How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00135. Cette fois, je ne le lâcherai pas (Kali ini tidak akan aku biarkan)



00135. Cette fois, je ne le lâcherai pas (Kali ini tidak akan aku biarkan)


Sebenarnya Kaelus berniat untuk langsung memberitahu kebenaran yang telah ia temukan kepada Kaizen. Kendati demikian, ia merasa masih butuh lebih banyak bukti untuk menguatkan temuannya. Ia kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah wanita yang telah membesarkannya, selepas mencari informasi di ruang arsip. Ia butuh ketenangan.


“Makanlah yang banyak, Kael. Kamu harus menjadi ksatria yang sehat dan kuat jika ingin terus menjaga Yang Mulia Raja.”


Kepulangannya malam itu disambut gembira oleh wanita yang telah membesarkannya dengan baik. Wanita yang hampir semua helai rambutnya telah berubah warna. Walaupun sudah tidak muda lagi, wanita itu selalu mengolah makanan lezat dengan tangannya sendiri untuk menjamu perut Kaelus—anak laki-laki tanpa ayah yang ia rawat seperti anak sendiri.


“Istirahatlah, nek. Hari ini aku mampir untuk bermalam. Besok pagi, ada yang ingin aku tanyakan lagi pada nenek.”


Setelah menghabiskan satu porsi daging sapi yang dimasak dengan bumbu dan rempah, tidak lupa dengan nasi sebagai pendamping, Kaelus mengantarkan wanita yang sudah berjasa besar dalam hidupnya itu untuk segera beristirahat. Ia sendiri memilih untuk menikmati udara malam di sekitar rumah masa kecilnya, sembari merenungkan kembali temuannya yang mengejutkan. Besok pagi, ia berencana untuk kembali menggali informasi dari wanita yang membesarkannya.


Kaelus memang tidak dibesarkan langsung oleh ibunya. Semenjak kecil, Kaelus sudah tidak memiliki ayah. Jadilah sang ibu yang harus banting tulang untuk mencari pundi-pundi Piéces de bronze. Padahal dulunya sang ibu adalah putri seorang Count. Dilahirkan sebagai putri seorang Count, tentu membuat ibu Kaelus tidak pernah hidup dalam kekurangan. Namun, kebahagiannya tidak pernah terjamin oleh banyaknya kekayaan yang dimiliki.


Bisa dibilang jika Kaelus masih mewarisi darah salah satu keluarga bangsawan Robelia. Hanya karena ibunya memutuskan untuk pergi dari rumah—mengikuti pria yang dicintainya—ketika hendak dijodohkan, anak laki-laki yang dilahirkannya pun tidak pernah diakui sebagai bagian dari keluarga sang Count.


“Nenek?” panggil Kaelus ketika fajar mulai menyingsing pagi itu. Tumben, pikirnya dalam hati.


Tungku usang di dapur rumah kecil tersebut belum menyala. Padahal, biasanya tungku sudah menyala sebelum fajar menyingsing. Dikarenakan hendak pergi lagi, Kaelus bergegas mencari wanita yang membesarkannya untuk berpamitan. Pagi ini pekerjaannya cukup banyak, begitu pula dengan sang Raja. Ada beberapa hal yang harus ia selesaikan sebelum afternoon party sore nanti digelar, barulah ia akan berbicara pada sang Raja.


“Nek, ada yang ingin aku tanyakan. Semalam aku belum sempat …” kalimat itu terpotong begitu saja, ketika Kaelus berhasil membuka pintu kayu yang merupakan penghubung menuju kamar pemilik rumah.


Dalam beberapa detik, pria tinggi, tegap, serta gagah itu terdiam di depan pintu dengan posisi satu tangan masih memegang daun pintu. Sedangkan kedua bola mata coklatnya terpaku pada seonggok tubuh yang berbaring alami di atas tempat tidur.


“Nenek sakit?” tanyanya ketika memutuskan untuk melangkah masuk. “Apa perlu aku …” kali ini kalimatnya spontan dipotong, karena kedua bola matanya menemukan keanehan.


“Nek?” panggilnya lagi. Kali ini ia telah berjongkok di samping tempat tidur kayu yang sudah tampak lapuk. Mengamati wanita tua yang wajahnya tampak pucat dan dingin. Hanya ada warna merah segar yang tampak mengotori sekitar bibir, hidung, hingga lubang telinga. Salah satu tangannya kemudian terulur, memastikan jejak-jejak kehidupan lewat lubang hidung. Namun, hasilnya nihil.


