How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00129. Conversation chaleureuse des hommes de Kayena (Obrolan hangat para pria



00129. Conversation chaleureuse des hommes de Kayena (Obrolan hangat para pria Kayena)


“Makanlah.”


Dua pria rupawan yang akan segera menjadi saudara berkata secara bersamaan ketika tangan mereka yang mengapit sumpit, memindahkan dua jenis daging yang diolah dengan cara dipanggang ke mangkuk yang sama pula. Pemilik mangkuk berisi nasi putih yang sangat pulen dan harum itu sampai terdiam dalam beberapa detik, sembari menatap dua pria rupawan yang baru saja memberinya potongan daging ikan panggang dan daging ayam hutan panggang. Sepersekian detik berikutnya, ia menyunggingkan senyum seraya mengucapkan terima kasih.


“Yang Mulia Kaisar dan Pangeran Kwang Min tidak perlu repot-repot.”


Dua pria rupawan itu tampak kompak mengangguk, kemudian membuang muka ke arah berlawanan. Tindakan tersebut berhasil mengundang smirk di bibir Cesare, serta helaan napas kecil Khayansar.


Saat ini mereka tengah menikmati acara makan bersama untuk kedua kalinya, minus nenek Kaisar Kwang Sun serta dua Nona Muda yang selalu bersamanya. Usut punya usut, wanita tua itu tidak dapat bergabung karena harus berkunjung ke kuil—salah satu agenda rutinnya pada tanggal tertentu. Jadilah mereka hanya makan bersama—Kayena, Kaezar, Khayansar, Cesare, Kaisar Kwang Sun, serta beberapa pejabat yang dekat dengan sang Kaisar—di paviliun dekat danau teratai.


Di bawah gelapnya langit, mereka menikmati nasi hangat yang pulen bersama daging panggang hangat yang diperkaya dengan cita rasa khas, serta aroma bakaran. Kayena makan cukup banyak, karena ada 4 pria yang begitu memperhatikan porsi makannya. Terutama Cesare yang sudah pernah menangani wanita hamil. Pria itu punya segudang wejangan, baik untuk Kayena atupun Kaezar.


Selesai menikmati jamuan makan malam, mereka menghabiskan waktu untuk bincang-bincang, ditemani oleh teh sakura yang khusus untuk Kayena, sedangkan para pria disuguhi anggur beras—arak beras dan minuman beralkohol yang dihasilkan dari fermentasi pati beras yang berubah menjadi gula—terbaik dari Astoria. Rasa arak akan berubah seiring bertambahnya waktu fermentasi. Di awal proses fermentasi, arak beras akan terasa seperti buah-buahan dan sedikit asam seperti jeruk (citrusy). Semakin lama, kadar karbon dioksida dalam arak akan berkurang sehingga cita rasanya akan berubah semakin lembut dan manis. Disediakan pula kudapan manis yang ringan di mulut sebagai teman mengobrol.


“Acara pengangkatan Pangeran Kwang Min akan dilakukan lusa,” ucap Kaisar Kwang Sun, membuka pembicaraan. “Nanti aku akan meminta kasim Kim untu membantu kamu bersiap.”


Kalimat terakhir sang Kaisar jelas ditunjukkan pada Kaezar yang duduk di samping Kayena.


“Terima kasih banyak. Maaf jika sudah merepotkan,” sahut Kaezar.


“Tidak perlu berterima kasih, karena sekarang kamu adalah bagian dari keluarga.” Sang Kaisar dengan segala kewibawaan yang terpancar jelas membalas. Tindak-tanduknya selalu tenang, terarah, serta sejalan. Ketabahan serta ketenangan yang ia miliki memang tidak tertandingi.


Sifatnya yang kuat, tidak mudah terkecoh oleh lawan, menjadi salah satu keunggulan yang sulit dikalahkan. Dalam memimpin kekaisaran, jelas ia berperan sangat baik selaku pemimpin. Bijaksana, adil, berpandangan luas, serta tegas. Jika menemukan kesalahan, maka ia tidak akan memberikan toleransi. Di bawah kepemimpinannya, Kekaisaran Astoria menjadi lebih baik lewat kenaikan berbagai aspek primer maupun sekunder.


“Kalian akan segera pergi setelah acara pengangkatan Pangeran Kwang Min?” pertanyaan itu tidak langsung mendapat jawaban.


Cesare tampak melirik Khayansar—tidak mau asal bicara. Sedangkan Khayansar sendiri sudah memutuskan bahwa mereka tidak boleh terlalu lama tinggal di Astoria. Tujuan mereka jelas; keberadaan Kayena. Setelah bertemu Kayena, mereka bisa langsung pergi. Namun, situasinya menjadi runyam semenjak nenek Kaisar Kwang Sun menunjuk Kaezar sebagai cucu angkat. Tidak mungkin mereka langsung pergi begitu saja.


