
1 part \= 3 bab normal. Selamat membaca, semoga dinikmati setiap paragraf nya 🥰 jangan lupa dukung Author 😘
0071. Kayena, Khayansar et très probablement (Kayena, Khayansar, dan Kemungkinan terbesar)
Kayena sadar betul jika kehadirannya di kekaisaran Astoria mendapatkan perlakuan istimewa, sehingga menarik perhatian berbagai lapisan masyarakat. Ia bukan mahluk yang tak peka, dan bukan niatnya untuk diam saja, kemudian tutup telinga. Kayena hanya belum menemukan cara agar keberadaannya tidak terlalu menarik perhatian. Salah satu caranya, mungkin dengan membatasi kebersamaan dengan sang Kaisar. Serta meminimalisir perlakuan istimewa yang diberikan sang Kaisar. Namun, Kaisar Astoria bukan lah anak kecil yang akan menurut jika diberitahu satu kali.
Kayena sudah berupaya untuk membuat pria itu mengerti, namun sampai saat ini pria itu masih tidak mengindahkan. Alasan kenapa pria itu tidak memberi izin ketika ia hendak tinggal di luar istana pun, karena Khayansar yang telah menitipkan adiknya secara langsung pada sang Kaisar. Ia hanya menjalankan kepercayaan dari rekan lamanya. Hingga detik ini pun, sang Kaisar masih menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Sekalipun ia harus berhadapan dengan wanita nomer satu di kekaisaran Robelia.
“Begitu kah, Yang Mulia Kaisar? Lalu, apakah Yang Mulia Kaisar lupa dengan kunjungan Nona Muda dari keluarga Min dan Kim?” pertanyaan itu dilontarkan sang nenek seraya menatap kanan dan kirinya. Di mana dua orang perempuan muda tampak berdiri dengan wajah menunduk hormat. “Nona Muda dari keluarga Min sudah datang jauh-jauh dari Myongyeonggak. Sedangkan Nona Muda dari keluarga Kim datang dari pulau di seberang, yaitu pulau Qi.”
“Rupanya Nona Muda keluarga Min dan Kim sudah melakukan perjalanan jauh untuk sampai di istana,” respon Kaisar Kwang Sun. “Saya harap Nona Muda dari keluarga Min dan Kim tinggal dengan nyaman di istana kami. Saya akan menyuruh pelayan untuk mempersiapkan kebutuhan Nona Muda dari keluarga Min dan Kim dengan baik.”
“Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia Kaisar,” ucap Nona Muda dari keluarga Min dan Kim tersebut.
Kaisar Kwang Sun mengangguk kecil. “Kita akan bertemu lagi di perjamuan malam nanti, Nek. Saat ini aku sedang sibuk,” ujarnya sebelum menoleh ke arah Kayena. “Mari, kita lanjutkan perjalannya, Kayena.” Ada senyum tipis yang tersungging tanpa dosa di wajahnya, seolah-olah memanggil seorang wanita dengan nama saja adalah hal lumrah bagi seorang Kaisar sepertinya.
“Kami permisi terlebih dahulu,” pamitnya pada sang nenek serta Nona Muda dari keluarga Min dan Kim.
Tanpa menunggu jawaban, sang Kaisar kembali melanjutkan perjalanan setelah memberikan kode pada Kayena. Ia tidak bodoh. Jika dilanjutkan, pembicaraan akan merembet kemana-mana, dan tentu saja Kayena akan terkena getahnya.
Kaisar Kwang Sun tahu betul jika Nona Muda dari keluarga Min dan Kim adalah salah satu kandidat yang akan neneknya sodorkan sebagai calon Permaisuri. Bagaimana Kaisar Kwang Sun bisa tahu? Jawabannya karena kedua nama Nona Muda tersebut ada dalam daftar para anak pejabat dan bangsawan Astoria yang sudah memasuki usia siap menikah. Neneknya pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari calon Permaisuri potensial dari para gadis tersebut.
