
0044. Adieu Forcé (Perpisahan Yang Dipaksakan)
Dua orang pria bertubuh gagah dengan wajah tampan nan rupawan berdiri berhadapan. Atmosfir di sekitar mereka seolah-olah membeku, memberhentikan waktu. Menghilangkan kehadiran orang-orang di sekitar secara kasat mata. Masing-masing dari mereka memang kerap menarik perhatian. Maka tak heran jika dipertemukan dalam satu frame, pesona mereka akan terlibat pertikaian.
“Kembali lah ke perbatasan. Lanjutkan tugas mulia mu di sana.”
Salah satu—lebih tepatnya pria yang menduduki status sebagai raja angkat bicara. Titah tak langsung itu adalah hukuman yang diberikan, berkedok tugas mulia. Mempertahankan wilayah perbatasan Robelia yang jauh di sana, padahal ia berharap jika adiknya tidak akan pernah kembali menginjakkan kaki di pusat kota Robelia. Bukan kematian yang ia harapkan, namun ketidakhadiran. Kehadiran adiknya di dunia adalah sesuatu yang tidak pernah direncanakan. Sebagai anak laki-laki satu-satunya yang lahir pada garis keturunan raja saat itu, ia selalu merasakan “tekanan” semenjak datangnya saingan.
Pesaing itu tak lain dan tak bukan adik tirinya sendiri yang datang tanpa didampingi. Hanya bayi merah dibalut selimut tebal yang datang ke kerajaan Robelia, mengatasnamakan seorang wanita yang berstatus sebagai tawanan perang dari sebuah negeri yang baru saja ditaklukkan oleh Robelia. Memang tidak ada yang salah darinya, namun di mata raja yang sekarang berkuasa, kehadirannya ke dunia sudah kesalahan. Ia tak menginginkan apapun, selain dijauhkan dengan adiknya itu. Supaya … posisinya tetap aman, serta ia tidak perlu lagi berupaya keras untuk mempertahankan apa yang harus ia pertahankan.
Namun, untuk pertama kalinya, adiknya yang tidak pernah menuntut apapun semenjak dilahirkan, kemudian dibesarkan oleh pihak kerajaan Robelia, menginginkan sesuatu yang jelas-jelas milik sang raja. Raja yang saat ini berkuasa tentu saja murka. Baginya, satu kali ia meminta, maka akan ada permintaan-permintaan berikutnya.
“Apakah tugas mulia yang Anda maksud adalah hukuman atas dosa yang tidak pernah saya perbuat?”
“Ini bukan hukuman, Pangeran. Ini adalah tugas mulia yang diberikan langsung oleh Raja Robelia.”
“Jika Anda lupa, saya sudah menjalankan tugas mulia itu semenjak berusia enam belas tahun,” balas sang adik. Kaezar Kadheston.
“Terserah kau mau menyebutnya apa,” kata sang raja. Kaizen Kadheston. “Yang jelas, kembalilah ke perbatasan. Jangan pernah kembali, jika tempat itu belum sepenuhnya berada dalam situasi kondusif.”
Kaezar tetap terdiam dengan ekspresi wajah datar. Siapapun tahu jika wilayah perbatasan yang menjadi tempat kekuasaannya tidak akan pernah berada dalam kondisi kondusif, kecuali jika dilakukan negosiasi secara baik-baik. Selama ini pihak Kaezar sudah mencoba melakukan negosiasi dengan pihak pribumi yang tinggal wilayah di seberang perbatasan kerajaan Robelia. Namun, meraka enggan menanggapi, karena dulu sekali pernah dikecewakan oleh otoritas raja Robelia yang mengharuskan pihak mereka menjadi budak kalangan bangsawan. Karena kesalahpahaman itu lah, hingga saat ini perang terus terjadi di perbatasan. Selain konflik dengan pribumi dari wilayah seberang, perbatasan juga menjadi tempat tinggal komplotan bandit, perampok, perompak, dan penjahat lain dari berbagai negeri. Mereka ikut memperkeruh suasana, dikarenakan tidak mau wilayah tersebut masuk kerajaan manapun.
