
0084. Les plans de Khayansar n'ont jamais échoué (Rencana Khayansar tak pernah gagal)
“Kenapa saya tidak diizinkan ikut, Yang Mulia? bagaimana jika Duke of Edinburgh menggunakan tubuh pengganti untuk mengelabui kita? Hanya saya yang mengenal betul pengkhianat itu.”
Pasca mendengan kabar mengenai kematian Kyara, Katarina tidak lagi berselera untuk menikmati ear gray tea dengan tambahan susu tanpa gula, cookies, crackers, dan roti panggang dengan tambahan marmalade yang ia pesan pada pelayan. Jika diingat-ingat, semenjak rencana penggulingan mantan Ratu dilakukan, insiden seperti ini bukan satu kali terjadi. Namun, berulang kali.
“Izinkan saya ikut, Yang Mulia,” rengeknya.
Katarina sangat terkejut mendengar kabar kematian Kyara. Ia juga penasaran. Oleh karena itu, ia ingin sekali pergi untuk memastikannya sendiri. Sayangnya, ia tidak diizinkan ikut ke tempat di mana jasad Kyara berada. Raja Robelia dengan terang-terangan menolak pergi bersamanya. Begitu pula dengan Klautviz de Meré yang dilarang meninggalkan istana. Kendati demikian, ia ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri, jika memang mantan tangan kanannya itu sudah benar-benar tewas. Ia takut jika kakak sulung mantan Ratu telah mempersiapkan rencana picik, guna mengelabui mereka.
“Aku tidak mengizinkan mu pergi, karena di luar sana banyak rakyat yang tengah berkerumun. Mengertilah, Katarina.”
Oh, jadi kekasihnya melarang pergi karena khawatir. Sweet sekali, pikir Katarina.
“Saya pergi bersama Yang Mulia. Jadi, saya yakin akan baik-baik saja.”
Raja Robelia itu menghembuskan napas gusar, sebelum berbalik badan. Siap mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan kekasihnya. “Aku akan memberimu waktu tiga puluh menit untuk berganti pakaian dan menghapus riasan.”
Katarina melongo mendengarnya. “Tapi, kenapa, Yang Mulia? pakaian saya sopan. Riasan saya juga tidak ketebalan.”
“Kita akan mengunjungi krematorium, bukan mengunjungi perjamuan,” pungkas Kaizen sebelum meninggalkan kekasihnya itu.
Katarina memang sudah tampil on fire dengan dress kuning muda dengan aksen ruffle serta hiasan pita di mana-mana. Wajahnya juga telah disapu riasan seperti biasa. Di mata Katarina, penampilannya mungkin sudah cocok untuk mengunjungi krematorium—tempat untuk membakar mayat sehingga menjadi abu. Ia juga menunjukkan identitasnya sebagai Selir Agung dengan sangat jelas lewat tiara yang menghiasi kepala. Namun, di mata orang lain—yang lebih normal—seperti Kaizen, serta orang-orang di luar sana, penampilan Katarina terlalu meriah untuk mengunjungi rumah duka. Walaupun warna pakaiannya kuning—warna yang termasuk melambangkan duka dan kesedihan—tetap saja, penampilannya terlalu mencolok dan heboh.
Oleh karena itu, Katarina kemudian berganti dengan pakaian berkabung bernuansa lebih gelap. Ia juga menghapus riasan, agar lebih terlihat mendukung. Jadi, sekarang penampilannya tampak seperti seseorang yang baru kehilangan sahabat. Kaizen pun telah mengizinkan ia ikut, hanya saja mereka tetap pergi menggunakan kereta yang berbeda.
“Kau mengenalinya?”
Pertanyaan Kaizen berhasil mengembalikan kesadaran Katarina. “Iya. Saya mengenalinya,” jawabnya kemudian. Ia kemudian kembali menatap seonggok tubuh yang tidak bergerak sama sekali dalam peti mati.
