
00106. Relatif à la loi de cause à effet (Terkait Hukum sebab-akibat)
“Sebagai manusia biasa, saya tidak dapat memilih akan lahir dari orang tua seperti apa. Lalu, kenapa kalian begitu membenci saya yang tidak tahu apa-apa? ingat baik-baik, saya tidak pernah berkeinginan untuk dilahirkan untuk dilahirkan sebagai putra dari Raja Robelia sebelumnya dengan putri Icrea. Jika boleh memilih, saya lebih baik dilahirkan pasangan suami-istri dari kalangan rakyat biasa, supaya saya tidak perlu mengalami semua ini.”
Kalimat terakhir itu seperti sebuah sindiran yang berhasil membuat lawan bicara Elang Muda Kekaisaran ditampar oleh kenyataan.
Manusia memang tidak dapat memilih akan lahir dari orang tua seperti apa. Mereka yang lahir di tengah-tengah keluarga kurang harmonis juga tidak sepatutnya disalahkan, apalagi sampai di korbankan. Dikarenakan mereka tidak tahu apa-apa, walaupun terkadang mereka yang diharuskan untuk menanggung kesalahan terdahulu yang diperbuat oleh kedua orang tuanya.
Seharusnya Kaizen juga tidak terlalu menekan Kaezar sebagai “musuh”. Padahal Kaezar sejak dulu tidak pernah berubah, ia tidak pernah memperlihatkan minat serta bakat lebih soal kepemimpinan suatu wilayah. Tujuannya hanya satu semenjak dahulu, diakui keberadaannya oleh orang-orang yang menganggap dirinya sebagai bagian dari keluarga. Kaezar tidak pernah serakah. Ia tidak menginginkan harta, tanta, atau wanita. Ia hanya menginginkan keluarga untuk yang menerima kehadirannya dengan tangan terbuka.
Selama 26 tahun hidup, Kaezar telah mencoba mendapatkan semua itu dari orang-orang yang masih terikat hubungan darah serta hubungan kekeluargaan dengannya. Namun, tidak pernah ada hasil memuaskan yang ia dapatkan. Mereka yang masih terikat hubungan darah serta hubungan kekeluargaan dengannya hanya mau menempel padanya karena kebutuhan, bukan karena ketulusan yang Kaezar harapkan. Oleh karena itu, semenjak menyadari jika ia masih memiliki “kesempatan” untuk membangun keluarganya sendiri, Kaezar mengambil keputusan untuk melepaskan diri sepenuhnya dari orang-orang yang masih terikat hubungan darah serta hubungan kekeluargaan dengannya.
Kayena de Pexley adalah alasan bagi Kaezar untuk melepaskan segala-galanya. Bersama sang kekasih, Kaezar akan membangun keluarga kecilnya sendiri. Tempat di mana ia akan selalu diterima dan dirindukan kehadirannya. Kelak, kehadiran bayi mungil di antara mereka akan menyempurnakan segalanya. Kaezar tidak peduli jika bayi itu tidak lahir dari benihnya. Toh, mereka masih berbagi darah yang sama. Selama bayi itu masih milik sang kekasih, ia juga akan mencintai dan menyayanginya sama seperti darah dagingnya sendiri.
“Keputusan Anda sudah bulat?”
Di pertengahan jalan, Kaezar dihadang oleh tiga petinggi dari tiga matra militer Robelia. Ketiga orang dengan pangkat tinggi dan sangat terpandang itu entah bagaimana bisa kompak menghadang Kaezar.
“Hormat saya kepada, Mayor Jendral Claude dari Angkatan Laut Robelia, Jendral Cassadin dari Angkatan Darat Robelia, serta Jendral Charles dari Angkatan Udara.”
Kaezar langsung memberikan penghormatan pada salah satu petinggi dari dari angkatan Laut Robelia. Di samping sang Mayor Jendral, ada dua Jendral besar. Di mana salah satunya adalah Panglima Perang yang kedudukannya sama dengan Cesare sebelum meninggalkan Robelia.
“Tidak perlu lagi memberikan penghormatan, jika keputusan Anda sudah bulat untuk meninggalkan Angkatan Laut Robelia.”
