
0043. La Reine Piégéé Dans La Tour (Ratu yang terkurung di menara)
“Kayena.”
Setelah sekian lama, pria yang memiliki kedudukan paling tinggi itu akhirnya angkat suara. Ia bahkan meninggalkan singgasana ketika berkata. Hendak mendekat pada sang Ratu yang tidak berada di sisinya seperti biasa. Padahal semenjak mereka “dijodohkan”, wanita cantik itu tidak pernah absen dari sisinya. Suka maupun duka, ia tetap ada sebagai support sistem Kaizen.
“Jika semua rumor itu memang tidak benar, maka jawablah satu pertanyaan ku.”
“Silahkan ajukan pertanyaan sebanyak yang Anda inginkan, Yang Mulia,” jawab Ratunya.
Kaizen, King of Robelia itu mengangguk singkat. Sekarang posisinya sudah berdiri tepat di hadapan Kayena. Mungkin tinggal beberapa meter lagi jarak yang tersisa di antara mereka. Sebelum berada di posisi ini, ia sempat menangkan sorot mata tak suka dari kakak iparnya. Begitu pula dengan adik tirinya. Pria rupawan itu tampak menampilkan raut wajah datar seperti biasa, namun ia bisa menangkap rasa tak suka pada sorot matanya. Kendati demikian, Kaizen tidak peduli pada mereka berdua. Dari semua orang yang mengisi ruangan, ia hanya peduli pada Kayena. Pada wanita yang telah mengisi kepalanya semenjak bangun di pagi hari.
“Aku ingin bicara berdua dengan Ratu.”
Tanpa harus mengulang dua kali, orang-orang yang berada di rungan langsung bergegas pergi. Meninggalkan tempat tersebut. Ada yang sempat menolak untuk pergi, salah satunya Cesare, Kaezar, serta Katarina. Namun, mereka juga kemudian meninggalkan tempat ketika Kaelus turun tangan.
Sekarang hanya ada mereka—Kayena dan Kaizen—di ruangan megah yang disangga oleh 4 pilar raksasa tersebut. Ada maha karya luar biasa berupa pahatan batuan alam di setiap bagian bawah keempat pilar tersebut.
“Semalam …kau ada dimana? Kenapa kau tidak memenuhi undangan ku untuk datang?” cecar Kaizen dengan kedua tangan yang bertumpu di bahu Kayena. “Kenapa kau malah terlihat bersama anak haram itu? Bukannya datang ke kamar ku!”
Emosi yang terkumpul sejak tadi akhirnya meletus juga. Kayena sempat terpana. Bukan terpesona, melainkan terpana akan “kebodohan” pria yang baru saja bertanya kepadanya. Apa mungkin pria itu mengalami amnesia pasca kelakuan bej*dnya semalam?
“Anda …lupa ingatan?” hanya itu yang kemudian diucapkannya Kayena. Dari sekian pertanyaan yang dilontarkan Kaizen, Kayena tidak berniat menjawabnya satu pun. Yang terpenting baginya sekarang adalah jawaban dari pertanyaan barusan.
“Bagian mana yang aku lupakan, Kayena? Sudah jelas-jelas semalam bukan kau yang datang ke kamar ku, melainkan Katarina.” Kaizen berkata dengan sorot mata tajam yang berkilat menyeramkan. Tidak ada pancaran kebohongan pada sorot matanya. “Kemarin malam, bukan bersama kau aku menghabiskan malam, melainkan Katarina,” lanjutnya, menuturkan.
Kayena bungkam. Suaranya seolah-olah tersendat di tenggorokan ketika Kaizen berkata demikian. Pria itu ingat telah menghabiskan malam bersama Katarina—pemilik nama yang terus ia er*ngkan sepanjang malam. Padahal yang ia gagahi adalah Kayena, bukan Katarina.
“Kenapa kau tampak terkejut?” Kaizen menyeringai iblis. “Apa sekarang kau merasa menyesal?” kali ini kedua tangan yang bertumpu di bahu Kayena ia gunakan untuk memberikan tekanan cukup kuat. “Semalaman kami berc*nta dengan hebat.”
