How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0057. Le Roi est Tombé, l’Empereur est Pret à se Battre (Raja tumbang, Kaisar si



0057. Le Roi est Tombé, l’Empereur est Pret à se Battre (Raja tumbang, Kaisar siap berjuang)


“Masih belum ada perkembangan?”


Pemimpin pasukan khusus yang dikerahkan untuk mencari jejak hilangnya mantan Ratu Robelia tampak tunduk di hadapan Raja Robelia. Mau bagaimana lagi, memang sampai detik ini pun belum ada tanda-tanda soal mantan Ratu. Mereka bahkan tak menemukan sedikitpun jejak yang ditinggalkan.


“Maaf, Yang Mulia. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun pasukan yang menaiki kapal layar pada hari itu sulit diajak bekerja sama. Penumpang lain pun tidak ada yang bisa memberikan informasi.”


“Bodoh,” komentar sang Raja. “Bagaimana mereka mau bicara, jika pemimpin mereka adalah Grand Duke Pexley dan putra sulungnya!” serunya, berang. Kesal pada kebodohan para prajurit bayangan yang ia kerahkan.


Pasti tidak ada yang buka suara soal hilangnya Kayena yang terjadi secara tiba-tiba. Mengingat semua penumpang perahu layar pada hari itu adalah orang-orang yang telah berjanji akan setia pada pemimpin mereka, yaitu mantan Grand Duke, Khiev de Pexley beserta putra sulungnya, Khayansar de Pexley.


Sudah lima hari berlalu pasca rombongan mereka meninggalkan Robelia, namun Kayena tak pernah tiba di Kyen. Hanya rombongan berisikan ayah serta kakak sulung Kayena yang tiba di Kyen dengan selamat. Kejutan lain datang hari ini, dimana Kaizen baru mendapatkan informasi bahwa mantan mertuanya juga sudah menjual hampir sebagian besar asset keluarga Pexley. Hanya tersisa estat Pexley dan perkebunan saja. Sedangkan asset lain telah berpindah tangan secara tiba-tiba. Informasi yang tak kalang mengejutkan lain, ternyata mantan mertuanya telah meninggalkan Kyen setelah berpamitan pada rakyatnya. Pria itu diketahui akan meninggalkan Robelia, kemudian bertolak ke Higrya.


Higrya sendiri adalah negeri yang menjadi rumah kedua bagi putranya, Cesare de Pexley. Kemungkinan besar mantan mertuanya bertolak ke Higrya untuk mengunjungi rumah menantunya yang akan segera melahirkan cucu kedua baginya.


“Lalu bagaimana dengan situasi di estat Pexley?”


“Kosong, Yang Mulia. Hanya tersisa Duke of Edinburgh dan beberapa pekerja yang masih menetap di sana.”


Kaizen menghela napas berat. Setelah selesai mendengarkan laporan dari pemimpin pasukan khusus tersebut, ia kemudian membiarkan mereka kembali bertugas. Beberapa hari ke belakang tugasnya banyak yang terbengkalai, sehingga tugas-tugas lain yang baru datang terus-menerus menumpuk. Semua itu terjadi akibat ia tidak bisa fokus pada pekerjaan lain, jika keberadaan mantan istrinya belum juga ditemukan.


“Bagaiman dengan anak haram itu, Kaelus? Apa dia benar-benar ada di perbatasan?”


Kaelus yang setia mendampingi sang Raja tampak mengangguk. “Surat yang saya kirimkan ke perbatasan telah mendapatkan balasan. Informasi yang saya dapatkan mengenai Pangeran Kaezar tepat sasaran, Pangeran Kaezar masih berada di perbatasan. Menjalankan tugas yang telah Anda berikan.”


“Lalu bagaimana dengan Cesare de Pexley?”


“Duke Cesare diketahui telah kembali ke Higrya, Yang Mulia. Beliau pasti sedang bersiap untuk menyambut kelahiran anak pertamanya.”


