
0081. La négligence de Katarina et la mort de Kyara (Kecerobohan Katarina dan kematian Kyara)
“Jadi, apa yang terjadi di malam itu?”
Tuntutan diberikan oleh pria yang berkata punya banyak kaki-tangan, serta mata-mata di istana, pada Katarina. Rupanya pria tersebut ingin mengetahui fakta di balik kebenaran yang terjadi pada malam itu. Di mana hanya Katarina dan Kayena saja yang mengetahui fakta tersebut.
“Memangnya untuk apa Anda ingin mengetahuinya? Bukan kah kita hanya dua orang asing yang tidak saling mengenal?”
“Tidak saling mengenal, namun sebagian darah yang mengalir di tubuhmu berasal dari diri ku,” ujar lawan bicaranya, di dalam hati.
“Lagi pula sampai saat ini saya belum yakin, apakah Anda ada di pihak saya, atau justru sebaliknya.”
Pria tersebut tersenyum miring. “Setelah kegilaan yang telah aku lakukan, kau masih tidak dapat menyimpulkannya?”
“…”
“Apa kau tidak tahu maksud dari dukungan yang diberikan oleh paman dari kekasih mu ini?”
Katarina yang sempat bungkam, kini memicingkan mata. Ia tidak mengenal Klautviz sebelumnya. Kaizen juga tidak pernah bicara, apalagi bercerita tentang pamannya yang satu ini. Sejauh yang Katarina ketahui, keluarga sedarah yang dimiliki Kaizen hanya Kaezar, sisa kerabat yang lain sudah terpencar di berbagai wilayah.
“Untuk apa Anda melakukan tindakan berbahaya dan beresiko di pengadilan? Apakah benar …Anda ingin melindungi saya?”
Kini giliran Klautviz yang diam. Membiarkan putrinya menerka-nerka terlebih dahulu.
“Jika benar Anda melakukan semua itu untuk melindungi saya, berarti selama ini Anda mengetahui apa saja yang telah saya lakukan demi menggulingkan mantan Ratu?”
Klautviz tersenyum misterius sebelum berdiri tegap seraya melirik taschenur—jam kantong—yang ada di sakunya. “Aku berada di pihak mu,” ujarnya kemudian, singkat. “Sekarang katakan apa saja yang terjadi pada malam itu?”
“Saya tidak bisa langsung mempercayai Anda,” sergah Katarina. Masih tersisa keraguan dalam benaknya. “Bagaimana jika Anda hanya memanfaatkan saya?”
“Apa pengorbanan ku belum cukup bagimu?” respon Klautviz. “Setelah melayangkan beberapa peluru ke tubuh pengkhianat itu, aku bisa kapan saja masuk penjara. Namun aku sudah mempertimbangkannya baik-baik, karena semua itu aku lakukan untuk menyelamatkan diri mu.”
“Tapi, kenapa? Bukan kah sebelumnya kita tidak pernah bertemu, lantas bagaimana bisa Anda mempertaruhkan nyawa Anda begitu saja untuk saya?”
“Karena aku menginginkan diri mu tetap berada di samping keponakan ku,” jawab Klautviz.
Katarina masih tidak paham dengan tujuan Klautviz. Namun, pria tersebut bahkan sudah mempertaruhkan nyawa sendiri demi menyelamatkan dirinya. Katarina patut curiga, karena sebelumnya mereka tidak saling mengenal. Namun, sebagian dari dirinya merasa jika pria tersebut sudah mengenal dirinya sejak lama.
“Aku berada di pihak mu, sampai kau menduduki singgasana Ratu,” tambah Klautviz, meyakinkan. “Dengan posisi serta kekuasaan mu saat ini, kau bisa dengan mudah menyingkirkan diriku jika terbukti berkhianat.”
Katarina mulai percaya. Pasalnya, ucapan Klautviz ada benarnya. Ia bisa dengan mudah menyingkirkan Klautviz de Meré dengan kekuasaannya. Sekalipun Klautviz adalah paman Raja yang menyandang gelar Archduke, ia sendiri adalah Grand Concubine alias Selir Agung yang sekarang menjadi satu-satunya wanita Raja.
“Malam itu …” Katarina akhirnya buka suara. Menjawab pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Klautviz de Meré. “ …benar. Raja telah meniduri mantan Ratu.”
Setelah mendengar jawaban tersebut, raut wajah Klautviz tampak tidak dapat dibaca. Pria itu juga sempat terdiam untuk beberapa saat.
“Sebelum putri Khiev de Pexley digulingkan, apa kau sudah mengecek kondisinya?”
“Maksud Anda?”