Kayena tidak perlu mendengar penjelasan pada bagian tersebut, Karena ia tahu betul bagaimana kejadian dari awal hingga akhir. Karena ia yang mengalami semua itu, bukan Katarina. Namun, bagaimana bisa Kaizen melupakannya begitu saja?
“Kau … menghilang begitu saja, kemudian ditemukan bersama anak haram itu di pagi hari. Kau pikir aku percaya jika tidak ada apa-apa di antara kalian?” tuduh Kaizen tiba-tiba.
Kayena mendongkrak, kemudian menatap sepasang bola mata gelap milik Kaizen lekat-lekat. “Kalau begitu silahkan hukum saya, jika Anda sangat yakin dengan apa yang Anda ucapkan.”
“Tentu saja,” balas Kaizen. “Tidak ada maaf bagi seorang pengkhianat.”
Kayena ingin sekali tertawa mendengarnya. Bukan kah kalimat itu sangat cocok untuk disematkan pada dirinya sendiri? Kaizen sang pengkhianat. Pria itu malah lepar batu, sembunyi tangan; melakukan sesuatu, lalu bersikap seolah-olah tidak tahu menahu. Padahal, pengkhianat di sini adalah dirinya dan Katarina. Bukan Kayena. Akan tetapi, Kayena tidak mau membela diri, karena semua akan bernilai sama saja di mata Kaizen.
Kayena bersalah. Itu adalah vonis. Jika ia terus menyanggah, pria itu akan semakin berbuat bengis. Kayena juga tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut soal ingatan Kaizen yang keliru. Tak apa jika pria itu melupakannya, karena lebih mudah bagi Kayena untuk terus membencinya. Jika suatu saat nanti ada benih yang tumbuh akibat ulahnya, Kayena tidak akan pernah membiarkan ia mengetahui keberadaannya. Kayena tidak punya kuasa untuk membuat benih itu gagal berkembang, karena ia bukan seorang pecundang.
“Mulai besok kau akan menghuni Kastil putih, sedangkan anak haram itu akan mengabdikan sisa hidupnya di perbatasan!” vonis Kaizen dengan evil smirk yang masih tercipta di bibirnya. “Aku tahu dia sangat menginginkan kamu. Maka akan ku buat dia tidak bisa melihat wajahmu selama sisa hidupnya.”
Kayena menatap balik Kaizen dengan wajah datar. “Begini cara Anda menyingkirkan seseorang yang jelas-jelas tidak melakukan kesalahan apapun?”
“Kesalahannya adalah lahir ke dunia ini,” balas Kaizen. “Lahir dari wanita simpanan Ayahku,” lanjutnya dengan raut wajah mengeras. “Mengambil status sebagai Adik tiri yang tidak pernah ingin aku akui.” Kentara sekali jika kebencian terhadap Kaezar sudah mendarah-daging. “Kemudian, kesalahan yang paling fatal adalah berani tertarik pada milikku.”
“Aku bukan milik Anda!” tolak Kayena, tidak setuju dengan ucapan terakhir Kaizen.
“Kau istriku,” sanggah Kaizen. “You are my companion, my Queen. Mine,” tegas Kaizen. (kamu adalah pendamping ku, ratuku, milikku).
Kayena menggelengkan kepala. “You are sick, Your Majesty (Anda sakit, Yang Mulia),” balasnya. “Saya tidak lagi mengenali Anda.”
“Kau tidak perlu mengenaliku, cukup pahami keinginanku.” Salah satu ujung bibir Kaizen terangkat ketika bicara demikian. Raut wajahnya sudah tidak dapat ditebak, bahkan semenjak pembicaraan ini belum dimulai. “Turuti perintah ku, Kayena. Nikmati masa hukuman mu di Kastil Putih dengan baik, kemudian aku akan membawa mu kembali ke istana Ratu setelah situasi lebih kondusif.”
“Kenapa Anda tidak langsung menjatuhkan hukuman paling berat kepada saya? Bukan kah Anda yakin jika saya telah berkhianat?”
