How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00114. Reprenant heureux avec lui (Menjemput bahagia bersama dia)



00114. Pregnant heureux avec lui (Menjemput bahagia bersama dia)


“Maaf.”


Permintaan maaf itu diucapkan ketika pasangan kekasih yang tadinya saling bertautan bibir harus merentangkan jarak, karena salah satunya memutuskan untuk mengakhiri kontak fisik intim di antara mereka. Pihak yang memutuskan untuk mengakhiri kontak fisik tersebut bukan Kayena yang menjadi pelopor, melainkan Kaezar yang bisa dibilang sebagai supporter.


“Kenapa meminta maaf? Kamu tidak membuat kesalahan, sehingga harus dimaafkan,” ujar wanita cantik keturunan Pexley itu. Jemari tangannya tampak bertautan, sebagai bentuk pengalihan perhatian. Ada rasa canggung yang menyerang pasca mereka memilih untuk melangkah lebih maju terkait kontak fisik.


“Aku tidak pernah melakukan kontak fisik seperti itu dengan wanita manapun,” ungkap lawan bicaranya. “Namun, bersama kamu …” ada jeda yang diambil, ketika ia kebingungan untuk melengkapi kalimatnya.


Kaezar memang awam soal hubungan asmara. Namun, sebagai seorang pria normal yang sehat secara jasmani, ia juga memiliki insting kelelakian. Oleh karena itu, ketika sang kekasih berinisiatif untuk memulai cumb*an, insting alamiahnya sebagai pemburu terpacu. Sampai-sampai ia hampir lepas kendali, enggan melepaskan sang kekasih. Untung saja ia masih memiliki kesadaran setelah mereka melakukan tautan kedua kali.


“Aku sudah kelewatan,” lanjutnya dengan wajah rupawan yang sengaja di alihkan ke samping. Tampang rupawan nya tampak flat seperti biasa, namun sepasang daun telinga miliknya tampak berubah warna menjadi merah.


“Aku yang salah, karena aku yang memulainya.” Kayena akhirnya angkat suara, setelah diam cukup lama. Dengan keberanian yang masih tersisa, ia kemudian mengarahkan sang kekasih agar menatapnya. Rahang pria kokoh itu sentuh dengan jemarinya yang lembut. “Jika kamu suka, kamu boleh memintanya lebih dari satu kali. Tetapi, aku tidak mau dipaksa. Jika aku menunjukkan gelagat tidak mau dicium atau disentuh, jangan coba-coba untuk melakukannya."


Bak anak kecil yang baru saja diberitahu oleh ibunya, dengan tampang polos Kaezar mengangguk. Membuat Kayena gemas sendiri dengan reaksi Ia tahu Kaezar itu minim pengalaman, tekekasihnya.tapi kemungkinan punya insting pemburu yang dominan. Kendati demikian, Kaezar masih berupaya untuk membatasi insting tersebut. Lucunya, Kayena baru pertama kali melihat Elang Muda Kekaisaran salah tingkah. Wajahnya memang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, namun daun telinganya tiba-tiba berubah menjadi merah. Itu tanda bahwa prianya tengah salah tingkah.


“Di mana Kak Khayansar dan Kak Cesare? Apakah mereka tidak datang bersama kamu?” tanya Kayena ketika mereka sudah mengubah posisi—dari duduk berhadapan menjadi duduk bersisian.


“Mereka bersama Kaisar Astoria.”


Kayena manggut-manggut mendengarnya. Kemungkinan besar alasan kenapa kedua pria yang disayanginya tidak langsung menghampiri adalah untuk memberi Kayena dan Kaezar waktu. Ada rindu yang harus mereka tuntaskan setelah sekian lama berpisah.


“Reine, berapa usianya?”


Kayena yang tadinya sempat melamun, langsung mendapatkan lagi kesadarannya ketika Kaezar bertanya. Apalagi ada embel-embel “Rein” yang disematkan olehnya.


“Rein? Aku rasa panggilan itu tidak lagi cocok aku gunakan. Sekarang aku adalah janda Raja, bukan lagi istri Raja.”


“Tapi kamu tetap menjadi Rein di hatiku.”


Mungkin jika pria lain yang mengucapkannya, Kayena akan menanggapinya sebagai bualan atau lelucon. Akan tetapi ini Kaezar. Pria yang tidak punya selera humor, apalagi selera untuk melontarkan omong kosong belaka.


