
00138. Le noble roi a perdu patience (Raja mulia kehabisan kesabaran)
“Wanita Anda mendapatkan kritikan pedas karena meninggalkan pesta begitu saja. Bahkan ada beberapa Lady yang tidak segan courtesan.”
Laporan itu disampaikan oleh wanita cantik yang tengah melindungi tubuhnya dengan mantel berbulu. Pesta yang diselenggarakan telah selesai beberapa waktu yang lalu. Sudah tiba waktunya untuk meninggalkan istana. Namun, tidak untuk dirinya. Ia masih memiliki kepentingan yang harus diselesaikan, sehingga mengharuskan ia untuk berpisah dengan saudara laki-lakinya.
“Semua yang meraka ucapkan tidak sepenuhnya salah,” jawab pria yang berdiri tidak jauh darinya. “Wanita itu seperti tidak tahu etika, karena tiba-tiba meningkatkan pesta yang masih berlangsung.”
Respon tersebut tentu membuat lawan bicaranya—Lady Cyrene Asterya d’Oclean—tampak kebingungan. “Anda tidak merasa keberatan sedikitpun mengetahui wanita Anda direndahkan oleh para bangsawan? Mereka bahkan menyebutnya courtesan.”
“Katarina tidak akan semudah itu digoyahkan oleh kritikan mereka. Lagi pula, setengah dari dukungan para bangsawan masih ada bersamanya. Jadi, untuk apa aku merasa keberatan?”
Lady Cyrene Asterya d’Oclean sempat merasa tidak habis pikir dengan respon lawan bicaranya. “Sejauh yang saya tahu, wanita Anda adalah kandidat paling kuat untuk mengisi posisi Ratu. Maka dari itu, saya sempat terkejut ketika mendengar Anda berniat untuk mencari pendamping baru.”
Kaizen tidak berkomentar. Ia sendiri sibuk dengan kegiatan memandangi para tamu undangan yang mulai meninggalkan istana.
“Sejujurnya saya masih kebingungan dengan hubungan yang mengikat Anda dan wanita itu.”
Sudut bibir Kaizen tertarik mendengar pengakuan teman lama mantan istrinya. “Semacam hubungan mutualisme.”
“Hubungan mutualisme adalah hubungan timbal-balik. Itu sama seperti hubungan yang saling menguntungkan. Contoh dari hubungan seperti itu adalah pernikahan palatonik dan pernikahan levirat.” Lady Cyrene Asterya d’Oclean berkata dengan suara lembut setelah berhasil mengenakan mantel berbulu miliknya dengan sempurna.
Kaizen mengakui bahwa Lady Cyrene Asterya d’Oclean adalah wanita yang cerdas, sama seperti Dowager Duchess Caecilia serta mantan Ratu Robelia sebelumnya, yaitu Kayena de Pexley. Ketiganya bukan cuma modal latar belakang keluarga aristokrat yang terkenal hebat serta memiliki visual sempurna. Namun, mereka juga diberkati dengan otak yang cerdas, sehingga dapat menunjang berbagai keunggulan mereka dalam bidang tertentu.
“Dari penglihatan saya, hubungan Anda dan wanita itu sudah tidak dapat disebut hubungan mutualisme.”
Kaizen tampak acuh tak acuh. Ia sepertinya enggan membahas hubungannya dengan Katarina yang sudah tidak jelas. Berbeda dengan hubungan mutualisme seperti pernikahan palatonik dan pernikahan levirat—sebuah aturan di mana ketika sang kakak meninggal, untuk menggantikan posisi sang kakak, sang adik menikahi dan tinggal bersama istri mendiang kakaknya.
Awalnya hubungan Kaizen dan Katarina memang didasari oleh hubungan mutualisme—tanpa sepengetahuan Katarina tentunya. Namun, sekarang hubungan mereka sudah tida jelas, saking banyaknya kebohongan yang membangun hubungan tersebut.
“Dengar, Cyrene. Karena secara tidak langsung kamu sudah terlibat dalam permainanku, maka untuk kedepannya keselamatanmu adalah tanggung jawabku.”
Mendengar kalimat tersebut, Lady Cyrene Asterya d’Oclean tentu saja kebingungan.
“Lady manapun yang telah ditetapkan sebagai calon istriku, pasti akan berada dalam bahaya.”
“Kenapa Anda menyimpulkan seperti itu?”
“Karena aku tahu datang dari mana ancaman yang akan mengintai calon istriku,” balas Kaizen. “Untuk sementara waktu, kamu akan berada di bawah perlindunganku. Orang-orang yang menghadiri pesta hari ini sudah terlanjur berpikir jika kamu adalah calon istriku.”
Wanita cantik itu semakin kebingungan. Namun, melihat ekspresi lawan bicaranya yang tidak main-main, ia hanya dapat menganggukkan kepala. “Lalu bagaimana dengan calon pendamping yang akan Anda pilih? Anda akan memilih salah satu dari Lady yang menghadiri pesta tadi?”
