How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00147. Premier amour et amour éternel (Cinta pertama dan cinta selamanya)



00147. Premier amour et amour éternel (Cinta pertama dan cinta selamanya)


Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan mulai tampak pada tubuh seorang ibu hamil seperti Kayena. Walaupun ini bukan kehamilan pertama baginya, keberadaan seseorang yang begitu memperhatikan segala hal tentang kebutuhannya adalah pengalam pertama. Dari awal membuka mata, memulai hari, hingga menutup mata di penghujung hari, sekarang ada yang memperhatikannya secara istimewa. Memasuki minggu ke-delapan, kondisi Kayena tidak seperti ibu hamil pada umumnya yang mengeluhkan banyak gejala.


Kayena hanya pernah merasa sakit kepala ringan, tidak enak badan, mual-mual hingga muntah ringan di awal masa kehamilan—saat ia belum menyadari kehadiran mahluk mungil di rahimnya. Sekarang, apalagi setelah kekasihnya kembali, kondisi kesehatannya perlahan-lahan kembali seperti sedia kala. Bahkan ia merasa lebih hidup dan bahagia semenjak menyandang status calon istri Pangeran Kwang Min.


“Aku akan meninggalkan kalian untuk bicara berdua, tetapi aku tidak akan pergi jauh.”


Seraya berkata, pria rupawan itu mengelus pucuk kepala Kayena dengan lembut. Sorot matanya yang dingin dan datar telah berubah menjadi lebih hangat dan bersahabat ketika menatap sang kekasih.


“Aku akan menunggu di bawah pohon plum, dekat jembatan kayu.”


“Baik.”


“Nikmatilah waktu bicara kalian,” tambah pria rupawan itu setelah menjatuhkan satu kecupan di pucuk kepala yang sempat ia sentuh. Ia kemudian pergi untuk memberikan privasi pada kekasihnya yang akan bicara dengan cinta pertamanya pada masa kanak-kanak.


Tidak seperti peristiwa pertemuan kekasihnya dengan pria bernama lengkap Charteris Killian de Meré, Kaezar lebih legowo ketika sang kekasih meminta izin untuk bicara empat mata dengan cinta pertamanya di masa kanak-kanak, sekaligus kakak angkat Kaezar. Ia memberikan mereka waktu untuk bicara, sekaligus memberikan toleransi pada pria yang lebih dulu menaruh rasa suka pada kekasihnya. Lagi pula masalah rasa di antara mereka telah diselesaikan. Pembicaraan kali ini real pembicaraan terkait topik ringan sebelum mereka berpisah.


Kaezar kemudian memutuskan untuk menunggu di bawah pohon plum, dekat sebuah jembatan kayu yang melewati danau dengan hiasan blue lotus—teratai biru—yang tengah bermekaran. Danau itu juga melewati bawah bangunan yang akan menjadi tempat pertemuan kekasihnya dan Kaisar Astoria. Di bawah pohon plum yang tidak lagi berbunga pada musim gugur, Kaezar akan menunggu dengan tenang. Selain pohon plum yang berdiri sendiri, sepanjang mata memandang, ada pohon sakura yang berjejer di sepanjang sisi jalan. Ia sangat yakin ketika musim semi tiba, area ini pasti sangat cantik—dihiasi oleh pohon plum dan pohon sakura yang berbunga.


Setahu Kaezar, bunga plum mekar di atas ranting dan kelopak bunganya bulat yang menjadi ciri khas utama bunga ini. Berbeda dengan bunga sakura, di mana beberapa bunga bisa mekar mekar sekaligus menyerupai buket bunga, jumlah bunga yang mekar dari kuncup bunga plum hanya 1 saja. Di Sésilia—wilayah yang menjadi kekuasaannya saat menjabat sebagai Archduke—pemandangan serupa akan terlihat jika musim semi. Selain pohon peach atau persik yang tumbuh subur di Sésilia, pohon aprikot hingga plum juga tumbuh subur di berbagai penjuru Sésilia. Itulah mengapa kekasihnya sangat suka berkunjung ke Sésilia pada musim semi. Keindahan kota-kota di dalamnya akan menikmati pesat berkat bunga-bunga peach, apricot, hingga plum.


“Cantiknya.”


Pujian itu dengan sadar dilontarkan oleh calon ayah itu. Namun, pujian itu bukan ditujukan pada keindahan pemandangan alam di sekitar, melainkan pada kekasih hatinya yang terlihat sedang menunggu di bangunan terbuka berbahan kayu yang dibuat di permukaan air. Di antara banyaknya objek cantik yang terlintas di depan netra, sosok itu tetap menjadi yang paling cantik. Padahal jarak pandang di antara mereka cukup panjang membentang.


Tidak berselang lama, datang Kaisar Astoria yang dibuntuti oleh segerombol manusia, mulai dari kasim, kepala dayang, dayang-dayang biasa, kepala pengawal, sampai mengawal biasa. Mereka semua selalu mengikuti sang kaisar, selagi tidak ada perintah untuk berhenti mengikuti. Keberadaan mereka semua tentu saja guna menunjang segala keamanan serta kebutuhan Kaisar Astoria selaku orang nomer satu di kekaisaran ini.