Mendengar tambahan informasi tersebut, Kaizen malah semakin dibuat pusing. Bagaimana bisa para anggota keluarga Pexley tercerai-berai di saat putri kesayangan mereka menghilang? Dan lagi, mereka tampak biasa saja. Seolah-olah apa yang telah terjadi telah dirancang dengan matang.


“Gerak-gerik mereka semakin mencurigakan,” kata Kaizen dengan isi kepala yang terus berpikir keras. Ia bahkan kehilangan sebagian waktu istirahatnya, karena terus memikirkan konspirasi yang bisa saja terjadi di balik hilangnya Kayena.


Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi objek pengamatan Katarina. Mengingat ia adalah satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran di balik fakta yang menyebabkan Kayena dituduh yang tidak-tidak. Ketika mendengar kabar jika Kayena menghilang tanpa jejak, ada rasa bahagia yang muncul ke permukaan. Bagus memang jika wanita itu menghilang, kecil kemungkinan bagi Kaizen untuk melancarkan rencana gilanya; membawa Kayena kembali ke istana. Namun, di sisi lain ada pertanyaan yang terus berputar di kepala. Bagaimana jika … Kayena menghilang karena mencoba untuk menyembunyikan kehamilan?


Malam itu, Katarina menjadi saksi bisu bagaimana Kaizen menumpahkan benihnya secara terus-menerus di rahim Kayena. Walaupun samar, ia tahu jika Kaizen tak melepaskan diri sedikitpun dari Kayena ketika hendak meraih puncak kenikmatan. Pria itu sukar membuang benihnya cuma-cuma. Bersama dirinya pun demikian. Namun, sampai saat ini masih tidak terjadi kehamilan pada dirinya. Berbeda dengan Kayena yang bisa dengan mudah mengalami kehamilan, seolah-olah rahimnya memang telah didesain khusus untuk menampung para calon penerus.


“Yang Mulia Raja terus berkerja siang dan malam, sampai-sampai melupakan waktu makannya. Apakah Yang Mulia Selir ingin berkunjung dan menengok kondisi beliau?”


Pertanyaan itu datang dari Kyara. Ia tahu betul kondisi hubungan Raja dan Selirnya masih belum membaik semenjak perpisahan dengan Ratu terjadi. Namun, tidak ada salahnya jika Katarina kembali mencoba mendekatkan diri. Mengingat sekarang tidak ada lagi wanita yang dapat leluasa memonopoli Raja, kecuali dirinya. Ia juga berhak untuk mengurus Raja, ketika pria itu tidak mengurus dirinya dengan baik.


“Siapkan gaun malam terbaik yang aku punya,” ujar Katarina. “Kita akan pergi ke Istana Raja setelah jam makan malam tiba.”


“Baik, Yang Mulia.”


Katarina tahu harga dirinya telah terluka. Namun, tidak ada salahnya untuk terus mencoba. Ia hanya perlu merendahkan harga diri serta ego, seperti biasa. Guna meluluhkan hati kekasihnya.


“Yang Mulia.”


Pria rupawan dengan seragam kebesarannya yang masih fokus pada beberapa gulungan dokumen di atas meja itu mengangkat pandangan. Ia sempat mengira jika Kaelus yang datang, makanya ia diam saja. Ternyata, wanitanya yang hampir lima hari ini ia diami datang kemari.


“Ada apa, Katarina? Ada sesuatu yang kau butuhkan?”


“Tidak, Yang Mulia,” jawab Katarina seraya berjalan mendekat. Kedua tangannya memegang erat simpul jubah tebal yang melindungi tubuhnya dari angin malam. “Saya dengar kondisi Yang Mulia sedang tidak baik-baik saja. Jadi, saya datang ke sini untuk memastikannya.”


“Kepala ku sering sakit belakangan ini,” keluh Kaizen. “Aku juga …”


“Mau saya pijatkan, Yang Mulia?” tawar Katarina yang tiba-tiba sudah ada di hadapan meja kerjanya.


