How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00161. Le vrai karma est resté (Karma yang sesungguhnya telah melekat)



00161. Le vrai karma est resté (Karma yang sesungguhnya telah melekat)


“Sebelum meninggalkan kekaisaran Astoria, orang-orang suruhan Anda juga mendapatkan informasi bahwa Nona Kayena sedang mengandung.”


Kalimat itu adalah bom waktu sekaligus pemantik kobaran api yang begitu besar. Kaelus mau tidak mau harus menjadi korban pertama dari kobaran api tersebut. Nyawanya hampir saja dibuat melayang, jika sang raja Robelia tidak dapat mengendalikan emosi lebih lama. Kaelus bukannya tidak bisa melawan untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi ia tidak bisa sembarangan melayangkan pukulan pada seorang raja.


Kekuatan raja Robelia yang saat ini berkuasa sama dengan ahli pedang—sword master—tingkat menengah. Sebagai calon penerus tahta, sejak kecil keturunan Kadheston itu sudah mendapatkan pelatihan khusus. Secara tidak langsung, mendiang ibunya juga tidak ingin putranya hanya memiliki basis kekuatan dari dukungan politik. Sebagai anak pertama yang dilahirkan dari garis keturunan raja, ia harus memiliki basis kekuatan lain, seperti kekuatan fisik dan kekuatan mental dalam menghadapi berbagai tekanan. Semakin besar kekuatan yang dimiliki, semakin besar peluang untuk disegani.


Sebagai raja, Kaizen Alexander Kadheston juga tidak hanya mengandalkan garis keturunan untuk memperkokoh singgasana miliknya. Ia memiliki kekuatan untuk mengendalikan politik, pertahanan militer, serta menguasai sebagian besar sektor kekayaan di Robelia. Diam-diam ia juga membuka bisnis jual beli pil dan obat herbal yang sangat langka.


Bisnis obat-obatan itu dilakukan secara legal dan dipasarkan lewat perantara. Namun, jangan berpikir jika ia tidak berbisnis di dunia gelap. Sebagai seorang pemimpin, ia memiliki beragam cara untuk menguasai pasar, termasuk merambah pasar bisnis ilegal. Salah satunya adalah dengan cara memalsukan identitas selama melakukan proses transaksi jual beli.


“Bisa-bisanya informasi sepenting ini kau sembunyikan dariku!”


Seruan itu dilontarkan bersama dengan tubuh Kaelus yang sudah terkapar di lantai.


“Maaf, Yang Mulia.”


Walaupun sudah kesulitan bergerak, begitu pula berbicara karena sudut bibirnya pecah, Kaelus tetap mengucapkan permintaan maaf atas keteledorannya. Walaupun bukan sepenuhnya disengaja, Kaelus pasti tetap dianggap bersalah. Padahal ia hanya menunda untuk menyampaikannya, karena pada saat itu waktunya tidak pas.


“Saya tidak pernah berniat untuk menyembunyikan informasi apa pun dari Anda.” Kaelus kembali bersuara. Dengan tenaga yang tersisa, ia berupaya untuk mengambil posisi berlutut. “Jika saya berniat menyembunyikannya, saya pasti tidak akan bicara seperti tadi pada Anda.”


Raja Robelia yang masih menampilkan raut wajah dingin dan keruh tidak bergeming sama sekali. Kedua tangannya masih terkepal, menandakan jika emosi masih menyelimuti.


“Itu pasti pewarisku,” ucapnya tiba-tiba. Suara deep bass miliknya terdengar dua kali lipat lebih rendah karena emosi yang coba ditekan kuat-kuat. “Kayena pasti mengandung benihku.”


Kaelus tidak menjawab ketika rajanya kembali berceloteh. Semua orang tahu citra Elang Muda Kekaisaran yang sangat anti terhadap wanita, kecuali kepada Kayena de Pexley. Tidak mungkin ia meniduri wanita yang belum dinikahi, sekali pun mereka memang saling mencintai. Ditambah lagi fakta jika raja Robelia sempat menggagahi mantan istrinya sebelum pernikahan mereka kandas. Jika ditarik ke belakang, usia kandungan Kayena pasti tidak jauh dari bulan ke-dua atau ke-tiga. Dari situ saja sudah menjelaskan jika ayah biologis dari janin dalam kandungan Kayena adalah raja Robelia.


“Pewarisku benar-benar akan menyebut orang lain sebutan Ayah, jika aku tidak segera menemukan Kayena.”