“Dengan demikian, Anda tidak pernah menginginkan saya kembali.”
“Tentu saja tidak,” sanggah sang raja. Ada senyum misterius tercipta di sudut-sudut bibirnya. “Istana ini terlalu besar untuk ditinggali oleh keluargaku sendiri. Masih cukup tempat untuk menampung keluarga kecilmu kelak.”
Ucapan dan pembuktian yang tidak sebanding. Kenapa? Karena jika Kaizen mau memberikan space kosong di istana untuk tempat tinggal Kaezar, pria itu tidak mungkin memberikan tugas serta gelar yang mengharuskan Kaezar untuk segera meninggalkan istana. Lagipula semenjak dahulu, Kaizen tidak pernah menganggap Kaezar ada, apalagi sebagai bagian dari keluarga.
“Saya akan kembali ke perbatasan,” kata Kaezar kemudian. Berhasil mengejutkan Kaizen, namun pria itu pandai menutupi keterkejutan.
Bukan hanya Kaizen yang dibuat terkejut, melainkan audience yang sejak tadi menyimak pembicaraan tersebut. Meraka tidak menyangka jika Elang Muda Kekaisaran akan kembali meng-iyakan titah raja dengan gampangnya. Sepersekian detik berikutnya, mereka dibuat tertegun lagi dengan kalimat Kaezar.
“Kali ini ada yang saya inginkan sebagai imbalan.”
“Imbalan?” ulang Kaizen. Ada senyum miring yang tersungging. “Apakah satu peti piéces d’or dan dua peti Piéces d’argent yang diberikan kerajaan sebagai tunjangan tidak cukup? Saya dengar estat Anda di Sésilia sudah dipenuhi oleh timbunan piéces d’or dan Piéces d’argent.”
Sindiran itu tidak berarti apa-apa bagi Kaezar. Ia memang menerima satu peti piéces d’or dan dua peti Piéces d’argent setiap bulannya sebagai tunjangan. Kendati demikian, ia tidak pernah menggunakan semua itu untuk keperluan pribadi. Ia hanya menggunakan semua itu untuk pengeluaran internal wilayah Sésilia, serta biaya operasional estat yang menjadi tempat tinggalnya di Sésilia. Sebagian lagi diberikan secara merata pada rakyat kurang mampu di wilayah Sésilia.
“Bukan harta atau tahta yang saya inginkan sebagai imbalan, jika berhasil membawa wilayah perbatasan pada kondisi paling kondusif.”
“Lantas apa?”
Kaezar menatap sang raja dengan rasa percaya diri yang terpancar nyata di matanya. “Izinkan saya melepaskan status sebagai seorang bangsawan bermarga Kadheston.”
Riuh langsung memenuhi suasana di dalam ruangan. Mereka tidak pernah menyangka jika sang pangeran, satu-satunya pangeran yang masih melajang, menginginkan status bangsawannya dilepas. Padahal posisi pangeran Kaezar sangatlah penting bagi keutuhan kerajaan Robelia. Mengingat ia adalah satu-satunya pangeran yang tersisa dari raja sebelumnya. Ia juga berjasa besar mempertahankan keamanan wilayah Robelia.
“Melepaskan gelar bangsawan? Lalu apa yang akan kau dapatkan tanpa gelar bangsawan?”
“Kehidupan yang lebih tenang dalam kesederhanaan,” jawab Kaezar. “Saya juga akan berhenti mengabdi pada Militer Robelia.”
Ketar-ketir. Mungkin itu lah perasaan yang mulai audience rasakan. Begitu pula Kaizen. Mungkin, lebih tepatnya ia merasa penasaran. Apa alasan yang tiba-tiba membuat Kaezar mau melepaskan gelar kebangsawanan serta kedudukannya pada pertahanan Robelia. Pasti ada yang salah dengannya. Jika sampai itu terjadi, sangat disayangkan sekali, karena mereka harus kehilangan Perwira mudah yang multitalenta seperti Kaezar.