Kaisar Kwang Sun tak masalah dengan gadis manapun neneknya hendak menjodohkan, asalkan keputusan final tetap ada padanya. Itu lah kenapa hingga saat ini Kaisar Kwang Sun masih bisa melajang, karena sang nenek tidak merenggut hak untuk memilih. Namun, entah itu masih berlaku atau tidak jika diterapkan pada Kayena. Kaisar Kwang Sun sudah tahu jika neneknya telah menelusuri asal-usul cinta pertamanya. Hingga saat ini, Kaisar Kwang Sun sendiri belum melihat respon sang nenek terhadap Kayena, entah pro atau kontra.
“Yang Mulia Kaisar.”
Apa lagi? batin sang Kaisar bertanya-tanya. “Iya, Nenek,” jawabnya seraya berbalik badan. “Ada yang ingin Nenek tanyakan pada ku atau mungkin … Kepada Kayena.”
Kayena yang hari ini tampil cantik dengan long dress tertutup berwarna peach langsung melirik Kaisar Kwang Sun ketika namanya dibawa-bawa.
“Benar. Ada yang ingin Nenek tanyakan pada Nona Kayena.”
“Tanyakan saja, Nek. Kayena pasti akan segera menjawabnya.”
Lagi, Kayena menatap sang Kaisar yang memiliki tinggi kisaran Cesare. Kenapa tiba-tiba pria itu jadi duta bicara atas namanya? Kayena jadi terheran-heran.
“Apakah Nona Kayena memiliki acara sore ini?”
Tentu saja, batin Kayena mewakili. Lagipula ia hanya tamu di sini. Tidak ada pekerjaan bagi tamu yang kesehariannya hanya dihabiskan di dalam kamar seperti dirinya.
Gelengan kemudian Kayena berikan sebagai jawaban pertama. “Tidak. Saya tidak memiliki acara apapun sore ini.”
Nenek Kaisar tampak senang mendengarnya. “Bagus. Bagaimana jika Nona Kayena ikut bergabung bersama Nona Muda dari keluarga Min dan Kim untuk menikmati jamuan minum teh sore ini?”
“Afternoon tea party?” monolog Kayena.
“Benar.” Rupanya monolog itu dapat di dengar oleh Kaisar Kwang Sun yang berdiri di sebelahnya. “Acara ini memang semacam afternoon tea party,” jelasnya. “Ikut lah jika kamu tidak keberatan. Jika kamu keberatan untuk hadir, lebih baik kamu tinggal di Yeowang-ui bang untuk istirahat. Kondisi kesehatan mu adalah perioritas utama.”
Kayena terdiam seribu bahasa. Begitu pula dengan neneknya, beserta Nona Muda dari keluarga Min dan Kim yang selama ini hanya mengenal sang Kaisar dari rumor mulut ke mulut. Banyak yang mengatakan bahwa sang Kaisar kelewat dingin dan misterius, itu lah kenapa ia tak kunjung memiliki Permaisuri. Walaupun berwajah rupawan, jika ia belum bisa membuka hati, bagaimana bisa ada Permaisuri yang akan terpilih. Namun, rupanya rumor itu salah besar. Buktinya, selain tampan dan rupawan, sang Kaisar juga sangat perhatian.
“Saya baik-baik saja,” jawab Kayena, kemudian ia kembali menatap nenek Kaisar Kwang Sun. “Saya akan datang jika Yang Mulia mengundang,” ujarnya sopan. “Sebuah kehormatan dapat menikmati jamuan sore bersama Yang Mulia yang telah membesarkan pemimpin sehebat Kaisar Kaysan … Ehm, maksud saya, Kaisar Kwang Sun.”
Kayena … keceplosan. Nama Kaysan memang lebih melekat dalam ingatannya, bukan Kwang Sun. Maka tak heran jika terkadang ia spontan menyebut Kaisar Kwang Sun dengan nama Kaysan.
