How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00140. Un couple aimant béni par le ciel et la terre (Pasangan kekasih yang



00140. Un couple aimant béni par le ciel et la terre (Pasangan kekasih yang diberkati langit dan bumi)


Musim gugur kembali menyapa Kekaisaran Robelia. Sapaan itu ditandai dengan mulai berubahnya warna daun-daun mapel yang tumbuh di berbagai penjuru kekaisaran. Bunga-bunga cantik yang tumbuh di sepanjang musim semi pun mulai meninggalkan masa kejayaannya. Hampir sebagian besar daratan kekaisaran yang tadinya diselimuti nuansa hijau yang segar, kini diselimuti oleh warna-warni lain yang tidak kalah menyegarkan mata, seperti kuning cerah, orange, merah kekuningan, hingga jingga.


Musim gugur tahun ini tidak kalah indah dari musim semi atau musim gugur tahun lalu. Ditambah lagi Kekaisaran Astoria tengah menyambut kenaikan cahaya baru di kekaisaran mereka. Pada minggu kedua di musim gugur tahun ini, acara kenaikan cahaya baru di kekaisaran dilangsungkan dengan sangat meriah. Rakyat yang awalnya tidak tahu apa-apa, diberitahu lewat informasi yang dicetak lewat selebaran.


Dalam selebaran yang menempel di dinding-dinding itu disampaikan bahwa Janda Ratu Kerajaan Agung yang memiliki kekuasaan serta menjadi salah satu tokoh politik penting, baru saja mengangkat seorang pemuda dari keturunan darah biru di luar kekaisaran Robelia sebagai bagian dari keluarga Kwang. Walaupun terkesan tiba-tiba, keputusan Janda Ratu Kerajaan Agung tidak dapat dibantah oleh siapa pun, karena Kaisar Astoria sendiri menyetujui keputusan tersebut.


Dalam waktu singkat, nama pangeran baru mereka melejit di berbagai lapisan masyarakat. Tidak banyak yang mengenali rupanya, tetapi dari kesaksian beberapa orang yang pernah berjumpa langsung dengan pemilik nama bangsawan Kwang Sun itu dikenali sebagai pemuda yang luar biasa menawan. Pembawaan yang tenang, tampak terpelajar, dan memiliki budi pekerti luhur, kian membuat citranya melonjak pesat. Para informan yang biasa menjual informasi tambahan pada publik pun ikut bekerja, menjajakan informasi yang mereka dapatkan secara singkat.


Pagi itu rasa penasaran rakyat dijawab dengan kehadiran pangeran baru mereka, yaitu Pangeran Kwang Min yang telah menyelesaikan upacara adat untuk pengangkatan dirinya menjadi bagian dari keluarga kekaisaran.


Ketika sosok familiar itu menaiki kuda hitam keluar dari gerbang istana—siap diperkenalkan pada rakyat—ditemani oleh anggota keluarga kekaisaran lain termasuk Kaisar Astoria, tidak sedikit kaum Hawa yang dibuat terpesona oleh ketampanan serta aura bangsawannya yang tampak sudah menjadi darah dan daging. Namun, mereka hanya bisa mengangumi tanpa memiliki, karena setelah rombongan pria berkuda, giliran rombongan tandu kerajaan yang diangkat oleh beberapa pelayan pria yang melewati mereka.


Biasanya tandu-tandu kerajaan dibuat dengan corak dan material yang dibedakan berdasarkan status seseorang yang menaikinya. Yang membuat para kaum Hawa patah hati adalah sebuah fakta, bahwa salah satu dari tandu yang berada di belakang rombongan pria berkuda itu membawa istri dari pangeran baru mereka. Wanita beruntung yang telah dimiliki sang pangeran sebelum mendapatkan nama keluarga Kwang.


“Hati-hatilah ketika berpijak.”


Perhatian itu ditunjukkan lewat ucapan serta tindakan mengulurkan tangan, supaya wanita cantik yang hendak keluar dari tandu tidak mengalami kejadian yang tidak diinginkan.


“Aku baik-baik saja.”


Suara lembut itu mengalun bersama dengan uluran tangan yang berbalas. Setelahnya, muncul wanita cantik dengan pakaian tradisional Astoria bernuansa putih dengan campuran biru tua yang tampak serasi dengan nuansa pakaian pria di hadapannya.


“Ini pertama kalinya kamu menaiki tandu yang dibawa oleh empat manusia. Pantas saja jika suamimu merasa begitu cemas.”