Ketika Kaisar Astoria mendekati kekasih Kaezar, secara otomatis para pengikutnya menunggu di tempat yang tidak terlalu jauh dai keberadaan kaisar mereka. Duduk dalam diam, Kaezar memilih untuk mengawasi dari jauh. Semenjak berhasil mendapatkan balasan dari wanita yang dicintai, ia merasa mulai serakah. Ya, serakah dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kekasihnya. Ia terkadang merasa cemburu karena perihal sepele. Padahal, sebelumnya ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini.


Jika Kaisar Kwang Sun adalah cinta pertama Kayena di masa kanak-kanak, Kaizen adalah cinta Kayena di masa remaja hingga beranjak dewasa. Sedangkan Kaezar menempati posisi sebagai true love bagi Kayena. Dalam kehidupan memang ada 3 fase percintaan. Pertama, cinta di masa anak-anak atau cinta monyet. Ke-dua, cinta menyakitkan. Sedangkan ke-tiga, true love atau cinta yang sesungguhnya.


Dari ke-tiga fase percintaan itu, mungkin Kaizen yang paling lama mendominasi. Kaizen adalah sosok yang Kayena cintai pada masa emas pertumbuhan sebagai remaja hingga beranjak dewasa. Bersamanya, Kayena melewati halangan dan rintangan yang menimbulkan berbagai kombinasi rasa. Namun, pemenangnya tetaplah Kaezar. Sosok yang akan menggenggam tangan Kayena ketika menyongsong masa depan.


“Suamimu sedang menunggu?”


Sadar dirinya kedapatan mencuri lihat ke arah lain, Kayena bergegas mengalihkan tatapan dengan gerakan senatural mungkin.


“Kenapa dia menunggu di sana? Bukan di sini?” Kaisar Astoria yang baru saja bergabung, kembali bertanya dengan suara ramahnya. Tidak yang yang berubah dari sikapnya; tetap ramah dan perhatian.


“Dia ingin memberi kita ruang untuk bicara.”


“Padahal aku tidak keberatan jika suamimu ikut bergabung.” Duduk dengan tenang di hadapan cinta pertamanya, Kaisar Kwang Sun kembali bersuara.


Di hadapan sang Kaisar Astoria, duduk dengan cantik istri dari adik angkatnya. Di antara mereka ada meja kayu berkaki pendek yang menampung beberapa jenis kudapan manis serta camilan asin. Ada pula teko keramik berukuran kecil yang diisi dengan teh oolong hangat. Dikarenakan Kayena sedang mengurangi konsumsi minuman yang mengandung caffeine seperti teh, disediakan pula minuman yang terbuat dari ekstra buah-buahan segar yang lebih baik bagi kesehatan.


“Bagaimana jika dia cemburu?”


Kayena tersenyum lebar seraya menggelengkan kepala dengan ringan. “Anda adalah kakak angkatnya. Sebelum memberi kesempatan untuk kita bicara empat mata, dia pasti sudah menyimpan kepercayaan pada Anda.”


“Hm. Kelihatannya dia memang bukan tipikal suami yang gampang cemburu.”


Kayena tersenyum saja sebagai balasan dari ungkapan tersebut. Kelihatannya Kaezar memang bukan tipikal pria yang gampang cemburu. Padahal aslinya, melihat kekasihnya pegangan tangan dengan pria lain saja, perasaan tidak nyaman langsung mengacaukan hati dan pikiran.


“Dia memperlakukan kamu dengan baik?” tanya Kaisar Kwang Sun tiba-tiba.


Kayena tentu saja menautkan kening mendengarnya. “Kenapa Yang Mulia Kaisar bertanya demikian?”


“Aku ingin mendengar jawabannya secara langsung dari kamu, bukan hanya menyaksikannya sendiri.”


“Seperti yang dapat Anda lihat, suami saya memperlakukan saya dengan sangat baik,” jawab Kayena dengan suara anggun miliknya. Ia bahkan tidak segan menyebut Kaezar sebagai suami. “Dia selalu memperhatikan serta mengutamakan kebutuhan saya, dari pada dirinya sendiri.”


“Baguslah,” komentar Kaisar Astoria. “Setidaknya Pangeran Kwang Min adalah pria yang berlipat-lipat kali lebih baik dari mantan suamimu dan diriku.”


Kaisar Kwang Sun mengangguk seraya menatap Kayena lamat-lamat. “Tentunya aku juga berkali-kali lipat jauh lebih baik dari mantan suamimu,” ucapnya dengan penuh wibawa. “Aku percaya diri bisa menang jika harus melawan bangsawan atau pemimpin negeri mana pun untuk memperebutkan kamu. Tetapi, aku tidak pernah bisa menang melawan satu orang yang sudah mendapatkan tempat di hatimu.”


