How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00167. Le dernier espoir des jumeaux; Charteris Killian et Chatarina Kannelite



00167. Le dernier espoir des jumeaux; Charteris Killian et Chatarina Kannelite (Harapan terakhir si kembar; Charteris Killian & Chatarina Kannelite)


Memasuki musim gugur, curah hujan biasanya terbilang sedang, daun-daun yang merah kekuningan berguguran di mana-mana, ditambah peralihan suhu yang mulai terasa dingin. Di atas sebuah kapal layar yang berhenti—sengaja menunggu—di tengah perairan, seorang wanita tampak gelisah dalam posisinya yang tidak dapat bergerak banyak. Kendati suhu yang mulai terasa dingin menyapa tubuh serta hujan dengan intensitas rendah yang tiba-tiba datang, tidak mengurungkan niatnya untuk menunggu di luar ruangan.


Dibantu oleh seorang ksatria yang merupakan kaki-tangan saudara kembarnya, Katarina meminta untuk dibawa ke luar ruangan. Hampir tiga jam ia menunggu tanpa kepastian. Sorot mata yang sayu terus menatap ke arah daratan yang tampak seperti sebuah pulau miniatur—saking jauhnya letak kapal layar yang ia naiki dengan lokasi daratan tersebut.


“Sebaiknya Nona menunggu di dalam, karena udara semakin dingin dan hujan semakin lebat.”


Selain seorang ksatria, tersedia juga pelayan wanita yang berumur 6 tahun lebih tua dari Katarina. Pelayan itu selalu mendampingi Katarina selama kembaran yang ditunggu-tunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya.


“Dia pasti kembali,” ucap Katarina dengan suara kecil. Ibarat doa yang terus diucapkan, sudah lebih dari puluhan kali ia mengucapkan kalimat yang sama.


Selam ini Katarina memang belum pernah merasa takut akan kehilangan seseorang yang ia sayangi. Mengingat satu-satunya orang yang ia sayangi—Kaizen—selalu memberikan kepercayaan bahwa ia tidak akan meninggalkan Katarina. Pria itu juga tidak pernah membuat Katarina merasa takut akan kehilangan, karena ia tidak pernah menempatkannya dalam posisi tersebut. Kecuali setelah kepergian mantan ratu Robelia. Barulah Katarina dibuat cemas dan takut akan kehilangan seseorang yang ia cintai. Sebelumnya ia tidak pernah merasa seperti itu, karena ia percaya diri akan cinta yang Kaizen miliki.


Pada saat ini, Katarina justru dibuat merasa cemas dan takut akan kehilangan seseorang yang baru saja muncul dalam kehidupannya. Mungkin karena pada kenyataannya mereka terikat hubungan darah dan telah bersama semenjak masih menjadi janin. Itulah kenapa rasa gelisah, cemas, juga takut yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, kini berkumpul menjadi satu. Kenyataan bahwa kembarannya itu pergi untuk menghabisi nyawa our father—ayah mereka—yang sangat bajing*n, brengs*k, pengec*t, serta berhati dingin, membuatnya kian berpikiran negatif.


Secara singkat Katarina mengetahui banyak keunggulan Klautviz de Meré semasa masih menjadi seorang Archduke. Pria itu mahir dalam pertarungan, jenius dalam berbagai bidang, termasuk membuat strategi perang, mengurus politik, hingga menjadi konselor tidak tetap istana Robelia untuk hubungan bilateral. Di sisi lain, Katarina tidak tahu banyak terkait kemampuan yang dimiliki oleh saudara kembarnya. Namun, melihat punggungnya dihiasi oleh dua bilah pedang, Katarina sangat yakin jika saudara kembarnya adalah seorang pengguna pedang ganda atau ambidextrous yang sangat langka jarang sekali ditemukan di Robelia.


“Masuklah, Nona. Sebentar lagi kita akan kembali berlayar.”


