How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0046. L’adieu Que la Reine Voulait (Perpisahan Yang Diinginkan Ratu)



0046. L’adieu Que la Reine Voulait (Perpisahan Yang Diinginkan Ratu)


Warna hijau yang tersaji tampak segar sepanjang mata memandang. Pohon-pohon yang tinggi dan rindang mengelilingi bangunan yang menjadi satu-satunya di pulau tersebut. Pulau terpencil yang terpisah dari daratan utama wilayah Robelia. Pulau Putih namanya. Dinamai demikian karena pasir pantai di sekitar pulau tersebut berwarna putih dan sangat halus. Dulunya pulau Putih merupakan pulau pribadi milik seorang bangsawan asal Spanyol, yang kemudian dihadiahkan untuk kelahiran putra pertama raja Robelia terdahulu, yaitu kakek Kaizen.


Pulau Putih tidak terlalu luas, namun menjadi rumah bagi biota serta abiota yang langka. Sehingga menjadikannya asset Negara yang patut dijaga. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki akses untuk mengunjungi pulau Putih, di mana di jantung pulaunya terdapat Kastil Putih. Tempat yang dulu kerap dijadikan sebagai rumah singgah ketika liburan musim panas tiba, kini terbengkalai begitu saja. Semenjak kepemimpinan Kaizen, Kastil Putih jarang dikunjungi. Pria itu sibuk dengan urusan Negara dan kekasihnya, sedangkan Kayena juga sibuk dengan tugas pribadi serta meratapi nasib. Tidak ada waktu bagi mereka berdua untuk sekedar liburan ketika musim panas tiba. Yang ada, Kaizen akan berkeliling bersama Katarina.


Mereka biasanya melakukan perjalanan jarak pendek, mengunjungi tempat-tempat yang cantik untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Sedangkan Kayena … berjibaku dengan tumpukkan kerta kuning berisikan dokumen penting. Musim panas kemudian berlalu begitu saja, cepat, tidak terasa, karena ia hanya melihatnya dari balik jendela. Tanpa ada waktu untuk menikmati liburan singkat; semisal jalan-jalan di dermaga terdekat sembari menikmati es yang terbuat dari buah-buahan yang dihancurkan.


“Mari masuk, Yang Mulia. Saya telah mendapatkan informasi bahwa tempat ini sudah dipersiapkan untuk Anda,”


Kayena mengangguk kecil. Kastil Putih memang selalu rutin dibersihkan, sehingga bangunannya tetap terjaga dan terawat. Hanya saja, tempat itu terasa sangat dingin ketika baru pertama kali mereka masuki. Bagaimana pun juga, sudah lama tidak ditinggali.


“Tempat ini sudah lama tidak digunakan. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengecek persediaan bahan bakar, karena ketika malam tiba, suhu di pulau ini sangat ekstrim.”


“Kami paham, Yang Mulia.”


Kayena tersenyum tipis seraya mendudukkan dirinya di salah satu kursi dengan hiasan ukir yang khas. “Pastikan ulang juga, apakah tempat ini sudah aman dan nyaman untuk ditinggali. Mengingat kita akan menghabiskan beberapa pekan di tempat ini.”


Kima, kepala pelayan, serta dua prajurit berpangkat perwira tinggi I tampak mengangguk paham. Mereka hanya datang berlima, jadi harus bisa bekerja sama. Bukan saja saling mengandalkan, namun harus bisa saling menjaga. Bagaimana pun juga sosok yang tengah mereka jaga adalah Ratu Robelia. Wanita mulia yang tengah menanggung sebuah fitnah. Hebatnya, mereka tidak melihat kesedihan atau kekesalan di wajah ratu, sekalipun ia harus difitnah atas perbuatan yang tidak ia lakukan.


Kayena tampak biasa saja. Ia pergi dengan hormat, dagu pun terangkat. Ia tidak peduli persepsi orang lain, karena sulit mengikuti pemahaman orang-orang yang tidak menyukainya sejak awal. Kayena lebih memilih untuk menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Ia membawa beberapa buku, mulai dari buku anggaran, dokumen-dokumen penting, serta jurnal dan catatan lama. Semua itu akan ia persiapkan dengan baik, sebelum ia melepaskan posisi ratu.


Hukuman kali ini sebenarnya memberikan dua keuntungan bagi Kayena; pertama, karena ia bisa menjauh dari Kaizen untuk sementara waktu. Kedua, ia bisa dengan mudah menyusun ulang rencana yang sempat berantakan.


“Kenakan ini, Yang Mulia. Anda bilang suhu di sini sangat ekstrim ketika malam hari.” Kima berucap seraya memberikan selimut rajut tebal yang ia ambil dari dalam almari.


Saat ini Kayena tengah duduk di depan perapian, ditemani kepala koki yang tengah membakar ubi madu. Rupanya selain dibersihkan, komoditi berupa sandang dan pangan juga telah dipersiapkan dengan baik. Kayena jadi merasa heran. Apa maksud dari hukuman yang Kaizen berikan, jika semua fasilitas di tempat ini sebanding dengan rumah singgah di musim panas?


“Duduk lah, Kima. Ada yang ingin aku tanyakan.”


“Baik, Yang Mulia.” Kima segera mengambil posisi duduk. Di samping kaki Kayena, duduk langsung di atas lantai. Namun, Kayena memintanya untuk duduk di kursi. Mau tidak mau, ia harus menuruti.


“Surat yang aku kirimkan terakhir kali, apakah sudah tiba di tangan Duke of Edinburgh?”


