
0052. Queen Without a Crown (Ratu tanpa mahkota)
Derap langkah kaki kuda menggema di jalanan utama ibu kota Robelia. Sekalipun sudah menjelang tengah malam, di mana umumnya manusia terlelap di peraduan, mereka yang ditugaskan untuk segera membawa pulang Ratu Robelia tetap berkerja dengan semangat empat-lima. Rombongan yang datang dari Kastil Putih itu tiba di istana ketika jam sudah melewati angka dua belas. Turun dari kereta kuda sederhana yang membawanya dari pulau Putih, Kayena langsung disambut oleh kakak sulung beserta ayahnya. Dua pria yang sangat ia cintai itu menunggu di gerbang utama menuju istana. Tampak tidak kelelahan, apalagi keberatan, sekalipun harus menunggu hingga tengah malam.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya, Kakak.”
Kayena menjawab pertanyaan pertama sang kakak dengan senyum tersungging di bibir. Ada rindu yang terobati ketika pada akhirnya bertatap muka setelah sekian lama. Ia kemudian maju dua langkah guna memeluk kakak sulungnya yang jarang sekali menginjakkan kaki di Kyen.
“Aku rindu Kakak.”
“Kakak juga merindukan kamu,” sahut Khayansar seraya melabuhkan satu kecupan di kening sang adik.
Pelukan kakak-beradik itu tak berlangsung lama, karena Kayena sadar sejak tadi ada yang menunggu sapaan darinya. Siapa lagi jika bukan sosok hero paling hebat dalam hidupnya. Sosok yang sejak Kayena kecil berperan sebagai ayah sekaligus ibu.
“Ayah.”
Sosok paruh baya itu tersenyum lebar dengan tangan yang perlahan-lahan terbentang. Gerakan yang biasa dilakukan ketika ia pulang dari medan pertempuran, disambut oleh malaikat kecilnya di depan gerbang estat Pexley. Malaikat kecil itu akan segera berlari dengan kaki-kaki kecilnya, menuju ke arah hero paling hebat dalam hidupnya. Seperti saat ini pun, tidak butuh banyak waktu untuk putrinya segera datang menghampiri. Menghambur ke dalam pelukan sosok paling disegani di Kyen, bahkan di Robelia.
“Putriku,” panggil Grand Duke Pexley.
Rasa gelisah serta bersalah yang sempat menggelayut di dalam hati, satu per satu mulai berjatuhan. Ia telah memastikan dengan mata dan kepalanya sendiri jika sang putri baik-baik saja. Sama seperti biasa. Putrinya itu memang pandai mengolah ekspresi, sehingga ia tidak tahu jika selama ini putrinya sangat menderita.
“Kamu baik-baik saja, putri ku?”
Kayena mengangguk tipis ketika pelukan mereka agak longgar. “Aku baik-baik saja, Ayah. Bagaimana dengan kabar Ayah? apa Ayah istirahat dengan baik selama tinggal di barak?”
“Ayah hidup dengan baik,” jawab sang ayah. Ada sendu yang melingkupi kedua matanya. “Di saat putri Ayah satu-satunya hidup seperti dipenjara,” lanjutnya.
Kayena menggelengkan kepala. Ia paling tidak suka jika ada seseorang yang menyalahkan diri sediri, sedangkan ia tidak berbuat apa-apa.
“Tidak ada yang perlu disalahkan, Ayah. Ini adalah takdir. Aku masuk ke istana karena Tuhan menggariskan takdir itu untukku,” kata Kayena kemudian, meyakinkan. Jika bukan karena takdir, ia tidak mungkin diberi kesempatan kedua untuk mengulang kehidupan. Memperbaiki tindakan impulsif-nya di masa lalu, di mana ia lebih memilih mengakhiri hidup, meninggalkan putranya, karena tekanan tak berkesudahan yang membuatnya depresi berkelanjutan.
“Justru aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih kepada Ayah dan Kakak.” Kayena menatap sang ayah dengan sorot mata bangga. “Karena berkat Ayah dan Kakak, aku bisa keluar dari penjara ini.”
Kebebasan telah menanti esok hari. Setelahnya, ia akan menjalankan rencana yang telah disiapkan oleh sang kakak. Sekalipun ia sudah resmi bercerai, tak menutup kemungkinan jika Kaizen akan melakukan segala cara untuk membawanya kembali ke istana. Siapa yang tahu? Mengingat Kaizen memiliki watak yang tidak mudah ditebak.
