
00107. Le coupable de toute destruction (Biang keladi dari segala kehancuran)
“Semuanya menjadi sangat kacau!”
Gebrakan keras terdengar setelah Raja Robelia yang saat ini berkuasa memukul permukaan meja kerjanya dengan kepalan tangan. Saat ini ia tengah berada seorang diri di tempat tersebut, setelah ia mengusir para tamu kehormatan yang datang untuk mendiskusikan masalah kenegaraan. Semenjak kepergian adik tirinya, suasana hati sang Raja semakin tidak karuan. Ia tidak dapat mencegah kepergian pemilik julukan Elang Muda Kekaisaran, karena ia sudah berjanji. Jika janji itu diingkari, takutnya malah terjadi pemberontakan yang tidak diduga-duga.
Lagipula, siapa yang menyangkan jika Pangeran Kedua dari kerajaan Robelia itu bisa menyelesaikan misi yang terbilang “mustahil” dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Benar-benar gila.
Rupanya Elang Muda Kekaisaran yang sangat dibanggakan, kini telah berubah menjadi garuda yang gagah dan perkasa. Kepergiannya membawa pukulan besar bagi pertahanan dan keamanan Robelia. Mau tidak mau, sebagai seorang Raja—Kaizen—harus segera mencari alternatif untuk menangani masalah yang belakangan timbul secara bertubi-tubi.
“Kaelus menghadap Yang Mulia Raja.”
Mendengar suara tangan kanannya yang sempat menghilang, Kaizen langsung mengangkat pandangan. “Bagaimana? Para petinggi Angkatan Laut, Darat, dan Udara dapat menahan kepergian Kaezar?”
“Maaf, Yang Mulia,” sahut Kaelus seraya membungkukkan badan. “Pangeran Kedua telah meninggalkan istana bersama Duke Cesare. Dari informasi tambahan yang saya dapatkan, kavaleri besar yang berada di bawah kepemimpinan Duke of Edinburgh juga sudah bersiap untuk melakukan perjalanan. Sejak pagi perahu layar dari kavaleri mereka sudah mulai meninggalkan pelabuhan utama ibu kota.”
Kaizen menghela napas gusar mendengarnya. Ia tidak dapat berbuat banyak untuk mempertahankan salah satu “benteng emas” yang dimiliki oleh kerajaan. Setelah kepergian Jendral Khayansar, Panglima Perang Cesare, Mayor Jendral Khiev de Pexley, kini dilanjut dengan kepergian Kapten Muda dan berbakat, sekaligus pemilik gelar Elang Muda Kekaisaran. Kaizen dilanda rasa cemas berlebihan karena kepergian Kaezar, takutnya masalah ini membawa dampak bagi kepercayaan para bangsawan serta rakyat. Bagaimana pun juga saat ini posisi garda terdepan Robelia mulai didera kerapuhan.
“Sial*n,” maki Kaizen. “Sepertinya mereka tidak bermain-main.”
Selain menimbulkan kerugian, kepergian Kaezar membuat Kaizen sangat cemas, karena sekarang mereka tidak lagi terikat hubungan keluarga. Kaezar bisa dengan mudah melakukan apapun yang ia inginkan, termasuk menikahi mantan istrinya. Memikirkannya saja sudah membuat darah Kaizen mendidih, apalagi jika sampai itu terjadi. Ia tak akan segan-segan untuk memulai pertumpahan darah dengan adik tirinya sendiri.
“Kaelus, bagaimana perkembangan tim khusus yang dikerahkan dalam pencarian Ratu?”
“Saat ini tim khusus yang kita turunkan sudah tiba di daratan bagian Tenggara, termasuk negeri Astoria. Belum ada informasi lanjutan soal ditemukannya keberadaan Ratu.”
“Terus cari lokasi Ratu. Jika sudah menemukan keberadaannya, cepat bawa Ratu kepada ku. Jangan sampai mereka membiarkan Ratuku menjadi milik pria lain.”
“Saya mengerti, Yang Mulia,” sahut Kaelus seraya mengangguk.
Tidak berselang lama, pintu tiba-tiba saja dibuka dari luar. Seseorang yang familiar di mata keduanya masuk dengan raut wajah keruh. “Yang Mulia, di depan ada Tuan Klautviz. Beliau ingin bicara dengan Anda.”