Katarina ingan betul dengan struktur wajah Kyara yang berada di sisinya selama bertahun-tahun. “Pelayan rendahan itu punya tahi lalat di bawah mata kirinya.”
Katarina menemukan ciri khas paling mencolok itu. Walaupun kondisi wajah dari jasad yang sudah terbujur kaku itu sebagian telah membiru, Katarina tetap meyakini jika itu Kyara. Karena selain tahi lalat, ia juga menemukan kemiripan pada struktur wajah, seperti rahang dan bentuk bibir.
“Ada apa dengan wajahnya?” tanya Kaizen yang baru saja ikut melihat. Ia menemukan kejanggalan pada wajah mantan tangan kanan kekasihnya. Ada memar merah keunguan di sekitar mata, berukuran cukup lebar.
“Korban mengalami raccoon eye sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Yang Mulia.”
Seorang pria menjawab. Ia yang ditunjuk sebagai kepala tim medis yang menangani Kyara. Padahal, sejatinya Khan lah yang selama ini menangani Kyara. Namun, siapa yang akan mengetahui bahwa kepala tim medis yang sekarang menjawab juga kaki-tangan Khan, selain Khayansar tentunya.
“Apa itu raccoon eye?” tanya Kaizen, bersamaan dengan Katarina. Mereka rampak penasaran dengan istilah yang baru didengar itu.
“*****Raccoon eye***** adalah kondisi yang mengacu pada memar di sekitar area mata, Yang Mulia. Dinamai demikian, karena munculnya memar dan perubahan warna di sekitar mata terlihat menyerupai lingkaran hitam di sekitar mata rakun.” Kepala tim medis itu menjelaskan dengan rinci. “Raccoon eye kemungkinan besar terjadi karena pengumpulan darah di jaringan lunar sekitar mata, sehingga menyebabkan memar yang warnanya bervariasi. Ukuran memar juga dapat bervariasi, tergantung pada penyebab dan jenis cedera.”
“Lalu, apa yang menjadi penyebab Raccoon eye? Kenapa pengkhianat ini mengalaminya?” tanya Katarina, tanpa rasa empati.
“Raccoon eye merupakan tanda adanya kondisi serius yang harus segera didiagnosa dan diobati. Namun, rupanya pasien ini sudah menghembuskan napas terakhir sebelum mendapatkan pengobatan yang seharusnya,” tutur kepala tim medis itu. “Raccoon eye juga tanda trauma. Masalah kesehatan satu ini juga dapat disebabkan oleh patah tulang tengkorak basal, patah tulang wajah, sampai gegar otak. Hasil pemeriksaan mendiagnosa bahwa pasien mengalami gegar otak, pasca menerima tembakan dan terjatuh ke lantai. Besar kemungkinan pasien mengalami gegar otak, karena kepalanya terbentur ke lantai.”
“Dari penjelasan tersebut, seharusnya kalian paham penderitaan mendiang sebelum menghembuskan napas terakhir.” Khayansar buka suara pasca menutup kembali peti mati berisi jasad tersebut. “Di mana keadilan yang seharusnya dia dapatkan?”
“…”
“Berhati mulia? maksud Anda siapa? Mantan Ratu dan mantan pelayan rendahan yang berkhianat kepada saya?”
“Bukan Adikku atau mendiang pelayan itu yang berkhianat, tetapi kau duluan yang mengkhianati mereka.”
Katarina tidak terima disebut seperti itu. Walaupun sejatinya memang ia yang lebih dulu mengkhianati Kayena, kemudian mendorong Kyara untuk melakukan perihal di luar nalar. Ia bahkan mengingkari janji untuk tidak menyakiti keluarga Kyara, supaya Kyara tidak dapat berkutik. Namun, tetap saja ia tidak terima dengan perkataan Khayansar.
“Jaga bicara Anda, Duke. Anda lupa sedang bicara pada siapa?”
“Itik buruk rupa yang rendahan rupanya tengah menuntut soal kekuasaan,” balas Khayansar. “Saya hanya menundukkan kepala pada pemimpin yang benar-benar memimpin dengan adil dan bijaksana. Bukan pada seseorang yang hanya duduk di singgasana, tanpa tahu tanggung jawabnya sebagai pemegang otoritas.”