Setelah disambut oleh kakak serta ayahnya, Kayena memboyong mereka berdua ke istana Ratu. Untuk yang terakhir kalinya—setelah 15 hari meninggalkan istana Ratu—Kayena akan kembali menghabiskan malam di sana. Merekam setiap sudut tempat tersebut guna disimpan baik-baik dalam memori. Karena setelah esok hari, ia akan meninggalkan tempat di mana ia sempat melahirkan 4 putra tampan di kehidupan sebelumnya.
Di tempat itu pula, ia memulai hidup dengan kepura-puraan. Melatih diri menjadi wanita bangsawan yang mandiri, agar patut dicontoh oleh wanita-wanita bangsawan lainnya. Menulikan telinga, ketika wanita di luar sana sibuk bergunjing atas dasar rasa iri, padahal ia sendiri tersiksa setengah mati semenjak menempati istana ini.
“Gaun mana yang ingin dikenakan oleh Yang Mulia pagi ini? apakah … gaun putih polos tanpa banyak hiasan?”
Kima yang datang pagi-pagi sekali tampak bertanya dengan hati-hati. Wajahnya tampak sembab, mungkin semalam wanita muda itu menangis.
“Keluarkan gaun rancangan Killian yang belum sempat aku gunakan.”
Kima mengangguk paham. Ia segera bergegas menuju tempat penyimpanan pakaian dan perhiasan untuk mengambil satu gaun buatan Killian yang belum Kayena gunakan. Omong-omong soal Killian, entah kemana hilangnya Tailor from Assogaté itu. Ia seolah-olah menghilang ditelan bumi. Kayena juga tidak mau menghubungi Killian lebih dulu, karena ia tidak mau melibatkan orang tak bersalah dalam pertempurannya. Sudah cukup satu kali ia membahayakan Killian.
“Bukan kah ini terlihat sempurna?” tanya Kayena untuk pertama kalinya, mengomentari penampilannya sendiri.
Alih-alih senang, Kima dan para pelayan yang membantu Kayena tampak sekuat tenaga menahan isak tangis. Ratu mereka sudah tampak cantik dengan gaun indah buatan Killian. Gaun yang tidak pernah digunakan oleh wanita bangsawan manapun di Robelia.
Gaun model long dress yang memeluk indah tubuhnya itu sama persis dengan gaun yang digunakan ketika penampilan perdananya di acara peringatan hari kelahiran Katarina. Bedanya, gaun kali ini berwarna biru cerah. Warna yang melambangkan kepercayaan, keharmonisan, ketenangan, serta kedamaian. Sebagian orang juga percaya jika warna biru melambangkan rasa sedih dan kesunyian.
Kali ini Kayena tidak lupa menggunakan mahkota Ratu Robelia di kepalanya. Hanya tersisa beberapa jam lagi sebelum mahkota indah yang dihiasi permata terbaik dari tanah Robelia itu dirampas darinya. Sebelum pergi ke aula utama, Kayena juga menyempatkan diri untuk sarapan di ruang makan istana. Ditemani oleh seluruh pekerja di bawah kepemimpinannya. Kakak serta ayahnya juga ikut hadir di sana. Selesai sarapan, Kayena meminta waktu untuk bicara dengan para pekerjanya.
“Terima kasih untuk kesetiaan kalian selama aku tinggal di sini,” katanya dengan tulus. Dua peti besar berisi Piéces d’argent dan piéces d’or telah disiapkan.
Masing-masing pekerja akan diberikan 1.000 keping logam mulia yang menjadi alat tukar utama di Robelia. Lima ratus keeping Piéces d’argent dan lima ratus piéces d’or untuk setiap pekerja, sekalipun lima belas hari yang lalu mereka juga telah diberi upah oleh Kayena.
“Temukanlah majikan yang memiliki rasa kemanusiaan tinggi di luar sana, jika kalian sudah tidak lagi berniat mengabdi pada keluarga kerajaan. Kalian punya hak untuk memilih tempat untuk tinggal,” pesan Kayena. “Terima kasih karena telah melayani kebutuhan ku selama aku tinggal di sini. Semoga pada lain kesempatan aku bisa membalas kebaikan kalian yang setia kepada ku.”
Para pekerja wanita sudah menangis dengan wajah tertunduk. Sedangkan para pekerja pria mati-matian tetap bersikap tegap, sekalipun air mata tak bisa mereka bendung. Sebagian dari mereka telah melayani keluarga kerajaan dari generasi ke generasi, namun mereka baru pertama kali menemukan majikan sebaik Kayena. Ratu malang yang hatinya selembut sutra.
