
0042. Menacé D’exécution (Terancam dieksekusi mati)
“Ada apa, Yang Mulia? Apakah hidangannya tidak sesuai dengan keinginan Anda?”
Pelayan pribadi Ratu Robelia itu tampak cemas ketika lagi-lagi hidangan yang disiapkan tidak dinikmati. Padahal, biasanya Ratu Robelia itu cukup menikmati ketika dihidangkan olahan laut, seperti hidangan tradisional Prancis berupa ikan halibut yang disajikan dengan bayam, kentang, dan siraman saus Mornay yang saat ini mengisi piringnya. Ketika hidangan entrée (pembuka) disajikan pun, wanita cantik itu sudah tampak tidak berminat untuk menikmati.
“Aku sudah kenyang, Kima.”
Kima tahu porsi makan sang Ratu memang sedikit. Namun, porsi makan belakangan ingin terbilang sangat sedikit. Semenjak dinyatakan menghilang, kemudian kembali bersama Pangeran Kaezar pada pagi-pagi buta, sang Ratu tampak lebih banyak diam. Ketika matahari meninggi pun, Ratu menolak siapapun yang bertamu. Memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar, sembari berdiam cukup lama di depan jendela yang menghadap ke arah laut lepas.
“Kenapa Yang Mulia tidak mencoba makanan penutupnya? Kepala koki hari ini membuat eton mess.” Tawar Kima dengan segera. Namun, tawaran tersebut ditolak dengan cepat.
“Ambilkan saja teh Chamomile.”
Kima mendesah lesu, sebelum akhirnya mengangguk. Ia pun pamit undur diri untuk mengambil teh Chamomile dari dapur. Hanya teh yang banyak dikonsumsi wanita cantik itu hari ini. Mulai dari teh Cheonil merah yang berkhasiat untuk menenangkan hati, sampai teh Chamomile yang dipercaya dapat meredakan stress.
“Apakah saya perlu memanggil dokter Kerajaan? Anda tampak kurang sehat, Ratu.” Kima inisiatif memberikan solusi tersebut ketika menuangkan teh ke dalam cangkir. Bukan tanpa alasan ia berkata demikian, melainkan karena Ratunya tampak pucat pasi.
Semenjak diantarkan pulang oleh Kaezar, Kayena memang tidak sempat memejamkan mata. Ia hanya duduk di tempat tidur dengan pandangan kosong. Padahal sebelum Kaezar undur diri, pria itu telah mewanti-wanti agar Kayena beristirahat. Namun, wanita itu tak kunjung melakukannya hingga matahari meninggi.
“Tidak perlu,” jawab Kayena setelah menyesap teh Chamomile miliknya. “Sekarang yang aku butuhkan adalah pena dan kertas untuk menulis surat.”
“Akan segera saya ambilkan, Yang Mulia.”
Kima segera beranjak, mengambil pena dan kertas yang dibutuhkan oleh Kayena. Wanita cantik itu saat ini telah duduk di balik meja kerja yang sengaja disimpan di ruang istirahatnya. Di sana, ia tampak menulis sepucuk surat dalam waktu yang terbilang singkat. Setelah diberi cap dengan lambang Ratu Robelia, surat itu disodorkan kepada Kima.
“Tolong sampaikan surat ini kepada Albert. Katakan kepadanya, jangan kembali sebelum Duke of Edinburgh membaca surat ini.”
Kima mengangguk. Ia terima surat itu dengan segera, sebelum diberikan pada Albert—notulen pribadi Kayena yang selalu dipercaya untuk mengerjakan urusan-urusan penting. “Apa saya juga perlu memanggil Kakak Anda?”
Kayena mengangkat pandangan mendengar ucapan tersebut. “Kakakku masih ada di depan?”
Sekali lagi, Kima mengangguk sebagai jawaban. “Duke Cesare semenjak pagi menunggu di depan.”
Helaan napas terdengar dari arah Kayena. Cepat atau lambat, ia memang harus menghadapi kakaknya. Mungkin pagi tadi ia sudah berhasil mengusir Pangeran Kaezar secara halus, setelah pria itu melihat titik terendahnya. Sekarang ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan sang kakak.
“Biarkan Kakakku masuk.”
“Baik, Yang Mulia.”
Keheningan kembali mendominasi pasca Kima meninggalkan ruangan. Menyisakan Kayena yang tengah menikmati aroma harum dari teh Chamomile pesanannya. Sebelum matahari terbit, ia telah memikirkan banyak hal. Termasuk cara terakhir dan paling ekstrim guna terlepas dari pernikahan yang mengikatnya bersama pria itu. Kayena enggan sekali menyebut namanya.
