How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00162. Conversation profonde entre amoureux (Deep talk sepasang suami-istri)



00162. Conversation profonde entre amoureux (Deep talk sepasang suami-istri)


“Kima, aku bilang tunggu sebentar. Aku pasti akan segera menghabiskan sisa supnya.”


Teguran itu dilayangkan ketika pintu ruangan yang ditempati mantan ratu Robelia terbuka dari luar. Tanpa berbalik badan, wanita cantik itu sudah dapat menebak siapa yang baru saja melewati pintu tersebut. Ia masih sibuk mengurus rambut hitamnya yang sudah mencapai pinggang. Tanpa mengandalkan bantuan pelayan, ia memilih untuk mengurus penampilannya sendiri secara mandiri.


“Jadi kamu belum menghabiskan sarapanmu?”


Akan tetapi, bukan suara Kima—pelayan pribadi yang sudah seperti saudari sendiri yang kemudian terdengar. Melainkan suara pria mudah ia rindukan, sekali pun mereka baru berpisah beberapa saat.


“Kamu sudah kembali?”


Dengan rona cerah yang tercipta di wajah, ibu hamil muda itu membalik badan dan langsung menatap sang kekasih hati. Wajah cantiknya justru kian mempesona dengan bertambahnya usia kehamilan.


“Sudah selesai berbicara dengan Kakak-kakakku?”


Pria gagah dan rupawan yang baru saja menutup pintu kayu dengan rapat itu mengangguk. Langkah tegasnya kemudian membawa ia mendekat pada sang kekasih yang sudah seperti ilustrasi di depan cermin kayu yang menjadi latar belakang.


“Ke mana perginya para pelayan? Kenapa mereka tidak membantu kamu bersiap?”


Terpesona dengan uraian rambut gelap sang kekasih yang terawat dengan baik, pria rupawan itu dengan senang hati membawa tangannya untuk menarik sejumput benda halus nan harum itu ke arah hidung.


“Kamu mencuci rambut?”


“Ah, iya. Aku rasa rambutku sudah lepek dan bau, jadi aku meminta Kima membawakan air lebih untuk mencuci rambut.”


“Rambut kamu tidak bau,” bantah pemilik nama baru Pangeran Kwang Min itu. Masih sibuk menghirup aroma harum yang menguap dari surai kekasihnya. “Justru harum.”


“Ya. Itu karena rambutku baru saja dibilas dengan air dan sampo untuk perawatan rambut.” Wanita hamil itu tempat bersikukuh bahwa rambutnya sekarang wangi, karena baru saja mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya. Semenjak mengandung, memang ada saja hal-hal aneh yang terjadi pada dirinya.


“Semalam aku juga menikmati keharuman yang sama dari rambutmu, Rein. Tidak ada bau yang tercium, kecuali aroma harum yang menjadi ciri khas kamu.” Kaezar berkata seraya tersenyum tipis. Walaupun begitu, senyumannya berpotensi membuat wanita mana pun jatuh hati. “Like flowers in the garden in the manor Archduke of Sésilia,” tambahnya kemudian.


Bagi Kaezar, aroma harum yang tercium dari rambut kekasihnya seperti bunga-bunga yang tumbuh di taman manor Archeduke of Sésilia—kediaman Kaezar ketika menjabat sebagai Archduke. Segar dan menyajikan beragam aroma.


Lawan bicaranya tampak bersemu. Namun, dengan jelas menekannya agar tidak mudah terlihat oleh kekasih hatinya. Melihat reaksi itu, sang kekasih hati malah merasa gemas.


“Kemarilah. Duduk dan segera habiskan sarapanmu, Rein.”


Tangan besar yang tadi meraih sejumput rambut, kini beralih untuk menggenggam telapak tangan mungil wanitanya. Membawa pemilik wajah cantik itu mendekati sebuah meja kayu yang di atasnya tersedia beberapa jenis makanan siap santap.


“Makanlah yang banyak supaya bayi kita tumbuh dan berkembang dengan baik.”


Kaezar menarik satu kursi kayu, kemudian dengan penuh kehati-hatian mendudukkan sang kekasih di sana. Lantas ia menarik kursi lain di seberang meja untuk digunakan oleh dirinya sendiri.


“Apa menu sarapan pagi ini cocok dengan kamu? koki pribadi kamu bekerja sama dengan koki tentara yang dibawa oleh Kakak pertama.”


Dengan senang hati Kayena yang menjadi lawan bicaranya mengangguk. “Sup rumput lautnya aku suka. Olahan ikan yang mereka hidangkan bersama sayur juga terasa sangat lezat dan segar untuk sarapan pagi.”


“Baguslah jika kamu menyukai menu sarapan pagi ini,” ujar Kaezar seraya menggenggam satu tangan sang kekasih di atas meja. “Habiskan sisa sarapanmu, Rein. Aku akan menemani kamu dengan senang hati.”


Kayena menatap lawan bicaranya dengan satu alis terangkat. “Kamu pasti bekerja sama dengan Kima untuk membuatku gemuk. Inisiator kalian pasti Kak Cesare?”