Setelah melakukan perpisahan dengan para pekerja, Kayena sempat menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah kaca. Di sana ia berkeliling ditemani oleh Kima serta kepala koki yang dulu dibawa dari Kyen.
“Mungkin aku tidak akan berkunjung ke tempat ini lagi, Ibunda,” ucap Kayena pada sebuah patung The Goddess yang ada di tengah rumah kaca.
Patung tersebut dibuat sebagai bentuk representasi The Goddess yang selalu melindungi Robelia. Di bawah patung tersebut ada nama-nama Ratu Robelia yang telah menutup usia. Sudah menjadi kebiasaan jika Ratu yang telah menutup usia, namanya akan terukir di bawah patung tersebut. Dengan catatan Ratu yang telah menutup usia masih menyandang gelar Queen Consort atau Queen Mother. Nama ibu Kaizen juga terukir di sana, ditulis menggunakan tinta emas.
“Aku pamit, Ibunda. Aku … tidak bisa mengemban tugas yang Ibunda berikan lebih lama lagi.” Kayena menunduk, memberikan do’a serta penghormatan terakhir pada sosok yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
Ketika hendak berbalik, meninggalkan tempat tersebut, Kayena menangkap pemandangan sebuah pohon yang tampak mati. Pohon itu sudah tidak memiliki daun satu pun, batangnya juga sudah tampak keriput dan layu. Padahal tumbuhan lain di sekitarnya tampak baik-baik saja. Ketika didekati, Kayena malah menemukan harta karun. Ia pun menunduk untuk memastikan penglihatannya.
“Yang Mulia benar,” sahut Kima yang ikut mendekat, kemudian berjongkok di dekat pohon yang tampak mati itu. “Ini bunga Udumbara. Biasanya bunga ini sangat sulit dilihat, karena ukurannya sangat kecil.”
“Aku juga baru pertama kali melihatnya.”
“Saya juga, Yang Mulia.” Kima tampak senang ketika melihat bunga yang biasa ia temukan di buku-buku kuno itu. Sekarang, bunga itu tampak nyata di depan mata.
“Apa Yang Mulia tahu, bunga ini disebut Youtan Poluo atau bunga dari surga. Konon katanya, bunga ini pembawa keberkahan dan keberuntungan bagi si penemu. Beberapa orang juga mempercayai jika kehadiran bunga ini dikaitkan dengan kedatangan pemimpin yang adil dan bijaksana.”
Kayena tampak terkejut mendengar pengetahuan sang tangan kanan mengenai bunga Udumbara yang langka. Konon, bunga itu adalah pembawa keberuntungan bagi si penemu. Kayena percaya-tidak percaya, namun ia merasa sedikit lega, karena kehadiran bunga itu bisa membuat tangan kanannya kembali ceria dan bersemangat.
💰👑👠
“Dimana wanita itu? kenapa belum muncul juga?” gerutu wanita yang pagi ini tampil dengan vintage dress gown warna merah yang meriah. Tampilannya tampak heboh dan glamour, ditambah dengan tiara yang setia bertengger manis di kepala. “Apa dia berubah pikiran?”
Ia kemudian melirik pria di samping. Padahal mereka sudah merencanakan semua ini matang-matang. Namun, lihatlah bagaiman raut wajah pria itu sekarang. Jelas sekali jika ia berharap wanita yang tengah ditunggu-tunggu tidak datang. Kendati demikian, penantian mereka yang menunggu tiga puluh menit lamanya berakhir ketikan kepala prajurit yang berjaga mengucapkan sebuah nama dengan lantang. Lengkap beserta gelar kebangsawanan yang sebentar lagi akan dicopot dari namanya.
“Pendamping Matahari Kekaisaran, Queen Consort of Robelia, Her Majesty Kayena de Pexley akan segera memasuki ruangan.”
Senyap meliputi ruangan yang telah diisi oleh orang penting dan para bangsawan Robelia ketika pintu terbuka, mempersilahkan Ratu Robelia itu masuk didampingi oleh ayahnya di sisi kanan, dan kakaknya di sisi kiri. Masing-masing dari mereka kemudian memberikan salam penghormatan kepada Raja Robelia. Terkecuali Khayansar. Ia memang orang yang spontan dari awal hingga akhir.
“Saya, Queen Consort of Robelia, memenuhi panggilan untuk menghadap your Majesty.”
Kayena maju dua langkah, meninggalkan kakak beserta ayahnya. Mendekat ke arah Kaizen yang duduk di singgasana. Ditemani oleh Katarina tentunya.