Katarina yang entah sejak kapan larut dalam lamunan langsung tersadar ketika ksatria tadi muncul dan berkata demikian.


“Kenapa kembali berlayar? Bukankah penumpangnya belum lengkap?” tanya Katarina kemudian, bertubi-tubi.


“Sir Killian sempat memberikan perintah sebelum pergi, nahkoda diminta untuk kembali menjalankan kapal jika waktu sudah melewati tengah malam.”


“T-idak boleh.” Katarina berkata dengan terbata-bata. Ia juga memiliki jam kantong yang ditemukan di atas meja dekat tempat tidurnya. Dari jam tersebut ia bisa melihat bahwa sebentar lagi hari ini akan terlewati dan akan memasuki hari berikutnya.


“Kita harus berangkat menuju negeri di seberang Barat Daya Robelia, sesuai perintah Sir Killian.”


Katarina menggelengkan kepala dengan tegas. Air mata telah kembali menggenang di kelopak matanya. “Aku tidak mau pergi sebelum memastikan dia kembali.”


“Maaf, Nona. Hanya perintah Sir Killian yang dapat saya terima,” jawab ksatria tersebut.


Pertahanan Katarina akhirnya pecah. Air mata kembali membasahi pipinya yang semakin tirus. Suhu yang semakin dingin dan hujan yang kian lebat tidak menjadi halangan baginya untuk tetap menunggu. Semenjak mendengar suara ledakan yang berasal dari tempat di mana saudara kembaranya kemungkinan berada, dilanjut dengan kobaran api dengan asap hitam yang menjulang tinggi ke langit, perasaan Katarina semakin tidak karuan. Entah apa yang terjadi di tempat tersebut, sepertinya telah terjadi kekacauan.


“Misi ini sangat berbahaya dan Sir Killian telah memprediksi resiko yang harus ditanggung. Sebaiknya Nona juga menerima apa pun hasil dari keputusan yang diambil Sir Killian ketika menjalankan misi bunuh diri ini.”


Perasaan Katarina semakin campur mendengar ucapan kstaria itu. Rasa takut akan kesendirian kembali membuatnya memikirkan banyak hal. Sekarang kondisinya lumpuh, tidak dapat memiliki keturunan pula. Sebagai manusia, Katarina merasa dirinya benar-benar tidak sempurna. Kehadiran Killian adalah doping baru bagi hidupnya yang sudah berada di ujung tanduk.


Katarina kemudian menunduk. Dengan pandangan yang buram oleh air mata, ia menatap nyalang ke arah tanda yang dibuat oleh saudara kembarnya. Tanda berbentuk titik-koma dengan sayap kupu-kupu. Ksatria tadi mengatakan bahwa tanda itu biasa disebut semicolon butterfly. Simbol bagi awal baru yang penuh dengan pengharapan, setelah melewati masa-masa sulit seperti percobaan mengakhiri hidup. Setelah mendengar cerita lengkapnya, Katarina tahu alasan kenapa sang kembaran meninggalkan semicolon butterfly sebelum pergi.


“Nona.”


Katarina terhenyak pelan, kemudian mendongkrak. Menatap ke arah ksatria yang sejak tadi masih berdiri di hadapannya. Dari postur tubuh, Katarina dapat meyakini bahwa ksatria tersebut adalah seorang anggota militer atau setidaknya mantan anggota militer. Namun, jelas bukan anggota militer Robelia dengan visualnya yang sangat dominan pria british.


“Maaf, tetapi kita harus pergi sekarang. Sudah lewat dua menit dari waktu keberangkatan yang seharusnya.”


Katarina menggelengkan kepala seraya menangis tersedu-sedu. Bibirnya tiba-tiba kelu. Pandangannya kembali teralih ke pelabuhan tempat di mana saudara kembarnya menghilang. Walaupun ia sudah berjanji untuk tetap melanjutkan hidup ketika kembarannya tidak kembali, tetap saja ia merasa belum siap.


“Mari kembali ke dalam. Angin malam tidak baik bagi kesehatan Anda.”


