How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0098. Les faits derrière la révélation de l'agneau d'Adu (Fakta dibalik



0098. Les faits derrière la révélation de l'agneau d'Adu (Fakta dibalik terungkapnya Adu domba)


Ruangan yang dilingkupi cahaya remang, serta terlihat lusuh, kumuh, dan dipenuhi oleh sarang laba-laba itu sepertinya sudah lama tidak ditinggali. Kini tempat tersebut menjadi saksi bisu dari ketegangan di antara dua manusia beda jenis yang tengah beradu tatap. Salah satu di antaranya tampak diam, menelaah situasi sembari menahan rasa sakit. Sedangkan lawannya sudah menyodorkan senjata tajam ke arahnya.


“Seharusnya aku yang bertanya. Kamu siapa? Kenapa kamu hendak dibunuh oleh para prajurit bayangan milik Kerajaan Robelia?”


“Dibunuh prajurit bayangan milik kerajaan?” bingung lawan bicaranya. Pria rupawan dengan kulit wajah pucat itu tampak tidak mengerti apa yang dimaksud.


Bagaimana mungkin prajurit bayangan milik Kerajaan Robelia berkhianat, kemudian berniat untuk membunuh Kapten, sekaligus Elang Muda Kekaisaran yang memilik komando penuh terhadap tugas mereka selama berada di medan pertempuran? Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.


“Dari mana Anda tahu jika mereka adalah prajurit bayangan milik kerajaan?”


“Lambang kerajaan tersemat di pakaian mereka,” jawab lawan bicaranya yang merupakan seorang wanita. Mirip dengan wanita simpanan Raja Robelia yang saat ini berkuasa. “Kemarin mereka juga telah membuat keributan di desa Gama,” lanjutnya, menginformasikan. Tampak sekali ada raut wajah yang menandakan rasa kesal, marah, serta dendam yang menjadi satu dari sorot matanya.


“Mereka membuat keributan di desa Gama?”


Kaezar yang tengah terluka, berupaya untuk mengubah posisi menjadi duduk. Lawan bicaranya yang melihat Kaezar kesulitan, langsung menarik senjata tajamnya, kemudian memasukkan kembali ke dalam sarung. Barulah ia berupaya untuk membantu Kaezar.


“Hm. Mereka bahkan membunuh beberapa orang yang tidak berdosa.”


Kaezar semakin terkejut mendengarnya. “Tidak mungkin mereka prajurit bayangan milik kerajaan Robelia, jika mereka sampai berani membunuh rakyat sipil tanpa perintah.”


“Bagaimana kamu bisa sangat yakin?”


“Tolong perhatikan pakaian yang saya gunakan,” ujar Kaezar. Jika dilihat lebih seksama, lawan bicaranya pasti berusia lebih tua darinya. Mungkin berusia sekitar tiga puluhan, walaupun wajahnya masih tampak awet muda.


“Kamu …Ksatria Robelia?”


Kaezar mengangguk. Kebetulan ia sedang menggunakan pakaian dinas lapangan ketika terjadi penyerangan.


“Lalu, bagaimana bisa rekan-rekan mu berkhianat?”


“Karena mereka bukan rekan-rekan saya,” jawab Kaezar enteng. “Rekan-rekan Ksatria yang berada satu kavaleri dengan saya tidak akan menyerang, apalagi membunuh tanpa komando dari atasan mereka.”


“Kalau begitu …” wanita itu tampak kebingungan ketika mengambil waktu untuk berpikir. “ …siapa mereka? untuk apa juga mereka membuat keributan di desa Gama, selain menginginkan wilayah seberang perbatasan Kerajaan Robelia?”


“Kemungkinan besar mereka adalah para pembunuh bayaran atau bandit yang berada di bawah komando seseorang.” Kaezar juga masih menerka-nerka. Kira-kira siapa yang ada di balik mereka—para prajurit bayangan yang dikatakan lawan bicaranya. Bagaimana bisa mereka menggunakan lambang milik kerajaan pada pakaian yang mereka gunakan.