“Terima kasih karena sudah memenuhi panggilan Raja Robelia,” jawab si empunya gelar. “Seperti yang telah diketahui oleh semua rakyat Robelia, sebelumnya Ratu telah menjalani hukuman atas tindakan yang tidak dapat dibenarkan bersama Pangeran Kaezar. Sekarang, Ratu dipanggil untuk menuntaskan masa hukumannya.”
Kayena tampak berani. Wajahnya mendongkrak, menatap langsung ke arah Kaizen yang tengah berupaya keras menahan keinginannya untuk membatalkan acara pagi ini.
“Kesalahan yang dilakukan Ratu tidak dapat diampuni. Namun, mengingat jasa-jasanya pada Robelia, hukuman penggal yang seharusnya dijatuhkan pada Ratu ditangguhkan. Sebagai gantinya, mulai hari ini Ratu … akan dilengserkan dari posisinya sebagai pendamping Matahari Kekaisaran.”
Keputusan yang terdengar gila di telinga para bangsawan serta orang-orang penting di kerajaan Robelia itu tidak dapat disanggah oleh siapapun. Keputusan Raja bersifat mutlak, kemarin keputusan itu juga telah disetujui oleh pihak Ratu. Maka tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi.
“Hubungan pernikahan di antara kami juga resmi diputuskan,” lanjut Kaizen dengan mata terpejam. Ada beban yang membuat rongga dadanya terasa sesak ketika. “Mulai hari ini, Kayena de Pexley bukan lagi bagian dari keluarga kerajaan.”
Sesak. Sesak. Sesak.
Walaupun sudah ditahan, rasanya tetap menyesakkan dada. Hal itu juga dirasakan oleh Kayena. Padahal ia telah mempersiapkan diri dengan baik. Namun, rasanya begitu sesak di rongga dada. Sampai ketika Kaizen turun dari singgasananya, melangkah pelan ke arah Kayena berada. Wanita cantik itu tampak masih terdiam. Tersisa satu langkah, barulah Kayena menjatuhkan harga dirinya. Dibantu dua orang pelayan wanita, ia merendahkan tubuh agar Kaizen mudah menanggalkan mahkota di kepalanya.
“Mulai hari ini, aku membebaskan dirimu dari tanggung jawab sebagai seorang Ratu.” Itu adalah kalimat yang diucapkan Kaizen, sebelum melepaskan mahkota di kepala Kayena. Sempat ada ragu ketika hendak melakukannya.
“Terima kasih, Yang Mulia,” ucap Kayena dengan tangan kanan memegang dada. Memberikan penghormatan terakhir pada mahkota yang menjadi simbol tahta wanita tertinggi di Robelia.
“Siapa pun wanita yang menjadi Ratu Robelia berikutnya, saya harap dia bisa menjadi pendamping Matahari Kekaisaran yang sempurna,” lanjut Kayena.
Kaizen langsung membuang muka ketika mendengarnya. Jika terlalu lama berhadapan dengan Kayena, ia yakin akan menggagalkan rencana. Oleh karena itu, tanpa kata ia meninggalkan Kayena yang baru saja dicopot dari posisi Ratu.
Ketika Kayena kembali ke posisi berdiri, giliran Katarina yang menghampiri. Datang dan secara tiba-tiba memeluk Kayena. Kayena saja sampai terperangah dalam beberapa saat, sebelum sadar dana menyunggingkan senyum tipis.
Cih, pencitraan.
“Selamat atas pencapaian baru Anda, Ratu,” bisik Katarina. “Ah, seharusnya Anda juga mengucapkan terima kasih kepada saya, karena berkat saya, Raja mau melepaskan Anda.”
Tanpa Katarina duga, Kayena melepaskan begitu saja pelukannya. Ada senyum tipis yang tersungging di bibir ibu satu anak itu.
“Berterima kasih? Bukannya kamu yang seharusnya berterima kasih kepada ku, Katarina? Lewat perceraian ini, kamu akan punya lebih banyak peluang untuk merebut posisi Ratu,” bisik Kayena tanpa rasa takut. Sorot matanya tampak tajam, menyorot sepenuhnya ke arah Katarina.
“Camkan ini baik-baik, Katarina. Silahkan nikmati hari-hari mu dengan segala sesuatu yang merupakan bekas milikku. Sampai kapan pun, kamu tidak tidak akan pernah menjadi diriku. Un canard ne devrait pas rêver de devenir un cygne quand il sera grand.”
(Seekor itik seharusnya tidak bermimpi menjadi angsa ketika beranjak dewasa).
💰👑👠
TBC
Gimana perasaan readers setelah baca bab ini?
Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 06-06-23