Sedangkan bagi nenek Kaisar Kwang Sun serta Nona Muda dari keluarga Min dan Kim, jawaban Kayena yang terakhir menandakan bahwa mereka—Kayena dan sang Kaisar—sudah memiliki hubungan cukup dekat. Sampai-sampai Kayena diberi keleluasaan untuk memanggil nama kecil sang Kaisar. Di sisi lain, si empunya nama tampak tersenyum tipis. Hatinya selalu menghangat jika Kayena menyebut namanya. Bukan Kwang Sun sang Kaisar Robelia, melainkan Kaysan.
“Jika Nona Kayena bisa datang, saya akan merasa senang. Nona Muda dari keluarga Min dan Kim juga tidak akan keberatan jika bertambah satu orang lagi di acara sore hari nanti.”
Kedua Nona Muda itu kompak menggelengkan kepala.
“Baiklah. Kalau begitu, saya tunggu kedatangan Nona Kayena di istana saya sore ini,” ujar nenek Kaisar Kwang Sun. “Saya harap Nona Kayena benar-benar datang.”
“Baik, Yang Mulia. Saya pasti akan datang.”
Setelah mendapatkan kepastian dari jawaban Kayena, nenek Kaisar Kwang Sun kemudian pamit undur diri bersama Nona Muda dari keluarga Min dan Kim. Meninggalkan Kayena dan Kaisar Kwang Sun yang akan pergi ke arah berlawanan.
“Kamu benar-benar akan datang?” tanya Kaisar Kwang Sun ketika mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Kayena mengangguk seraya menunduk. “Saya sudah berjanji akan datang, Yang Mulia.”
“Jika kamu keberatan, maka …” kalimat itu tergantung begitu saja, karena ia melihat gelengan kepala dari lawan bicaranya.
“Saya pasti akan datang.”
“Baiklah,” ujar Kaisar Kwang Sun pada akhirnya, mengalah. “Kalau begitu, biarkan aku mengirim beberapa set pakaian untuk kamu gunakan sore ini.”
“Tidak perlu repot-repot, Yang Mulia. Saya masih memiliki beberapa pakaian dari penjahit terbaik yang saya kenal,” kata Kayena, menolak dengan halus.
“Jangan menolak, Kayena. Aku melakukan semua ini untuk mu, supaya kamu tidak merasa canggung dan berbeda pada jamuan yang Nenekku maksud.”
Kayena terdiam untuk sejenak. Ucapan Kaisar Kwang Sun ada benarnya juga. Sebagian besar pakaian yang ia bawa adalah dress yang dibuat dengan model vintage dress Victorian, serta vintage dress French yang memiliki bagian-bagain cukup terbuka, seperi tulang selangka, bahu, dan dada. Sedangkan pakaian wanita di Astoria terbilang cukup tertutup. Terlihat dari bagian kerahnya, lengan panjang, tidak memperlihatkan lekuk pinggang, serta rok mengembang yang menjuntai hingga menutup mata kaki.
“Jadi, bagaimana? Kamu mau menggunakan pakaian yang akan aku kirimkan?”
Kayena menaikkan pandangan ke arah lawan bicaranya. “Sepertinya Yang Mulia Kaisar tahu lebih banyak hal yang baik saya gunakan dan lakukan selama tinggal di Astoria.”
“Tentu saja,” jawab sang Kaisar dengan senyum tipis yang masih tersungging. “Jadi, terima lah pakaian yang akan aku berikan. Kamu pasti akan terlihat sangat menawan ketika menggunakannya.”
Kayena tersipu? Secara manusiawi iya. Namun, ia sudah makan asam-garam kehidupan. Rona merah di pipi bisa dengan mudah ia samarkan. Lagipula ia sudah terbiasa mendapatkan pujian seperti demikian. Bedanya, ada orang-orang tertentu yang dapat membuatnya tersipu malu, tanpa harus mengeluarkan pujian seperti itu.