Apa mereka sengaja? Sepertinya ada unsur adu domba di antara mereka—pihak pejuang dari kerajaan Robelia, serta pihak dari wilayah perbatasan. Pelakunya? Kemungkinan besar orang-orang yang ada kaitannya dengan oknum yang memegang kekuasaan.


“Kamu Ksatria dari Kerajaan Robelia,” ucap wanita itu, pelan. “Lalu, untuk apa mereka mencelakai diri mu?”


Kaezar terdiam. Jika benar ada pihal yang tidak bertanggung jawab tengah mengadu domba kedua belah pihak, alasan kenapa ia dijadikan target penyerangan pasti ada kaitannya dengan perebutan kekuasaan. Akan tetapi, kira-kira siapa dalang di balik para pembunuh bayaran tersebut.


“Benar, saya Ksatria dari Robelia,” jawab Kaezar pada akhirnya. “Ini adalah tanda pengenal saya.” Dari dalam saku celana, ia kemudian mengeluarkan tanda pengenalnya sebagai seorang Ksatria.


“Jadi, Kamu adalah Ksatria yang dikirim Robelia untuk mengambil alih wilayah seberang perbatasan?”


Sekali lagi, Kaezar membenarkan. “Saya datang untuk menawarkan kerja sama, serta perlindungan. Bukan ingin mengklaim wilayah seberang perbatasan tanpa persetujuan.” Ia tidak langsung memperkenalkan identitasnya sebagai seorang Pangeran, namun tetap memperkenalkan jati dirinya sebagai seorang Ksatria Robelia yang tengah mengemban tugas dari Raja.


“Ketika saya datang, bawahan saya sudah mengantarkan surat undangan untuk Regent dari wilayah seberang perbatasan. Namun, surat tersebut tidak pernah mendapatkan jawaban.”


“Regent di wilayah seberang sedang tidak dapat berjumpa dengan sembarang orang. Putranya yang saat ini mengambil alih kepemimpinan.”


“Dari mana Anda mengetahui informasi tersebut? Anda salah satu rakyat wilayah seberang?”


Wanita itu mengangguk kecil. “Putra dari Regent wilayah seberang perbatasan adalah suami saya,” lanjutnya, mengejutkan Kaezar dengan informasi tersebut.


Bagaimana mungkin Kaezar tidak terkejut, jika tanpa usaha apa-apa, ia langsung dipertemukan dengan menantu dari Regent wilayah seberang perbatasan. Pertanyaannya, kenapa menantu dari Regent wilayah seberang perbatasan sangat mirip dengan wanita Raja Robelia yang saat ini berkuasa? Apa mungkin …mereka masih memiliki hubungan darah? Atau, hanya kebetulan saja. Mengingat ada ujaran yang mengatakan bahwa manusia bisa saja memiliki 7 kembaran yang tersebar di seluruh penjuru bumi.


“Senang bertemu dengan Anda,” ujar Kaezar seraya memberikan penghormatan alakadarnya. Mengingat kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk bergerak banyak. “Saya adalah Kapten dari pasukan yang dikirim kerajaan Robelia untuk berdiskusi dengan wilayah seberang perbatasan.”


“Kapten?” wanita itu juga tampak terkejut. “Berarti kamu adalah kekasih mantan Ratu Robelia?”


Kaezar terdiam. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa, selain menyentuh tengkuk bagian belakangnya sekali. Ia tidak pernah berpikir akan dikenali sebagai kekasih dari mantan Ratu Robelia, alias Kayena de Pexley. Biasanya ia dikenal sebagai Elang Muda Kekaisaran, Pangeran Kedua Robelia, Kapten Muda, dan sebagainya. Siapa sangka jika hari ini ada yang mengenalinya dengan identitas baru.


“Kami, tidak. Maksudnya, belum sampai ranah itu,” kata Kaezar meluruskan.


“Kenapa? Apa mantan Ratu mengalami trauma karena bajing*n itu?”


