How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00159. L'erreur la plus fatale qui puisse jamais être oubliée (Kesalahan paling



00159. L'erreur la plus fatale qui puisse jamais être oubliée (Kesalahan paling fatal yang sempat terlupakan)


“Malam ini aku akan membuatmu kewalahan berc*nta, Katarina.”


Kalimat itu hinggap di kepala dengan bayangan samar yang mencetak wajah wanita yang terkurung di antara kedua lengan kokohnya yang dihiasi otot biseps dan triseps. Ia bahkan mulai mengingat bagaimana dirinya memberikan ciuman demi ciuman untuk membungkam mangsa di bawah kuasanya.


“Ini aku, Kayena. Bukan Katarina.”


Mangsanya sempat memberontak juga menyangkal. Namun, sang predator tetap menulikan pendengaran.


“Diam dan nikmati saja, Katarina. Mengeranglah seperti biasa.”


“Tidak!”


Tolakan itu terngiang di kepala sang raja Robelia, tetapi diindahkan begitu saja.


“Ini aku, bukan dia!”


Sang raja Robelia seolah-olah menjelma sebagai manusia tuli. Ia terus memangsa buruannya yang masih meronta, walaupun sudah tidak berdaya di bawah kuasanya. Membuah wanita itu seperti rusa malang yang akan dimangsa habis-habisan oleh predator dari alam bebas.


“Kaizen. Ini aku, Kayena!”


“Kaizen!”


Jeritan suara seorang wanita yang terdengar familiar tiba-tiba hilir mudik dalam ingatan. Walaupun tidak didukung dengan penggambaran wajah yang jelas, ia bisa mengingat suara itu dengan baik. Jeritan itu mengalun di sepenjang permainan kasar yang ia lakukan bak orang keset*nan. Lalu ketika mangsanya mendesah secara tidak sengaja, nafsu birahinya justru semakin terpacu.


“Bagus, mengeranglah seperti itu.” Ia mengingat bagian ketika berbisik di telinga mangsanya dengan suara rendah. Memintanya untuk mengeluarkan suara er*ngan yang lebih keras. “Lebih keras lagi.”


Sekuat apa pun mangsanya memberontak, ia yang telah menjelma sebagai predator terkuat di puncak rantai makanan, tetap meraih kemenangan penuh. Ia bermain tanpa kelembutan, hanya mengutamakan diri sendiri yang ingin terus mengejar pelepasan.


“Condamner. Condemner. Condemner (sial*n. sial*n. sial*n).”


Mulutnya meracau tidak jelas, menyebut nama “Katarina”, tetapi rasa dari tubuh yang ia nikmati sangatlah berbeda. Namun, waktu itu ia tidak peduli. Baginya yang telah diselimuti oleh nafsu birahi, mendaki sampai ke puncak nirwana besama wanita di bawah kungkungannya adalah yang utama. Sekali pun ketika ia benar-benar membawa wanita itu ke puncak kenikmatan duniawi, ia diberi umpatan sebagai sebuah apresiasi.


Bayangan dari kegilaan yang sempat dilakukan pada malam itu langsung berdatangan secara acak, membuat kepala penuh dan napas terasa sesak. Dalam kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, salah satu tangannya terayun ke wajah sendiri. Melayangkan tamparan keras guna mengembalikan kesadaran secara penuh. Kesadarannya benar-benar kewalahan menghadapi ingatan yang menjelma bak pusaran gelap dari masa lalu.


“Menjernihkan pikiran,” ucapnya ketika ia mendapati sang tangan kanan menatap dengan cemas.


Ia mungkin sudah cocok dicap sebagai pria gila, karena tiba-tiba emosinya tidak dapat terkendali. Bayang-bayang dari masa lalu menguasai alam bawah sadar. Peristiwa yang telah terjadi beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba muncul bak potongan-potongan serial dalam sebuah cerita. Walaupun tayang dalam bentuk hitam putih, potongan kejadian yang berasal dari ingatan samar-samar itu berhasil mengguncang jiwa dan raga dari raja Robelia.


“Aku mulai mengingat kejadian di malam itu.”


“Maksud Yang Mulia?”


“Aku mengingatnya!” kukuh sang raja Robelia dengan kedua tangan memegang masing-masing sisi kepala. “Sekarang, suara jeritan itu bahkan masih menggema di kedua telingaku. Seolah-olah baru saja aku melakukan perbuatan brengs*k itu.”


Kaelus—tangan kanan raja Robelia tidak dapat memberikan komentar apa-apa. Sejatinya ia masih tidak menyangka jika rajanya telah melakukan tindakan yang sangat brengs*k dan bajing*n pada wanita yang sangat baik hati dan dicintai rajanya setengah mati.


“Aku meniduri dia, tetapi menyebut nama wanita lain di sepenjang permainan gila itu. Aku bahkan memperlakukannya dengan sangat kasar, di saat dia terus meronta dan memintaku untuk berhenti.”


Lama-kelamaan, Kaelus tidak sanggup mendengarkan racauan yang keluar dari mulut raja Robelia. Hatinya ikut merasa teriris, membayangkan bagaimana sakitnya menjadi korban kebrengs*kan raja Robelia pada malam itu. Digagahi dengan kasar—bisa dibilang diperlakukan tidak manusiawi, kemudian dikenali sebagai wanita lain ketika tubuhnya dinikmati secara paksa, pantas jika wanita itu akan merasa sangat tersakiti. Untung saja ia tidak memiliki pikiran sempit pasca diperlakukan seperti itu.


Parahnya lagi, ada wanita lain yang mengambil kesempatan dari keterpurukan seorang wanita. Kaelus benar-benar tidak habis pikir, bisa-bisanya ada wanita “rubah” yang tega menggunakan kesengsaraan wanita lain sebagai batu loncatan. Pantas jika sekarang Tuhan memberikan balasan secara bertubi-tubi pada wanita “rubah” itu. Lantas bagaimana dengan raja Robelia yang menjadi pelaku utama?


Pria yang tidak pantas disebut sebagai pria sejati itu telah menyakiti jiwa dan raga seorang wanita yang ia klaim sebagai pasangan hidup di depan altar. Bukan hanya menyakiti jiwa dan raganya pada malam itu saja, keesokan harinya, ia yang terbakar oleh api cemburu, percaya begitu saja dengan rumor yang sengaja disebarkan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang ingin memanfaatkan situasi sebaik mungkin. Bukannya percaya, ia sebagai suami malah menuduh pasangannya yang tida-tidak, lalu mengirimnya ke Kastil Putih supaya dapat dipisahkan dari pria yang sangat ia benci.


“Saya tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi, Yang Mulia.” Ia akhirnya memilih untuk berkata jujur. “Saya tahu Anda terkejut. Saya juga merasakan hal yang sama—terkejut dengan fakta yang ada.”


💰👑👠


Bersambung



Tanggerang 10-10-23