
00156. Une vague de chagrin qui les a noyés (Gelombang duka yang menenggelamkan mereka)
Gelombang duka masih begitu kental terasa. Menyelimuti istana Robelia yang tidak ada habisnya dihantam oleh berbagai masalah semenjak raja Robelia, selirnya, serta para bangsawan menyelewengkan Noblesse oblige demi memperingati hari kelahiran seseorang yang belum jelas asal-usulnya.
Mungkin do’a seorang ibu sekaligus mantan ratu Robelia dijawab oleh Tuhan, sehingga orang-orang yang berbuat seenaknya, kini mulai mendapatkan hukuman. Terutama raja Robelia dan selirnya yang kini hampir tenggelam dalam gelombang badai ke sekian yang menghantam mereka.
“Yang Mulia, biar saya mengantar Anda kembali ke istana. Anda juga masih membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat.”
Bujukan itu datang dari tangan kanan raja Robelia yang sangat setia. Ia datang membawa beberapa jenis menu untuk makan malam sang raja. Pemimpin Robelia itu belum mengisi perut sejak siang. Pekerjaannya hanya duduk dan termenung di tempat yang sama.
“Setidaknya Anda harus mengisi perut, karena tubuh Anda butuh asupan energi.”
Alih-alih menjawab, raja Robelia itu tiba-tiba meracau dengan pandangan masih tertuju pada perut mantan selirnya yang ditutupi oleh selimut. “Apa tadi kamu mendengarnya, Kael? Pada usia kehamilan Katarina, bayi itu seharusnya sudah bisa mendengar suara ibunya, bahkan suaraku. Apa selama bertahan hidup di dalam sana, dia mendengarkan semua makian yang keluar dari mulutku?”
Kaelus menghela napas kecil mendengar ucapan Kaizen. Semenjak melakukan prosesi kremasi di krematorium milik istana, Kaizen tidak dapat menutupi kesedihannya. Dulu, ketika anak pertamanya dengan Kayena meninggal dunia pun, Kaizen masih bisa memasang wajah datar. Padahal, jauh di lubuk hati yang terdalam, ia sama hancurnya dengan Kayena.
Sekarang, setelah melihat bayi kecilnya bersama Katarina yang sudah terbujur kaku, Kaizen hanya merasakan penyesalan begitu besar yang tidak ada habisnya. Dokter yang mengurus bayi yang diperkirakan baru berumur 4 atau 5 bulan itu berkata, bayinya dan Katarina sudah bisa mendengarkan ibunya, mendengarkan detak jantung, suara perut, bahkan suara orang lain—termasuk Kaizen. Informasi tersebut semakin membuat Kaizen merasa bersalah, karena belakangan ini sikapnya terhadap Katarina sangatlah buruk.
Dari segi fisik, retina, kornea, iris (selaput pelangi), serta lensa mata sudah berfungsi. Walaupun matanya masih terpejam, tetapi bayi mereka sudah bisa menangkap cahaya. Lapisan kulit sudah terbentuk, otot dan anggota tubuhnya telah terbentuk dan berada di posisinya; seperti bentuk telinganya sudah sempurna, kepalanya sudah memiliki rambut, juga bulu mata dan alis. Jutaan saraf motorik sudah terbentuk dalam otak, sehingga ia dapat membuat gerakan sadar seperti menghisap jempol. Panjangnya sudah mencapai sekitar 23-25 sentimeter.
Pada usia kandungan Katarina, jenis kelamin bayi juga sudah dapat diketahui. Itulah salah satu alasan yang menyayat hati Kaizen, ketika ia mengetahui jika Katarina baru saja mengandung bayi perempuan miliknya. Namun, bayi itu tidak mereka ketahui keberadaannya, kemudian kembali begitu saja ke sisi Tuhan.
“Putriku pasti tidak mau lahir ke dunia karena memiliki Ayah seperti diriku. Dia lebih memilih kembali ke sisi Tuhan, berkumpul dengan mendiang Ayah, Ibu, dan putraku bersama Kayena.”