“Aku sudah mengantongi beberapa nama yang cocok untuk dijadikan pendamping.” Kaizen menjawab seraya membuka jalan. Membawa Lady Cyrene Asterya d’Oclean yang hendak menjenguk pujaan hatinya. “Salah satu di antara mereka pasti ada yang bersedia untuk menjadi istri serta ibu pengganti bagi penerusku.”
“Jahat sekali,” komentar Lady Cyrene Asterya d’Oclean.
Kaizen tidak dapat menahan diri untuk tertawa. Tawa yang berhasil memecah kesunyian di malam itu. “Kau tahu sendiri jika hatiku milik sahabat baikmu. Jadi hanya itu yang dapat aku lakukan agar memiliki penerus. Lagi pula aku tidak melakukannya dengan seseorang yang tidak setuju dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.”
Lady Cyrene Asterya d’Oclean tidak menanggapi lebih lanjut. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, pertemuan pertama mereka setelah sekian lama tergolong ke dalam pertemuan yang terlalu mengejutkan. Mereka bahkan langsung mengeluarkan kartu AS masing-masing, seperti Kaizen dengan rencana pernikahan palatonik-nya serta Lady Cyrene Asterya d’Oclean dengan kesetiannya menunggu sang pujaan hati yang bukan berasal dari keluarga aristokrat.
“Masuklah. Aku sudah menyiapkan kamar kosong untuk kamu tinggali di sebelah kiri. Manfaatkan kesempatan ini dengan baik, karena pujaan hatimu itu cukup keras kepala. Buat dia paham jika yang kamu inginkan adalah dirinya.”
Kaizen tersenyum tulus seraya menepuk pucuk kepala lawan bicaranya dua kali. Untuk sejenak, ia merasa dilemparkan ke masa lalu. Masa di mana ia, Kayena, Chaecilia, Cyrene, dan tentun saja Kaelus, masih sama-sama anak-anak polos yang kerap membuat janji temu di luar istana selepas mereka pulang dari academy. “Kael adalah pemuda yang baik. Hari ini suasana hatinya sedang buruk, karena pagi tadi orang yang paling dia disayangi telah meninggal dunia secara tiba-tiba.”
Lady Cyrene Asterya d’Oclean yang tampak terkejut menutup bibirnya dengan kedua tangan. Sebagai pecinta salah satu ksatria kebanggan Robelia itu, ia pasti tahu siapa yang dimaksud oleh Kaizen. Perasaannya langsung mendung, membayangkan pria yang telah ia cintai dengan segenap hati, kini hidup sebatang kara.
“Kamu boleh menemaninya. Bahkan jika Kael mengizinkan, kamu boleh tinggal bersamanya sepanjang malam.”
Kedua bola mata Lady Cyrene Asterya d’Oclean tampak berkilat ketika menatap lawan bicaranya yang tengah memasang senyum jenaka.
“Rahasiamu aman bersamaku, Lady d’Oclean.”
Setelah berkata demikian, Kaizen mendorong Lady Cyrene Asterya d’Oclean untuk masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan peristirahatan tersebut, tinggal sang tangan kanan Raja Robelia yang tampak terkulai lemas di atas ranjang berbalut seprai putih yang halus dan lembut.
“Kael.”
Panggilan ringan itu dilontarkan ketika Lady Cyrene Asterya d’Oclean sampai di samping ranjang yang menjadi tempat berbaringnya sang pujaan hati. Wajah pria dari pemilik hatinya itu tampak pucat, dihiasi oleh bulir-bulir keringat sebesar biji jagung. Bibir pucatnya tampak bergerak beberapa kali, menger*ng kesakitan.
Siapa yang akan percaya jika tangan kanan Raja Robelia yang selalu tampil gagah dan berani, kini berbaring di atas ranjang dengan bibir mengeluarkan erang*n kesakitan. Selama ini orang lain selalu melihat sosoknya yang kuat, tidak pernah tumbang, sangar, serta tidak mengenal rasa takut. Begitu pula dengan Lady Cyrene Asterya d’Oclean melihatnya. Kendati demikian, Kaelus tetaplah manusia biasa yang sudah pasti memiliki kelemahan.
“Siapa?”
Pemilik tubuh tegap yang dihiasi oleh otot bisep dan trisep di mana-mana itu tampak berkata dengan lirih, ketika waktu istirahatnya terganggu oleh suara isak tangis seseorang.
“Kamu sudah sadar?”
Yang ditanya hanya mengerjapkan mata beberapa kali. Ketika berhasil menangkap wajah lawan bicaranya dengan jelas, ia spontan bergerak untuk duduk. Tindakan tersebut sempat terhambat oleh tubuhnya yang lemas, sehingga menimbulkan kesulitan tersendiri.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Lady Cyrene Asterya d’Oclean, risau. “Tetaplah berbaring. Tubuhmu masih membutuhkan istirahat yang cukup.”