Tidak ada napas. Tubuh wanita tua itu sudah dingin. Wajahnya yang pucat seperti tidak dialiri darah, berhasil membuat Kaelus tertunduk detik itu juga. Tangisnya tidak dapat dibendung. Selain kematian sang ibu yang terbilang tidak terduga, kematian wanita tua ini juga sama-sama tidak terduga dan berhasil membuatnya merasakan kesedihan yang luar biasa.


Duka yang terjadi secara tiba-tiba itu tentu saja langsung menarik perhatian orang-orang sekitar. Kaelus tidak mau memberi informasi lebih lanjut terkait kematian neneknya yang tiba-tiba. Ia memilih bungkam, setelah meminta seorang dokter kenalannya memeriksa kondisi sang nenek untuk terakhir kalinya.


Proses kremasi jenazah langsung dilakukan hari itu juga. Berlokasi di sebuah krematorium umum milik wilayah tempatnya di besarkan, Kaelus mengurus hingga menunggu prosesi pembakaran seorang diri. Kedua tangannya terus terkepal sepanjang waktu ia menunggu, sedangkan isi kepalanya melanglang buana ke mana-mana.


“Tolong hanyutkan sisa abu Nenekku di sungai besar. Aku harus segera kembali ke istana,” pintanya pada seorang kerabat.


Dikarenakan neneknya hidup sebatang kara, tidak ada sanak-saudara selain Kaelus yang mengurus kematiannya. Di saat proses kremasi selesai, Kaelus kemudian meminta abu neneknya dibagi ke dalam dua tempat. Satu untuk dilarung ke sungai besar—sungai utama yang mengaliri wilayah ibu kota Robelia bagian barat. Sedangkan satu lagi akan Kaelus simpan bersama dengan abu mendiang ibunya.


Kaelus berusaha tetap tegar dan bersikap biasa saja ketika kembali ke istana dan langsung menuju balai Ksatria. Di sana ia langsung menyelesaikan tugasnya yang sempat tertunda. Kemudian, Kaelus pergi untuk memastikan persiapan afternoon party. Belum ada waktu untuknya bicara pada sang Raja, sampai ia dipertemukan dengan salah seorang rekan ksatria yang mengajaknya mengisi perut bersama. Dikarenakan enggan mengisi perut, Kaelus hanya meneguk segelas air putih untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?”


Kaelus yang sudah berbaring di atas ranjang tampak terbatuk kecil ketika hendak menjawab. “Ini hanya reaksi normal, karena saya lupa meminum penawar racun yang biasa.”


Sikap tenang ksatria muda itu berbanding terbalik dengan Raja Robelia yang berdiri di samping ranjang. “Bagaimana bisa kau lupa meminumnya? Sudah aku katakan berulang kali, minum penawar itu setiap hari.”


Ditegur demikian, Kaelus tampak menghela napas dalam. “Pagi ini saya kehilangan nenek saya,” katanya dengan tangan menekan bagian dada. “Saya terlalu syok, sehingga melupakan sebagian rutinitas saya.”


Raja Robelia tampak tertegun mendengar kabar duka yang baru disampaikan oleh tangan kanannya. “Nenekmu meninggal?”


Kaelus mengangguk kecil sebagai jawaban.


“Apa penyebabnya? Nenekmu sakit?”


“Bukan, Yang Mulia. Kondisi nenek baik-baik saja kemarin,” jawab Kaelus. “Tubuhnya tampak bugar seperti biasa. Lalu, pagi tadi saya menemukan nenek dalam kondisi sudah meninggal dunia di kamarnya.”


“Apa ditemukan indikasi pembunuhan?”


Kaelus menatap lawan bicaranya dengan sorot ragu. “Saya sudah memiliki firasat jika peristiwa seperti ini akan terjadi,” ujarnya kemudian. “Apalagi setelah saya mengetahui fakta bahwa wanita Anda adalah anak haram dari Klautviz de Meré.”


Kaizen, Raja Robelia yang tampil gagah dengan setelah kebanggan itu tampak menggeram marah. “Dari mana kamu mendapatkan informasi itu?”


“Dari sekumpulan dokumen yang telah saya analisa sendiri.” Kaelus terbatuk lagi. Kaizen kemudian dengan sigap memberikan segelas air.


“Apa yang kau makan hari ini?” tanya Kaizen, mengalihkan pembicaraan.


