How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00127. Réécrire le destin (Menulis ulang takdir)



00127. Réécrire le destin (Menulis ulang takdir)


“You know I want you. I’ts not a secret I try to hide (kamu tahu aku mau kamu. Ini bukan rahasia yang kucoba sembunyikan).”


Dua penggal kalimat dalam bahasa inggris itu terucap ketika ia kembali teringat pada wanita yang dicintainya. Semenjak pemilik hati wanita terkasihnya datang, ia semakin melihat benteng tak kasat mata yang semakin meninggi. Wanita cantik itu telah menderita lewat pernikahan pertamanya. Sekarang, ia menemukan sosok lain yang siap membawanya untuk menjemput kebahagiaan. Lantas apa yang salah? Bukan kah ini adalah salah satu keinginannya; melihat wanita yang dicintai bahagia?


“Unmyeong-ui silsu (kesalahan takdir),” gumamnya tiba-tiba.


Jika saja takdir tidak membuatnya melepaskan wanita cantik itu, hari ini pasti ia bersama wanita terkasihnya sudah hidup bahagia. Wanita itu tidak perlu menjadi Ratu yang hanya dianggap sebagai boneka, serta istri yang tidak di hargai. Bersama dengannya, ia rela memberikan seluruh semesta agar bersujud di bawah kaki wanita terkasihnya.


“Yang Mulia Kaisar.”


Matahari kekaisaran sesungguhnya dari Astoria itu menoleh. Tubuh tegap miliknya dibalut oleh pakaian berkuda dengan nuansa hitam-putih yang dihiasi oleh enam kancing berdiameter bulat yang dibuat dari emas murni.



Senyum tipis langsung berkembang ketika ia menyambut kehadiran dua pria bersaudara.


“Di mana dia?” tanyanya kemudian, karena tidak menemukan kehadiran calon adik angkatnya datang bersama mereka.


“Kaezar akan segera menyusul,” jawab Cesare, mewakili. Ayah satu anak itu tampak gagah dengan pakaian berkuda yang didominasi oleh warna biru tua dan putih. “Kita akan berkuda di sekitar istana?”


“Tidak,” balas Kaisar Astoria. “Aku ingin mengajak kalian berburu di hutan lindung milik kekaisaran.”


Cesare tampak antusias mendengarnya. Sudah lama ia tidak pergi berburu, karena belakangan ia sibuk dengan urusan adik terkasihnya. Begitu pula dengan Khayansar yang selalu sibuk dengan urusan militer. Jarang sekali memiliki waktu untuk pergi jalan-jalan di hutan sembari menenteng senapan. Berburu biasanya menjadi salah satu agenda tahunan militer angkatan laut mereka, namun Khayansar jarang menemukan kesempatan untuk ikut serta. Namun, Khayansar masih tidak habis pikir dengan keinginan Kaisar Kwang Sun. Pria yang berkata ingin membicarakan soal Kaezar sebagai pangeran itu, tiba-tiba mengajak mereka bertiga untuk berburu.


Khayansar bukannya menaruh curiga, namun ia masih belum menemukan alasan kuat yang mendasari tindak-tanduk dari Kaisar Astoria.


“Maaf, membuat kalian menunggu lama.”


Tidak sampai tiga puluh menit, Kaezar datang. Ikut serta hadir di antara tiga pria yang sejak tadi tampak mengobrol di depan tempat para kuda milik sang Kaisar disimpan.


“Pilihlah satu. Setelah itu kita akan segera pergi,” kata Kaisar Kwang Sun seraya membawa Kaezar ke deretan kuda miliknya yang tampak gagah dan berani. “Kuda putih itu rekan ku. Dia sudah menemani banyak petualangan ku.”


Kaezar mengalihkan pandangan pada kuda dengan warna putih yang paling mencolok di antara kuda-kuda yang lain. Selain kuda tersebut---kuda putih milik sang Kaisar—masih ada dua kuda lain yang sudah dipisahkan dari kuda lainnya. Jika tebakan Kaezar benar, maka kedua kuda tersebut pasti merupakan milik Khayansar dan Cesare.


“Aku pilih yang ini.” telunjuk Kaezar terangkat, lantas mengarah pada seekor kuda dengan warna hitam menyelimuti hampir seluruh bagian tubuhnya. Berbanding terbalik dengan milik Kaisar Kwang Sun, serta milik Cesar dan Khayansar yang masing-masing kudanya berwarna coklat tua dan coklat muda.