Kaezar menatap lawan bicaranya tidak percaya. Baru kali ini ada yang mengatai kakak tirinya bajing*n secara langsung di depan mukanya. “Kami punya komitmen tersendiri.”


Pada akhirnya, itulah jawaban yang diberikan oleh Kaezar. Ia dan sang kekasih hati memang tidak memberikan nama secara spesifik pada hubungan mereka, namun mereka punya komitmen untuk membangun keluarga kecil yang bahagia suatu hari nanti.


“Lalu kamu bisa sampai terluka? Di mana Ksatria Robelia yang lainnya?”


Seolah tersadar, Kaezar langsung teringat pada rekan-rekan Ksatria lain yang kemungkinan besar masih ada di barak militer. Apa mereka baik-baik saja? ia harus segera mencaritahu bagaimana kondisi mereka.


“Kamu mau kemana?” tanya wanita yang teryata istri dari putra Regent wilayah seberang perbatasan, ketika melihat Kaezar hendak beranjak. Meninggalkan tempat using yang tadi menjadi pembaringan.


“Saya harus kembali ke barak militer.”


“Luka mu masih terbuka. Setidaknya tunggu sebentar lagi, sampai pendarahannya berhenti.”


“Tidak. Saya harus memastikan keselamatan rekan-rekan saya.”


Kaezar masih bersikeras untuk pergi dari tempat tersebut. Ketika keluar dari bangunan kumuh yang dipenuhi oleh sarang laba-laba itu, ia dikejutkan dengan satu kavaleri—barisan pasukan berkuda—besar yang rupanya berjaga di depan bangunan.


“Dia sudah siuman?”


Seorang pria dengan baju jirah yang tadinya tengah berdiri di dekat seekor kuda hitam berjalan mendekat ke arah Kaezar dan wanita yang tadi terlibat pembicaraan singkat dengannya.


“Sudah. Tetapi, lukanya masih terbuka.”


“Tenaga kesehatan akan segera datang. Sebaiknya dia tetap berbaring, supaya lukanya tidak kembali pendarahan.”


Sadar jika dirinya tengah dibicarakan, Kaezar segera mendekat dan memberi salam secara sederhana. “Salam hormat, Jendral. Jika saya tidak salah mengenali, Anda pasti putra dari Regent wilayah seberang perbatasan.”


“Benar. Salam hormat.”


Tebakan Kaezar benar. Pria tersebut adalah suami dari wanita yang tadi bicara dengannya, putra Regent wilayah seberang perbatasan yang telah menyandang gelar Jendral.


“Sebenarnya saya merasa sedikit penasaran, kenapa Anda bisa sampai terluka dan hampir terbunuh? Apakah ada yang berkhianat di kavaleri Anda?”


“Tidak, Jendral.” Kaezar menjawab seraya menahan rasa sakit yang kembali timbul. “Justru kami mendapat serangan dadakan dari musuh yang belum diketahui identitasnya.”


“Jadi, Anda terluka bukan karena pengkhianat? Bukan kah mereka masih berasal dari kerajaan Robelia?”


“Mereka bukan berasal dari Robelia, tetapi sudah merampas identitas para pejuang dari Robelia.” Kaezar menahan geram lewat kepalan tangan. Entah siapa yang telah bertindak sepicik itu. “Saya juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa yang terjadi di desa Gama bukan dilakukan oleh kavaleri dari Robelia. Di bawah perintah saya, kavaleri dari Robelia tidak diizinkan untuk membunuh rakyat yang tidak berdosa. Tujuan utama kami datang ke sini juga bukan untuk berperang, melainkan untuk menawarkan kerjasama serta perlindungan.”


“Atas dasar apa Raja Anda menawarkan kerjasama serta perlindungan pada kami?”


“Atas dasar kesejahteraan bersama,” jawab Kaezar, tak gentar. “Wilayah seberang perbatasan rawan terjadi perang antar wilayah. Kerajaan ingin wilayah ini kembali menjadi satu-kesatuan, ketika kembali bergabung dengan kerajaan.”


“Apa Anda bisa menjamin nasib kami setelah menyerahkan wilayah ini pada kerajaan?”