“Pikirkan sekali lagi. Jika benar itu yang Anda inginkan, maka akan aku pertimbangkan.”
“Tidak ada yang perlu saya pikirkan lagi,” sahut Kaezar. “Keputusan saya sudah bulat,” lanjutnya dengan mantap.
Setelah menyampaikan keinginan yang mengejutkan tersebut, Kaizen tidak dapat menahan Kaezar lagi. Pria rupawan itu langsung bergegas pergi, hendak kembali ke perbatasan hari itu juga. Pasukan bayangan yang berada di bawah perintah Kaezar juga sudah ditarik mundur, diperintahkan untuk segera bersiap, kembali ke perbatasan. Rupanya pria itu tidak main-main.
💰👑👠
Hukuman yang diberikan pada Kayena telah menyebar luas, secepat rumor yang mengaitkan perselingkuhan dirinya dan Kaezar menyebar. Sekarang informasi tersebut sudah sampai di telinga berbagai lapisan masyarakat Robelia. Tak tanggung-tanggung, hari itu juga Kayena langsung mengemas pakaiannya, karena ia akan segera meninggalkan istana. Isak tangis sempat terdengar di beberapa penjuru istana ratu, terutama kediaman utama Kayena.
“Tidak ada yang perlu kalian tangisi,” ucap Kayena ketika bicara di hadapan para pekerjanya. “Jika kalian percaya pada diriku, kalian pasti akan berpegang teguh pada kebenaran.”
Para pekerja yang sebagian besar terdiri dari wanita mengangguk dengan derai air mata yang belum surut. Mereka tidak bisa ikut ke Kastil Putih untuk mengabdi pada Kayena, karena hanya dua orang pelayan yang diperbolehkan mengikuti Kayena. Itu adalah perintah sang baginda raja.
Walaupun akan pergi meninggalkan istana, Kayena tak melupakan tanggung jawabnya guna memberikan pesangon pada para pekerja. Ia telah memberi mereka masing-masing satu kantong piéces d’or, di mana di dalamnya terdiri 150-an lebih keeping emas yang dapat ditukarkan dengan berbagai komoditi. Sebagai majikan, serta ratu yang selama ini mereka layani, Kayena memberikan mereka tugas terakhir sebelum menjalani masa hukuman; yaitu pulang ke kampung halaman. Secara tidak langsung, Kayena memberi mereka jatah “cuti” yang biasanya sulit sekali mereka dapatkan.
“Kembali lah dengan selamat, Yang Mulia Ratu. Kami semua akan setia menunggu Anda,” ucap salah seorang pelayan, mewakili yang lainnya.
Kayena tersenyum tipis seraya mengangguk. “Aku pasti akan kembali dengan selamat, sekalipun jika bukan tempat ini yang menjadi tempatku untuk pulang.”
Setelah melakukan perpisahan dengan para pekerja di istana ratu, kayena beserta rombongan—yang hanya terdiri dari dirinya, Kima, seorang kepala koki, serta dua penjaga bergegas pergi menuju Kastil Putih yang berada di salah satu pulau terpencil yang menjadi bagian pribadi milik kerajaan Robelia. Kejutan Kayena dapatkan ketika ia berhasil meninggalkan gerbang istana, karena di luar tembok yang menjulang tinggi, para rakyat sudah menunggu kehadirannya.
Kayena sempat berpikir jika mereka akan kecewa, karena termakan oleh rumor yang beredar. Namun, dugaannya salah besar, karena mereka semua tetap percaya pada ratunya. Sorak-sorai mewarnai perjalanan kereta kuda sederhana yang dinaiki oleh Kayena. Jendelanya dibiarkan terbuka, karena itu adalah bagian dari siasat untuk mempermalukan wajah pengkhianat yang biasanya diarak menggunakan kereta kuda biasa. Berbanding terbalik dengan Kayena, karena jendela yang dibiarkan terbuka malah membuatnya bisa langsung bertatap muka dengan rakyat yang akan merindukan kehadirannya.