Tepukan halus diberikan sang Mayor Jendral di bahu Kenan Kaezar. Dengan senyum tipis yang terpatri, di mana senyum itu berhasil membuat tiga orang di hadapannya terpaku. Mengingat Elang Muda Kekaisaran yang terkenal sangat dingin, memiliki aura suram, serta kelam, jarang sekali menunjukkan ekspresi. Namun, kali ini ada senyum yang menghiasi wajah rupawan nya.
“Keputusan saya sudah bulat. Setelah ini saya juga berencana menyerahkan jabatan saya secara simbolis kepada pimpinan kesatuan.”
“Anda benar-benar tidak mengenal rasa takut,” sahut salah satu Jendral di samping Mayor Jendral. “Pantas saja dijuluki Elang Muda Kekaisaran. Mungkin, sekarang julukan Elang Muda akan berubah, karena saya lihat Anda bukan lagi sekedar Elang Muda. Melainkan seekor Garuda.”
“Benar sekali. Elang Mudah telah beranjak dewasa. Beruntung sekali kita bisa melihat perkembangannya selama ini.”
“Yah, di antara kalian akulah yang lebih beruntung, karena dia ada di matra Angkatan Laut.”
Pembicaraan itu diselingi dengan senda gurau serta tawa ringan dari para petinggi yang menjadi saksi hidup perkembangan Elang Muda Kekaisaran. Dulu mereka bertiga mendapatkan tugas khusus dari mendiang Raja Robelia yang saat itu berkuasa. Seolah tahu jika putra keduanya dilahirkan untuk menjadi santapan empuk para pembenci di dalam istana, Raja Robelia terdahulu sengaja mendidik Kaezar dengan keras sejak kecil. Dari didikan itu ia berharap jika kelak Kaezar bisa bertahan hidup sendiri, ketika ia tidak lagi memiliki siapa-siapa untuk berlindung.
Raja Robelia terdahulu sangat menyayangi Kaezar, sekalipun ia dan ibu Kaezar tidak pernah berencana untuk memiliki seorang anak. Kaezar tidak bersalah, hanya itu yang diyakini oleh mendiang Raja Robelia sebelumnya. Setelah Kaezar kecil datang ke Robelia bersama dengan fakta bahwa ibunya telah meninggal dunia, Raja Robelia yang saat itu tidak pernah tahu soal kehamilan istri keduanya benar-benar merasa bersalah dan juga menyesal. Sebagai balasan dari ketidakmampuannya mengetahui keberadaan Kaezar sejak awal, ia berupaya melindungi Kaezar semampunya selagi masih hidup. Walaupun tidak langsung memperlihatkan, mendiang Raja Robelia sejatinya selalu ingin Kaezar diperlakukan sama seperti Kaizen.
“Jika ini adalah jalan yang Anda pilih untuk meraih kebebasan dan kebahagiaan, pergilah Pangeran. Jangan pernah ragu selagi Anda yakin telah berada di jalan kebenaran.”
Pesan itu datang dari Mayor Jendral yang Kaezar kenal betul, karena sudah dianggap seperti orang tua sendiri.
“Hiduplah bahagia di manapun Anda memutuskan untuk tinggal, Pangeran. Temukan wanita yang benar-benar dapat memahami Anda. Lima atau sepuluh tahun mendatang, saya berharap masih diberi umur panjang agat dapat melihat Anda lagi versi kecil.”
“Tentu,” sahut Kaezar tanpa ragu.
“Temukan kebahagiaan yang menjadi alasan Anda berani melepaskan segalanya. Tiga pria tua ini akan mendukung Anda. Kedepannya, kami juga akan selalu berupaya untuk menjaga tanah yang ditinggalkan oleh leluhur Anda.”
Kaezar mengangguk. Raut wajahnya benar-benar tidak mencerminkan ekspresi apa-apa, namun sorot matanya tampak mengucapkan banyak hal. Membuat tiga orang di hadapannya yang bisa memahami segala jenis komunikasi, paham betul apa yang tengah disampaikan oleh salah satu dari dua kebanggan Raja Robelia terdahulu.