Menyebut namanya sama saja mengingatkan ia pada peristiwa yang terjadi kemarin malam. Jika ditilik lebih jauh ke belakang, ada sebab juga akibat kenapa peristiwa mengerikan itu terjadi. Kendati demikian, ia juga masih mencari-cari siapa “dalang” dibalik percobaan penculikan yang menargetkan dirinya.
“Kayena!”
Pemilik nama itu menyimpan cangkir serta cawan teh miliknya dengan gerakan seringan bulu, sebelum menyambut kedatangan pemilik suara yang baru saja terdengar.
“Kakak …” kalimat tersebut tidak selesai diucapkan, karena kakaknya sudah membawa tubuh mungil Kayena ke dalam pelukan. “ …ada apa?” lanjut Kayena di sela keterkejutan.
“Seharusnya pertanyaan itu berasal dariku, Little peach of June.” Masih dalam posisi yang sama, Cesare menjawab pertanyaan tersebut.
Cukup lama pria itu memeluk adiknya. Kayena pun membiarkan, seolah-olah tahu jika ada risau yang sempat membelenggu perasaan pria itu.
“Sudah merasa lebih baik, Kak?” Kayena bertanya seraya menyunggingkan senyum kecil.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu,” respon Cesare ketika pelukannya mulai melonggar. “Bagaimana kondisi mu? Aku dengar, semalam kamu menghilang?”
Kayena mengangguk. Masih dengan senyum yang tersungging di bibirnya. “Kondisiku tidak baik-baik saja.”
Kayena tidak mau berbohong. Kesalahan terbesarnya pada kehidupan sebelumnya adalah menyembunyikan “kepahitan” dalam pernikahan dari keluarganya sendiri. Ia selalu berusaha “sok” kuat di mata keluarganya. Selalu tersenyum hangat, seolah-olah tidak ada kerusakan pada pernikahannya.
“Semuanya terlihat baik-baik saja, padahal tidak,” lanjut Kayena.
Cesare masih menjadi pendengar yang baik. Ia tampak meneliti dengan seksama antara ucapan serta perubahan raut wajah. Adiknya itu bicara jika dirinya tidak baik-baik saja, namun hebatnya, ia tetap bisa menampilkan raut wajah yang menggambarkan jika dirinya baik-baik saja.
“Katakan kepada Kakak, apa yang harus Kakak lakukan?” tangan Cesare meraih kedua telapak tangan sang adik. Ada sorot terluka pada pendar matanya. “Katakan Kayena. Apa yang harus Kakak lakukan untuk membuat kamu baik-baik saja?”
Kayena sempat terdiam. Masih ada senyum di bibir, ketika air mata kembali menuruni kelopak matanya. Cesare yang melihat adiknya menangis setelah sekian lama, bisa merasakan sesak yang luar biasa. Entah kapan terakhir kali ia melihat adiknya menangis. Mungkin, satu tahun yang lalu, ketika adiknya kehilangan putra pertamanya. Sekarang, ia melihat tangis itu lagi. Walaupun tangis itu bersanding dengan sebuah senyum, bagi Cesare tetap tidak ada artinya.
“Aku ingin mengakhiri pernikahan ini.”
Cesare langsung mengangguk mendengarnya. “Kakak sendiri yang akan memastikan pernikahan kalian berakhir.”
“Aku ingin pulang.”
“Kakak sendiri yang akan membawa kamu pulang.”
Setelah mendengar ucapan kakaknya, tangis Kayena tersedu-sedu. Cesare pun dengan sigap merengkuh adiknya. Entah beban apa saja yang selama ini ditanggung sang adik, sehingga ia terlihat sangat rapuh pada kesempatan kali ini. Kayena memang tipikal anak perempuan yang suka memendam masalahnya sendiri. Ia baru akan bercerita jika memang sudah tidak sanggup menangani masalah itu seorang diri.
“Berhentilah menangis, Kayena. Hari ini juga Kakak akan memastikan jika pernikahan kalian berakhir,” ucap Cesare seraya menyeka air mata adiknya. “Kakak juga tahu jika ada yang berniat mencelakai kamu.”
“Dari mana … Kakak tahu?” kaget Kayena.
Kayena tersenyum tipis ketika menatap wajah rupawan Cesare. Jelas sekali ada kejengkelan yang tergambar ketika pria itu berkata demikian. Pasti Kaezar telah menghalangi Cesare untuk memberikan pelajaran pada orang-orang yang bergosip tentang dirinya.
