How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0054. Son Vrai Chatiment Au Roi Et à Sa Councubine (Hukuman yang sebenarnya bagi



0054. Son Vrai Chatiment Au Roi Et à Sa Councubine (Hukuman yang sebenarnya bagi Raja dan gundiknya)


Pernah dengar kalimat; manusia akan benar-benar merasa kehilangan seseorang yang dianggap tidak penting, ketika seseorang itu sudah tidak lagi bersamanya? Jika pernah, maka kondisi itu yang sekarang dirasakan oleh Kaizen. Setelah menyelesaikan pengadilan, pasca mantan Ratu pergi meninggalkan Robelia, Raja langsung kembali ke peraduannya. Ia berpesan pada Kaelus agar tidak diganggu oleh siapun, sampai ia memberikan izin.


Kaizen butuh waktu sendiri untuk berpikir. Setelah melihat wanita yang membersamai dirinya sejak lama pergi dengan lapang dada, ia … merasakan sesak yang luar biasa. Apa pilihannya benar? atau salah? Lantas, bagaimana?


Ibarat kata, nasi telah menjadi bubur. Dokumen perceraian telah ia setujui. Sekarang, tidak ada lagi ikatan perkawinan di antara mereka. Memerlukan cara ekstra untuk membawa wanita itu kembali ke sisinya.


Pertama-tama, Kaizen harus meredakan situasi dan kondis istana. Ia harus mengamankan posisi Ratu terlebih dahulu. Setelah posisi Ratu kosong, maka fraksi yang pro terhadap Katarina pasti akan mendesaknya. Untuk beberapa waktu, Kaizen bisa menahan Katarina supaya tidak merebut posisi Ratu. Mengingat wanita itu tak akan bisa mengandung penerusnya. Tidak, sebelum Kaizen memberikan kehendak. Sejauh ini, ia yakin seratus persen jika Katarina tidak akan mengandung calon pewarisnya.


Di sisi lain, ia juga harus waspada pada gerakan di bawah radar. Fraksi netral yang berada di antara fraksi pro dan kontra terhadap Katarina bisa saja melakukan segala cara untuk menghadirkan kandidat calon Ratu baru. Tidak menutup kemungkinan jika mereka akan menyodorkan wanita muda untuk memuaskannya di atas ranjang. Kaizen harus waspada. Bukan masalah ia akan tergoda atau tidak. Namun, ia tahu selicik apa perebutan para fraksi ketika menyadari ada tahta yang kosong. Kaizen tidak meragukan pertahanan dirinya, karena belakang ini hormon untuk berhubungan badan seolah-olah terkuras dari tubuhnya.


Katarina yang merupakan wanita nomer satu dalam menaklukkan bir*hi-nya saja tidak mampu membangkitkan “rudal tempur” miliknya. Entah kenapa, namun ada setitik rasa jijik, hingga mual ketika memaksakan diri untuk meraih kesenangan dunia bersama wanita. Terakhir kali ia bisa merasakan nafsu yang menggebu-gebu adalah malah di mana ia seharusnya menghabiskan waktu bersama Kayena, namun malah berakhir bersama Katarina.


Sampai sekarang Kaizen juga masih melakukan penyelidikan. Mengingat ada yang janggal pada peristiwa tersebut. Terutama soal kesadarannya yang tiba-tiba menghilang, serta ingatan yang terhapus begitu saja. Ia menduga jika ada yang salah dari red wine yang malam itu diminum. Mungkin ada yang sengaja …


“Yang Mulia.”


Praduganya terpotong begitu saja ketika merasakan sepasang lengan melingkari pinggang.


“Kenapa Yang Mulia tampak tidak bahagia? Bukan kah peristiwa hari ini adalah bagian dari rencana?” kata pemilik sepasang lengan itu. “Yang Mulia tidak perlu risau. Bukan kah Yang Mulia percaya diri akan membawa kembali Ratu?”


“Tutup mulut mu, sebelum aku membungkam mulut mu dengan tangan ku sendiri.”


Alih-alih gentar, wanita itu malah kian mengeratkan pelukannya. “Bibir,” ucapnya, memberi kode. “Lebih baik bibir Anda yang melakukannya,” lanjutnya dengan nada sensual. “Bungkam bibir saya seperti biasa.”


Kaizen mengeram lirih. Bukan senang, namun berang. “Katarina, pergilah. Aku sudah meninggalkan pesan pada Kaelus agar tidak ada seorang pun yang mengganggu waktu istirahat ku.”


“Saya datang bukan untuk menganggu, namun ingin mengingatkan sesuatu.”


“Apa?” Kaizen melepaskan pelukan Katarina agar mereka bisa berhadapan. “Suasana hatiku sedang buruk, jadi sebaiknya kau jangan berbelit-belit.”


“Anda berubah,” ucap Katarina. “Saya seperti tidak mengenali Anda semenjak Kayena meminta perceraian.”


“Jaga bicara mu. Panggil Kayena menggunakan—“


“Dia bukan lagi Ratu Robelia!” seru Katarina, berhasil memotong kalimat Kaizen. “Sampai kapan Anda akan bersikap begini pada saya? Apa Anda … bermaksud mencampakkan saya setelah apa yang telah kita lewati bersama?”


Kaizen terdiam setelah mendengar cecaran kalimat tersebut.


“Saya rasa sudah waktunya kita memiliki seorang bayi.”


“Katarina …”


“Saya menginginkan seorang bayi,” tegas Katarina dengan gerakan tubuhnya yang spontan. Mengikis jarak di antara mereka hingga tak tersisa.


“Tidak.”


Namun, justru respon yang tidak ia harapkan yang ditunjukkan oleh Kaizen. Sebuah penolakan.


“Tidak akan ada bayi yang lahir dari rahim mu,” ucap Kaizen, yakin sekali. “Kau juga sudah berjanji akan membantu ku membawa Kayena kembali. Jangan pernah mengingkari janji yang telah kita sepakati.”


Kali ini Katarina yang terdiam. Tak merespon untuk beberapa waktu. Setelah Kaizen menurunkan kedua tangannya, ia kembali merespon lewat sebuah action.


Plak!


“Baj*ngan!”


Kaizen membulatkan mata sempurna ketika rahangnya baru saja ditampar oleh Katarina. “Apa-apaan kau, jal*ng rendahan?!” murkanya, tak terima.


“A-pa?”


“Berani-beraninya kau mengangkat tangan kepada Matahari Kekaisaran!”


Katarina menggelengkan kepala dengan air mata yang bercucuran. “Anda yang terlebih dahulu menghancurkan perasaan saya,” katanya kemudian. “Anda yang tiba-tiba berubah. Anda bukan lagi pria yang mencintai saya sepenuhnya jiwa dan raga.”


💰👑👠


TBC


Gimana perasaan readers setelah baca bab ini?


Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 09-06-23