Mendengar kalimat Kaizen, rasanya perut Kayena tergelitik. “Jika saya mati dengan harga diri yang ternodai, suatu saat nanti Tuhan akan menunjukkan kebenarannya.”
“Tuhan tidak perlu melakukan apapun,” tolak Kaizen. “Aku memang tidak pernah berniat untuk menghukum kamu. Aku hanya ingin memisahkan kalian.”
Kayena tentu saja marah mendengarnya. Kaizen tidak berniat menghukum Kayena atas rumor yang berkembang, namun sengaja mengambil kesempatan untuk membuang Kaezar ke medan pertempuran. Rasanya tidak adil. Lagi dan lagi, Kaizen mengkambinghitamkan Kaezar.
“Jangan berbuat tidak adil pada Pangeran Kaezar. Dia tidak bersalah.”
“Aku tidak peduli, karena bagiku apapun yang dia lakukan adalah kesalahan.”
Batu. Satu kata itu cukup mendeskripsikan watak Kaizen. Kayena sudah tidak punya kesabaran lagi jika harus menghadapi Kaizen yang keras kepala. Watak ini dapat membuat stok kesabaran ludes dengan segera. Kayena benar-benar tak habis pikir, kenapa dulu ia bisa jatuh cinta kepada sosok tersebut.
“Kayena. Kamu tidak apa-apa?”
Cesare yang baru saja diperbolehkan memasuki ruangan, segera menghampiri adiknya. Tampak sekali raut wajahnya dipenuhi kecemasan.
“Aku baik-baik saja, Kak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Apa Raja Sial*n itu menyakiti kamu?” Cesare berkata dengan gamblang, ketika berada di dekat adiknya.
Kayena menggelengkan kepala sebagai jawaban. “Kakak, dengar. Mungkin waktu kita untuk bersama tersisa sedikit lagi.”
Cesare menautkan alisnya mendengarnya. “Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu?”
“Karena aku akan menjalani masa hukuman di Kastil Putih. Selama berada di sana, aku tidak bisa menerima kunjungan dari siapa pun.”
Cesare menggeram kecil mendengarnya. Ia tidak terima sang adik dihukum, hanya karena rumor tak berdasar yang beredar.
“Jangan lakukan apapun untuk saat ini,” ucap Kayena, seolah-olah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh kakaknya. “Aku hanya ingin minta satu hal.”
“Apa?”
“Tolong pastikan Pangeran Kaezar tiba dengan selamat sampai perbatasan. Dia akan mendapat hukuman di tempat tersebut.” Kayena masih tempat tenang ketika berkata demikian, padahal Cesare sudah ingin meledak-ledak.
“Lalu, bagaimana dengan kamu? siapa yang akan menjaga kamu?” cecar Cesare. “Kakak tidak bisa membiarkan kamu sendirian lagi.”
Kayena tersenyum tipis, kemudian tanpa aba-aba ia memeluk kakaknya. Berbisik dengan suara lirih, agar tidak menarik perhatian sama sekali. “Duke of Edinburgh akan datang dalam kurun waktu dua kali dua puluh empat jam setelah membaca surat ku. Jangan risau. Tolong pastikan saja Pangeran Kaezar baik-baik saja untukku.”
“Tunggu, apa kalian …”
“Tidak. Kami tidak pernah menjalin hubungan gelap,” bantah Kayena. “Kakak bisa memegang ucapan ku.”
“Hm.”
Kayena tersenyum tipis di balik tubuh Cesare. “Mohon kerja samanya, Kakak. Ini adalah rencana terakhir yang aku siapkan, sebelum meninggalkan Robelia.”
Cesare mengangguk kecil. Ia kemudian mengurai pelukan di antara mereka. Ada seberkas senyum tipis tercipta di bibir ketika tangan kanannya terangkat guna menyentuh pucuk kepala adiknya. “Kakak tahu kamu pintar dan pemberani. Selanjutnya, ayo tunjukkan pada mereka Putri Grand Duke Pexley yang sebenarnya.”
💰👑👠
TBC
Gimana perasaan readers setelah baca bab ini?
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 26-05-23