Kalimat yang dilontarkan dengan tujuan menggoda sekaligus menyindir pasangan yang kini berdiri bersisian itu berasal dari pria gagah lain yang baru saja bergabung. “Aku masih tidak menyangka jika melihat kalian berdua. Bagaimana … bagaimana bisa kalian dinikahkan di hari yang sama dengan pemberian gelar Pangeran Kwang Min?” lanjutnya dengan ketidakpercayaan yang masih terpampang nyata di wajah rupawannya.


“Hanya upacara simbolis, Cesare. Jangan berlebihan.” Pria lain yang lebih dewasa datang dan mengoreksi. “Secara teknis mereka belum resmi menjadi suami-istri.”


“Iya. Tetapi bagi masyarakat di sini, mereka sudah resmi menjadi suami-istri.”


Kekesalan masih tergambar di wajah rupawan pemilik nama Cesare de Pexley. Sang Adipati muda itu tampak masih tidak percaya, jika di hari pengangkatan calon adik iparnya sebagai Pangeran Kwang Min dari Kekaisaran Astoria akan dilakukan bersamaan dengan pernikahan simbolis dengan adik mereka tercinta.


Nenek Kaisar Kwang Sun mengatakan bahwa tujuan dari dilakukannya pernikahan simbolis itu untuk melindungi Kayena yang sempat dirumorkan sebagai wanita sang Kaisar. Jika mereka dinikahkan—sekalipun secara simbolis—maka Kayena akan terhindar dari opini negatif publik. Bagaimanapun juga Kayena sempat dirumorkan sebagai calon Permaisuri Kekaisaran Astoria, karena menetap di Yeowang-ui bang.


“Secepatnya kita harus kembali ke Edinburgh, kemudian pernikahan yang sesungguhnya harus segera digelar.”


Sulung dari tiga bersaudara tampak tidak keberatan dengan saran adiknya. Ia justru menambahkan, “kita memang harus segera kembali ke Edinburgh. Pagi ini informan dari Robelia telah tiba. Rupanya Raja Tiran dari Robelia juga tengah mempersiapkan pernikahan.”


Mendadak nama mantan suaminya dibawa-bawa, wanita cantik yang berdiri di samping kekasihnya tampak terpaku. Tidak berselang lama, rasa hangat dapat ia rasakan semakin kuat di antara tautan tangan mereka. Ia pun menoleh ke samping, ke arah sang kekasih yang tampak menenangkan lewat sorot mata teduhnya. Pria rupawan itu pasti menyadari apa yang tengah ia rasakan.


“Kamu tidak apa-apa?”


Wanita cantik yang tengah berbadan dua itu menggelengkan kepala dengan lembut. “Aku hanya sedang menebak-nebak. Itik buruk rupa itu pasti tengah merasa bahagia, karena sebentar lagi cita-citanya tercapai.”


Kekasihnya terdiam. Tampak tidak memilik opsi untuk melayangkan balasan. Sementara itu, Cesare juga memilih keputusan yang sama. Hanya Khayansar yang mengambil tindakan berbeda dengan buka suara. Membalas ucapan adik tercintanya.


“Sayangnya, bukan itik buruk rupa itu yang akan dinikahi,” katanya. Berhasil membuat kedua adiknya serta calon adik iparnya kebingungan. “Raja Robelia membuka pemilihan calon pendamping, bukan memilih langsung. Ada banyak keluarga bangsawan yang menyodorkan anak gadis mereka sebagai calon pendamping raja. Salah satunya adalah keluarga Duke d’Oclean yang mengusulkan nama putri tunggal mereka, Lady Cyrene Asterya d’Oclean.”


“Cyrene?” Kayena tampak terkejut sekali mendengar informasi yang dibawa oleh kakaknya. “Tidak, tidak. Cyrene pasti dipaksa oleh ayahnya yang haus kekuasaan. Hanya ada satu pria yang diinginkan Cyrene untuk dijadikan suami.”


Kini giliran ketiga pria di sekitar Kayena yang kebingungan. Sebelum salah satu di antara mereka menambahkan.


“Bahkan nama Dowager Duchess Caecilia juga sempat dirumorkan menjadi salah satu calon pendamping Raja brengs*k itu.”


“Caecilia?” Kayena kembali dibuat terkejut. “Duke Charles sudah meninggal dunia?”


Semenjak terlahir kembali, Kayena memang fokus pada perubah dirinya sendiri guna mengejar target untuk mengubah nasib yang malang. Siapa sangka jika ia melewatkan banyak informasi penting, mungkin salah satunya tentang teman dekatnya, yaitu Caecilia yang sekarang telah menjadi Dowager Duchess Caecilia. Caecilia telah menjanda. Itu berarti Duke Charles telah meninggal dunia. Meninggalkan Caecilia di tanah asing dengan tanggung jawab ganda; menjadi seorang kepala rumah tangga serta bertugas membesarkan anak-anak mendiang suaminya.