“Pergilah Ratu Kayena. Keputusan Anda untuk bersama Pangeran sudah benar!”
Kayena tersenyum tipis ketika mendengar teriakan tersebut. Bukan saja mengantarkan kepergiannya, mereka juga membawa berbagai macam bunga guna dilemparkan ke arah kereta kuda Kayena. Bukan sampah, atau makanan busuk, seperti yang biasa dilakukan pada kereta kuda yang mengangkut pengkhianat. Mereka melemparkan bunga segar, bahkan membuat rangkaian bunga Lobelia yang menjadi lambang kerajaan Robelia untuk Kayena.
“Jaga diri kalian baik-baik,” ucap Kayena sebelum meninggalkan pusat kota Robelia, beserta rakyatnya yang setia.
Kereta kuda yang membawanya dijaga ketat oleh sepuluh prajurit dari pasukan khusus. Mereka diminta untuk mengantarkan sang ratu tiba di Kastil Putih dengan selamat.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja kereta kuda yang mereka naiki berhenti. Kayena sempat bertanya pada Kima, kenapa mereka berhenti? padahal mereka baru tiba di hutan belantara yang akan menjadi penghubung menuju pulau di mana Kastil Putih berada.
“Yang Mulia Ratu, turunlah.”
Kayena tertegun mendengar. Itu ... suara Kaezar. Ia sempat memastikan pendengarannya dengan bertanya pada Kima. Namun, pendengarnya memang tidak salah.
“Apa yang sedang Anda lakukan di sini, Pangeran?” tanya Kayena yang baru saja keluar dari kereta kuda.
Pandangannya langsung bertemu dengan pria rupawan yang berdiri tak jauh darinya.
“Aku hanya ingin melakukan perpisahan secara layak.”
Kayena terdiam. Situasi saat ini seolah-olah mendukung mereka untuk bicara berdua, karena para prajurit yang ditugaskan oleh Kaizen pun memberikan mereka space untuk bicara.
“Kita tidak akan bertemu dalam waktu dekat, jadi aku ingin bertemu denganmu.”
“Tindakan ini sangat berbahaya, Pangeran. Anda bisa saja mendapatkan hukuman tambahan jika ketahuan.”
Kaezar tersenyum tipis ketika Kayena mendekat ke arahnya. “Seumur hidup aku sudah terbiasa mendapatkan hukuman,” jawabnya, kelewatan datar. “Aku hanya ingin bertemu sebelum kita berpisah.”
Perpisahan di antar mereka memang sangat dipaksakan. Padahal hubungan mereka baru saja dimulai. Namun, mau bagaimana lagi. Kayena juga tidak mau membuat Kaezar berada dalam bahaya.
“Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kali?”
Kayena terkesiap. Saat ini jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa sentimeter.
“Jika kamu tidak mengizinkan ...”
“Terima kasih, karena sudah datang.”
Kalimat Kaezar terpotong oleh tindakan Kayena yang tiba-tiba menghambur ke dalam pelukannya. Tak sampai di sana, Ratu Robelia itu juga membuatnya terkejut dengan ungkapan yang ia dilontarkan.
“Aku pasti akan merindukan kamu.”
Kaezar tersenyum tipis seraya membalas pelukan tersebut. Satu kecupan hangat kemudian ia tinggalkan di pucuk kepala satu-satunya wanita yang berhasil membuat penyakitnya tidak kambuh.
“Bertahanlah walaupun kamu sangat merindukan ku, Kayena. Aku akan segera menjemputmu, jika tugasku sudah selesai.”
💰👑👠
TBC
Gimana perasaan readers setelah baca bab ini? semoga suka 😘
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 29-05-23