hati, dipilih para tetua untuk menjadi istri kedua Kaizen. Namun, Caecilia menolak ide tersebut, karena ia sudah menganggap Kayena sebagai adik sendiri. Bagaimana mungkin seorang kakak menjadi duri dalam pernikahan adiknya? Akan tetapi, siapa yang menyangka pasca setelah Caecilia menolak, Kaizen malah membawa orang terdekat Kayena yang lain sebagai duri dalam pernikahan mereka.
“Siapa wanita murahan itu? berani-beraninya dia menggoda kekasih ku?” geraman penuh kemarahan itu datang dari Selir tingkat IV yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi Kaizen, Kaelus, serta Caecilia berada.
Degup jantungnya langsung tidak karuan ketika melihat bagaimana sang kekasih yang belakangan ini menjauhi dirinya, dengan enteng memeluk wanita lain. “Apa mungkin dia adalah salah satu calon istri baru kekasihku?” monolongnya, berang. “Tidak akan aku biarkan dia mengambil kekasih serta kedudukan ku. Aku akan segera memberinya pelajaran!” seru Katarina, kemudian dengan segera meninggalkan tempat persembunyiannya dengan wajah keruh.
Hari yang diwanti-wanti akhirnya tiba. Satu per satu wanita dari kalangan bangsawan pasti akan mendekati sang kekasih bagaikan lintah darat yang mengincar genangan darah. Seperti pesan sekutu barunya—Klautviz de Meré, ia harus pandai-pandai bertahan di harem istana. Akan banyak wanita bangsawan yang berdatangan, namun ia tak boleh gentar. Sekelas Kayena de Pexley saja mampu ia depak dari istana, apalagi mereka? Katarina tidak perlu takut.
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 03-08-23