Kaelus tidak tahu harus merespon seperti apa. Namun, ia tahu rasanya kehilangan orang terkasih bagaimana. Apalagi ini adalah anak yang tidak diketahui keberadaannya, serta bisa disebut meninggal karena kelalaian dan keegoisan kedua orang tuanya. Bayi berjenis kelamin perempuan itu sudah terlahir dengan kondisi tidak bernyawa. Banyak faktor internal juga eksternal yang membuat nyawanya melayang; terutama karena kondisi kesehatan sang ibu ketika mengandung.
Selain itu, dokter yang menangani kasus ini mengatakan bahwa keajaiban menjadi kunci utama. Kehamilan yang tidak diketahui ini bisa saja berakhir sejak lama, namun bayi dalam kandungan Katarina bertahan cukup kuat. Dokter juga menemukan kandungan obat penyubur sekaligus penguat kandungan. Kaizen tidak tahu-menahu soal obat penyubur sekaligus penguat kandungan itu. Ia tidak pernah menyuruh siapa pun untuk memberikan obat penyubur sekaligus penguat kandungan.
“Ikhlaskan kepergian Tuan Putri, Yang Mulia. Mungkin ini jalan terbaik yang telah dipilih oleh Tuhan.”
Kaelus tahu jika Kaizen tidak menginginkan anak dari Katarina selaku selirnya. Anak yang lahir dari seorang selir tetap dianggap anak tidak sah, karena lahir dari hubungan tidak resmi. Apalagi status Katarina yang tidak pernah dinikahi oleh Kaizen. Akan tetapi, Kaelus juga tahu bahwa Kaizen sangat menyayangi anak-anak, apalagi keturunannya. Mungkin sebagian orang tidak akan percaya. Namun, raja Robelia itu kerap mengeluhkan kondisi istana yang sunyi, semenjak tidak ada anak kecil yang tinggal di dalamnya.
Ketika Kayena melahirkan, Kaizen merasa sangat bahagia. Pada akhirnya, impian untuk memiliki seorang putra sebagai penerus terwujud. Namun, kesenangan itu hanya bertahan beberapa saat. Kaizen tidak pernah berniat memiliki anak dengan Katarina, tetapi siapa yang menyangka jika ada kehidupan yang bersusah payah untuk terus berkembang, di saat kehadirannya sudah dihalang-halangi sejak awal. Ketika kabar tentang kepergiannya mencuat ke udara, makan orang yang paling kehilangan tentu saja kedua orang tuanya. Dua orang dewasa yang egois.
“Putriku kecilku yang malang …” Kaizen menunduk dengan mata memerah. Ia benar-benar tidak menyangka telah membunuh putrinya sendiri.
Walaupun tidak benar-benar berniat untuk membunuh keturunan yang tidak diketahui kehadirannya, Kaizen sadar jika perbuatannya pada Katarina telah menjadi salah satu alasan di balik peristiwa naas ini. Rasa bersalahnya semakin bertambah ketika ia memikirkan bagaimana hancurnya perasaan Katarina. Wanita itu pasti akan merasa sangat sedih, ketika ia mengetahui bahwa ada kehidupan di dalam perutnya. Sekarang kehidupan itu telah tiada.
“Kaelus,” panggilnya dengan suara dingin. “Pergilah. Malam ini aku akan tetap tinggal di sini.”
“Tapi, kondisi Anda …”
“Aku akan segera memanggilmu jika terjadi sesuatu,” potong Kaizen. “Aku hanya tidak ingin Katarina hancur sendirian ketika dia bangun dan mengetahui kebenaran soal putrinya.”
Mau tidak mau, Kaelus pun mengangguk dengan ragu. “Baiklah, Yang Mulia. Saya akan berada di depan pintu utama. Jika terjadi apa-apa, Anda cukup memanggil saya.”
“Hm.”
“Kalau begitu, saya pamit undur diri,” ujar Kaelus sebelum memberikan penghormatan pada rajanya yang masih berada di posisi yang sama. Sebelum ia benar-benar pergi, rajanya kembali bersuara.