Ksatria itu berlutut di hadapan Katarina untuk membenarkan letak selimut yang menutupi sepasang kaki yang tidak dapat berfungsi dengan baik. Ia adalah salah satu kepercayaan Killian yang diberi amanah untuk membawa Katarina sampai dengan selamat di negeri di seberang Barat Daya Robelia.


“Nama saya Keegan. Untuk kedepannya saya yang akan memastikan keselamatan Nona selama Sir Killian tidak ada.”


“Dia pasti kembali.”


“Sesuai perintah Sir Killian, jika sudah lewat tengah malah, maka tidak ada lagi alasan untuk menunggu kepulangannya.”


Katarina masih terisak hebat ketika ksatria bernama Keegan yang memiliki sepasang ocean blue eye dengan surai pirang itu membawa tubuhnya ke dalam gendongan. Katarina tidak memiliki cukup tenaga untuk memberontak, karena kondisinya yang memang masih sangat lemah.


“Kapten Kee!”


Seruan yang datang dari salah satu awak kapal kemudian menghentikan langkah Keegan yang hendak membawa Katarina kembali ke dalam ruangan.


“Ada apa?”


“Ada pergerakan dari arah pelabuhan, satu perahu nelayan terlihat mendekat.”


Keegan tampak waspada ketika mendapati informasi ada pergerakan dari pelabuhan. Ia tidak boleh gagal menjalankan tugas hanya karena memutuskan untuk menunggu kembalinya sang lord lebih lama.


“Mungkin itu dia,” potong Katarina seraya menarik baju bagian dada Keegan. “Tunggu sebentar dan lihat dengan baik. Apa benar dia ada di sana?”


Keegan tampak keberatan dengan ide tersebut. Seharusnya mereka langsung pergi dan mulai perjalanan setelah jam melewati tengah malam. Namun, mereka tetap berada di tempat yang sama sekalipun sudah melewati kesepakatan yang telah ditentukan.


“Tolong jangan keras kepala, Nona. Saya hanya ingin menjalankan tugas dari Sir Killian.”


Katarina menggelengkan kepala dengan kedua tangan berpegang teguh di dada bidang Keegan yang dilapisi kemeja hitam.


“Tunggu sebentar lagi. Kumohon.”


Keegan membuang napas dengan berat ketika melihat wanita yang sangat dilindungi setengah mati oleh lord-nya memohon dengan raut wajah yang begitu memilukan.


“Itu Sir Killian!”


Seruan kembali terdengar dari salah satu awak kabin. Keegan langsung melarikan pandangan ke arah sumber datangnya suara. Tubuh Katarina yang masih berada dalam gendongan Keegan juga langsung menegang ketika mendengar nama kembarannya disebut-sebut. Nama itu tidak diucapkan sekali, karena terdengar suara awak kabin lain yang meneriakkan nama yang sama.


“Nona ternyata benar,” kata Keegan tiba-tiba. Sepasang ocean blue eye teduhnya menatap Katarina yang otomatis terdiam dengan jejak air mata di wajahnya. “Sir Killian kembali.”


Rupanya intuisi sepasang anak kembar memang kuat. Keegan sempat meragukan kepercayaan akan intuisi, tetapi wanita asing yang tidak berdaya dalam gendongannya langsung memberikan bukti secara nyata.


“Dia kembali,” ucap Katarina dengan suara kecil. Ada senyum yang mulai terbit ketika ia memperhatikan beberapa awak kapal yang membantu seseorang untuk naik ke kapal layar tersebut.


Sebuah tangga darurat diturunkan. Beberapa orang sibuk mengawasi—apakah ada musuh yang mengintai atau mengikuti di belakang—ada pula yang sibuk mengutamakan keselamatan lord (tuan) mereka. Tidak sampai menunggu lima belas menit pasca perahu nelayan tertangkap mata mendekati kapal, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba dengan kondisi tubuh yang sudah bersih dari cairan kental berwarna merah. Hanya sama masih ada sisa noda dari cairan berbau anyir itu di pakaiannya.