Kali ini bukan hanya senyum tipis yang ditampilkan oleh Kaezar, melainkan senyum cukup lebar. Senyum yang hanya dapat dilihat dan dinikmati oleh kekasih hatinya, yaitu Kayena de Pexley yang akan segera menjadi Kayena of Icrea.


Kayena menganggukkan kepala seraya mulai menikmati sisa supnya yang belum sempat dihabiskan. “Omong-omong, apa yang kamu bahas dengan Kakak-kakakku? Kamu juga sudah sarapan bersama mereka, kan?”


“Hm. Aku sudah sarapan bersama Kak Khayansar dan Kak Cesare. Kebetulan kita sarapan bersama nahkoda kepal layar ini,” terang Kaezar. “Soal pembicaraanku dengan Kakak pertama dan ke-dua, kamu yakin mau mendengarnya?”


Tanpa pikir panjang Kayena langsung menganggukkan kepala. “Jangan sembunyikan apa pun dari istrimu, Pangeran.”


Mendengar ancaman itu, Kaezar tak kuasa menahan senyum. Ia kemudian mengecup punggung tangan kiri sang kekasih yang telah dihiasi oleh cincin pemberiannya. “Habiskan dulu, baru kita bicara.”


Kayena menghela napas kecil, sebelum mengangguk—tanda jika ia menyetujui permintaan tersebut. Ia memang sempat mogok menghabiskan sarapan karena perutnya sudah cukup kenyang. Namun, Kima terus mendesaknya untuk menghabiskan sarapan yang katanya dibuat khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi Kayena selama mengandung. Walaupun tengah melakukan perjalanan lewat jalur laur, kebutuhan pangan setiap penumpang kapal layar sudah tentu terjamin.


Selesai dengan sarapannya, Kayena mengambil posisi duduk di dekat jendela kayu yang langsung menghadap ke perairan lepas. Kaezar juga ikut menyusul dan mengambil posisi duduk di samping Kayena.


“Kamu merasa bosan?”


“Tidak juga,” balas Kayena seadanya. “Selama melakukan perjalanan ke Edinburgh, aku memiliki banyak pekerjaan. Salah satunya adalah mencatat setiap komoditi yang dibutuhkan untuk pernikahan kita.”


Kaezar mengangguk kecil mendengar pernyataan sang kekasih. Penting baginya untuk mengetahui suasana sang kekasih, karena perjalanan yang akan mereka tempuh memakan jarak yang sangat jauh. Kenyamanan kekasihnya harus menjadi perhatian utama baginya.


“Jadi, apa yang kamu bicarakan dengan Kakak-kakakku?”


“Hanya obrolan seputar peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Robelia. Salah satunya adalah perisitiwa tentang selir raja Robelia yang tiba-tiba mengalami kelumpuhan.”


“Apa?”


“Wanita itu sempat dijadikan sandera dan dikurung di ruang rahasia. Keberadaannya sempat akan dimanfaatkan untuk menekan Klautviz de Meré. Dia kemudian diintrogasi secara tertutup untuk mengungkapkan identitas dari kembarannya. Entah apa yang terjadi selama interogasi berlangsung, karena setelahnya wanita itu kehilangan fungsi kedua kakinya secara tiba-tiba.”


Kayena yang terkejut hanya bisa diam dengan isi kepala menerka-nerka. Siapa yang menyangka jika mantan selir agung akan mendapatkan perlakuan seperti itu?


“Setelah mengalami kelumpuhan, wanita itu kembali berulah dengan bertindak impulsif, melukai kaki raja Robelia. Tindakan itu kemungkinan besar dipicu oleh amarah mendalam. Dia kemudian dikurung dalam penjara bawah tanah.” Kaezar kembali melanjutkan ceritanya seraya memandangi wajah sang kekasih. Seolah-olah tengah meneliti setiap perubahan ekspresi lawan bicaranya.


Bohong jika Kayena tidak terkejut mendengar informasi tersebut. Setelah mendapatkan informasi tentang Robelia yang dilanda krisis internal yang disebabkan oleh pemberontak Klautviz de Meré, rencana pernikahan kedua Kaizen, kini ia mendapat kabar mengejutkan lain.


“Yang lebih mengejutkan lagi, informan Kakak pertama mengatakan dalam suratnya bahwa raja Robelia baru saja kehilangan calon penerusnya.”


Perubahan raut wajah Kayena kali ini tampak lebih jelas. Bola matanya yang tadi tenang dan kukuh, tiba-tiba mengejap beberapa kali. Seolah-olah memancarkan keterkejutan sekaligus ketidakpercayaan dari informasi yang disampaikan oleh kekasihnya.


“Rupanya tidak ada yang sadar bahwa wanita itu sedang mengandung. Ketika dikurung di penjara bawah tanah, secara tiba-tiba dia mengalami keguguran.”


“...”


Melihat kekasihnya yang diam dengan bibir terkunci, tangan Kaezar terulur guna menyentuh permukaan perut kekasihnya dengan lembut. “Bayi mereka perempuan dan harus kembali ke sisi Tuhan karena kelalaian orang tuanya sendiri. Baik raja Robelia maupun selirnya, mereka sama-sama bersalah sebagai orang tua.”


💰👑👠


Bersambung



Tanggerang 13-10-23