“Wilayah ini tidak perlu diserahkan,” ujar Kaezar, meluruskan. “Saya hanya diutus untuk menyatukan Robelia dengan wilayah di seberang perbatasan, tanpa harus menghilangkan kekuasaan wilayah di dalamnya.” Ia memang diutus untuk memperluas daratan milik Robelia, namun bukan dengan cara menghilangkan ekosistem atau kehidupan di dalamnya.


Walaupun wilayah di seberang perbatasan rawan terjadi konflik, seperti perang wilayah, serta perebutan kekuasaan, namun masih ada wilayah-wilayah kecil yang dipimpin oleh pemimpin yang bijaksana. Di bawah kepemimpinannya, wilayah kecil tersebut dapat berkembang pesat dari berbagai sektor. Perkembangan tersebut menarik banyak pihak yang berkeinginan menjadikannya wilayah pribadi.


“Sebelumnya saya sudah berusaha untuk membangun komunikasi dengan Regent dari wilayah seberang, namun surat yang saya kirim tidak pernah mendapatkan balasan. Saya sempat berpikir bahwa tidak adanya balasan dari pihak Anda, karena rasa kecewa dari masa lalu.”


“Sepertinya ada sedikit kekeliruan di sini.” Wanita tadi kembali buka suara. “Surat yang dikirim oleh Pangeran Kedua tidak pernah sampai kepada Ayah mertua atau suamiku. Kemungkinan besar surat itu telah sampai di tangan yang salah.”


“Benar, Ayah saya atau saya sendiri tidak pernah menerima surat apapun ketika kavaleri dari Robelia mulai memasuki wilayah di seberang perbatasan.”


Kaezar terdiam sejenak, sebelum kembali bicara. “Sepertinya ada pengkhianat di antara kavaleri kami.”


Jika dipikir-pikir, kenapa surat-surat itu tidak pernah sampai pada tujuan? Jawabannya pasti ada seseorang yang telah menyembunyikannya. Tujuannya sudah pasti tidak menginginkan perdamaian di antara Robelia dan pihak dari wilayah seberang perbatasan.


“Pengkhianat itu pasti berkelompok,” sahut wanita tadi. “Terbukti dari peristiwa di desa Gama yang merupakan pemasok utama bahan pangan bagi wilayah seberang perbatasan. Sekarang, serangan menimpa kavaleri Robelia. Kita berpikir jika serangan di desa Gama berasal dari Kavaleri Robelia, sedangkan kavaleri Robelia juga pasti sempat berpikir bahwa serangan yang terjadi ada kaitannya dengan pihak kita.”


“Perkataan kamu ada benarnya,” kata sang suami, membenarkan. “Sepertinya ada yang berniat mengadu domba kedua belah pihak.”


Rupanya pemikiran mereka sama dengan Kaezar. Ada pihak yang mengambil keuntungan dari kesalahpahaman tersebut.


“Kira-kira siapa?” tanya Kaezar kemudian. “Tidak mungkin pengkhianat itu berasal dari kerajaan, karena misi kita sama; yaitu menyatukan wilayah Robelia dengan wilayah seberang perbatasan.”


“Pasti seseorang dari organisasi hitam,” ungkap sang Jendral. “Organisasi hitam selalu menginginkan kekuasaan lebih terhadap desa Gama, serta wilayah yang berpotensi untuk mempermudah jaringan bisnis illegal mereka.”


“Organisasi hitam?”


“Benar,” sahut sang Jendral. “Pemimpin organisasi tersebut bernama Klautviz. Tidak ada yang pernah melihat rupanya secara langsung, namun semua orang di desa Gama dan sekitarnya mengenal namanya.”


“Pria itu seharusnya sudah mati,” kata istri sang Jendral, secara tiba-tiba. “Entah bagaimana caranya hidup tersembunyi secara puluhan tahun, setelah dia membiarkan Kakakku terbunuh.”