“Tidak perlu merasa cemas, jika memang kalian harus segera pergi setelah Kaezar resmi diumumkan sebagai Pangeran. Pernikahan adalah prosesi sakral yang sebaiknya tidak ditunda-tunda,” kata sang Kaisar, masih dengan ketenangannya. “Mempercepat pernikahan juga baik untuk Kayena dan bayinya.”


Kaezar paham maksud sang Kaisar. Begitu pula dengan Cesare, Khayansar, dan Kayena. Sang Kaisar selalu mengutamakan yang terbaik, terutama bagi orang-orang terkasih.


“Tanggal pernikahan telah ditentukan,” jawab Kaezar, mewakili. “Kami akan segera melangsungkan pernikahan, setibanya di Edinburgh.”


“Baguslah.” Ada senyum tulus yang terbit di bibir sang Kaisar, walaupun sangat tipis. “Pada pernikahan pertama Kayena dan Raja Robelia, aku tidak dapat hadir karena urusan kenegaraan. Pada kesempatan kali ini, aku akan berusaha untuk menghadiri hari bahagia kalian berdua.”


Sang Kaisar tampak tidak keberatan bicara blak-blakan, karena sekarang hanya tersisa mereka ber-lima. Sedangkan yang lainnya sudah menjauh—termasuk kasim, pelayan, dan prajurit sang Kaisar yang diperintahkan untuk berjaga agak jauh dari paviliun dekat danau teratai.


“Jika aku berhalangan untuk hadir, aku pasti akan tetap mengirimkan hadiah pernikahan untuk kalian.”


Kayena tersenyum kecil sembari mengeratkan tautan tangannya dengan Kaezar di bawah meja. “Kehadiran Anda adalah hadiah yang tidak terhingga nilainya.” Ia berkata seraya menatap cinta pertamanya di masa kecil dengan hangat. “Pada hari bahagia kami, saya ingin melihat Anda hadir dan berbaur bersama sebagai bagian dari keluarga.”


“Keinginan yang sulit ditolak, apalagi datang dari kamu,” balas sang Kaisar sebelum meminum anggur beras yang tersisa di gelas. “Akan aku mengusahakan untuk datang di hari bahagia kalian.”


Kayena mengangguk seraya mengembangkan senyum. Satu-satunya benang kusut di antara mereka telah diselesaikan lewat sebuah keikhlasan. Bentuk lain dari mencintai adalah ikhlas bukan? Bahkan ada yang mengatakan bahwa mengikhlaskan adalah kasta tertinggi dalam mencintai.


“Ketika bayi kalian lahir, jangan lupa mengirimkan surat ke Astoria. Sebagai paman satu-satunya, aku akan dengan senang hati menyambut kelahirannya.”


“Pasti,” kata Kayena dan Kaezar—bersamaan.


Cesare dan Khayansar diam-diam ikut merasa lega juga bahagia. Ada yang harus dikorbankan memang; demi membuat adik kecil mereka bahagia. Salah satu bentuk dari pengorbanan itu adalah sang Kaisar yang menyerahkan adik kecil mereka pada pria lain—padahal ia telah menunggu cukup lama, supaya bisa bersama adik mereka.


“Entah mengapa, aku merasa bahwa kalian akan memiliki seorang putri.”


Ucapan sang Kaisar berikutnya, berhasil membuat Kayena, Kaezar, serta dua Pexley bersaudara terkejut.


“Laki-laki ataupun perempuan, bayi kalian pasti akan sangat menggemaskan,” tambah sang Kaisar dengan senyum yang kian mengembang. “Jika kalian memiliki lebih dari satu bayi, izinkan aku untuk memberi salah satunya nama.”


Kayena dan Kaezar kompak saling pandang. Sebelum akhirnya Kaezar yang mengambil kesempatan untuk bicara. “Tentu saja, Yang Mulia Kaisar. Kami tidak akan keberatan jika Anda ingin memberi bayi kami nama.”


Sang kaisar mengangguk dengan perasaan puas. Bayi yang dilahirkan oleh Kayena akan mendapatkan kasih sayang yang besar dari sang Kaisar, karena Kayena adalah wanita yang memiliki tempat tersendiri di hatinya. Walaupun tidak memiliki kesempatan untuk bersama, setidaknya sang Kaisar merasa lega, karena kali ini ia melepaskan Kayena bersama pria yang tepat.


“Apakah Anda akan terus seperti ini?” pertanyaan itu dilontarkan oleh Khayansar, beberapa saat setelah Kaezar meminta izin untuk mengantar Kayena ke kamarnya. Wanita hamil itu butuh istirahat, dikarenakan udara semakin dingin.


“Seperti ini bagaimana maksudnya, Kak?”


“Sendirian. Memikul beban sebagai seorang pemimpin tanpa pendamping.”


“Kakak juga masih betah melajang di usia yang sudah tidak muda lagi.” Sang Kaisar menimpali.


Bak senjata makan tuan, Khayansar yang memulai obrolan terlihat menarik sudut bibir. Menciptakan lengkungan senyum tipis, kala ia terjebak oleh topik pembicaraannya sendiri.