Dengan kegelisahan yang semakin terlihat, Kaizen mulai berandai-andai. Ada rasa bahagia yang tercipta pasca terbongkarnya fakta yang tidak pernah disangka-sangka. Setelahnya, ia dihampiri oleh rasa tidak suka ketika membayangkan darah dagingnya menyebut orang lain dengan embel-embel ayah. Amarah bergejolak di dada, ketika bayangan kelak mulai mampir. Dalam bayangan itu, tidak ada dirinya selaku figur seorang ayah.


“Maaf, Yang Mulia. Saya tidak bisa berbuat apa-apa dengan sesuatu yang telah dikehendaki oleh Tuhan. Begitu juga dengan Anda.”


Kaizen melirik dengan bengis. “Apa maksudmu bicara seperti itu?”


“Sekali lagi saya meminta maaf jika perkataan saya menyinggung perasaan Anda. Tetapi, saya punya kewajiban untuk mengingatkan Anda bahwa Nona Kayena telah menjadi istri pria lain. Anda sendiri yang telah menurunkan Nona Kayena dari posisi Ratu, mengasingkannya ke Kastil Putih, lalu menceraikannya. Anda yang dibutakan oleh rasa cemburu tega membuang Nona Kayena begitu saja, layaknya barang yang sudah tidak berharga. Sedangkan Tuan Muda Kaezar selalu ada di sisi Nona Kayena, berperilaku layaknya gentleman yang siap menerima Nona Kayena tanpa memikirkan reputasinya.”


Kaizen mendengar marah ketika tangan kanannya itu membawa-bawa Kaezar dalam pembicaraan ini. Ditambah lagi Kaizen terkesan dibuat sebagai tokoh villains—penjahat—utama yang sangat brengs*k dan bajing*n, karena telah membuang wanita yang dicintai layaknya sampah.


“Kau juga tahu sendiri jika aku didesak oleh Grand Duke Pexley dan Duke of Edinburgh untuk melepaskan Kayena.” Kaizen bicara dengan emosi yang masih belum stabil. Tergambar jelas dari raut wajahnya. “Di saat aku masih sangat mencintainya, ingin mempertahankan pernikahan dengannya, keadaanlah yang menekanku untuk melepaskannya.”


“Yang Mulia, terkadang seorang wanita hanya butuh pembuktian dan tindakan, bukan ucapan atau janji yang dilayangkan,” sahut Kaelus dengan nada suara yang sudah terdengar lelah. “Anda sangat mencintai Nona Kayena? seharunya Anda membuktikan ketika Nona Kayena masih ada dalam genggaman Anda.”


Kaizen terpaku mendengar sindiran tangan kanannya yang dilontarkan secara langsung.


“Sekarang Nona Kayena telah menjatuhkan pilihannya pada Tuan Muda Kaezar. Selama ini saya juga belum pernah melihat Tuan Muda Kaezar berambisi untuk memiliki sesuatu, tetapi sekarang situasinya telah berubah. Tuan Muda Kaezar sudah memutuskan untuk memperjuangkan wanita yang dicintai.”


“Kaezar tidak mungkin mencintai Kayena. Dia hanya ingin merebut wanitaku untuk balas dendam.”


“Pemikiran Anda dangkal sekali, Yang Mulia.” Kaelus yang sejatinya sudah lelah, pada akhirnya memilih untuk angkat suara secara gamblang. “Jika ingin, Tuan Muda Kaezar memiliki banyak kesempatan untuk membalaskan dendam kepada Anda. Akan tetapi, dia tidak melakukannya. Tuan Muda Kaezar juga tidak pernah mendekati Nona Kayena ketika masih berstatus sebagai istri Anda. Dia baru bergerak dengan cepat ketika Anda lengah dan memilih melepaskan Nona Kayena.”


“Terus saja bela anak haram itu!” seru Kaizen setelah membuang muka ke sembarang arah. Emosinya benar-benar tidak stabil. Ditambah lagi perasaannya masih campur aduk.


“Anda seharusnya sudah mengenal saya dengan baik, Yang Mulia. Saya memang setia pada Anda, tetapi bukan berarti saya juga menutup mata atas semua perbuatan Anda.”


“Kau tangan kananku, tapi lebih memilih menyombongkan anak haram itu? kau sudah hilang kewarasan?”