Semenjak menikah dan meninggalkan Robelia, hubungan mereka memang cukup renggang. Kayena sibuk dengan tugasnya sebagai seorang ratu, sedangkan Caecilia juga sibuk mendedikasikan hidupnya sebagai istri seorang Adipati yang memiliki 3 orang anak. Sedangkan Cyrene, Kayena masih kerap bertukar pesan. Mengingat Cyrene belum menikah dan masih menetap di Robelia, ia memutuskan untuk membantu membangun kerajaan bisnis keluarganya di bidang pertambangan.


“Tidak, Cesare. Dowager Duchess Caecilia tidak akan menjadi salah satu calon pendamping Raja Robelia,” bantah Khayansar tiba-tiba. “Kedatangannya ke Robelia karena ingin bertemu dengan Kayena.”


Cesare bungkam. Ia tidak pernah menyangka jika informasi yang didapatkan sang kakak lebih detail darinya. Padahal mereka mendapatkan informasi dari oknum yang sama. Pada akhirnya ia hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Syukurlah jika Cyrene dan Caecilia tidak termasuk ke dalam rencana jangka panjang pria itu,” kata Kayena dengan nada suara lirih. Salah satu tangannya tanpa sadar membelai perutnya yang masih rata.


Jauh dalam lubuk hati yang paling dalam, Kayena merasa tidak menyangka jika mantan suaminya akan mengambil keputusan secepat ini untuk mencari penggantinya. Itu berarti apa yang dikatakan Killian tempo hari tidak ada benarnya. Baik di kehidupan sebelumnya atau kehidupan saat ini, Kaizen sama-sama brengs*k dan bajing*n. Pria itu tidak pernah mencintainya. Mungkin, hanya obsesi yang dimiliki oleh Kaizen.


Buktinya? Jelas. Setelah Kayena menghilang dari genggamannya, Katarina tidak lagi menjadi candu yang menarik. Kaizen tetap harus mencari Kayena lain yang bisa jadi tersaji dalam bentuk Lady dari keluarga bangsawan lain yang haus akan kekuasaan. Secepat Kaizen mengambil keputusan untuk mendapatkan pendamping baru, membuktikan bahwa Kayena memang hanya dianggap sebagai boneka serta mesin pencetak anak. Sedangkan Katarina, nasibnya tidak berbeda jauh. Raja Robelia mungkin hanya menganggap Katarina sebagai boneka untuk melampiaskan nafsu birahinya.


Lagi, Kayena meyakini satu hal; ucapan Killian soal pria yang paling mencintainya sampai pria yang paling kehilangannya adalah Kaizen, sepertinya tidak terbukti.


“Ada apa? kamu sepertinya memikirkan banyak hal?”


Sentuhan lembut dari jemari panjang dan kekar pada bagian pelipis, membuat wanita cantik yang tengah hamil muda itu mendapatkan kembali kesadarannya. Ketika menoleh, ia langsung menemukan wajah tampan pemilik manik elang tajam yang tengah menatapnya.


“Aku hanya sedang memikirkan …” Kayena kebingungan untuk melanjutkan. Tiba-tiba lidahnya kelu, karena tidak tahu apa yang sebenarnya menganggu dirinya.


“Jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting,” ucap lawan bicaranya seraya menjatuhkan satu kecupan di kening. “Memikirkan banyak hal kadang sangat melelahkan. Ibu hamil seperti kamu tidak boleh kelelahan.”


Mendengar kekhawatiran kekasihnya—mungkin sudah bisa dibilang suaminya selama mereka tinggal di Astoria—balasan yang diberikan Kayena adalah senyum yang lepas di bibir.


“Aku tadi hanya memikirkan hal-hal tidak penting. Sekarang tidak lagi.”


“Bagus. Lebih baik sekarang kamu istirahat. Hari ini pasti sangat melelahkan untuk kalian.” Bersamaan dengan meluncurnya kalimat tersebut, pria rupawan itu mengelus permukaan perut kekasihnya—istrinya—dari permukaan luar yang ditutupi oleh gaun malam tipis. Tanpa harus banyak berusaha, ia bisa dengan mudah merasakan tekstur kulit lembut yang masih tampak ramping di bawah sapuan jemarinya.


“Malam ini kamu akan tidur bersama siapa?”


Ditodong pertanyaan demikian secara tiba-tiba, pemilik nama Pangeran Kwang Min itu tampak terdiam untuk sesaat. Malam ini dapat disebut sebagai malam pengantin mereka. Maksudnya, malam pengantin dari pernikahan simbolis mereka. Secara bersamaan, Kayena juga sudah tidak tinggal di Yeowang-ui bang lagi. Ia ditempatkan di salah satu paviliun yang diberikan pada kekasihnya setelah mematenkan nama Pangeran Kwang Min. Mereka diperbolehkan tidur bahkan tinggal bersama, karena di mata mereka Kayena dan Kaezar sudah resmi menikah.


