
0077. L'agacement de Katarina et l'offre de Kaelus (Kekesalan Katarina dan tawaran Kaelus)
Sepasang tangan yang sedang berjibaku, memotong steak daging sapi berukuran cukup besar yang dimasak dengan tingkat kematangan medium rare.
Gerakan memotongnya tampak berhenti sejenak. Padahal tadinya ia sudah berniat untuk menghabiskan menu makan malamnya yang dihidangkan bersama kentang tumbuk, asparagus, serta saus yang istimewa buatan kepala koki. Akan tetapi, niat tersebut harus diurungkan ketika ia mendapatkan kabar bahwa setengah jam yang lalu Selir Agung Katarina telah menerobos masuk ke istana Raja. Hingga saat ini wanita itu belum menunjukkan batang hidungnya. Itu artinya, sekarang wanita itu masih ada di istana.
“Kenapa Anda berhenti makan, Kapten? Apa dagingnya kurang sesuai dengan selera Anda?”
Kaelus, pemilik gelar kapten di usia muda itu menggelengkan kepala seraya menyeka mulutnya dengan sapu tangan. “Aku harus kembali ke sisi Yang Mulia. Kalian habiskan saja makan malamnya.”
“Tapi, Kapten baru saja makan seperempat dari porsi makan malam biasanya.”
“Aku akan menghabiskan sisanya, nanti.” Kaelus menambahkan, sebelum pamit kepada rekan-rekannya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada kepala koki yang telah menghidangkan menu lezat untuk makan malam.
Kaelus sempat absen dari sisi Raja Robelia karena hendak mengisi perut yang sudah keroncongan. Seharian ini ia harus menghalau rakyat yang bersatu menjadi kubu. Bagaimana pun caranya, ia harus memukul mundur rakyat yang berjubel di depan gerbang utama, tanpa harus menimbulkan pertumpahan darah. Kaelus tidak mau orang yang tidak bersalah kehilangan nyawa begitu saja. Ia juga tahu betul jika Raja Robelia sama letih nya. Kendati demikian, keputusan yang diambil pria itu semakin hari memang semakin tidak sejalan dengan opininya.
Di pertengahan perjalanan, Kaelus tidak sengaja berpapasan dengan Klautviz de Meré yang ditemani oleh orang-orangnya. Di mata Kaelus, Klautviz de Meré tak ubahnya pemberontak. Musuh dalam selimut, namun dilindungi oleh dekrit Raja Robelia terdahulu. Oleh karena itu, tidak sembarangan orang bisa menyentuh Klautviz de Meré. Sejauh ini Kelus sendiri baru dua kali bertemu dengan Klautviz de Meré. Aura adik dari Raja Robelia terdahulu itu terbilang cukup suram, Kaelus bisa melihat ada ambisi besar di sepasang matanya.
“Kesatria Kaelus.”
Tadinya, Kaelus hendak melewati Klautviz de Meré begitu saja, setelah memberikan penghormatan secara singkat. Namun, siapa sangka jika pria yang memiliki gelar kebangsawanan Archduke itu malah memanggilnya.
“Sudah lama kita tidak berjumpa.”
Klautviz de Meré memulai obrolan dengannya. Mau tidak mau, Kaelus harus berbalik badan untuk sekedar basa-basi. “Benar, Archduke Klautviz de Meré. Kita hanya pernah bertemu dua kali.” Jelas sekali Kaelus mencoba untuk mempersingkat basa-basi, karena tujuannya adalah segera tiba di kediaman Raja Robelia. Ia takut jika wanita Raja kembali mengacaukan suasana hati Raja Robelia yang belakangan tidak stabil.
“Akan tetapi, kenapa saya rasa kita pernah bertemu sebelumnya.”
Kaelus menautkan kening sebentar, sebelum ia menggelengkan kepala ringan. “Mungkin Anda salah mengingat. Saya tidak pernah bertemu dengan Anda di luar istana atau di manapun.” Setelah berkata demikian, Kaelus menunduk hormat. Lantas segera pamit undur diri. “Ada pekerjaan yang menanti saya, jadi saya pamit undur diri.”