“Satu lagi, pergilah ke Katedral Carcel dan bawakan bunga krisan segar untuk ditaruh di sana. Jadilah perwakilanku untuk menyampaikan pada mendiang Putra Mahkota Carcel, bahwa ia akan kedatangan adik perempuan.”
“Baik, Yang Mulia.”
Bunga krisan adalah bunga yang melambangkan duka, kematian, dan kesedihan. Di banyak Negara Eropa, bunga ini sangat popular untuk melambangkan kematian. Setiap warna bunga krisan memiliki filosofi yang berbeda. Mungkin, nanti Kaelus akan membawa tiga jenis bunga krisan, yaitu putih, merah muda, dan ungu. Ketiganya mewakili filosofi kesedihan dan kematian.
Walaupun informasi tentang keguguran yang dialami oleh Katarina sangat dijaga dengan ketat, supaya tidak berhasil melewati tembok istana, tetapi gelombang duka begitu terasa di dalam istana. Bagaimana pun juga, kematian penerus kedua raja Robelia tetaplah berita mengejutkan juga sangat disayangkan.
“Sudah waktunya kau bangun, Katarina. Walaupun kau tidak ingin, tetap saja kau harus bangun untuk menghadapi kenyataan ini.” Setengah berbisik, Kaizen kembali bersuara. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Jadi, bangunlah. Aku akan menemanimu jika kamu merasa sedih karena kehilangan bayi yang sangat kamu tunggu-tunggu.”
Kaizen masih manusia yang memiliki hati, di luar perilakunya yang tergolong sangat brengs*k dan bajing*n. Ia sadar jika telah menggunakan Katarina tanpa memikirkan perasaannya. Katarina sejatinya tidak salah, Kaizenlah yang memperalat Katarina. Walaupun Katarina adalah putri Klautviz de Meré, tetapi selama ini Katarina juga tidak tahu identitasnya. Katarina juga baru mengetahuinya, sebelum Klautviz de Meré pergi ke wilayah perbatasan.
“Siapa?” tanya Kaizen tiba-tiba. Raut wajahnya langsung berubah; dingin juga siaga. “Berani sekali kau masuk tanpa izin dariku?”
Kaizen menyadari kedatangan seseorang. Di ruangan itu tidak ada siapa-siapa selain dirinya dan Katarina yang tidak sadarkan diri. Beberapa tempat tidur yang tersedia di ruangan itu—salah satu ruangan di pusat kesehatan istana Robelia—sudah dikosongkan atas permintaan Kaizen.
“Tunjukkan wajahmu, pengec*t!” seru Kaizen dengan kewaspadaan yang masih tinggi. Dengan kondisinya saat ini, ia akan mudah dikalahkan ketika terlibat pertarungan. Di sisi lain, ia juga tidak ingin Katarina kenapa-kenapa.
“Jangan berlebihan, Yang Mulia. Saya datang bukan untuk mencelakai Anda.”
Tebakan Kaizen terbukti benar ketika siluet manusia terlihat dari salah satu pojok ruangan. Dekat dengan tirai jendela yang melambai-lambai, siluet yang sempat dilindungi oleh kegelapan itu mulai muncul ke permukaan. Kaizen memang tidak dapat langsung mengenalinya, tetapi keberadaan dua bilah pedang di belakang tubuh sosok misterius itu membuatnya semakin waspada.
“Ahli pedang ambidextrous.” Kaizen membatin di dalam hati. Ia sangat yakin jika sosok misterius itu ahli pedang ganda yang suda jarang ditemukan di Robelia, bahkan dunia.
“Saya adalah orang yang selama ini Anda cari.”
“Siapa kau?” tanya Kaizen dengan dingin. “Berani sekali kau menerobos masuk ke istanaku!”
“Jika saya berkata saya memiliki hak atas tempat ini, apa Anda akan percaya?”
“Jaga bicaramu. Istana ini milikku!” seru Kaizen dengan raut wajah mengeras.