Ada senyum kecil yang dibagi sang Kaisar ketika wajah cantik lawan bicaranya tampak tersipu. Sungguh beruntung ia, karena dapat melihat wanita cantik itu tersipu malu. Kejadian yang terbilang sangat langka.


“Suatu hari nanti, Anda juga akan berada di posisi yang sama—sebagai satu-satunya pria yang mengisi hati wanita yang telah ditakdirkan untuk Anda.”


Kini giliran Kaisar Astoria yang tertegun dengan ungkapan yang dilontarkan Kayena sebagai kalimat penghibur. Ia kemudian berkata lagi. “Entah kapan hari itu akan terjadi. Jika telah tiba waktunya, kamu adalah orang pertama yang akan aku beritahu.”


Dengan senang hati Kayena mengiyakan. Hubungan mereka akan tetap berlangsung, walaupun ada kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang kandas di tengah jalan. Sekarang, hubungan mereka justru lebih kuat lewat ikatan kekeluargaan.


“Jadi apa yang membuat kamu ingin bicara denganku? Apa ini semacam ucapan selamat tinggal versi kamu?”


Kayena menatap lawan bicaranya dengan senyum masih mengembang di bibir. Dari dulu hingga sekarang, objek di hadapannya memang tidak pernah bosan untuk dipandang.


“Kepulanganmu dipercepat hm?”


Kali ini anggukan kepala diberikan Kayena sebagai jawaban.


“Baiklah. Walaupun aku merasa agak kecewa karena kamu dan Kwang Min tidak tinggal sampai musim panas tahun depan, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Berkunjunglah ketika kalian memiliki waktu luang.”


“Kami pasti akan berkunjung jika memiliki waktu luang.” Kayena membalas dengan segera. “Anda juga, jika memiliki waktu dan kesempatan untuk berkunjung, dengan senang hati kami akan menyambung kunjungan Anda.”


“Tentu saja,” balas sang Kaisar Astoria. “Asalkan kamu memberitahu di Negara mana kamu akan memutuskan untuk tinggal.”


“Anda adalah orang pertama yang akan saya terima sebagai tamu di rumah baru kami. Alamat lengkapnya akan segera saya kirimkan lewat surat.”


“Aku akan menunggu suratmu.”


Kayena tersenyum seraya menganggukkan kepala ringan. Obrolan yang awalnya sempat dikira akan terasa canggung, rupanya malah lebih nyaman dari perkiraan.


“Jadi, kapan kalian meninggalkan Astoria? Lusa?”


Kali ini gelengan kepala diberikan Kayena sebagai jawaban. “Besok. Kami akan meninggalkan Astoria besok, ketika fajar belum menyingsing di ufuk timur.”


Walaupun itu termasuk ke dalam golongan informasi yang tidak menyenangkan, mau tidak mau Kayena harus tetap mengatakannya. Sebuah pertemuan cepat atau lambat pasti akan berjumpa dengan perpisahan.


“Kalau begitu biarkan aku ikut mengantar kepulangan kalian,” sahut Kaisar Astoria dengan tenang. Akan tetapi, kalimatnya pantang untuk dibantah. “Aku akan melepas kepulanganmu dengan tanganku sendiri.”


“Baik. Saya justru merasa sangat terhormat, karena sampai membuat Anda kerepotan dari awal kedatangan saya.”


“Aku tidak pernah merasa keberadaanmu sebagai beban. Justru aku senang kamu tinggal di Astoria, walaupun sebentar.” Kaisar Kwang Sun berkata seraya menatap lawan bicaranya lembut. “Walaupun aku tidak bisa memiliki kamu, setidaknya aku bisa melepas kamu dengan perasaan lega, karena pria yang kamu pilih adalah Kwang Min. Kalian sama-sama beruntung karena mendapatkan satu sama lain setelah melewati berbagai halangan dan rintangan.”


“Sepertinya saya yang lebih beruntung,” sahut Kayena dengan wajah tertunduk. Menatap jarinya yang dihiasi cincin dari sang kekasih. “Entah kebaikan apa yang saya perbuat di kehidupan sebelumnya, sehingga Tuhan mengirimkan banyak cinta pada kehidupan ini.”


“Kebaikanmu sudah jelas,” timpal Kaisar Kwang Sun. “Kelahiranmu,” lanjutnya dengan suara lebih terdengar lembut. “Kelahiranmu membawa cahaya bagi banyak orang di sekitar kamu, termasuk aku.”


Kayena kembali menatap lawan bicaranya yang tengah menatapnya juga. Ketika kontak mata itu terjadi, sang kaisar yang duduk di hadapannya kembali buka suara.


“Terima kasih sudah lahir dan bertahan di dunia yang kejam ini, Kayena. Keberadaan mu telah membuat hidupku lebih berarti. Walaupun kamu tidak bisa kumiliki, melihatmu bahagia dengan orang yang tepat, sudah lebih dari cukup untukku.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Dua hari ini author bakar CRAZY UP. So, jangan lupa support Author 😚😚🫡


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga atau kirim secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 29-08-23