Tanpa menunggu respon dari Archduke Klautviz de Meré, Kaelus bergegas untuk putar badan dan melangkah dengan cepat. Basa-basi nya cukup sampai di sini, karena Kaelus tidak mau membuang waktu makan malamnya yang berharga untuk meladeni orang tua yang tidak tahu aturan kenegaraan. Ia harus segera kembali ke sisi Raja, sebelum pria itu murka karena ulah wanitanya.
Ketika tiba di peraduan Raja, Kaelus masih menemukan para pelayan serta prajurit yang bekerja untuk Selir Agung Katarina. Itu berarti wanita bertubuh mungil tersebut masih ada di dalam.
“Kalian pergilah makan malam, biar aku yang berjaga,” titahnya pada prajurit yang lain. direspon dengan persetujuan, karena mereka pasti kelaparan setelah bekerja seharian.
Menjadi seorang Kesatria dan prajurit memang membutuhkan banyak tenaga, maka tidak heran jika makanan yang disuguhkan pada mereka harus seimbang, mulai dari karbohidrat, serat, hingga protein. Menu utama bagi makanan mereka adalah daging merah yang mengandung protein, zat besi, folat, serta sejumlah vitamin yang terdiri dari vitamin A, B, dan D. Vitamin ini baik bagi kesehatan mata, tulang, dan gigi. Tidak hanya itu, nutrisi ini juga baik bagi kerja sistem saraf pusat, sehingga kesehatan mental akan terjaga. Zat besi, folat, serta vitamin B juga dipercaya baik bagi kesuburan pria.
Baru saja kembali mengambil posisi berjaga, pintu utama di peraduan Raja terbuka dari dalam. Keluar wanita yang dikenal sebagai kekasih Raja Robelia dengan kondisi yang cukup …memprihatinkan. Wanita dengan gaun malam berwarna putih itu tampak basah. Memeluk erat jubah mandi yang diketahui milik Raja Robelia. Kaelus yang melihatnya menautkan kening dengan bibir gatal, ingin menyindir.
“Ada apa dengan Anda, Selir Agung Katarina?” tanyanya kemudian, namun wanita berwajah mungil itu tampak sibuk minta diberi jubah lain untuk menutupi tubuhnya dari terpaan angin malam Robelia yang cukup kencang. “Saat ini Anda sudah terlihat seperti …itik buruk rupa yang baru saja tercebur ke dalam saluran pembuangan.”
Kontan, Selir Agung Katarina menoleh dengan wajah galak. “Jangan bicara pada ku, kesatrian rendahan!” serunya, sebelum pergi bersama pelayan serta prajuritnya.
Meninggalkan Kaelus yang tampak tersenyum miring. Penampilan Katarina memang cukup menghiburnya. Ia pun bergegas masuk ke peraduan Raja untuk mencari tahu sebab dan akibatnya.
“Kaelus.”
“Saya menghadap Matahari Kekaisaran.” Kaelus yang baru saja menghadap Raja Robelia juga kembali menautkan kening, karena pria di hadapannya tampak tengah kebingungan. Sampai-sampai menu makan malamnya yang dibuat sangat istimewa dibiarkan begitu saja.
“Sepertinya aku membutuhkan dokter.”
“Dokter? Anda sakit, Yang Mulia?” tanya Kaelus, tidak dapat menutupi rasa risau nya.
Kaelus berdeham kecil. Ia bukan pria perjaka yang kolot akan maksud dari ucapan sang Raja. Ia paham betul “bagian bawah” mana yang dimaksud pria tersebut. “Jadi, masalahnya karena Anda tidak dapat memuaskan Selir Agung?” kira-kira itu yang ia tangkap dari kecemasan Raja.
“Bukan.”
Kendati demikian, rupanya dugaan Kaelus salah.