Kaizen memijit pelipisnya yang mulai teras nyeri. “Katakan kepadanya jika kondisi ku saat itu tidak memungkinkan untuk bicara dengannya.”
“Maaf, Yang Mulia. Tetapi, tuan Klautviz bersikukuh untuk bicara dengan Anda.”
Kaizen mendengus kasar, kemudian menatap ksatria yang merupakan salah satu rekan Kaelus. “Katakan saja apa yang barusan aku ucapkan,” ujarnya, penuh penekanan. Ia memang tidak punya suasana hati yang bagus untuk memulai pembicaraan dengan siapapun, apalagi pamannya yang lagi-lagi bertingkah layaknya penguasa.
Klautviz pikir Kaizen tidak tahu jika otak di balik penyerangan yang menargetkan Khayansar adalah pamannya. Jika bukan, siapa lagi? walaupun jabatan serta kekuasaannya telah direbut paksa, Kaizen sendiri tidak tahu berapa besar lagi kekuatan yang dimiliki oleh pamannya itu. Oleh karenanya, Kaizen tidak mau berlama-lama lagi membiarkan Klautviz de Meré terus berulah di wilayah kepemimpinannya.
Sementara itu di balik pintu, Klautviz de Meré tampak berdiri dengan raut wajah tenang yang menyembunyikan banyak emosi. Kedua tangannya terkepal kuat ketika seorang ksatria yang baru saja keluar dari dalam ruangan berkata jika ia tidak diizinkan untuk bertemu dengan Raja Robelia. Ada senyum skeptis yang tercipta di bibirnya, sebelum akhirnya ia angkat kaki. Menjauhi kediaman Raja, beranjak menuju wilayah lain di mana tempat tinggal putrinya berada.
Penurunan tahta yang menimpa putrinya pasti meninggalkan luka serta rasa kecewa. Ini adalah saat “penting” baginya untuk memupuk luka itu dengan garam, agar “pion” yang telah ia siapkan sejak lama lebih agresif ketika melancarkan aksinya.
“Selir Katarina,” panggilnya ketika ia berhasil memasuki ruangan yang lebih kecil dari kamar utama di kediaman Selir Agung sebelumnya.
“Berhenti memanggil ku seperti itu, aku muak mendengarnya!”
Seruan itu datang dari seorang wanita yang tampak tidak terurus—dilihat dari wajahnya yang polos tanpa riasan. Padahal biasanya, pagi-pagi seperti ini ia sudah berhias dengan rapih dan cantik.
“Apa yang sedang kau lakukan, Selir tingkat IV? Merusak tubuh mu yang berharga?”
Wanita dengan gaun malam berenda itu tertawa kecil. “Hah, kedengarannya lucu ketika aku tidak dipanggil Selir Agung lagi. Sekarang kedudukan ku bahkan setara dengan pelayan yang menghabiskan satu malam bersama Raja.”
Klautviz tersenyum miring, kemudian mengambil gelas anggur yang ada di tangan Katarina.
“Anda apa-apaan? Kembalikan gelas ku!”
“Sudahi kegiatan tidak berguna ini,” sahut Klautviz setelah menjauhkan gelas berisi anggur merah itu dari jangkauan putrinya. “Jangan merasa kalah hanya karena sebuah gertakan.”
“Gertakan?”
“Kau pikir kenapa Kaizen menurunkan status mu dari Selir Agung menjadi Selir tingkat IV?”
“Tentu saja karena dia tahu aku telah berencana untuk menyingkirkan Ratunya,” jawab Katarina dengan nada malas. “Dia masih membutuhkan wanita sial*n itu, akan tetapi di sisi lain, dia juga tidak bisa langsung membuang ku.”
Klautviz mengakui bahwa putrinya cukup cerdik, namun ia juga cukup terburu-buru ketika menyimpulkan atau mengambil keputusan.
“Jangan lengah dan gegabah, karena sekarang posisi Ratu tengah kosong.” Dengan sorot mata yang mencoba memberi keyakinan, Klautviz kembali buka suara. “Baru beberapa jam setelah kau diturunkan, beberapa petinggi dari fraksi netral sudah menyiapkan beberapa kandidat untuk memasuki harem istana.”
“Apa? bisa-bisanya mereka mencoba mendekati Raja dengan cara licik seperti itu!”
“Itu bukan sebuah cara, akan tetapi bisa dibilang sebuah solusi.”
“Maksud Anda?”
