
00102. Tempête surprise dans le port (Badai kejutan di pelabuhan)
“Sekarang apa yang menganggu pikiran Anda, Your Grace? Bukan kah tugas Anda untuk membersihkan nama Nona Kayena sudah selesai? Walaupun apa yang Anda inginkan tidak setimpal.”
“Satu-satunya alasan yang menggangguku adalah kegagalan menyeret wanita itu ke penjara.”
Tangan kanan Khayansar tahu jika tuannya menahan rasa berang. Keputusan Raja Robelia tidak dapat disebut “adil sepenuhnya”. Namun, keadilan yang diberikan masih dalam taraf setengah-setengah. Ditilik dari berbagai sudut pandang pun, pemimpin seperti Kaizen pasti punya perhitungan luas mengenai keputusan yang akan berdampak pada kekuasaannya. Kepercayaan rakyat sempat mengalami krisis yang tidak dapat dibiarkan begitu saja.
Keputusan untuk menurunkan Selir Agung menjadi Selir tingkat IV akan membawa dampak positif dan negatif. Guna menambah kesan “jera”, Raja Robelia dengan cerdiknya menambahkan sanksi sosial. Sedangkan bagi Klautviz de Meré, kekuatan yang diambil satu per satu merupakan warning awal. Agar kedepannya pria itu tidak semena-mena terhadap kekuasaan yang diberikan oleh orang lain. Pengasingan serta pengabdian juga dijadikan hukuman untuk membuat Klautviz de Meré sibuk dengan masa hukumannya, supaya tidak ikut campur dengan urusan Negara.
“Tidak ada kata terlambat untuk mengungkapkan kebenaran, Your Grace. Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan Yang Maha Adil tahu kapan harus mengungkapkan kebusukan umat-Nya.”
Khayansar yang tengah berjalan di barisan paling depan menyunggingkan senyum tipis tanpa disadari siapapun. “Ya, Tuhan memang tidak pernah tidur,” setujunya. “Jika hari ini bukan aku yang mengirimnya ke penjara, suatu hari nanti, entah Kayena atau keturunannya, pasti akan membuat wanita rendahan itu membusuk di penjara.”
“Amin.”
Tangan kanan Khayansar mengaminkan dengan hidmat.
Perjalanan mereka meninggalkan Robelia berjalan dengan lancar. Di depan gerbang utama, ada rakyat Robelia yang rupanya menunggu rombongan mereka. Khayansar awalnya tidak tahu mau mereka apa, namun ia mengetahui keinginan mereka pasca melihat sebuah papan kayu tipis yang dijadikan sarana untuk menulis sebuah pesan.
Dalam pesan singkat itu Rakyat Robelia mengatakan kerinduannya terhadap Kayena. Mereka juga berharap jika sang Ratu akan selalu hidup bahagia, di manapun ia berada. Pesan lain yang ditinggalkan rakyat adalah ucapan terima kasih pada keluarga Grand Duke Pexley yang telah menjadi salah satu pilar heroic yang selalu mengutamakan Rakyat. Kepergian keluarga Pexley dari Robelia membuat mereka kehilangan salah satu keluarga bangsawan yang sangat dermawan.
“Semua pasukan sudah siap meninggalkan Robelia, Your Grace.”
Informasi itu disampaikan oleh tangan kanannya ketika rombongan mereka tiba di pelabuhan utama ibu kota Robelia. Di sekitar pelabuhan utama yang menjadi tempat transit—tempat singgah dan lintasan barang dagang—berdiri berbagai jenis tempat hiburan, mulai dari tempat makan yang menyediakan hiburan berupa seniman jalanan, tempat menonton opera sederhana, tempat berburu kuliner khas Robelia, hingga berbagai jenis penginapan. Tempat ini cukup terpatri dalam ingatan Khayansar, karena dulu ia kerap mengabiskan waktu senggang di sini bersama sang adik.
“Namun, kondisi pasang-surut air laut Robelia sedang tidak dapat diprediksi, Your Grace.”
Tangan kanannya menambahkan informasi, didukung dengan cuaca yang entah kapan berubah menjadi mendung. Langit yang tadinya biru bersih, kini gelap gulita. Lengkap dengan gumpalan mega berwarna keabu-abuan. Sepertinya pasang-surut air laut tidak dapat diprediksi karena perubahan cuaca yang tiba-tiba. Jika dilihat dari situasi serta kondisinya, Khayansar bisa menebak jika beberapa jam ke depan pasti akan datang badai cukup besar di perairan Robelia.
“Tunda keberangkatan sampai kondisi perairan lebih stabil. Sepertinya akan terjadi badai,” ujar Khayansar pasca meneliti perubahan cuaca di sekitar.
Kapal layar mereka yang mengangkut banyak Ksatria tidak dapat dipaksa untuk berlayar, karena kondisi perairan yang tidak bersahabat. Ia kemudian memutuskan untuk menunda keberangkatan. Sebagian besar Ksatria diminta untuk tetap tinggal di atas kapal layar, kemudian diminta untuk tetap waspada. Apapun bisa terjadi dalam kurun waktu 24 jam setelah pembacaan putusan yang bisa dikatakan sangat menguntungkan pihak Khayansar.