“Aku hanya takut terjadi sesuatu pada bagian bawah ku. Kau ingan sendiri, Kayena pernah membuat ku cidera.”
Anggukan Kaelus berikan sebagai jawaban. “Bukannya saat itu dokter kerajaan sudah menjamin kondisi kesehatan Anda baik, Yang Mulia? dokter bahkan menyarankan Anda untuk langsung mencoba berhubungan badan dengan …mantan Ratu.”
“Ya. Tapi, si*lnya aku malah berhubungan dengan Katarina. Jelas-jelas tidak akan ada gunanya, karena dia tidak dapat mengandung. Seharusnya aku memang melakukannya dengan Kayena!”
Kaelus bisa menangkap emosi dari kalimat Sang Raja. Rupanya pria itu masih menyimpan kekesalan, karena insiden yang menjadi cikal-bakal digulingkannya Ratu Robelia.
“Lalu, bagaimana jika Yang Mulia mencobanya dengan …wanita lain,” usul Kaelus, hati-hati. “Saya akan menyeleksi gadis muda yang bekerja di istana untuk Yang Mulia tiduri. Saya juga akan memastikan jika dia sehat dan mau …”
“Tidak, tidak,” potong Kaizen. “Mencium parfum wanita selain milik Kayena saja aku mual, rasanya ingin muntah. Apalagi berhubungan badan dengan mereka.”
Kaelus kontan terdiam. Sepertinya masalah ini cukup rumit dan mengkhawatirkan.
“Katarina saja yang bisa dikategorikan sebagai perayu ulung gagal membuat tubuh bagian bawah ku bangun,” keluh sang Raja. “Lantas bagaimana dengan gadis perawan yang tidak berpengalaman.”
Kerongkongan Kaelus tiba-tiba gatal. Termasuk pelipisnya yang sekarang ia garuk. Hubungan pribadi Raja memang sudah menjadi konsumsinya sejak lama. Namun, siapa sangka jika belakangan ini Raja memang …agak anti terhadap mahluk bernama wanita. Bahkan terhadap kekasih tercintanya sendiri. Apa mungkin Raja mendapat semacam …karma?
“Saya akan segera memanggilkan dokter kerajaan. Yang Mulia bisa berkonsultasi dengan dokter kerajaan terkait kondisi yang dikeluhkan Yang Mulia.”
“Hm.”
“Lebih baik sekarang Yang Mulia segera menghabiskan makan malam, kemudian beristirahat.”
“Baiklah, Kaelus. Sifatmu yang satu ini benar-benar kerap membuat ku muak.”
Kaelus tersenyum tipis. Perbedaan usia di antara mereka memang cukup jauh, namun Kaelus sudah menganggap Kaizen seperti kakak sendiri. Maka tidak heran jika dibalik sikap penurut bagaikan robot, ia juga punya sisi yang terkadang cerewet dalam menasihati.
“Jika saya boleh bertanya, apa karena alasan barusan Selir Agung tampak kesal ketika meninggalkan kamar Anda?”
Kaizen yang baru saja menikmati menu makan malamnya mengedipkan bahu, acuh. “Aku sudah memperingatinya sejak awal, bahwa aku sedang tidak menginginkan dirinya. Tetapi dengan kepercayaan diri setinggi langit, dia terus menggodaku. Bukannya tergoda, dia malah tampak murahan di mata ku.”
Sekarang Kaelus tahu kenapa wanita itu tampak kesal, rupanya ditolak lagi oleh Raja Robelia. Rasanya Kaelus ingin tertawa terbahak-bahak, namun ia mengingat identitas sebagai Kesatria, ia menahannya. Ternyata tanpa diminta pun, Tuhan sudah mulai memberikan pelajaran pada Katarina.
💰👑👠
TBC
****Gimana readers setelah baca bab ini? Penasaran? Masih mau l******anjut**?
Spam komentar NEXT dulu di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 06-07-23