“Saya juga penasaran,” lanjut sang Kaisar. “Kira-kira bagaimana menawannya Kayena de Pexley ketika menggunakan pakaian khas wanita di kerajaan Astoria.”
💰👑👠
“Bagaimana? Ada kemungkinan jika dia bisa diselamatkan?”
Pria berbadan kekar yang baru saja keluar dari sebuah ruangan itu menghela napas kasar. Beberapa bagian pakaiannya terkena noda merah yang mulai mengering. Selesai membilas tangan dengan air bersih, ia kembali menghadap lawan bicaranya.
“Dilihat secara langsung pun, sudah jelas jika si penembak berencana untuk menghilangkan nyawa pelayan itu,” katanya, jujur. “Lukanya dalam dan parah. Hampir saja menembus organ vital, seperti jantung.”
“Hampir,” koreksi lawan bicaranya yang berdiri di dekat sebuah meja kerja. “Itu berarti ada kemungkinan jika peluru yang menembus badannya tidak mengenai organ vital yang kau maksud.”
“Khayansar de Pexley,” kata pria berbadan kekar dengan rambut ikal tersebut. Alih-alih langsung menjawab, ia malah menyebutkan nama lengkap lawan bicaranya. “Rupanya kau masih cerdas dan kritis seperti di Academy.”
“Lebih baik segera jelaskan kondisi pasien mu, Khan. Sebelum aku meledakkan tempat praktik mu ini!”
“Oh, tenang dulu, man. Menjelaskan kondisi pelayan itu tidak semudah yang kau bayangkan. Membantu menanganinya saja akan membuat ku terancam masuk penjara.”
“Apa maksud mu?”
“Dari apa yang aku lihat dan juga dengar, Raja negeri ini tidak akan mudah melepaskan saksi terkait kasus yang menyerat nama wanitanya,” ujar pria bernama Khan tersebut. “Kita bahas dulu kondisi pasien ku. Sepertinya kau sangat mencemaskannya.”
“Tentu saja, si—“
“Oh, wow. Apakah Mayor Khayansar de Pexley baru saja hendak mengumpat?” goda Khan dengan menaik-turunkan alis tebalnya.
“Siapa yang akan mengumpat?” tanya Khayansar de Pexley, muak. Entah sudah berapa lama mulutnya tidak terkontaminasi oleh umpatan. “Sekarang jelaskan terlebih dahulu kondisi pasien mu.”
“Baik.” Khan kembali pada mode serius. Menggoda putra sulung Khiev de Pexley itu harus tahu batasan. Jika tidak, repot sendiri. “Pasien satu ini sepertinya sudah siap untuk … terbunuh.”
“Jika saja dia bisa melakukan elakan yang baik, mungkin pelurunya tidak akan mengenai organ vital,” tutur Khan.
“Kejadiannya sangat cepat. Mana mungkin dia bisa mengelak secepat kilat, kecuali jika dia adalah seseorang yang terlatih.”
“Ya, aku hanya bicara soal andai-andai,” balas Khan. “Ada dua luka tembak yang terbilang parah dan fatal. Mengakibatkan luka dalam yang mengkhawatirkan. Pemulihan pun akan sulit dilakukan jika tidak didampingi oleh tenaga ahli yang teliti.”
“Luka pertama ada di dekat organ vit*l yang tadi aku maksud, yaitu jantung. Sedangkan luka kedua yang cukup fatal ada di bahu. Kedua luka ini butuh perawatan ektra serta fasilitas yang memadai.”
“Jawabannya ada di Edinburgh,” sahut Khayansar. “Jika tidak, bawa dia ke London.”
“Dengan kondisinya saat ini, sangat tidak memungkinkan,” balas Khan. “Untungnya, Tuhan masih berbaik hati pada pelayan bertubuh mungil itu. Buktinya, dia masih sanggup bertahan dari rasa sakit serta kemungkinan hidup yang tinggal beberapa persen.”