Klautviz menyeringai tipis, sebelum mengambil satu langkah lebih maju. “Saat ini Raja kekurangan dukungan internal. Jika ada kandidat potensial yang dapat membantu membuat kondisi pemerintah internal stabil, apa kau pikir Raja akan diam saja?”
“Yang dibutuhkan Raja saat ini adalah dukungan, rekan, serta keturunan untuk memperkokoh keberlangsungan tahta kerajaan. Jika kau terus berulah, sekalipun kau memiliki banyak pendukung dari kalangan bangsawan, apa Raja akan tetap setia?”
Katarina bergerak dengan cepat. Berdiri di hadapan Klautviz dengan mata memerah. “Hanya aku satu-satunya wanita yang pantas bersanding dengan Raja. Aku juga yang akan melahirkan garis keturunannya.”
“Kalau begitu bangkitlah dari keterpurukan ini. Jangan biarkan ada celah yang dapat membuat mereka mengambil keuntungan.”
Anggukan kepala Katarina berikan sebagai persetujuan. “Pasti. Aku telah berhasil menyingkirkan tokoh paling berpengaruh di istana Ratu. Bagaimana mungkin aku akan membiarkan orang asing mengambil peran sebagai tokoh paling berpengaruh berikutnya.”
Bagus. Klautviz membatin di dalam hati. Ia suka jika putrinya dipenuhi oleh semangat yang berkobar-kobar. Mudah baginya untuk mengarahkan ke rencana berikutnya.
“Jika kau tidak lagi bisa menghalangi Raja untuk melakukan pernikahan politik dengan wanita lain, tunjukkan kekuatan mu yang sesungguhnya sampai wanita itu tahu bahwa kau yang paling berkuasa di tempat ini,” ucap Klautviz seraya menyentuh kedua bahu putrinya. “Jika keturunan Raja bukan lahir dari rahim mu, maka buat wanita yang melahirkan keturunan Raja binasa sebelum melihat darah daging nya. Kemudian, datanglah sebagai jelmaan malaikat bagi keturunan Raja yang baru kehilangan induknya.”
Katarina terdiam. Namun, dalam diamnya itu, ia mendengarkan dengan sangat baik. Sebelumnya ia juga pernah punya pemikiran gila; meminta pelayan pribadinya—Kyara—untuk menjadi wanita Raja, agar kemudian ia yang mengurus dan membesarkan keturunan Raja sebagai ibu sekaligus Ratu Robelia. Sekarang, jika ada wanita yang berani memasuki harem istana, kemudian mengancam posisinya, ia tak akan segan untuk berbuat gila.
Raja Robelia adalah miliknya. Jiwa dan raga pria itu akan selalu terikat dengannya. Jika suatu saat ada wanita lain yang mendapat keberuntungan untuk menaklukkan Raja Robelia di atas ranjang, maka Katarina tak akan segan untuk memperlihatkan kekuasaannya selaku wanita Raja.
💰👑👠
“Kamu …sebenarnya siapa di kehidupan sebelumnya? Bagaimana bisa kamu mengetahui semua itu dengan sangat detail?”
Sebenarnya mudah saja untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, sebelum menjawabnya, Killian terlebih dahulu mengisi cangkir teh miliknya dengan minuman hangat dengan aroma khas tersebut. Lalu, dengan sorot mata tenang, ia menatap lawan bicaranya tanpa keraguan.
“Saya dikenal sebagai Ksatria Lian atau Killian yang bertugas menjaga Anda selama mengisi posisi Ratu,” ungkapnya kemudian. “Selama menjadi Ratu Robelia tujuh tahun lamanya, bahkan jauh sebelum itu, saya juga telah berada di dekat Anda sebagai salah satu Ksatria muda di bawah perlindungan balai Ksatria yang dipimpin oleh Grand Duke Pexley.”
“Ksatria Lian?”
Lawan bicaranya tampak tengah mengingat nama tersebut.
Entah masih ada atau tidaknya memori tentang ksatria Lian, bagi Kayena sekarang sudah semakin jelas. Alasan kenapa Killian seolah-olah kenal dirinya dengan begitu akrab, kini sudah terjawab. Namun, ia tetap mencoba untuk menggali ingatan soal ksatria Lian yang menjadi pengawalnya di kehidupan sebelumnya.
“Ada satu lagi yang harus Anda ketahui soal saya.”