Kaelus menggelengkan kepala dengan ringan. “Saya hanya menyampaikan pendapat pribadi. Sebagai tangan kanan yang sudah Anda percayai, seharusnya Anda mempertimbangkan ucapan saya.”


“…”


“Saya selalu mengusahakan yang terbaik untuk Anda, Yang Mulia. Jika Anda tidak lagi membutuhkan saya, kapan pun saya siap dibebas tugaskan sebagai seorang ksatria.”


Kaizen menghela napas kasar dengan salah satu tangan yang kini bertumpu pada meja kayu. Masalah yang datang bertubi-tubi benar-benar melelahkan jiwa dan raga. Belum lagi ketika proses menghadapi masalah tersebut, ada saja halangan dan rintangan yang siap mengoyak kepercayaan Kaizen pada dirinya sendiri serta orang-orang yang ia percaya.


“Baiklah, Kaelus.” Kaizen akhirnya memutuskan untuk menurunkan sedikit egonya. “Untuk saat ini, fokuslah pada masalah pemberontakan organisasi hitam yang dipimpin oleh Klautviz de Meré.”


“Baik, Yang Mulia.”


“Untuk sementara waktu, masalah Kayena akan aku pikirkan terlebih dahulu.”


Kaelus menjawab lagi, kali ini hanya dengan anggukan kepala.


“Mungkin perkataanmu benar, kesalahanku benar-benar fatal. Walaupun begitu, aku tidak mau lagi kehilangan wanita yang kucintai beserta calon penerusku. Sudah cukup mendiang Pangeran Carcel dan Putri kecilku—Catalina yang pergi karena kesalahanku. Bayi yang sekarang Kayena kandung harus lahir dan tumbuh hingga dewasa agar bisa meneruskan tahta kerajaan Robelia.”


“Lalu bagaimana dengan pertunangan dan pernikahan Anda, Yang Mulia?” tanya Kaelus tiba-tiba. Memastikan tentang rencana sang raja Robelia terkait keinginan untuk menghidupkan harem kerajaan.


“Sampaikan pada Claudiane jika pertunangan dibatalkan. Kirim juga surat pada beberapa Lady yang masuk ke dalam daftar calon selir. Katakan bahwa aku tidak akan mencari istri sampai kondisi Robelia kembali seperti sedia kala.”


Kaelus diam-diam bisa menghela napas lega, karena rajanya bisa mengambil keputusan yang lebih baik dari dugaan. Jika terus mengutamakan ego pribadi, maka kerajaan Robelia akan runtuh karena rajanya tidak peduli pada keutuhan Negara.


“Pergilah, aku akan beristirahat sebentar.”


Kaelus mengangguk dengan patuh. “Baik, Yang Mulia.”


Setelah berkata demikian, ia bergegas berdiri. Setelah memastikan rajanya aman dan nyaman untuk menghabiskan waktu istirahat, barulah Kaelus pamit undur diri. Meninggalkan raja Robelia itu seorang diri di ruangan megahnya yang terasa kian sepi.


Keheningan menyelimuti ruangan dengan nuansa putih dan emas itu. Selain si empunya, tidak ada orang lain lagi yang diizinkan masuk. Biasanya, Kaizen sudah terbiasa dengan keheningan atau kesunyian. Namun, setelah Kaelus pergi dan meninggalkannya seorang diri, tiba-tiba banyak pikiran yang berjubel di kepala. Terutama tentang wanita yang harus ia lepaskan begitu saja. Rupanya wanita cantik itu sekarang sedang mengandung benihnya.


Satu tahun lebih berlalu pasca kematian pangeran pertama dari garis keturunan Raja Kaizen, rupanya Tuhan menitipkan anugrah lain di rahim wanita yang tidak pernah Kaizen sangka. Kali ini Tuhan bahkan lebih tega kepadanya, karena anugrah berupa putri kecil yang suci itu tidak dapat bertahan lebih lama sampai waktunya lahir ke dunia.


Kaizen tidak mau kehilangan lagi. Sudah cukup kedua anaknya yang telah pergi, kehidupan lain yang tercipta karena kesalahan fatalnya tidak boleh bernasib sama. Kali ini keturunannya harus tumbuh dan berkembang dengan baik, kemudian dilahirkan ke dunia untuk melihat indahnya tempat fana ini.


“Aku telah menyakitimu, jauh lebih dalam dari yang aku bayangkan.”