“Satu hal yang harus Anda ingat, Pangeran. Walaupun kelahiran Anda tidak pernah direncanakan, bagi mendiang Raja, Anda adalah salah satu hadiah terbaik dalam hidupnya. Beliau merasa bersalah karena tidak mengetahui kehadiran Anda dari awal, sehingga mendiang ibu Anda harus menanggung segalanya seorang diri. Namun, terlepas dari rasa bersalah serta penyesalan yang dirasakan mendiang Raja, beliau benar-benar menyayangi Anda seperti beliau menyayangi Kakak Anda.”
Kaezar terdiam cukup lama. Dia memang bukan anak-anak lagi, jadi dia sudah mengerti. Dulu ia sempat berpikir bahwa tidak ada lagi yang menyayanginya. Rupanya, pemikiran itu salah. Setiap kali berada dalam bahaya, ia menyadari jika ada satu atau dua pasukan bayangan yang sengaja ditempatkan untuk melindunginya. Ia juga sempat mendengar perselisihan antara ayah dengan istrinya, di mana ialah topik yang menjadi pemicu perdebatan tersebut. Ratu saat itu tidak terima perilaku Raja yang terus melindungi anak dari hasil pernikahannya dengan wanita lain.
Raja Robelia juga meminta maaf pada Kaezar, karena ia tidak dapat mencintai ibunya, namun tanpa sadar menitipkan kehidupan baru di rahimnya. Jika saja Kaezar tidak lahir, mungkin saja Putri Keiza of Icrea bisa hidup bahagia bersama pria yang dicintainya, setelah pernikahan politik mereka selesai tentunya. Namun, Tuhan telah membuat alur untuk cerita mereka. Pada sang putra, mendiang Raja Robelia mengatakan bahwa ia hanya mencintai satu wanita di hidupnya, yaitu Carlein Meidia de Cartland. Kendati demikian, bukan berarti ia akan menolak darah dagingnya yang lahir dari rahim wanita lain.
Raja Robelia terdahulu menyayangi Kaezar seperti sebagai mana mestinya seorang ayah menyayangi putranya. Ia juga ingin melindungi peninggalan terakhir dari wanita baik hati yang rela mengorbankan hidupnya deni tanah air yang dicintai. Walaupun tidak mencintai wanita yang telah melahirkan putra keduanya, ia sangat menghormati mendiang Putri Keiza of Icrea. Tanpa banyak orang ketahui, walaupun negeri Icrea sudah runtuh, tempat peristirahatan terakhir Putri Keiza of Icrea telah dilindungi dengan baik oleh Raja Robelia terdahulu. Pusaranya disembunyikan, ditutup untuk umum, namun tetap dipelihara dengan baik.
Ketika Kaezar berusia 17 tahun, seorang Ksatria mendiang Raja mengantarkannya ke tempat tersebut—tempat peristirahatan terakhir Putri Keiza of Icrea, ibu Kaezar. Nisan dengan nama Putri Keiza of Icrea dibuat dari batuan terbaik, tertanam di atas gundukan tanah yang ditumbuhi rumput hijau yang terawat dan tertata. Di sekitar tempat peristirahatan terakhir ibunya tumbuh beberapa pohon peach yang akan menggugurkan bunga ketika musim berbuah tiba. Mendiang Raja Robelia juga membawa simbol negaranya ke tempat peristirahatan terakhir istri keduanya, yaitu bunga Lobelia.
Dari Kstaria mendiang ayahnya pula, Kaezar tahu jika ibunya sudah dianggap seperti teman untuk berbagi pikiran. Bahasan informal nya, teman curhat untuk berbagi keluh kesah. Berbeda dengan istri pertamanya, istri kedua mendiang Raja Robelia itu terkenal cerdas dan terbuka. Satu tahun dua kali, ia akan datang berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir istri keduanya untuk menceritakan perkembangan anak mereka. Ketika berkunjung, ia akan melepaskan segala identitas kebangsawanannya, hanya menyisakan identitas seorang suami yang ingin berbagi keluh kesah dengan istrinya yang tidak ia perlakukan dengan adil semasa hidup.
“Saya tahu,” ucap Kaezar kemudian. “Ayah memang tidak pernah membenci saya.”