“Jadi, berapa usia bayi kita, Rein?”


Dengan wajah yang sedikit tersipu, Kayena menurunkan pandangan pada permukaan perutnya yang masih datar. “Ketika aku baru tinggal sekitar satu minggu di sini, aku baru mengetahui kehadirannya. Sekarang usianya sudah enam minggu. Dokter mengatakan bahwa bayi kita sehat, ukurannya masih sangat kecil. Namun, belakangan ini aku sempat banyak pikiran. Oleh karena itu, aku sempat mengalami pendarahan.”


Kaezar membawa telapak tangan besarnya untuk menyapa permukaan perut sang kekasih yang masih tertutup lapisan kain. Ia sempat meminta persetujuan lewat kontan mata, yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh kekasihnya.


“Halo, malaikat kecil. Ini Ayah. Maaf baru bisa menyapa kamu, karena belakangan ini banyak hal yang harus Ayah selesaikan.”


“Halo, Ayah,” sahut Kayena dengan suara lembut yang dibuat mirip suara anak kecil. “Senang bertemu dengan Ayah. Setelah hadir di perut Ibu, Ayah memang orang pertama yang aku cari.”


“Benarkah?”


“Iya!” sahut Kayena dengan semangat. “Aku pernah membuat Ibu menangis karena menginginkan buah peach yang diambil langsung oleh …Ayah.”


Kaezar tidak dapat menutupi rasa terkejut di wajahnya. “Kamu menangis?” tanyanya. “Karena menginginkan buah peach atau merindukan ku?”


Kayena segera mengatupkan bibir. Padahal ia sudah menggunakan pov bayi dalam kandungannya untuk berdalih, namun sang kekasih terlampau pandai menebak. “Kami sangat ingin makan buah peach dari Sésilia. Dengan catatan pemilik tanah Sésilia yang harus memetiknya. Akan tetapi, sekarang peach di Sésilia pasti sudah tidak berbuah lagi. Alasan kenapa aku menangis, jelas karena kamu.”


“Karena kamu merindukan aku?”


Kayena membuang tatapannya ke samping. Ia benci terus terang soal perasaannya yang sekarang seperti anak kecil baru menginjak masa pubertas. “Kamu sudah tahu jawabannya.”


Jawaban tersebut berhasil membuat Kaezar tersenyum dengan tangan masih bermukim di atas permukaan perut sang kekasih. “Sepertinya ikatan batin di antara kita sudah terjalin dengan kuat. Sebelum berangkat ke Astoria, aku sempat kembali ke Sésilia untuk menyelesaikan beberapa urusan. Seperti dugaan kamu, sekarang buah peach di Sésilia sudah habis, tidak bersisa. Kecuali satu pohon yang dulu sering kamu doakan agar segera berbuah.”


Kaezar mengangguk sebagai jawaban. “Walaupun terlambat, pohon itu tetap berbuah. Sebelum berangkat ke Astoria, aku sempat memetik buahnya. Kemudian aku bawa buahnya bersama ku, karena tahu jika kamu pasti akan menyukai hadiah kecil yang aku siapkan.”


Kayena senang sekali mendengarnya. Rupanya intuition soulmate atau keterikatan sepasang belahan jiwa memang benar adanya. Kayena memang sempat menginginkan buah peach bulan Juni dari Sésilia, dengan catatan harus Kaezar yang mengambilkannya. Siapa sangka jika Kaezar juga punya pemikiran untuk membawa satu-satunya buah peach bulan Juni dari Sésilia untuk kekasihnya.


Obrolan pasangan kekasih itu kemudian terjeda oleh kehadiran dua pria kesayangan Kayena; Khayansar de Pexley dan Cesare de Pexley. Kehadiran mereka berdua kemudian disambut dengan pelukan hangat Kayena.


“Kakak kecewa, little peach of June,” ungkap Cesare setelah pelukan dengan adiknya terlepas.


“Kakak kecewa kenapa?”


“Kecewa karena kalian menghabiskan waktu yang lebih lama untuk melepaskan rasa rindu. Kakak jadi harus menunggu.”


Kayena tersenyum hangat mendengar keluh-kesah kakak keduanya. Ketika mendengar informasi lebih lanjut, rupanya Cesare sudah ingin berjumpa dengan sang adik semenjak setengah jam yang lalu. Namun, Khayansar menghalangi niat baiknya. Ia kemudian ditahan bersama Khayansar dan Kaisar Kaysan di sebuah paviliun kecil, lengkap dengan jamuan mewah yang disuguhkan oleh tuan rumah. Baru setelah satu jam, Cesare diperbolehkan untuk melepas rasa rindu pada adiknya.