Kaizen tiba-tiba berkata dengan pandangan tertuju pada lukisan yang mencetak gambar dirinya bersama sang kekasih hati. Satu-satunya wanita yang ia cintai dengan begitu besar. Rupanya ia juga telah menyakiti wanita itu sama besarnya dengan cinta yang dimiliki.


“Rupanya caraku mencintaimu benar-benar salah.”


Kaizen tahu cara mencintainya salah. Namun, ia tidak pernah tahu cara untuk berubah. Selama ini ia tidak mengenal cinta dari edukasi orang lain, melainkan belajar dari apa yang ia lihat.


“Aku benar-benar mencintaimu,” lirihnya dengan suara parau. Salah satu tangannya kemudian terangkat, lalu bagian lengan digunakan untuk menutupi sepasang mata gelapnya yang sudah merah. “Aku ingin hidup bahagia bersamamu dan anak-anak kita.”


Walaupun tahu semua itu akan sulit diwujudkan, Kaizen tidak pernah berpikir untuk patah semangat. Sampai detik ini ia masih kukuh dengan pendiriannya. Namun, kadang kala ada momen di mana ia merasa begitu kesepian juga ketakutan. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ia juga kerap dihantui rasa takut akan kehilangan wanita yang dicintai. Wanita yang telah ia sakiti dengan alasan melindungi dari dirinya sendiri.


“Tidak ada lagi yang ingin kumiliki selain kamu.”


Suara deep bass itu terdengar semakin berat dan parau. Bersama dengan gelap yang tergambar, bayang-bayang dari masa lalu kembali datang dan menghantui. Kenangan tentang waktu yang ia habiskan berdua dengan Kayena, satu per satu bermunculan. Di sana hanya ada mereka berdua, tanpa keikutsertaan orang lain. Hanya ada Kaizen dan Kayena yang dipastikan akan menikah di masa depan.


Awalnya semua memang berjalan sesuai rencana sampai muncul sosok Katarina dengan pembawaannya yang lugu, polos, dan naif. Tipikal gadis yang mudah dimanfaatkan jika sudah dimabuk cinta. Kehadiran Katarina bersamaan dengan hubungan Kaizen dan Kayena yang tengah memasuki masa jenuh. Katarina kemudian menjelma sebagai pemantik api di antara hubungan Kaizen dan Kayena. Lambat laun pemantik itu berhasil membuat kobaran api yang melahap ketiganya—Kaizen, Kayena, dan Katarina—ke dalam hubungan yang tidak sehat.


Padahal, Tuhan menciptakan rasa bosan hanya untuk menguji sejauh mana batas kesetiaan pasangan. Bukan menjadikan rasa bosan sebagai acuan untuk memulai perselingkuhan yang jelas-jelas akan membawa hubungan ke gerbang perpisahan.


“Aku sangat mencintaimu sampai rasanya aku tidak rela kamu dimiliki oleh orang lain. Sekarang kamu bahkan sedang mengandung benihku, tetapi kenapa kamu memilih untuk membiarkan orang lain memiliki hatimu?”


Pertanyaan itu tentu saja tidak akan mendapatkan jawaban. Lagi pula sang raja Robelia hanya mampu berucap pada kegelapan, bukan pada objek dari pertanyaannya.


“Aku akan membawa kamu dan bayi kita kembali,” celoteh Kaizen lagi. Tidak peduli ia akan dianggap gila, yang jelas ia hanya ingin menyampaikan niatnya saja pada langit maupun bumi. “Aku … aku tidak akan bisa hidup dengan baik jika tanpa kamu,” lanjutnya dengan suara yang semakin kecil.


Tanpa dapat di cegah, cairan bening juga meleleh dari sudut matanya yang tertutup. Mewakili pergolakan hati yang memang belum bisa diatasi.


Di sisi lain, kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada mantan kekasih gelap sang raja Robelia. Di tengah perairan yang begitu luas, kapal layar yang tengah melakukan perjalanan dibuat gaduh dengan amukan seorang ibu muda yang tidak ada henti-hentinya meratapi kepergian mahluk mungil yang tidak pernah ia sadari kehadirannya.


“Berhenti menangis dan segeralah makan. Kamu harus mengisi perut agar memiliki tenaga.”


Dengan telaten piring-piring dan mangkuk kecil berisi menu makanan berat di sajikan di atas tong kayu berukuran sedang yang dijadikan sebagai meja alakadarnya. Namun, belum dua menit makanan itu tertata dengan rapih, semuanya sudah berpindah ke lantai dengan satu kali sapuan.