Kayena mengangkat pandangan agar dapat menatap lawan bicaranya dengan seksama. “Apa lagi yang harus aku ketahui tentang kamu di kehidupan sebelumnya, Killian? bukan kah semuanya sudah jelas? Kamu ksatria yang ditugaskan untuk melindungi ku. Pantas saja kamu mengenal ku dengan baik.”
Gelengan ringan diberikan sebagai jawaban. Killian kemudian menutup matanya sejenak dengan wajah agak tertunduk. Dalam posisi itu, bayangan dari masa lalu ketika mendobrak pintu kamar Ratu Robelia pada malam tragis itu kembali tergambar dengan jelas. Rasa sesak yang dirasakan pada kehidupan sebelumnya bahkan masih bisa ia rasakan di kehidupan ini. Mungkin Tuhan telah menghukumnya dengan rasa sakit yang sama dari kehidupan sebelumnya.
Beberapa detik Killian gunakan untuk memejamkan mata. Ia pun kembali mengangkat pandangan, kemudian menatap wajah cantik di hadapannya dengan penuh keberanian.
“Nama asli saya di kehidupan sebelumnya adalah Charteris Killian de Meré. Saudara kembar dari Chatarina Kannelite de Meré. Kami adalah anak di luar nikah antara Klautviz de Meré dengan seorang rakyat biasa bernama Karla Kannelite.”
Kayena tidak mampu menahan rasa terkejut yang datang akibat muntahan fakta yang baru saja berasal dari Killian. Ia tidak pernah menyangka bahwa ada konspirasi sebesar ini terkait identitas Katarina yang merupakan wanita simpanan suaminya. Jika Katarina dan Killian adalah sepasang saudara kembar yang lahir dari hubungan terlarang Klautviz de Meré dengan seorang rakyat biasa bernama Karla Kannelite, maka secara tidak langsung mereka berdua masih terikat hubungan sepupu dengan Kaizen.
“Saya datang ke istana untuk melindungi kembaran saya. Dan saya—“
“Kamu menusukku dari belakang,” potong Kayena dengan mata yang mulai memerah. Ada genangan Kristal bening yang sudah siap runtuh kapan saja.
Killian yang melihatnya langsung merasakan tik*man pada ulu hatinya. Rasa sakit ini sebanding dengan rasa sakit ketika ia memutuskan untuk ikut menyumbangkan nyawanya pada kehidupan sebelumnya, karena tidak dapat membersihkan nama wanita yang dicintai.
“Ya, saya berniat menusuk Anda sejak awal.”
Walaupun begitu, pertemuan hari ini sudah Killian antisipasi. Apapun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan kebohongan kembali mendominasi. Walaupun akan teras sakit, ia tetap akan mengungkapkan kebenarannya detik ini.
“Bodoh sekali diriku,” gumam Kayena ketika tangannya terangkat untuk menyeka sudut mata. “Setelah Katarina, terbitlah kamu yang juga mengkhianati ku sejak awal. Kira-kira siapa lagi yang mengkhianati ku di kehidupan sebelumnya? Atau jangan-jangan Kaizen juga hanya pura-pura ketika berkata mencintai ku. Buktinya, dia lebih memilih Katarina dibanding aku.”
Killian menggelengkan kepala dengan senyum tipis yang tiba-tiba tersungging. Melihat senyum itu, Kayena tentu saja semakin emosional.
“Kamu masih bisa tersenyum setelah apa yang kamu ungkapkan. Adakah yang lucu bagi mu?”
“Tidak, justru saya merasa kasihan kepada seseorang.” Killian menatap lurus ke arah Kayena, kemudian kembali membuka suara. “Dua yang paling utama sebagai sumber kesengsaraan dalam hidup Anda adalah Klautviz de Meré dan Chatarina Kannelite de Meré.”
“Kenapa Kaizen tidak termasuk di antara mereka? bukannya kau tahu sendiri bahwa di kehidupan sebelumnya dia adalah alasan terbesar bagi kesengsaraan yang aku alami?” tanya Kayena dengan emosi yang kembali meninggi.
Bagi Kayena, Kaizen termasuk salah satu sumber kesengsaraan terbesar dalam kehidupan sebelumnya. Namun, jawaban yang diberikan Killian setelahnya, benar-benar jauh dari prediksi Kayena. Ia tidak pernah menyangka jika kalimat itu yang akan didengarnya.
“Karena sejatinya, dialah yang paling mencintai Anda.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 13-08-23