“Maaf, karena saya tidak dapat menunjukkan rasa hormat saya pada Anda, Lady.”
“Aku bukan datang sebagai putri keluarga d’Oclean. Aku hanya datang sebagai wanita yang telah ditolak berulang kali oleh pria yang sama,” jawab sang Lady dengan tenang. “Jangan bicara apapun,” lanjutnya ketika melihat lawan bicaranya hendak buka mulut, namun tertutup lagi. “Biarkan aku di sini untuk merawatmu. Jangan usir aku lagi, karena aku tidak akan menuruti keinginanmu.”
“Lady, tidak baik bagi Anda jika berada satu ruangan dengan saya. Akan timbul rumor yang merugikan—“
“Sstt!” potong Lady Cyrene Asterya d’Oclean. Ia dengan sigap menutup mulut Kaelus dengan jari telunjuknya yang lentik. “Diam, sebelum aku berteriak dan orang-orang datang menghakimi kita. Kamu tahu apa yang selanjutnya terjadi?”
Kaelus tidak menjawab. Ia justru kembali merebahkan badannya ke permukaan ranjang dan bantal empuk yang menopang kepala bagian belakangnya. Tanpa aba-aba, ia kemudian kembali memejamkan mata dengan satu tangan—yang bebas dari pegangan Lady Cyrene Asterya d’Oclean—menutupi sebagian wajahnya.
“Lakukan apa yang Lady inginkan. Saya tidak akan melarang.”
“Baik,” sahut Lady Cyrene Asterya d’Oclean dengan senyum manis yang coba ditahan. “Kalau begitu malam ini biarkan aku merawatmu hingga fajar terbit.”
Di sisi lain, Raja Robelia yang masih menunggu di depan ruangan tersebut berpesan pada para prajurit untuk berjaga dengan baik. Personil yang berjaga juga diperketat demi memastikan keamanan sepasang manusia yang ada di dalam ruangan. Ketika hendak meninggalkan tempat tersebut, salah satu kaki-tangannya datang dengan napas tersengal-sengal. Menyampaikan sebuah informasi yang membuat emosinya kembali terpancing.
“Segera siapkan kuda.”
Kaizen memberikan titah yang tidak dapat dibantah. Kaki-tangannya baru saja mengatakan bahwa selir satu-satunya baru saja meninggalkan istana, selang beberapa jam sebelum pesta dibubarkan. Kaizen jelas-jelas marah, karena wanitanya lagi-lagi melanggar peraturan yang telah dibuat. Untung saja para kaki-tangannya bekerja dengan sigap.
“Pergi kemana dia?”
“Arah pelabuhan tikus, Yang Mulia. Di sana sudah tersedia perahu nelayan untuk fasilitas penyebrangan. Sepertinya Selir Katarina hendak berjumpa seseorang di pulau seberang.”
“Sudah menahan pergerakannya?” tanya Kaizen dengan fokus tertuju pada jalanan yang akan ia lalui dengan kuda hitamnya.
“Sudah, Yang Mulia.”
“Hm. Kerja bagus.” Kaizen patut mengapresiasi kaki-tangannya yang memang bekerja dengan kompeten. Walaupun tidak sebaik Kaelus ketika bekerja, kaki-tangannya yang berada di level bawah masih sangat bisa diandalkan untuk masalah seperti ini.
Sekitar tiga puluh menit berkuda, mereka kemudian sampai di pelabuhan tikus—pelabuhan kecil yang digunakan untuk penyebrangan barang legal maupun ilegal—yang cukup sepi. Mungkin karena sudah malam, jadi suasana di lokasi terbilang sangat sepi.
Sampai di sana, Kaizen langsung menebarkan pandangan ke setiap penjuru arah. Mencari keberadaan wanitanya yang sudah terkepung, menurut informasi terbaru dari tangan-kanannya.”
“Katarina!” seru Raja Robelia dengan suara tinggi ketika berhasil menemukan wanitanya. “Berani pergi meninggalkan tempat ini, jangan berharap besok masih dapat menghirup udara segar,” ancam Kaizen kemudian. Langkahnya tertuju pada satu tempat, setelah turu dari kuda.
“Menurutlah Katarina, sebelum aku benar-benar kehabisan kesabaran dan berakhir mendepak mu dari istana.”
Kali ini Raja Robelia itu tidak lagi dapat dibantah ketika menghampiri wanitanya dengan aura mematuk. Kesabaran yang ia miliki tampaknya semakin berkurang ketika menghadapi lawan bicara yang saat ini berdiri dengan dagu tetap terangkat tanpa rasa takut.
“Jika kau berani melanggar peraturanku lagi, maka aku tidak akan segan mengirim kau ke tempat ayahmu.” Kalimat terakhir sang Raja rupanya baru berhasil membuat itik buruk rupa itu melunturkan setitik keberaniannya.
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 21-08-23