“Untuk sementara waktu, lebih baik kamu tinggal di luar istana.”
“Tapi, Kak …”
“Kali ini saja, turuti perintah Kakak,” potong Cesare. “Mengerti?”
“Baiklah,” ujar Kayena kemudian. “Sebelum itu, kita harus …”
“Yang Mulia Ratu!”
Kalimat Kayena kembali dipotong. Namun, kali ini bukan Cesare pelakunya, melainkan suara Kima yang tiba-tiba terdengar. Ketika menoleh, alangkah terkejutnya Kayena melihat Kima yang datang bersama beberapa prajurit.
“Apa-apaan kalian? Lepaskan dia.” Kayena bergegas menjauh dari Cesare. Hendak menolong Kima yang kedua tangannya diikat oleh tali, di sisi kanan dan kirinya terdapat prajurit yang mengawasi.
“Yang Mulia Raja telah menurunkan titah.”
Suara lain terdengar. Ketika Kayena menatap ke arah sumber, ternyata suara itu milik Kaelus—kepala pengawal Raja, sekaligus tangan kanan Kaizen.
“Terkait adanya rumor kurang menyenangkan yang beredar di istana, Yang Mulia Raja memutuskan untuk mencari kebenarannya langsung dari pihak terkait. Oleh karena itu, semua pihak yang terkait diminta untuk hadir di aula utama.” Kaelus yang baru saja berkata dengan lantang, kini maju beberapa langkah. Mendekat ke arah Kayena.
Cesare tentu saja tak tinggal diam. Ia langsung pasang badan di hadapan adiknya. “Raja kalian meminta Ratu untuk hadir di aula utama?”
“Benar, Duke Cesare.”
“Kaami akan segera melaksanakan perintahnya,” sahut Cesare. “Tidak perlu mengikat kedua tangan Ratu. Dia tidak akan melarikan diri, hanya karena kedua tangannya tidak terikat.”
Setelah berkata demikian, cesare berbalik badan. Berhadapan lagi dengan sang adik. “Jangan takut, Little peach of June. Kakak akan menemani kamu selama pemeriksaan.”
Kayena mengangguk dengan senyum yang tersungging. Ia tidak mau membuat perasaan kakaknya terbebani. Padahal, bukan karena rasa takut yang menghantui, ia hanya enggan bertemu dengan pria yang semalam telah menorehkan luka untuk ke sekian kali.
Kayena yang dijemput oleh Kaelus pun bergegas menuju tempat yang dimaksud bersama Cesare. Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu tampak tidak sekalipun berniat meninggalkan sisi adiknya. Ia juga selalu menyempatkan diri untuk menenangkan sang adik lewat tindakan-tindakan sederhana. Sampai di tempat tujuan, Kayena langsung menemukan sejumlah orang penting dari pengadilan tinggi. Yang paling mencolok di matanya tentu saja kehadiran Kaezar yang dijaga ketat oleh dua orang prajurit.
Pandangan Kayena kemudian teralihkan pada tempat paling tinggi yang biasa ia singgahi. Tempat itu sekarang kosong, sedangkan tempat di sampingnya terisi oleh Raja Robelia yang ditemani oleh sang Selir.
Mantan pelayannya itu tampak berdiri seraya memainkan kipas beludru di tangan. Dikarenakan kedua pihak terkait sudah hadir, ditambah lagi para “oknum” yang disebut sebagai saksi sudah berkumpul, penyelidikan pun langsung dibuka. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan, baik pada Kayena, Kaezar, Kima—selaku orang terdekat Kayena, serta beberapa orang yang dianggap menjadi saksi dalam kasus ini.
Namun, sejauh berjalannya penyelidikan, pandangan Kayena tak lepas dari pria yang semalam telah membuat perasaannya hancur berkeping-keping. Ia mencoba mencari setitik rasa bersalah dimatanya, namun tidak berhasil. Pria itu tampak seperti biasa, dingin, datar, dan bengis. Kelakuan bej*dnya semalam seolah-olah tidak pernah terjadi.
“Yang Mulia Ratu.”
Kayena tersentak kecil sebelum menatap ke arah pria paruh baya berpakaian rapih yang baru saja berkata padanya.
“Apakah benar Anda memiliki hubungan spesial dengan Pangeran Kaezar? Jika benar, maka Anda akan dijatuhi hukuman penggal atas kejahatan berupa perzinahan dan pengkhianatan.”