Kalimat itu disambut respon yang sama oleh ketiga lawan bicaranya; senyum tipis yang menandakan bahwa mereka lega mendengarnya.
Kaezar tidak pernah memelihara dendam di hatinya. Itulah mengapa mereka sangat percaya pada Kaezar. Sebenarnya, jika Kaezar mau merebut tahta kerajaan Robelia, ia punya potensi yang sangat besar untuk mewujudkan keinginan tersebut. Kendati demikian, Kaezar tidak punya pemikiran semacam itu. Ia tidak tumbuh dengan dendam yang sudah seperti racun, sekalipun tempat di mana ia tumbuh dan berkembang sangat menginginkan kematiannya.
“Saya pamit,” ujar Kaezar ketika ia sudah berada di depan pintu masuk istana. “Tolong jaga Kakak untuk saya. Apa yang dia tuai selama ini, suatu hari nanti akan berbalik dan menyerangnya dirinya sendiri.”
Walaupun Kaizen sangat membenci dirinya, tetapi Kaezar tidak punya kebencian yang sama dengan takaran sama pula. Apapun yang terjadi di antara mereka, sejatinya diperkeruh oleh lingkungan serta keadaan.
Kaezar tidak akan peduli lagi. Setelah ia menginjakkan kaki di luar gerbang utama sebagai Kaezar of Icrea, bukan lagi Kaezar Kadheston, hubungan di antara mereka benar-benar berakhir. Untuk kedepannya, urusan masing-masing akan diselesaikan secara perorangan. Kaezar tidak lagi memiliki kewajiban untuk membantu mempertahankan atau melindungi wilayah kerajaan yang dipimpin oleh Kaizen. Sekarang ia adalah Ksatria tak bertuan yang bebas berkeliaran.
“Tetaplah jaya, Robelia.” Kaezar bergumam kecil ketika menyentuh permukaan tanah di depan gerbang kerajaan Robelia.
Walaupun tidak dilahirkan di Robelia, sejak kecil ia hanya mengenal Robelia sebagai tanah air yang harus dijaga dengan jiwa dan raganya sendiri. Setelah 26 tahun ia mengabdi, tugas itu kini telah dilepaskan begitu saja dari pundaknya. Bohong jika ia tidak kehilangan. Namun, selain rasa kehilangan, ada rasa lega yang mendominasi dengan kuat.
“Kakak, ayo pergi.”
Cesare yang menunggu sejak tadi menoleh. Ada senyum tipis yang tersungging di bibirnya, sebelum merangkul bahu calon adik iparnya. Atmosfer di sekitar mereka seketika terasa menyenangkan, karena urusan di istana telah usai.
“Kini kau merasakan perasaan ku ketika harus meninggalkan tanah air.”
“Hm.”
“Rasanya, begitulah. Akan tetapi, pada kasus mu ini pasti terasa lebih berat,” lanjut Cesare seraya berjalan menjauhi gerbang utama bersama Kaezar. “Coba katakan, perasaan apa yang paling mendominasi saat ini?”
“Lega,” jawab Kaezar dengan cepat dan singkat. Kemudian tidak berselang lama, ada senyum yang ikut terbit di bibirnya. “Dan tidak sabar, karena sebentar lagi aku akan berjumpa dengan kekasih ku,” lanjutnya tanpa malu. Membuat pria di sampingnya tertawa lepas.
“Dasar pembual. Sekarang kau bahkan sudah berani memanggil Adikku dengan sebutan kekasih. Padahal sebelum hubungan kalian resmi memiliki nama, Kayena tetaplah milikku, Ayah, dan Khayansar. Jangan coba-coba untuk mendominasi kesayangan kami.”
“Aku mana berani,” jawab Kaezar dengan lengkungan senyum yang masih abadi. Sorot matanya terarah ke depan dengan langkah mantap; menjauhi pusat kerajaan Robelia. “Kita tahu sendiri, bahwa baik Kakak, Kakak pertama, Ayah, ataupun aku, punya tempat tersendiri di hatinya. Oleh karena itu, aku tidak pernah merasa cemas, karena tahu di hatinya ada tempat tersendiri untukku.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 12-08-23