“Untuk saat ini kondisinya masih cukup kritis,” lanjut Khan. “Lebih baik kau … membuat pernyataan terkait kematian palsu.”
Khayansar mengernyitkan kening. “Apa maksud mu? Di adalah saksi kunci pada kasus ini.”
“Benar,” kata Khan, tenang. “Justru karena dia saksi kunci, dia harus dilindungi. Hari ini dia mungkin selamat dari maut. Namun, jika kejadian yang sama terulang untuk ke dua kalinya, bagaimana?”
Khayansar terdiam. Benar juga kata Khan. Kyara adalah saksi kunci yang harus dilindungi. Jika kejadian seperti ini terulang, maka nyawa manusia tak berdosa sepertinya akan melayang.
“Lalu bagaimana pendapat mu soal kasus ini?” tanya Khayansar kemudian.
“Klise, jika bukti dan saksi dianggap tidak cukup memadai, maka persidangan akan ditutup oleh Pengadilan Tinggi.”
“Itu yang tidak aku inginkan,” balas Khayansar.
“Aku tahu kau jenius, Khayansar. Kau pasti tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.”
Khayansar terdiam cukup lama kali ini. Jika kematian Kyara dipalsukan, kemungkinan besar persidangan akan ditutup karena alasan kekurangan bukti dan saksi. Hal ini akan membuat Katarina, si itik buruk rupa lepas dari jerat hukum. Namun, di sisi lain, keberadaan Kyara akan aman untuk sementara waktu. Proses pengobatan dan pemulihan akan memakan waktu yang cukup lama, sehingga Kyara butuh waktu untuk melewati semua itu. Tentunya, ia juga harus berada dibawah pengawasan ketat. Memalsukan kematian dapat membuat keberadaan Kyara aman untuk sementara waktu.
Kehadiran Klautviz de Meré telah membuktikan bahwa ia berada di kubu Katarina. Dugaan itu diperjelas dengan bagaimana respon Kaizen ketika pelaku penembakkan saksi kunci yang seharusnya dijatuhi hukuman mati, malah kehadirannya disambut dengan tangan terbuka. Entah benar atau tidak, namun Klautviz de Meré pasti ada sangkut pautnya dengan salah satu dari mereka—Katarina atau Kaizen. Sehingga ia tiba-tiba rela keluar dari tempat persembunyian, demi mengacaukan jalannya persidangan dengan cara yang terbilang sangat brutal.
“Aku akan mengirimnya ke Edinburgh. Bagaimana menurut mu?”
“Dengan catatan kondisinya sudah lebih stabil dari kondisi saat ini,” kata Khan, memberi peringatan.
“Lalu, bagaimana dengan Klautviz de Meré. Kau sudah mendapatkan informasi tentang Pewaris Tanta yang dilupakan itu?”
Khan yang merupakan dokter senior, namun tidak terikat dengan institusi manapun mengangguk singkat. Selain membuka praktik secara pribadi dan legal secara hukum, ia juga menjadi salah satu penyeleksi bagi dokter atau tim medis yang akan bekerja di kerajaan Robelia.
“Hanya sedikit yang aku dapatkan, itu pun sangat mahal harganya.”
“Cepat katakan. Bayarannya akan segera aku kirimkan, setibanya kau di Edinburgh.”
“Kau tenang saja, informasi ini akan aku berikan cuma-cuma jika kau … mengizinkan aku meminang Adik mu, Kayena.” Khan tersenyum geli melihat ekspresi lawan bicaranya.
Khayansar sendiri memilih untuk melipat tangan di depan dada dengan raut wajah datar. “Adik mu sedang tidak menerima pinangan dari siapa pun,” balasnya. “Karena dia sudah memiliki pilihan sendiri.”