“Kau, jangan coba-coba untuk memonopoli Adikku lagi,” kata Cesare seraya menunjuk Kaezar dengan dagunya.


“Bukan dia, tapi aku,” bela Kayena. “Aku yang memonopoli dia.”


Cesare menipiskan bibir seraya memeluk Kayena lagi. “Kamu tidak boleh seperti itu, little peach of June. Tolong hargai perasaan kakak yang tidak ingin dinomor duakan.”


Kayena tersenyum semakin lebar dengan tangan mengelus punggung tegap milik kakaknya. “Kak, semua punya tempat dan kapasitas masing-masing di hatiku. Tidak perlu merasa risau.”


“Tapi, setelah kalian menikah, dia akan memonopoli kamu.” Cesare kembali membuat jarak di antara mereka. “Calon ayah dari bayimu sangat posesif jika menyangkut kepemilikannya,” bisik Cesare sebelum benar-benar membentangkan jarak.


Kayena tidak dapat menahan senyum lebarnya untuk terbit. Di sisi lain, Khayansar dan Kaezar yang menikmati interaksi mereka ikut merasa senang. Akhirnya, mereka bisa melihat pancaran kebahagiaan di wajah cantik wanita kesayangan mereka.


“Ini, lekaslah makan. Daging buahnya sudah terlalu matang.”


Kaezar kemudian menyodorkan buah peach satu-satunya dari Sésilia yang sudah ia kupas kulitnya. Ia harap dengan ini, keinginan calon istri dan bayinya segera terpenuhi.


“Terima kasih banyak,” ucap Kayena dengan mata berbinar. Sebelum menerima buah peach tanpa kulit itu, ia terlebih dahulu memberikan kecupan singkat di pipi kanan kekasihnya sebagai hadiah.


Kontan, hal itu kembali menimbulkan rasa sebal Cesare, karena sekarang adik tercinta nya sudah terang-terangan menunjukkan keromantisan. Ia masih tidak terima adiknya akan dimiliki pria lain lagi. Padahal ia sudah berjanji tidak akan cemburu, jika itu menyangkut kebahagiaan adiknya. Sejak dulu, Cesare memang yang paling baperan jika terkait Kayena.


Akan tetapi, selama adiknya bahagia, Cesare tentu akan mengesampingkan segalanya. Itulah kenapa dulu ia menutup mata, sekalipun mencium gelagat sang adik yang pura-pura bahagia dengan pernikahannya. Padahal kenyataannya, pria brengs*k dengan mahkota Raja di kepalanya itu sangat menyakiti jiwa dan raga adiknya.


“Hai, calon ayah,” sapa Cesare seraya merangkul bahu calon adik iparnya. “Selamat atas pencapaian barumu.”


“Ah, iya. Terima kasih.”


“Jangan lupakan janji mu untuk terus membuat Kayena bahagia seperti saat ini. Kami tidak akan lepas tanggung jawab soal Kayena. Tapi, untuk kedepannya, kau memiliki tanggung jawab lebih untuk membuat kesayangan kami terus bahagia.”


“Selama aku masih bernapas, aku berjanji akan terus mengupayakan kebahagiaannya.” Kaezar menjawab dengan mantap. Tatapannya saat ini hanya tertuju pada Kayena yang tengah menatapnya pula.


“Bagus adik ipar. Aku pegang janji mu.” Cesare kemudian menyikut pinggang lawan bicaranya ketika melihat pandangan Elang Muda itu hanya tertuju pada adiknya. “Adikku memang cantik dan mempesona. Jadi, harap segera pikirkan tanggal pernikahan, supaya kau bisa segera memiliki dia seutuhnya.”


Kaezar tersenyum kecil. Dari menatap Kayena, ia beralih menatap Khayansar, baru menatap Cesare. “Tanggal pernikahan sudah dipilih. Aku tinggal mendiskusikannya dengan Ayah dan para Kakak,” terangnya. “Kayena juga sudah…” pendar matanya kembali mengarah ke wajah cantik sang kekasih. Menatap langsung ke netra indahnya. “ …setuju untuk menikah dengan ku.”


 TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 20-08-23