“Tidak perlu,” tolak Kaizen cepat. “Sebaiknya kau kembali lagi nanti,” usirnya secara halus. Ia tak tahan dengan aroma parfum yang digunakan Katarina. Aroma rose yang membuatnya mual.


“Kenapa, Yang Mulia? saya datang ke sini untuk …”


“Bau yang menempel di tubuh mu …” kalimat Kaizen terpotong begitu saja, karena perutnya tiba-tiba terasa dikocok dengan hebat. “ … sial*n,” umpatnya sebelum beranjak dari kursi kerjanya, bergegas menuju sebuah ruangan yang ditutupi oleh sebuah pintu bergagang emas.


Katarina masih mematung di tempatnya berdiri, ketika mendengar samar-samar suara orang muntah. Tatapannya kemudian dialihkan ke tubuhnya sendiri.


“Memangnya ada apa dengan aroma yang menempel di tubuhku?” tanyanya pada diri sendiri. “Tubuh ku wangi bunga mawar seperti biasa,” lanjutnya dengan geram yang tertahan. “Sebenarnya ada apa dengan Yang Mulia …”


“Panggil Kaelus, dan segera enyahlah dari tempat ini, Katarina!” potong suara Kaizen yang masih terdengar jelas di telinga Katarina.


Entah apa mau pria itu, namun belakangan ini ia terus saja menabuh genderang perang bersama Selir Agung Kesayangannya.


💰👑👠


“Kenapa? Kamu tidak suka semua jenis makanan yang tersedia?”




“Jika tidak ada makanan yang kamu sukai, aku akan meminta koki istana untuk menghidangkan menu yang baru.”


Wanita cantik yang baru beberapa saat lalu siuman dari tidur panjangnya itu tampak menggelengkan kepala. Ia tidak tahu apa saja yang terjadi selama dirinya tak sadarkan diri. Namun, ketika siuman, hari telah kembali gelap gulita. Gaun sederhana miliknya pun telah berganti dengan gaun malam yang cantik, bagian roknya berlapis-lapis, namun tidak terasa berat ketika digunakan. Justru terasa ringan dan manis, dikarenakan pemilihan warna-warna pastel yang sangat cocok di kulitnya.


Dari keterangan pria di hadapannya, pakaian yang melekat di tubuhnya diganti oleh Kima—pelayan pribadinya dibantu oleh beberapa dayang dari kediaman Kaisar.


“Semua makanannya terlihat lezat, Yang Mulia. Terima kasih banyak karena telah repot-repot menyiapkan semua ini,” ujarnya kemudian. “Namun, saya tidak terbiasa makan banyak. Lagipula saat ini perut saya sedang terasa tidak nyaman.”


“Aku paham kondisi mu,” jawab sang Kaisar. “Maka coba lah sup ini,” ia kemudian menyodorkan sebuah mangkuk emas berisi kuah sup hangat dengan potongan beberapa jenis sayuran. “Sup ini akan mengurangi rasa mual dan bagus untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi kelelahan, sampai merangsang kekebalan tubuh.”


Kayena menerima uluran mangkuk emas berisi sup hangat tersebut, kemudian menerima uluran lainnya, berupa sendok emas dari sang Kaisar. Pria itu tampak telaten dan sabar menunggu Kayena mencoba makanan yang ia sodorkan.


“Bagaimana rasanya?”


“Kaya akan rempah,” komentar Kayena setelah menyeruput satu sendok kuah sup. Aroma bawang putih, daun bawang, ginseng, serta rempah-rempah tercium cukup pekat ketika ia mencoba makanan tersebut.


“Makanlah selagi masih hangat,” kata sang Kaisar. Ia kemudian memindahkan lauk lain ke atas mangkuk berisi nasi milik Kayena. “Makan juga sayur ini. Terbuat dari kecambah yang diolah bersama bawang putih, bubuk cabai, serta minyak wijen. Kecambah bagus untuk pencernaan dan sirkulasi darah.”