“Benar kah? Padahal aku sudah lama menunggunya bercerai dari Raja Robelia yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Elang Muda Kekaisaran,” sedih Khan. “Atau jangan-jangan … Kayena benar-benar memiliki hubungan dengan …”
“Basa-basi sekali lagi, akan aku ratakan tempat ini dengan tanah!”
Khan tertawa garing seraya melepaskan kaca mata yang sejak awal membingkai matanya. “Baiklah, mari kita kembali ke topik pembicaraan awal.” Kali ini wajah dokter muda itu kembali ke setelan serius. “Kondisi pasien ku yang istimewa itu bisa membaik jika dia sudah sadarkan diri dan berhasil melewati masa kritis. Setelah melewati semua itu, baru bisa dilakukan pengobatan lanjutan. Untuk rencana mu membawanya ke Edinburgh, harus aku pikirkan dengan matang.”
“Selanjutnya, soal Klautviz de Meré. Aku menemukan sedikit informasi serta jejak catatan kehidupannya yang tidak banyak diketahui publik,” katanya seraya mengeluarkan sesuatu dari laci meja kerjanya. “Dulu, mungkin sekitar dua puluh satu tahun atau dua puluh dua tahun yang lalu, di daerah pinggiran ibu kota Robelia ada tempat bernama La Beauté Cachée. Tempat hiburan malam paling terkenal pada masanya, karena memiliki pekerja yang cantik-cantik dan berbakat. Banyak Senor yang kerap menyamar, kemudian mengunjungi La Beauté Cachée di malam hari. Salah satunya adalah Klautviz de Meré.”
“Dugaan ini muncul karena Klautviz de Meré kemudian pernah dirumorkan dekat dengan salah satu wanita panggilan dari La Beauté Cachée. Hubungan mereka terbilang singkat, namun pemilik La Beauté Cachée pernah buka suara, jika sebelum menghilang, wanita panggilan yang kerap disewa Klautviz de Meré itu kedapatan berbadan dua. Setelahnya, wanita itu menghilang begitu saja. Sebulan kemudian pemilik ditemukan La Beauté Cachée di kediamannya. Tak berselang lama, La Beauté Cachée berhenti beroperasi karena pihak Kerajaan menyegel izin operasi tempat tersebut.”
“Lalu, bagaimana dengan wanita panggilan itu? apa ada indikasi bahwa dia … mengandung anak dari Klautviz de Meré?” tanya Khayansar kemudian.
“Itulah si*nya. Hingga saat ini belum diketahui wanita itu menghilang ke mana. Setelah aku mengerahkan kaki-tangan ku untuk mencari, yang aku dapatkan hanya namanya saja.”
“Siapa?”
“Apanya?”
“Nama wanita panggilan Klautviz de Meré?”
“Oh,” respon Khan sebelum menyodorkan sebuah lukisan usang kepada Khayansar. “Karla Kannelite. Wanita panggilan berwajah lugu yang pandai bernyanyi, melantunkan puisi, serta menidurkan adik kecil para Senor hidung belang di zaman nya.”
Khayansar meneliti wajah yang tergambar di lukisan usang tersebut. Wanita bernama Karla Kannelite itu memang cantik, postur wajahnya kecil dengan sorot lugu. Namun, gaya berpakaiannya mencerminkan profesinya sekali. Dengan rambut panjang yang menyentuh pinggang, ia tampak cantik dan menarik.
Ketika Khayansar mencoba meneliti lebih jeli, Karla Kannelite tampak mirip dengan salah satu mantan pelayan di rumahnya. Yang membedakan adalah Karla Kannelite memiliki rambut hitam panjang yang terawat, serta kulit yang bersih, sedangkan mantan pelayannya yang juga menghilang begitu saja, memili rambut terpotong pendek di belakang telinga, serta kulit yang kusam dan menghitam karena tersengat sinar matahari.