Sosok yang berpakaian serba hitam itu akhirnya menunjukkan wajah. Berdiri gagah dengan senyum misterius yang senantiasa menghiasi bibir. Kaizen langsung memicingkan mata ketika mengenali sosok tersebut.
“Jika istri yang Anda maksud adalah Nona Kayena, maka jawabannya adalah ya. Tetapi, apa perlu saya ingatkan kembali, bahwa Anda dan Nona Kayena telah resmi bercerai?”
Kaizen menggeram marah. Susah payah ia berusaha berdiri agar tidak tampak terintimidasi oleh sosok misterius yang rupanya mantan penjahit pribadi dari mantan istrinya. Ia tidak habis pikir dengan keberanian lawan bicaranya yang sudah menerobos masuk ke istana.
“Jaga bicaramu, sial*n. Kau tidak sadar sedang bicara dengan siapa?”
“Yang Mulia Raja Robelia,” jawab lawan bicaranya. “Perkenalkan terlebih dahulu, saya Charteris Killian de Meré. Orang yang selama ini Anda cari.”
Mendengar nama belakang lawan bicaranya, Kaizen yang terkejut langsung membelalakkan mata. Siapa yang menyangka jika mantan penjahit Kayena adalah seorang ahli pedang ambidextrous dan memiliki nama belakang yang sama dengan Klautviz de Meré. Itu berarti orang yang selama ini ia cari—anak laki-laki Klautviz de Meré, sekaligus kembaran Katarina adalah dirinya?
“Saya adalah saudara kembar dari Chatarina Kannelite de Meré. Kekasih Anda atau lebih tepatnya pelampiasan hasrat Anda.”
“Jaga bicaramu, brengs*k. Tunjukkan rasa hormatmu kepadaku, sebelum aku memanggil penjaga untuk membunuhmu.”
“Saya tidak takut dengan ancaman Anda,” balas Killian. “Saya sudah kenyang dengan berbagai jenis kematian tragis. Lagi pula, hari ini saya datang bukan untuk mengantarkan nyawa. Melainkan membuat negosiasi dengan Anda.”
Kaizen semakin tidak paham dengan maksud lawan bicaranya. Walaupun begitu, ia tidak boleh lengah sama sekali. Bagaimanapun juga ia tengah berhadapan dengan putra Klautviz, pria yang sangat terobsesi untuk menjadi raja Robelia.
“Apa yang kau inginkan?”
“Yang pasti bukan nyawa Anda,” jawab Killian dengan langkah santai yang dibawa ke arah Kaizen. “Anda tenang saja, saya tidak menginginkan nyawa apalagi posisi Anda sebagai raja Robelia.”
“Lalu apa yang kau inginkan dengan datang ke sini?” desak Kaizen.
“Saya ingin menjemput saudari saya,” balas Killian dengan pandangan yang kini beralih sepenuhnya. Menatap wanita yang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur. “Anda sudah puas memonopoli tubuh, merusak hati dan rahimnya, lalu membunuh bayinya. Apa lagi yang Anda inginkan?”
Kaizen tidak bisa menjawab, karena bibirnya tiba-tiba terasa kelu. Ucapan Killian sudah seperti tamparan tidak kasat mata.
“Hidupnya sudah cukup menderita. Saya pastikan jika sekarang dia tidak lagi memiliki keinginan untuk berada di sisi Anda. Jadi, percuma saja mempertahankannya.”
Sekali lagi, Killian berhasil menampar Kaizen lewat kata-katanya.
“Atas jaminan apa dia akan baik-baik saja jika bersama orang asing sepertimu?”
Killian tertawa kecil mendengarnya. “Jika Anda lupa, kami terlahir sebagai anak kembar. Kami berbagi banyak hal semenjak berada dalam kandungan. Di dunia ini, Anda pikir Andalah orang yang paling mengenal dan memahaminya?”
“…”
“Jangan terlalu percaya diri. Tidak semua hal di dunia ini bisa Anda miliki dan kendalikan sesuka hati,” ucap Killian dengan kedua tangan dilipat di depan dada. “Apa yang dia rasakan selama ini, saya juga merasakannya. Walaupun kami terpisah oleh jarak, ruang, dan waktu, intuisi di antara kami tidak pernah terputus.”