“Kayena sudah menemukan pasangan sekaligus penawar luka yang didapat dari pernikahan sebelumnya. Apakah Anda juga tidak berkeinginan untuk mulai mencoba?”


“Untuk saat ini belum ada,” jawab sang Kaisar, kemudian. “Namun, tuntutan untuk meneruskan keturunan keluarga kekaisaran, lambat-laun pasti akan membuat ku mengambil seorang pendamping. Keturunan harus tetap dilahirkan, sekalipun tanpa cinta dalam proses pembuatannya. Lagi pula, seorang pria seperti kita hanya jatuh cinta satu kali, sisanya adalah upaya untuk meneruskan keturunan.”


Khayansar sebenarnya agak setuju dan tidak dengan ucapan sang Kaisar. Namun, kondisi tersebut juga berlaku padanya.


“Lalu bagaimana dengan Kakak? Aku mendengar bahwa wanita itu telah kehilangan suaminya tahun ini.”


Khayansar terdiam—tidak menyangka jika Kaisar Kwang Sun akan membawa topik tentang wanita “itu” pada pembicaraan mereka.


Kaisar Kwang Sun yang melihat gelagat itu tampak tersenyum tipis. “Kita memang cocok menjadi saudara, karena kisah asmara kita juga hampir serupa, walaupun tidak sama.”


Ada nada mengejek terselip di kalimat tersebut. Namun, Khayansar tidak menanggapi dengan serius, karena memang kalimat tersebut didasari oleh fakta.


“Jadi, bagaimana? Bukan kah setelah satu tahun masa berkabung, wanita di London boleh kembali menikah?”


“Hm.”


“Bagus. Itu kesempatan emas, Kak.” Kaisar Kwang Sun dengan santai memberi solusi. Seolah-olah mereka bukan lagi dua pria dewasa yang memiliki jabatan sebagai pemimpin Negara serta pemimpin wilayah, melainkan hanya dua pria kurang beruntung dalam urusan asmara. “Apakah Kakak risau karena takut wanita itu masih menyimpan perasaan untuk pria lain?”


“Saya lebih risau dengan sifatnya yang lebih mementingkan kebahagiaan orang lain, dari pada kebahagiannya sendiri.”


“Benar-benar cocok dengan Kakak,” respon Kaisar Kwang Sun. “Kakak juga selalu mementingkan kebahagiaan orang lain, sampai-sampai lupa dengan kebahagiaan sendiri.”


Tahu jika Khayansar tidak akan menjawab, Kaisar Kwang Sun kemudian kembai mengisi gelas mereka yang telah kosong.



“Mari kita berdamai dengan masa lalu, Kak. Kita sudah melewati masa-masa sulit. Sekarang yang kita butuhkan hanya tekad untuk meraih kebahagiaan dengan seseorang yang tepat.”


Khayansar menerima uluran tangan Kaisar Kwang Sun yang kembali memberinya minuman. “Hm. Saya juga sudah memikirkannya.”


“Jadi, karena itu Kakak juga mengingatkan aku untuk segera mencari pendamping?”


“Anda sudah cukup lama menyendiri. Sudah waktunya juga kekaisaran ini memiliki seorang permaisuri.”


“Baiklah,” setuju Kaisar Kwang Sun. “Aku juga akan mempertimbangkan solusi untuk posisi permaisuri.”


Kedua pria rupawan itu kemudian sama-sama terdiam sembari menikmati minuman masing-masing. Takdir memang terkadang suka melucu, karena pria yang setianya tidak perlu diragukan seperti mereka, justru harus disia-siakan begitu saja. Kehadiran Cesare di tengah-tengah mereka—setelah pria itu pamit ke kamar kecil—membuat mereka berdua sadar; hanya Cesare yang sangat beruntung dari segi asmara. Walaupun tidak selancar jalanan yang lurus, kisah asmara Cesare terbilang cukup bagus. Selain menjadi orang pertama yang menikah di usia cukup muda dengan wanita yang dicintainya, Cesare juga menjadi orang pertama yang memiliki anak di antara mereka.


Padahal Cesare yang paling cuek dengan wanita. Cesare bahkan mengaku tidak pernah jatuh cinta sampai usia yang terbilang dewasa, lebih tepatnya ketika ia bertemu sang istri di pertandingan bebas antara sesama Ksatria. Siapa sangka, mantan Panglima Perang termuda dari Robelia itu jatuh cinta pada seorang Sword Master dengan identitas asli sebagai Princess Hygria. Tanpa basa-basi, ketika menyadari ia telah menemukan wanita yang diinginkan untuk menjadi pendamping hidup, Cesare rela melepaskan segalanya demi sang pujaan hati.


“Cesare dan Kayena adalah satu kesatuan ketika memperjuangkan cinta.”


Khayansar ingat betul ketika ayahnya—Khie de Pexley berkata demikian. Mengingat Kayena dan Cesare itu memang hampir serupa dari segi sifat; hanya versi gender yang berbeda.


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 12-08-23