Sebelum meng-iyakan, Kaisar Kwang Sun masih sempat mempertanyakan, namun Kaezar yang hadir dengan pakaian berkuda dengan nuansa hitam yang dihiasi oleh sulaman dedaunan emas motif timbul itu berkata tidak ingin kuda lain, selain kuda hitam tersebut.



“Baiklah, mari kita pergi.”


Kaisar Kwang Sun dengan kuda putihnya kemudian memimpin jalan.



“Kenapa kau tidak menembak rusa itu? sepertinya barusan cukup mudah untuk dibidik,” tanya Kaisar Kwang Sun ketika mereka suda setengah jalan.


Kaezar baru saja melepaskan buruan utama mereka, yaitu seekor serusa hutan. Entah apa motifnya, namun ia tampak sengaja membiarkan rusa tersebut lari dari jangkauan.


“Rusa hutan itu betina,” ujarnya tiba-tiba. Menjawab pertanyaan Kaisar Kwang Sun. “Ketika rusa betina itu masuk ke lensa target, aku baru menyadari jika rusa itu sedang mengandung.”


Kaisar Kwang Sun terdiam mendengar alasan Kaezar yang tidak jadi membunuh buruan mereka, begitu pula dengan Khayansar dan Cesare.


“Maaf,” ucap Kaezar tiba-tiba. Membuat perhatian tiga pria lainnya kembali berpusat padanya. “Aku memiliki kekasih yang tengah mengandung. Bayi itu adalah calon anak kami yang ditunggu-tunggu kelahirannya. Aku tidak mau membunuh dua kehidupan sekaligus, di saat aku tengah menunggu kehidupan lain lahir dari kekasih ku.”


Sekarang ketiga pria itu paham dengan alasan Kaezar yang tampak tidak tega, setiap kali hendak menarik pelatuk senapan di tangan. Sejauh ini hasil buruan mereka hanya kelinci hutan, hingga burung hutan. Namun, mereka tidak mendapatkan buruan utama berupa rusa dewasa.


“Aku sempat berpikir jika pria seperti mu berhati lebih dingin dari Kakak pertama,” ucap Kaisar Kwang Sun ketika mereka tengah beristirahat di tengah-tengah area hutan lindung. Para prajurit kekaisaran juga telah sigap, membuat tenda alakadarnya serta tempat untuk menyimpan persenjataan.


“Dulu mungkin begitu.” Kaezar menjawab sekenanya. “Sekarang, apa boleh saya yang mengajukan pertanyaan.”


“Silahkan.” Kaisar Kwang Sun mempersilahkan tanpa banyak kesulitan.


“Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya? Apakah mengenai keinginan nenek Anda?”


Alih-alih langsung menjawab, Kaisar Kwang Sun yang baru saja minum seteguk air malah balik bertanya. “Apa kau mau menjadi saudaraku? sekalipun kau tahu sendiri jika aku mencintai calon istrimu sejak lama?”


“Ya, saya tahu.”


“Lalu apa keputusan mu?”


“Sejujurnya saya sudah muak dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan tahta. Saya hanya ingin menjalani hidup sederhana bersama Kayena dan calon anak kami. Jika menjadi saudara Anda tidak menghalangi setiap langkah saya untuk hidup bebas bersama Kayena dan anak-anak kami di masa depan, maka saya bersedia.” Kaezar menjawab seraya menatap lurus ke depan. Di mana ada sebuah sungai dengan aliran jernih yang tampak tenang. “Masalah perasaan Anda, saya yakin Kayena dan Anda telah menyelesaikannya dengan cara baik-baik. Jika tidak, mana mungkin Kayena mau menunjukkan hubungannya dengan saya secara terang-terangan di hadapan Anda, selaku cinta pertamanya pada masa kanak-kanak.”


Kaisar Kwang Sun yang duduk tidak jauh di samping Kaezar tampak menarik sudut bibir, menciptakan senyum tipis. “Baiklah. Aku sudah mendapatkan jawaban yang kuinginkan.”


Kaezar langsung menoleh mendengar ucapan sang Kaisar. Namun, ia urung bertanya ketika pria yang menjadi penguasa dari kekaisaran yang makmur itu beranjak dari tempat duduknya.


“Persiapkan diri mu dengan baik. Sepulang dari perburuan ini, aku akan mengenalkan dirimu secara langsung pada para bawahan ku. Mereka harus mengetahui bahwa aku memiliki saudara laki-laki berdarah pejuang sejati sepertimu.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 11-08-23