Katarina bungkam. Kaizen pun memilih diam. Mendebat orang jenius seperti Khayansar perlu tak-tik, tidak dapat langsung mendesak dengan licik. Dan Katarina tidak pernah belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya.
“Setelah jasadnya dikremasi, kemudian abunya dilarung ke perairan wilayah Kyen, segera jatuhkan hukuman pada Klautviz de Meré,” tekan Khayansar pada keduanya. “Jangan sampai pengec*t sepertinya dibiarkan berkeliaran bebas, setelah menghilangkan nyawa seseorang.”
“Akulah Rajanya. Aku yang akan memutuskan hukuman apa yang setimpal untuk Archduke Klautviz de Meré.”
“Kau memang Rajanya, tetapi kau tidak pernah bisa mengambil keputusan dengan bijak. Sampai kapan kau akan bersembunyi di belakang bayang-bayang perjanjian yang membuat mu tidak bisa menghukum pria itu?”
Kaizen terkejut bukan main mendengar ucapan Khayansar. Entah dari mana Khayansar tahu soal perjanjian itu.
“Aku tidak peduli pada perjanjian yang mengikat mu, keberadaan ku di tanah ini hanya untuk membersihkan nama Adikku,” pungkas Khayansar. “Jangan senang dulu hanya karena saksi kunci telah tewas, karena aku punya lebih banyak bukti.”
Kini baik Kaizen maupun Katarina sama-sama bungkam dengan ketakutannya masing-masing. Mereka tahu Khayansar jenius. Pria itu tidak pernah menggertak dengan tangan kosong. Pasti ada yang telah pria itu miliki sebagai kartu As.
“Terserah kalian akan menggunakan cara seperti apa, yang kami inginkan hanya nama Kayena de Pexley kembali bersih.”
Kali ini Khayansar membawa “kami” yang berarti bukan hanya ia yang menginginkan nama Kayena kembali bersih. Di belakangnya, masih ada orang-orang yang menginginkan perihal yang sama, yaitu nama Kayena yang dibersihkan. Kehormatannya dikembalikan. Walaupun bukan sebagai Ratu Robelia, mereka ingin Kayena kembali dianggap sebagai wanita terhormat.
“Jika dalam kurun waktu satu pekan dari sekarang tidak ada tindakan dari kalian, maka persiapkan diri untuk mendapatkan serangan balasan dari berbagai penjuru Robelia.”
“…”
“Sekarang akan datang pada kalian serangan internal dari rakyat Robelia,” lanjut Khayansar, usai membalikkan badan. Ia kemudian menyuruh beberapa orang untuk membawa masuk peti mati Kyara ke dalam krematorium.
Bersamaan dengan itu, dari arah gerbang utama yang merupakan jalan masuk ke area krematorium, rakyat dari kalangan rendahan hingga menengah datang secara bergerombol. Mereka mempersenjatai diri dengan berbagai perkakas hingga benda-benda yang dapat dijadikan senjata. Entah bagaimana para penjaga bekerja, sampai-sampai mereka membiarkan gerombolan yang tampak tersulut emosi itu masuk ke area di mana Raja mereka berada. Ditambah lagi hanya ada sedikit prajurit yang mengawal Kaizen beserta selirnya yang tampak ketakutan ketika melihat gerombolan itu kian mendekat.
“Jangan biarkan orang-orang miskin itu menyakiti saya, Yang Mulia,” rengek Katarina yang bersembunyi di belakang punggung Kaizen. “Jika mereka berani menyentuh saya seujung kuku saja, segera bunuh mereka!”
Alih-alih persetujuan, rupanya keinginan tersebut malah dijawab oleh penolakan mentah-mentah. “Jaga bicaramu, Katarina. Aku tidak mungkin membunuh rakyat ku yang tidak bersalah!”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT dulu di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 13-07-23