“Aku sudah bilang berapa kali, perutku tidak lapar,” jawab wanita bertubuh kurus dengan pipi cekung yang dihiasi jejak air mata.


“Dan berapa kali aku berkata jika kamu harus tetap makan, walaupun perutmu tidak lapar.”


“Jangan pedulikan aku. Lebih baik bukakan pintunya agar aku bisa—“


“Keluar dan meloncat ke lautan seperti terakhir kali?” potong pria muda itu. Lawan bicaranya sampai dibuat speechless. “Dengar, Chatarina Kannelite de Meré. Aku membawamu dari neraka itu bukan untuk membiarkanmu pergi ke neraka yang lainnya. Jadi, patuhi perintahku. Apa susahnya untuk mengunyah dan menelan makanan yang telah dibuat susah payah oleh orang lain?”


“Aku tidak pernah meminta diselamatkan oleh siapa pun, termasuk kamu.”


Pria muda itu menghela napas gusar, lalu berjalan dengan pelan ke arah tempat tidur single yang dihuni oleh ibu muda yang sudah seperti mayat hidup itu. Walaupun kedua kakinya mengalami kelumpuhan, ia sempat membuat kengerian ketika dibawa ke luar kamar. Ya, wanita muda itu sempat berniat meloncat dari kapal yang tengah berlayar. Posisinya saat itu duduk di dekat pembatas, beralasan ingin menghirup udara segar dan melihat laut lepas. Siapa yang menyangka jika dalam diamnya ia membuat rencana untuk melakukan bunuh diri.


“Aku tidak butuh alasan untuk menyelamatkan kembaranku,” jawab pemuda bernama Charteris Killian de Meré itu. Ia kemudian mengambil posisi berjongkok di samping tempat tidur yang dihuni adiknya—kembarannya. “Menangislah jika kamu merasa sedih karena kepergian Catalina. Namun, jangan pernah berniat untuk bertindak gegabah. Tuhan masih berbaik hati memberimu kehidupan, setelah dosa-dosa yang kamu lakukan. Semua yang terjadi di dunia ini ada sebab dan akibatnya.”


“…”


“Catalina memang pergi darimu, sebelum kamu sempat mengetahui keberadaannya. Akan tetapi, mungkin inilah takdir terbaik untuk Catalina. Jika Catalina bertahan hingga berhasil dilahirkan ke dunia, belum tentu bayi perempuanmu lahir dengan sehat dan sempurna.”


Tangis kembali terdengar mengisi ruangan sempit itu. Di atas tempat tidur dekat jendela kecil, wanita muda yang sudah kehilangan fungsi kedua kakinya, mengalami kerusakan pada rahimnya, kini tengah dilanda rasa kehilangan yang mendalam atas bayi perempuannya.


“A-pa kamu sempat melihat wajah putriku?”


Killian menggeleng dengan penuh penyesalan. “Tetapi ayahnya sudah melihat wajah cantik malaikat kecilmu.”


Mendengar itu, tangis Katarina kembali tidak terbendung. Killian yang mendengarnya saja ikut merasakan kesedihan yang menghampiri ibu muda itu. Tidak ada yang dapat Killian lakukan, selain menemani sang kembaran dalam masa-masa terpuruk. Jika bukan dirinya, maka siapa lagi yang dimiliki wanita itu untuk bersandar?


“Malaikat kecilmu sangat cantik. Kamu beruntung memilikinya,” ucap Killian kemudian. Satu tangannya berusaha menghentikan alliran air mata di wajah kembarannya. “Ikhlaskan kepergiannya dan bangkitlah kembali. Kita akan memulai hidup baru setelah menyelesaikan masalah dengan orang itu.”


“Siapa maksudmu?” tanya Katarina dengan suara serak.


“Pria tidak bertanggung jawab yang telah membuat kita hidup kita sengsara di dunia.”


Tanpa dijelaskan, rupanya Katarina bisa langsung paham. Yang dimaksud oleh kembarannya pasti ayah mereka—Klautviz de Meré.


“Hiduplah dengan lebih baik, Katarina. Sekarang kita bisa membuka lembaran baru tanpa harus menoleh ke arah yang sudah berlalu.”


“Apa masih ada kesempatan untukku hidup dengan damai?”


Killian mengangguk dengan senyum samar. “Tentu saja. Asalkan kamu mau bertaubat dan berjanji untuk hidup lebih baik ke depannya.”


💰👑👠


Bersambung



Tanggerang 12-10-23