Jika sebagian Ksatria sudah aman berada di perairan, sisa Ksatria lain diperintahkan untuk berkumpul di beberapa tempat yang disewa secara pribadi oleh Khayansar. Dua penginap tipe menengah sengaja disewa sebagai tempat singgah sementara untuk mereka. tak berselang lama setelah para Ksatria menempati tempatnya masing-masing, badai benar-benar datang. Kilat petir menyambar, menari-nari di permukaan air. Disertai dengan suara yang menggelegar, memekikkan telinga.
“Apa ini peringatan dari Tuhan?”
Walaupun diucapkan dengan nada lirih, Khayansar masih bisa mendengar ucapan tangan kanannya yang tengah menikmati pertunjukkan kilatan cantik mengandung listrik bertegangan tinggi sembari menyesap teh jahe.
“Raja negeri ini sepertinya mendapatkan surat terbuka dari Tuhan, Your Grace.”
“Mungkin.” Hanya sekedar itu responnya. Ia tidak tahu apakah perubahan cuaca yang tiba-tiba ada kaitannya dengan “surat terbuka” atau “murka” sang Maha Kuasa. Atau mungkin, ada hikmah lain dari tertundanya kepulangan mereka ke Edinburgh. Yang jelas, mereka tidak boleh lengah. Takutnya, ada serangan tiba-tiba ketika mereka tengah lengah. Dalam kondisi seperti ini, sangat mungkin bagi musuh untuk tiba-tiba melakukan penyerangan.
“Kalian, istirahatlah. Biar aku yang berjaga,” titah Khayansar pada Ksatria yang jauh di bawah levelnya. Sebagai seorang Mayor, ia punya tanggung jawab terhadap ribuan pasukan di bawah kepemimpinannya.
Tidak ada satupun di antara mereka yang boleh kehilangan nyawa dalam misi kali ini. jika sampai terjadi penyerangan, maka Khayansar tidak akan segan-segan untuk menaklukkan Robelia dengan tangannya sendiri. Walaupun ia membawa 4 kavaleri pasukan dalam jumlah besar, Robelia masih memiliki pertahanan berlapis di tanah kekuasaannya sendiri. Akumulasi untuk memenangkan pertempuran, kemungkinan adalah empat banding enam (4:6).
Guna memastikan kondisi pasukannya tetap aman terkendali, Khayansar mengambil keputusan untuk berjaga sendiri. Ia ingin memastikan bahwa situasi dan kondisi di sekitar aman terkendali. Hujan masih turun hingga tengah malam. Intensitasnya memang tidak seperti siang atau sore tadi, namun saat ini kondisi di sekitar jauh lebih mencekam. Petir dan Guntur juga masih menjadi harmoni yang berkesinambungan di antara kesunyian malam.
“Siapa?”
Khayansar sudah siap dengan pedang di tangan, ketika melihat siluet manusia berjubah hitam menerobos kegelapan, berjalan mendekat ke penginapan tempat pasukannya berkumpul. Jelas-jelas itu bukan salah satu Ksatria dari pasukannya.
“Maju satu langkah lagi, akan ku pastikan pedang ini akan menusuk jantung mu!” tegas Khayansar. Ia tidak bermain-main ketika mengucapkan kalimat tersebut. Namun, sosok dengan jubah hitam itu tidak ketakutan sama sekali.
Dari jarak yang kian dipersempit, Khayansar dapat melihat bahwa siluet itu memiliki tubuh yang tinggi, tegap dan padat. Porsi tubuhnya menyesuaikan sekali dengan tubuh seorang pria dewasa. Ketika berhasil berdiri dalam radius lima meter di hadapan Khayansar, siluet dengan jubah hitam itu membuka tudung penutup kepala yang tampak berguna untuk menghalau tetesan air hujan.
“Saya telah menyelesaikan tugas terakhir saya, Kakak. Saya kembali untuk melepaskan kebangsawanan serta kehormatan saya sebagai Pangeran Kedua dan Tentara Angkatan Laut Robelia.”
Siapa yang akan menyangka, jika siluet tersebut adalah Pangeran Kedua, Kaezar Kadheston yang sempat tidak diketahui di mana rimbanya. Sekarang, pria rupawan itu berdiri tepat di hadapan Khayansar dengan kondisi yang terbilang cukup baik.
“Setelah saya menyelesaikan segalanya, bolehkah saya segera menjemput kekasih saya?”
Khayansar yang masih terpaku di tempatnya berdiri, perlahan-lahan mulai mendapatkan kesadarannya lagi. Kembalinya Kaezar benar-benar kejutan yang sangat mengejutkan. Apalagi sekarang pria rupawan itu tengah meminta izin untuk segera menjemput sang kekasih. Sungguh, Pangeran kedua memang tidak ada duanya jika menyangkut masalah kesetiaan.
“Bagus,” puji Khayansar seraya menepuk bahu Pangeran Kedua. “Kau memang harus segera menjemput Kayena, sebelum dia dijadikan Permaisuri oleh pria lain.”
Lawan bicaranya tampak mengangguk dengan senyum tipis yang tercipta di bibir. “Saya akan segera menjemputnya, kemudian membawanya pergi ke tempat di mana kami dapat hidup bersama dengan bahagia.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 06-08-23