“Kakak.”


Katarina mengeluarkan suara dengan terbata. Tenggorokannya hampir kering, tetapi air matanya seolah-olah tidak pernah habis. Melihat sosok tinggi dengan ciri khas dua bilah pedang di belakang punggung mendekat, ia langsung berderai air mata lagi. Embel-embel “kakak” juga keluar begitu saja dari mulutnya.


“Kakak.”


Keegan tahu apa yang diinginkan wanita itu ketika mengucapkan kalimat yang sama untuk kedua kalinya. Maka ia bergerak, mendekat ke arah sang pemimpin.


“Sir, saya senang Anda kembali dengan selamat.” Hormat diberikan Keegan lewat gerakan menundukkan kepala.


Anggukan kecil diberikan sebagai jawaban oleh lawan bicaranya. Tidak berlangsung lama, etensi kembali berpusat pada satu-satunya wanita yang ada di antara mereka. Tanpa banyak bicara, pria muda itu meringsek maju dengan senyum kecil yang terpatri di bibir.


“Kamu tidak takut dengan darah?”


Katarina yang masih terisak kecil menggelengkan kepala dalam gendongan Keegan. Ia memang tidak takut akan darah. Melihat kembarannya pulang dengan selamat adalah yang utama baginya. Banyaknya cairan kental berwarna merah yang menghiasi pakaiannya, itu menjadi bukti bahwa pertarungan sengit antara anak dan ayah benar-benar baru saja terjadi.


Killian kemudian tidak bicara lagi. Keegan juga tidak perlu diberi tahu secara verbal—secara lisan—ketika sang tuan ingin mengambil alih wanita yang ada dalam gendongannya. Tidak sampai dua puluh menit, wanita bertubuh kurus itu kembali berpindah tangan dengan isak tangis yang masih bertahan. Seolah menemukan rumah serta sosok pelindung yang ditunggu dan dicari-cari semenjak berjam-jam lalu, wanita itu langsung menyusupkan wajahnya di dada bidang sang kembaran. Kedua tangannya lekas menjalar ke bahu, kemudian melingkar di belakang leher.


“Terima kasih sudah kembali.”


Kalimat itu diucapkan dengan sangat pelan, tetapi Killian baik Keegan masih dapat menangkapnya.


“Ayo kita pergi. Aku akan ikut ke mana pun Kakak pergi.”


Mendengar ungkapan tersebut, Charteris Killian de Meré tampak bereaksi sederhana; senyum mengembang sedikit lebih lebar. Dengan kedua tangan bekerjasama untuk menggendong kembarannya ala bridal style, ia mulai melangkah dengan lebar.


“Baiklah. Ayo kita tinggalkan tempat ini dan mulai hidup baru di tempat lain,” ucapnya kemudian. “Hanya ada kita berdua di sana. Tidak akan ada lagi.”


Ucapan itu disetujui dengan anggukan kepala ringan Katarina. Air matanya mulai menyusut, begitu pula dengan isak tangisnya yang mulai mereda. Sekarang ia tidak sendirian lagi, karena sang kembaran telah kembali dan akan membawanya menuju tempat di mana hanya ada mereka berdua di sana.


“Angkat jangkar, kita berangkat untuk berlayar!” seru Keegan ketika sang tuan telah berlalu bersama dengan wanita yang sudah sejak lama ia awasi. “Hiduplah dengan bahagia, My Lord. Sekarang beban di pundak Anda sudah terangkat.”


💰👑👠


Bersambung


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Jangan lupa dukung Author dengan cara LIKE, VOTE, TONTON IKLAN SAMPAI HABIS, RATE BINTANG 5 🌟 KOMENTAR & FOLLOW, Author Kaka Shan + IG Karisma022 😘👇


Mampir juga ke cerita teman Author 👇



Tanggerang 20-10-23