“Saya yakin sudah, Yang Mulia. Albert berhasil pergi ke Inggris, sebelum surat penangkapan diturunkan.”


“Bagus. Aku harap Albert tiba di Wales dengan selamat. Hanya dia harapan terakhir ku,” sahut Kayena.


Jika tangan kanannya itu tiba dengan baik, maka jawaban surat itu akan datang sebelum 2x24 jam. Kakaknya bisa saja langsung menuju Robelia, 1x24 jam setelah membaca suratnya. Namun, perjalanan yang ditempuh guna mencapai Robelia pastinya membutuhkan waktu. Oleh karena itu, ia sudah menuliskan dalam suratnya, jika Duke of Edinburgh bisa datang dengan segera, namun tidak terburu-buru. Kayena akan menunggu. Ia juga meminta pria itu untu mengurus dokumen perceraian, serta perizinan untuk melangsungkan perceraian pada Uskup Agung Candor.


Perceraian di antara mereka—Kayena dan Kaizen—sangat sulit dilakukan, sebab Paus Calius (kepala Gereja Katolik Roma yang berkuasa di wilayah Robelia) tidak memberikan konsensi seperti permintaan izin untuk perceraian Raja dan Ratu. Apalagi pernikahan Raja dan Ratu Robelia yang saat ini berkuasa telah ditetapkan berdasarkan anjuran Uskup Agung Candor. Jadi, satu-satunya cara adalah meminta izin pada Uskup Agung Candor. Duke of Edinburgh lah orang paling cocok untuk menyelesaikan tugas tersebut, karena ia memiliki hubungan yang cukup baik dengan Uskup Agung Candor.


Pertanyaan polos itu berhasil membuat Kayena tersenyum lepas. “Jika aku main-main, tidak mungkin aku melibatkan tiga pria paling berpengaruh dalam hidupku.”


“Apa itu berarti jika Yang Mulia sudah yakin untuk meninggalkan Robelia?” Kima tampak bertanya dengan lirih. “Lantas bagaimana dengan saya?”


“Tidak ada yang tersisa di tempat ini, Kima,” jawab Kayena. “Keputusan ini aku ambil demi keberlangsungan hidupku. Dan soal kamu …”


“Saya akan mengikuti Anda kemanapun,” sahut Kima. “Suka maupun duka, saya akan setia mengabdi pada Anda. Sekalipun Anda tidak memberi saya upah.”


Kayena menggelengkan kepala dengan kecil. “Aku mungkin bisa meninggalkan yang lain,” katanya. Saat ini hanya ada mereka berdua di tempat itu. “Tetapi tidak dengan mu,” lanjutnya. Jelas sekali ada raut penuh kelegaan di wajah Kima. Seolah-olah apa yang selama ini menghimpit dadanya, telah dicabut begitu saja. “Aku membutuhkan kamu. Begitu pula dengan anak-anakku kelak,” tambah Kayena di dalam hati.


Perihal kejadian malam itu, tidak ada yang dapat Kayena lakukan demi membuat “benih” yang sudah terlanjut disemai di ladangnya. Satu cara yang ia bisa lakukan adalah menunggu, sampai tiba periode bulanan berikutnya. Jika periode bulanan itu tak kunjung datang, maka perlu dilakukan pemeriksaan ulang. Jika benar ada nyawa baru tumbuh dan berkembang di perutnya, maka Kayena harap Kaizen tidak pernah mengetahuinya sampai terjadi perceraian dan perpisahan.


“Aku sangat berharap Uskup Agung Candor menyetujui perceraian ku dengan Kaizen. Jika tidak, aku akan mengajukan anulasi,” gumam Kayena.


Pembatalan perkawinan dalam lingkup Gereja Katolik terkadang disebut anulasi (bahasa inggrisnya annulment), suatu hukum acara untuk menyatakan bahwa suatu perkawinan atau pernikahan batal dan tidak berlaku (atau batal demi hukum). Berbeda dengan perceraian, anulasi umumnya bersifat retroaktif, yang berarti bahwa suatu perkawinan yang dianulasi dianggap tidak valid sejak awal, seolah-olah tidak pernah terjadi. Anulasi dapat menjadikan suatu perkawinan yang tidak sah atupun perkawinan yang sah dianggap tidak ada atau batal.


“Jika Duke of Edinburgh bisa melakukan pembatalan pada pernikahan Cesare dan Camila, dia juga pasti bisa melakukannya pada pernikahan ku dan Kaizen.”


Kayena yakin terhadap apa yang saat ini ia percayai. Toh, jika rencananya sedikit meleset, ia telah mempersiapkan rencana cadangan; jika cara baik-baik tidak dapat digunakan, maka jalan lainnya adalah menggunakan sedikit kekerasan untuk melepaskan diri dari pernikahan yang selama ini mengikatnya dengan Kaizen.


“Yang Mulia tenang saja, Duke of Edinburgh pasti bisa melakukan apapun untuk adik tercintanya,” dukung Kima. “Saya juga tidak akan segan-segan mengorbankan nyawa saya demi kebebasan Yang Mulia.”


“Kima,” lirih Kayena, tak percaya.


Kima menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. “Selama ini saya sudah menjadi saksi betapa sulitnya Anda hidup bersama Yang Mulia Raja. Saya ingin Anda bahagia. Jika kebahagiaan Anda ada di luar istana, maka raihlah. Saya akan membantu semampu saya.”


💰👑👠


TBC


Gimana perasaan readers setelah baca bab ini? Semoga suka 😘


Jangan lupa mampir ke anak baru Author 👇



Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 01-06-23