“Kakak pertama sempat memintaku untuk datang ke kamarnya. Ada beberapa hal yang harus kita bahas sebelum melakukan perjalanan ke Edinburgh.”


Wajah cantik Kayena yang polos dari sapuan riasan wajah tampak tersenyum tipis. Senyum lepasnya langsung ia kurangi, bersama dengan jawaban sang kekasih. Kemudian anggukan kepala juga ia berikan sebagai persetujuan.


“Kalau begitu, bergegaslah pergi kepada kakak. Aku juga akan segera beristirahat.”


Melihat wanita cantiknya yang sudah siap tidur dengan gaun malamnya yang sederhana, ditambah lagi perubahan ekspresi wajah yang signifikan walaupun terjadi secara alami, membuat Kaezar ikut menerbitkan senyum tipis.


“Kakak pertama bisa menunggu,” ucap Kaezar tiba-tiba. Ia yang sudah mengganti pakaian tradisionalnya dengan celana kain hitam dan atasan putih berkancing yang dibuat dari kain berbahan lembut, kini ikut mengambil posisi berbaring.


Walaupun Kayena mengambil posisi berbaring menyamping, ia dapat merasakan ada seseorang yang baru saja ikut bergabung dengannya di atas tempat tidur yang langsung di simpan di atas lantai kayu.


“Jangan marah,” kata Kaezar dengan suara lembut. Tangannya juga bekerja guna membalik tubuh kekasihnya supaya mereka berhadapan. “Kamu akan selalu menjadi kepentingan utamaku.”


Ibu hamil muda itu menurut ketika tubuhnya dibawa menghadap sang lawan bicara. “Aku tidak marah,” bantahnya. “Lagipula aku sudah biasa tidur sendiri.”


“Tetapi tidak setelah kita resmi menikah,” sahut Kaezar. “Aku tidak akan membiarkan kamu tidur sendirian, kecuali aku sedang tidak ada di rumah kita.”


“Tidak ada drama pisah tempat tidur dan sebagainya?” Kayena tiba-tiba bertanya. Pertanyaan tersebut rupanya membuat Kaezar tersenyum tipis.


“Tidak akan.” Kaezar menjawab dengan segera. “Bahkan jika kita sedang menghadapi keributan sekalipun, tidak akan ada yang namanya tidur di ranjang terpisah. Kita akan tidur bersama di ranjang yang sama.”


Kayena terdiam mendengarnya. Pengalaman berbeda pasti dialami oleh setiap pasangan setelah menikah. Memiliki kamar tidur yang berbeda, menjadi salah satu hal yang lumrah di kerajaan Robelia. Begitu pula dengan pengalaman Kayena selama membina rumah tangga dengan Kaizen. Mereka memiliki ruang pribadi masing-masing dan hanya berbagi ranjang pada tanggal-tanggal tertentu. Namun, rupanya Kaezar memiliki sudut pandang tersendiri ketika memutuskan untuk membangun rumah tangga bersama Kayena.


“Sekarang tidurlah. Sudah malam.” Kaezar berbisik pelan seraya menjadikan lengannya sendiri sebagai bantalan kepala Kayena. Sedangkan satu tangan yang lain bertugas untuk memberikan sentuhan lembut di bagian perut. “Aku akan selalu menemani tidur kalian untuk kedepannya.”


“Baik.” Kayena menyetujui secara langsung. Kedua kelopak matanya yang ditumbuhi bulu mata lentik tampak mulai tertutup. “Untuk kedepannya kamu harus menemani tidurku, Pangeran Kwang Min. Jika tidak, aku pasti akan kesulitan memejamkan mata.”


Kalimat terakhir yang disertai ancaman ringan itu berhasil membuat si empunya nama menyunggingkan senyum hangat. “Aku pasti akan selalu menemani tidur istriku. Aku berjanji.”


Kayena semakin menenggelamkan wajah cantiknya di dada bidang sang kekasih yang menguarkan aroma segar dari citrus, musk, bergamot, orange blossom ginger, dan teh hijau. Wewangian yang dibuat karena terinspirasi dari angin laut, sinar matahari, dan air yang menjadi ciri khas wewangian prianya. Aroma yang menyenangkan sekaligus menenangkan.


“Janji yang telah disepakati, harus ditepati.”


“Tentu,” balas Kaezar seraya menjatuhkan satu kecupan hangat di kening wanitanya. “Sekarang tidurlah, istriku. Aku akan menemani tidurmu sepanjang malam.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 23-08-23