“Tutup mulut mu! Adikku tidak mungkin berbuat seperti itu.”
Bukannya Kayena yang menjawab pertanyaan tersebut, namun Cesare. Pria itu tampak naik pitam, karena merasa jika Kayena serta Kaezar terus disudutkan dalam penyelidikan ini. Kayena kemudian menenangkan sang kakak lewat senyum tipis serta anggukan kepala. Ia kemudian menatap lurus ke arah Kaizen yang masih duduk di kursi kebesarannya.
“Apa Anda percaya?” Kayena bertanya begitu saja. Namun, pertanyaan tersebut tidak diberi keterangan. Walaupun begitu, mereka tahu jika pertanyaan itu ditujukan pada sang Raja. “Percaya jika saya telah menjalin hubungan gelap dengan Pangeran Kaezar?”
“Atas dasar apa Yang Mulia tidak percaya?” Akan tetapi, bukan Kaizen yang menjawab pertanyaan tersebut, melainkan Katarina. “Sebagian besar bukti yang didapatkan dari para saksi telah menyudutkan posisi Anda bersama Pangeran Kaezar. Sekarang, Anda mencoba berkelit lidah dengan cara melemparkan pertanyaan pada Yang Mulia Raja yang sangat mencintai Anda.”
Kayena tersenyum tipis mendengarnya. “Yang Mulia Raja sangat mencintai saya? Bagaimana mungkin …seorang pria yang sangat mencintai istrinya, lebih tergila-gila pada pihak ketika dalam rumah tangga mereka.”
Katarina terdiam mendengarnya. Begitu pula dengan yang lain, mengingat apa yang baru saja diucapkan oleh Kayena adalah sebuah fakta.
Mereka semua tahu bagaimana tergila-gilanya raja terhadap Katarina. Padahal di sisi lain, ada Kayena yang masih membutuhkan waktu lama untuk meratapi kepergian putranya.
“Hanya karena saya terlihat beberapa kali menghabiskan waktu bersama Pangeran, lantas kalian menuduh kami memiliki hubungan yang menjijikkan?” kali ini pertanyaan Kayena ditujukkan pada semua orang di ruangan tersebut. Terutama orang-orang yang terus memojokkan dirinya. “Asal kalian ingat, jauh sebelum saya dekat dengan Yang Mulia Raja, Pangeran Kaezar sudah terlebih dahulu masuk ke keluarga Pexley.”
Pendar mata Kayena yang sempat redup, kembali menyala dengan kilat emosi. Sejak tadi ia terus dipojokkan, sampai-sampai kejadian semalam—di mana ia hendak menjadi korban penculikan, kemudian berakhir ditiduri oleh suami sendiri, dianggap sebagai titik balik paling kuat bagi opini mereka, karena pagi-pagi buta kala itu ia ditemukan bersama Kaezar.
Kaizen sendiri tidak mengatakan apa-apa sejak tadi. Seolah-olah pria itu melupakan segalanya. Tak sedikitpun pembelaan keluar dari mulutnya guna melindungi harkat serta martabat sang istri.
“Tidak sepantasnya seorang istri, juga Ratu negeri ini terlalu dekat dengar pria selain suaminya, Yang Mulia Ratu.” Katarina kembali buka suara. Seolah-olah belum puas membuat Kayena terpojok.
Kayena sendiri masih teguh dalam pendirian. Masih ada seulas senyum tercipta di bibir. “Jika hubungan saya dan Pangeran Kaezar di anggap terlalu “dekat” dan menyalahi aturan, lantas dimana letak keadilan bagi seorang istri? Jika seorang suami “diperbolehkan” memiliki lebih dari satu istri, sedangkan seorang istri dilarang terlalu dekat dengan kenalannya sendiri.”
“Sebagai seorang istri serta Ratu negeri ini, saya paham betul sejauh mana batasan yang harus saya jaga,” pungkas Kayena. Ia kemudian menatap Katarina yang terdiam, bergantian dengan Kaizen. “Silahkan jatuhkan hukuman yang setimpal kepada saya, jika Anda merasa bukti serta semua saksi cukup untuk membenarkan rumor yang tersebar di luaran. Saya tidak lagi memiliki pembelaan.”
💰👑👠
TBC
Gimana perasaan readers setelah baca bab ini?Bab sebelumnya penuh hujatan tuh buat Kayena dan Author 🤧 Tapi .... Author masih punya suprise² berikutnya loh. Siap² stok sabar 🤗
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 24-05-23