Mantan pelayan yang mirip Karla Kannelite itu menghilang setelah ditemukan bayi yang dewasanya bernama Katarina. Gundik Raja Robelia yang saat ini berkuasa.
“Akan tetapi, sekitar satu tahun setelah Karla Kannelite menghilang, ada salah seorang narasumber yang melihat Karla Kannelite bersama Klautviz de Meré di sebuah klinik tradisional. Ketika ditelusuri, Klautviz de Meré dan Karla Kannelite juga pernah terlihat di sebuah tempat makan di pinggir kota, membawa dua bayi yang diyakini sebagai anak dari keduanya. Penemuan ini juga disusul dengan aduan pada Raja Robelia yang saat itu berkuasa.”
“Apa kau tahu apa yang terjadi setelah aduan itu sampai ke telinga Raja Robelia?” tanya Khan, basa-basi. “Klautviz de Meré keluar dari istana. Ada yang mengatakan jika terjadi perselisihan di antara dia dan Kakaknya—Raja Robelia pada saat itu. Ada juga yang mengatakan bahwa Klautviz de Meré menginginkan anak-anaknya mendapatkan hak yang semestinya atas tahta kerajaan, namun keinginan tersebut ditolak mentah-mentah.”
“Yang menjadi pertanyaan hingga saat ini adalah … dimana Karla Kannelite tinggal setelah meninggalkan La Beauté Cachée? Jika dia meninggal tak lama setelah melahirkan, di mana dia dikuburkan? Kemudian kemana anak-anaknya? Mengingat ada narasumber yang mengatakan jika Karla Kannelite kemungkinan besar mengandung bayi kembar.”
Khayansar juga tidak tahu jawaban dari semua pertanyaan itu. Namun, isi kepalanya sejak tadi meyakini satu hal.
“Lantas, selama ini dimana Klautviz de Meré bersembunyi? Apakah dia yang membawa bayi-bayi yang dilahirkan oleh Karla Kannelite? Semua itu belum terjawab. Kini, tiba-tiba saja Klautviz de Meré kembali muncul di istana setelah sekian lama menghilang. Aku bahkan sudah melupakan pewaris tahta yang dilupakan itu. Aku kira …”
“Aku tahu dimana Karla Kannelite menghilang waktu itu,” kata Khayansar tiba-tiba.
“Dimana?” kali ini khan yang inisiatif bertanya. Ada rasa penasaran yang timbul ke permukaan.
“Rumah ku,” jawab Khayansar, singkat. “Estat Grand Duke Pexley,” jelasnya kemudian. “Dulu, ketika kami masih anak-anak, ada seorang pelayan yang mirip sekali dengan Karla Kannelite. Dia bekerja di bagian istal kuda.”
“Sungguh? Kau punya lukisan wajahnya?”
“Lukisan wajahnya masih ada di arsip pekerja tahun itu. Ada di kediaman Pexley,” tambah Khayansar.
“Kalau begitu kau harus melihat dan menyesuaikannya dengan potret ini,” kata Khan seraya menatap lukisan usang yang ia temukan. “Coba ingat-ingat kembali, apa pelayan di kediaman mu itu pernah melahirkan sepasang anak kembar?”
Khayansar menggelengkan kepala dengan segera. “Pelayan itu menghilang. Di hari yang sana, ditemukan bayi perempuan di atas tumpukkan jerami di istal kuda milik kami.”
“Bayi perempuan? Sekarang, kemana bayi perempuan itu? apakah dia masih ada di kediaman keluarga mu?”
Kali ini Khayansar terdiam, sebelum mengangkat pandangan guna menatap Khan lekat. “Dia ada di istana,” katanya. “Menjadi wanita panggilan yang siap kapan pun ketika Raja menginginkan dirinya mengangk*ng di bawahnya.”
Kontan, mendengar informasi tersebut Khan terdiam. Bibirnya bungkam dengan sorot mata tak percaya.
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini kalau mau lanjut 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 26-06-23