Kayena tersenyum tipis sembari mengangguk. “Terima kasih, Yang Mulia. Anda begitu berbaik hati memperhatikan kesehatan saya.”


Kwang Sun, Kaisar Astoria itu tampak tersenyum. Memperlihatkan senyum menawan yang pernah membuat hati Kayena kecil tertawan.


“Khayansar meminta ku menjaga kamu dengan baik. Apa yang harus aku katakan jika kamu tiba-tiba saja kehilangan kesadaran di hari pertama tiba di negeri ku?”


“Saya yang akan menjelaskannya pada Kakak,” sanggah Kayena. “Lagipula saya hanya sedikit kelelahan pasca melakukan perjalanan jauh.”


Kwang Sun mengangguk. Masih dengan kedua tangan yang sibuk menuang air, atau sekedar memindahkan lauk ke mangkuk berisi nasi milik Kayena. “Kamu memang kelelahan. Oleh karena itu, beristirahatlah yang cukup di sini.”


“Di sini?” ulang Kayena. Takutnya ia salah dengar.


“Benar,” kata Kwang Sun membenarkan. “Tidurlah di sini, Kayena. Aku sudah meminta pelayan untuk memindahkan barang-barang mu.”


“Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap Anda, Yang Mulia Kaisar. Saya … meminta maaf karena dengan berat hati harus menolak perintah Anda.”


“Kenapa kamu menolak?” Kwang Sun tampak mencari jawaban atas penolakan Kayena. Namun, Kayena hanya bisa berkilah.


“Saya tidak berhak tinggal di kamar seorang Matahari Kekaisaran.”


“Kenapa tidak? aku sendiri yang mengundang mu masuk ke kamar ku.” Kwang Sun tak mau kalah. Ia masih tampak tenang, namun setiap balasan yang terucap dari bibirnya berhasil membuat Kayena merasa kesulitan menjawab.


“Saya adalah tamu, Yang Mulia. Bukan siapa-siapa Anda.”


“Kamu tamu istimewa untukku,” sahut Kwang Sun. “Kita sudah mengenal sejak kanak-kanak. Apalagi yang kurang jelas dari hubungan kita?”


Kayena tertegun untuk beberapa saat. Pemimpin Negara dengan sifat keras kepalanya sudah menjadi satu-kesatuan. Entah itu Kaizen, Kwang Sun, atau Raja dan Kaisar lain di luar sana, mereka pasti punya sifat keras kepala yang kadang sulit dihadapi.


“Jika kamu bersikeras untuk menolak tinggal di sini, maka tinggal lah di Yeowang-ui bang.”


Tanpa pikir panjang, Kayena mengangguk. Menyetujui usulan sang Kaisar. Pertama-tama ia harus bertemu Kima, kemudian mencaritahu apa yang terjadi selama tak sadarkan diri. Caranya tentu saja keluar dulu dari kamar pribadi Kaisar yang begitu perhatian padanya semenjak siuman. Pria rupawan itu bahkan langsung mengantarnya ke paviliun di mana Yeowang-ui bang yan ia maksud berada.


“Istirahatlah dengan tenang, Kayena. Kamu aman selama berada dalam perlindungan ku. Semoga kamu senang tinggal di Yeowang-ui bang,” ucap Kwang Sun ketika mengantarkan Kayena ke tempat istimewa tersebut.


Yeowang-ui bang (kamar yang diperuntukkan untuk seorang Ratu)


💰👑👠


TBC


Catatan : Cerita ini hanya fantasi, jadi jika ada kesamaan nama tokoh/tempat, bukanlah sesuatu.ang disengaja.


Sumber semua foto; pinterest.


Gimana readers setelah baca bab ini?


Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Mampir juga ke cerita temen Author yang nggak kalah keren 🤝



Tanggerang 12-06-23