“Lalu, kenapa baru sekarang kau muncul dan ingin membawanya pergi? Kenapa tidak sejak dulu?” cecar Kaizen kemudian. “Apa kau tahu apa saja yang telah wanita sial*n ini lakukan kepada hidupku?”
“Berhenti menyalahkan orang lain atas kesalahan yang Anda perbuat sendiri.” Killian menatap Kaizen dengan dingin. Hilang sudah image humble yang kerap ia tunjukkan pada banyak orang. “Anda tidak mencintainya bukan? Maka biarkan saya membawanya pergi.”
“Tidak ada yang bisa membawanya pergi tanpa izinku.”
“Saya tidak perlu izin Anda. Lagi pula, dia bukan lagi selir Anda.”
“Aku tidak akan membiarkan wanita yang telah melahirkan putriku pergi begitu saja!” seru Kaizen dengan nada tinggi.
Killian yang sudah berada di sisi lain tempat tidur, menyeringai tipis. “Untuk apa Anda berbuat seperti ini? apa karena Anda merasa menyesal?” ia bertanya seraya meraih satu bilah pedang yang tersimpan di belakang tubuh. Dalam satu tarikan, pedang itu langsung dihunuskan ke arah Kaizen yang berada di sisi lain tempat tidur.
“Kelahiran bayi yang tidak pernah Anda inginkan dari kembaranku seharusnya tidak merubah apapun. Anda bertindak inpulsif seperti ini karena rasa bersalah, bukan? Sudahi sekarang juga. Jika kalian terus bersama, kalian hanya akan saling menyakiti karena ego masing-masing.”
“Tapi dia mencintaiku. Katarina tidak mungkin bisa hidup tanpa diriku.”
“Anda terlalu percaya diri,” balas Killian. “Dari yang saya ketahui, saat ini kembaran saya sudah tidak lagi mencintai Anda. Yang tersisa dalam hatinya hanyalah kebencian. Setelah dia terbangun dan mengetahui soal kematian putrinya, Anda pikir dia akan tetap ingin berada di sisi Anda?”
Kaizen menggeram marah. Ia ingin sekali membalas Killian, tetapi sadar jika apa yang dilakatan oleh lawan bicaranya adalah kebenaran.
“Selama ini Katarina mungkin keras kepala dan telah menimbulkan banyak masalah. Akan tetapi, Anda adalah sumber dari segala sesuatu yang bersifat negatif dalam diri Katarina. Anda memperalat dirinya dengan iming-iming cinta dan tahta. Padahal, pada kenyataannya Anda menjadikan dia pelampiasan hasrat serta alat untuk menyeimbangkan kekuasaan.” Killian menarik lagi pedangnya setelah berkata demikian. “Akan saya berikan dua hal, jika Anda membiarkan saya membawanya pergi.”
Kaizen masih tidak bergeming. Setelah mengetahui Katarina sempat mengandung bayinya, kebencian yang terpupuk mulai berkurang beberapa persen. Selain itu, rasa bersalah juga kian membuatnya ingin mempertahankan Katarina. Setidaknya, ia ingin menebus sedikit demi sedikit kesalahannya yang telah menghancurkan hidup Katarina.
“Jiwa dan raganya akan mati jika terus terpenjara di sisi Anda.”
Kaizen mendongkrak. Menatap ke arah Killian yang baru saja bicara. “Apa kau bisa menjamin dia bahagia jika tidak bersamaku?”
“Ya.” Tanpa ragu, Killian menjawab. “Saya akan memastikan dia bahagia dan hidup lebih baik, dibanding ketika bersama Anda.”
“…”
Tidak menunggu respon dari raja Robelia, Killian bergegas memberikan sebuah penawaran. “Biarkan dia pergi bersama saya. Sebagai gantinya, saya akan membawakan kepala Klautviz de Meré dan sebuah informasi pening.”
💰👑👠
Bersambung
Tanggerang 08-10-23