“Apa kau bodoh?”
“Apa? anda baru saja mengatai saya bodoh?” cecar Katarina, shock. Baru kali ini ada orang yang berani terang-terangan mengatai dirinya bodoh.
“Anda sadar baru mengatakan ‘bodoh’ kepada siapa?”
“Kau,” jawabnya, singkat. “Kau bodoh, juga ceroboh.”
“Atas dasar apa Anda mengejek saya?” marah Katarina. Wajahnya sudah merah. Hilang sudah nafsu makan malamnya.
“Karena kau membiarkan mantan Ratu pergi begitu saja, tanpa memastikan terlebih dahulu, apakah ada benih Raja yang tumbuh di rahimnya atau tidak.”
Katarina yang baru saja hendak menimpali, kontan terdiam. Benar juga. Ia tidak sempat berpikir ke arah sana. Bagaimana jika benar, ada benih Raja yang tumbuh di rahim mantan Ratu?
“Tidak mungkin,” bantahnya kemudian. “Raja hanya meniduri mantan Ratu satu kali,” lanjutnya. Walaupun dalam satu kali kesempatan itu, Raja sempat menumpahkan benihnya beberapa kali.
“Kau terlalu gegabah,” kata Klautviz sebelum beranjak pergi, meninggalkan Katarina yang masih mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Asal kau tahu, seorang anak manusia bisa hadir dalam satu kali berhubungan badan.”
Setelah berkata demikian, Klautviz de Meré benar-benar meninggalkan ruangan tersebut. Menyisakan Katarina yang masih terperangkap dalam kegamangan. Hilang sudah keinginan untuk makan, karena sekarang isi kepalanya bercabang kemana-mana. Termasuk soal perkataan Klautviz de Meré, bahwa anak manusia bisa lahir dalam satu kali berhubungan badan. Perkataan tersebut benar-benar membekas di kepala, bahkan sampai pagi kembali menjelang.
“Hari ini Yang Mulia Selir ingin sarapan dengan apa?”
Para pelayan telah datang berbondong-bondong, ketika Katarina baru membuka mata. Ia tidak tidur semalaman, dan baru bisa memejamkan mata sekitar dua jam sebelum fajar menyingsing. Alhasil, sekarang wajah ayunya tampak kuyu dan layu.
“Hidangkan ear gray tea dengan tambahan susu tanpa gula, bawakan juga cookies, crackers, serta roti panggang dengan marmalade.”
“Baik, Yang Mulia.”
Tidak butuh waktu lama bagi Katarina untuk menunggu pesanannya diantarkan. Pagi ini walaupun hampir melewatkan jam sarapan, Katarina tetap mencoba untuk menikmati me time-nya di pagi hari. Ditemani ear gray tea dengan tambahan susu tanpa gula, bawakan juga cookies, crackers, serta roti panggang dengan marmalade—sejenis selai yang terbuat dari bahan dasar jeruk. Namun, baru saja hendak menikmati sarapan baginya dengan tenang, sebuah berita mengejutkan sampai ke telinganya.
“Apa?” kaget Katarina, setengah tidak percaya. “Jangan bercanda! Dari mana kau mendapatkan informasi ini?” cecar Katarina pada pembawa berita d tersebut.
“Saya hanya menyampaikan apa yang baru saja saya dengar; bahwa mantan pelayan Yang Mulia Selir telah menghembuskan napas terakhir.”
Katarina masih tidak menyangka. Namun, pembawa informasi tersebut juga tampak jujur. “Jadi, benar Kyara telah tewas?”
“Benar, Yang Mulia Selir. Pagi ini Duke of Edinburgh telam mengirimkan surat terbuka untuk Archduke Klautviz. Dalam suratnya, Duke of Edinburgh menginginkan kepala Archduke Klautviz sebagai hukuman, atas perbuatannya yang mengakibatkan Kyara tewas mengenaskan.”
“…”
“Duke of Edinburgh juga menuntut Yang Mulia Raja untuk segera membersihkan nama mantan Ratu,” tambah pembawa pesan tersebut. “Sekarang Yang Mulia Raja tengah menuju ke tempat pembakaran jasad Kyara. Apakah Yang Mulia Selir juga ingin datang ke sana? Bagaimana pun juga Yang Mulia Selir sangat dekat dengan Kyara.
“Ya, aku juga ingin ke sana,” jawab Katarina usai beranjak. “Akan tapi, aku datang bukan karena dia pernah menjadi orang terdekat ku, melainkan untuk memastikan bahwa pengkhianatan itu sudah benar-benar tewas dengan mengenaskan.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT dulu di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 10-07-23