Ada gelora dendam yang membara. Kaezar dapat melihatnya secara langsung dari wanita yang mirip Selir Agung dari kerajaan Robelia itu. Ternyata, wanita tersebut adik dari… Wanita yang ada kaitannya dengan Klautviz de Meré.


“Apakah Klautviz yang kalian maksud adalah adik tiri dari Raja Robelia sebelumnya?”


“Tidak ada yang mengetahui identitas asli soal Klautviz dari organisasi hitam,” jawab sang Jendral. “Namun, yang dimaksud istriku memang Klautviz Klautviz de Meré, adik tiri Raja Robelia sebelumnya, sekaligus paman Anda.”


Benar. Pria itu adalah pamannya. Pria tidak berhati yang tega berulang kali mencoba untuk membunuhnya, sampai-sampai ia mengidap trauma akut hingga menderita mysophobia. Masa kecilnya juga dihabiskan dengan tuduhan pembunuhan terhadap adik perempuannya yang masih bayi, padahal pembunuh yang sebenarnya adalah Klautviz de Meré.


“Dia bukan paman saya,” jawab Kaezar, dingin. “Saya juga tidak pernah diakui dan tidak pernah berharap diakui sebagai bagian dari keluarga Kadheston. Setelah misi saya berhasil, saya akan kembali ke Ibu kota untuk menyerahkan status kebangsawanan serta mencabut gelar kehormatan yang saya miliki. Kemudian saya akan melanjutkan hidup sebagai Kaezar of Icrea.”


Pasangan suami-istri itu tentu saja tercengang mendengarnya. Mereka tahu soal Pangeran Kedua, namun tidak pernah mengenali rupanya. Hanya tersebar kabar burung jika rupa sang pangeran yang berasal dari 2 kerajaan besar di daratan ini sangat tampan. Namun, sulit untuk menaklukkan hati Elang Muda Kekaisaran tersebut. Sejak kecil, ia juga sudah hidup di luar istana, kemudian dikirim ke medan perang sejak remaja.


“Anda adalah putra dari Keiza of Icrea, benar?” tanya istri sang jendral.


“Benar. Ibu saya adalah Keiza of Icrea, putri dari kerajaan Icrea.”


“Kamu beruntung,” tambah istri sang Jendral, sekaligus menantu dari Regent wilayah seberang perbatasan itu. “Hari ini salah satu kerabat dari mendiang Ibumu ada bersama kami.”


Setelah berkata demikian, wanita itu menoleh ke belakang. Membiarkan seorang wanita paruh baya yang telah berderai air mata tampak di pandangan Kaezar.


“Pangeran …” panggil wanita paruh baya itu. “Benarkah, ini Anda? Saya …saya adalah mantan pelayan pribadi Putri Keiza. Saya juga yang dulu mengantarkan Pangeran yang masih kecil ke istana Robelia.”


Kaezar tidak pernah merasa goyah dalam setiap pijakan. Namun, ketika ada seseorang yang muncul dari masa lalu, terutama dari pihak ibu yang tidak pernah dikenalnya dengan baik, hatinya selalu merasa sakit.


“Kenapa?” tanyanya. “Kenapa dulu Anda membawa saya ke tempat yang mengerikan itu!”


Dengan tangis yang kian menjadi, wanita paruh baya itu mendekat ke arah Kaezar. Ia kemudian meraih kedua telapak tangan Elang Muda Kekaisaran. “Karena Anda adalah pesan terakhir mendiang Putri Keiza. Anda adalah putra dari Raja Robelia yang saat itu berkuasa. Icrea yang mulai mengalami kemunduran semenjak kematian Kakek Anda, disusul mendiang Putri Keiza, tidak cocok bagi tumbuh kembang Anda.”


“Tapi, tempat itu juga bukan tempat yang cocok untuk saya,” balas Kaezar. Jantungnya terasa semakin sesak. “Tempat itu tidak pernah benar-benar menerima kehadiran saya.”


“Setiap detik yang aku habiskan di tempat itu, rasanya seperti tinggal di neraka,” lanjutnya di dalam hati.


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 01-08-23