“Segelas air putih.” Kaelus menjawab dengan mantap. “Sepertinya ini jenis racun yang tidak berbau dan berasa, Yang Mulia. Dosisnya mungkin tidak lebih dari satu tetes, karena rasa sakitnya—“


“Racun tetaplah racun!” potong Kaizen dengan emosi yang meninggi. “Tubuhmu bukanlah sebongkah baja atau besi,” lanjutnya. “Itulah mengapa aku selalu mengingatkan kau untuk meminum obat penawar yang aku berikan.”


“Maafkan saya, Yang Mulia.” Kaelus sungguh-sungguh meminta maaf. Penyesalan juga tampak jelas tergambar di wajah pucatnya.


“Ck.”


Kaizen berdecak seraya berjalan ke arah meja kayu dekat pintu. Sejak jauh-jauh hari, Kaizen telah mewanti-wanti kondisi seperti ini. Itulah kenapa ia rutin memberikan satu botol kecil obat penawar yang diracik olehnya sendiri. Pil tersebut dibuat untuk meningkatkan kekebalan tubuh hingga melawan racun kelas rendah hingga menengah.


“Cepat minum!” perintah sang Raja. Ia sangat mencemaskan kondisi tangan kanannya, sampai-sampai tidak sadar dengan pesta yang ditinggalkan begitu saja.


“Kondisi saya baik-baik saja, Yang Mulia. Tadi saya langsung menjumpai Anda, karena takutnya nyawa saya …”


“Berhenti bicara omong kosong,” potong Kaizen. “Memangnya apa saja yang kamu temukan?”


Setelah meminum penawar tingkat S yang sangat langka dan mujarab, Kaelus mengambil posisi duduk bersandar pada ranjang. “Kebenaran yang membuat saya yakin jika Selir tingkat IV adalah anak haram Klautviz de Meré dengan wanita penghibur bernama Karla Kannelite. Saya bukan asal bicara tanpa disertai bukti, tetapi saya telah mengumpulkan banyak informasi yang dapat dijadikan sebagai bukti. Semua telah saya rekap dalam satu dokumen.”


Kaizen masih tampak datar. Memilih diam ketika Kaelus mulai menjelaskan kronologi peristiwa yang menimpa dirinya. Kaizen mungkin masih syok dengan fakta bahwa selama ini ia meniduri anak haram dari pamannya sendiri. Itu berarti, Katarina masih satu leluhur dengannya. Bisa dibilang Katarina adalah saudari sepupunya sendiri.


“Si*l,” umpat Kaizen, murka. Bisa-bisanya ia ditipu habis-habisan selama ini. “Selama ini anak haram pria itu menjelma menjadi teman ranjangku?”


Kaelus mengiyakan lewat anggukan singkat.


“Sial*n. Benar-benar kebenaran yang menjijikan.”


Kaizen murka. Emosinya bergejolak semenjak ia mengetahui fakta terkait latar belakang wanita yang menjadi pemuas nafsunya. Terbesit sedikit rasa lega, dikarenakan ia tidak membiarkan wanita itu mengandung benihnya. Sungguh, sebuah keputusan yang sangat tepat.


Siapa juga yang menyangka jika wanita itu adalah anak haram dari Klautviz de Meré alias pamannya sendiri? benar-benar kebenaran yang tidak diduga-duga. Kebenaran yang berhasil membuat Kaizen marah, tidak percaya, jijik, muak, dan benci. Rasa-rasanya mual dan ingin muntah setiap mengingat malam-malam panas yang telah dilewati bersama anak haram pamannya sendiri.


“Sekarang apa yang akan Anda lakukan?” tanya Kaelus, hati-hati.


“Urus keselamatanmu terlebih dahulu,” balas Kaizen. “Biarkan obatnya bekerja, supaya semua racun yang terlanjur ditelan dapat dinetralisir. Tubuhmu terbilang prima, sekalipun racun itu tertelan dan masuk ke dalam lambung.”


“Saya sudah sempat mengeluarkannya secara konvensional.” Kaelus membela diri. Semenjak menjadi tangan kanan Kaizen, ancaman kematian seperti ini sudah kerap kali terjadi. Maka tidak heran jika ia sudah terbiasa. Dari sana pula Kaelus belajar untuk melindungi dan mengupayakan keselamatan diri sendiri sebelum atau sesudah racun masuk ke tubuhnya.


Dulu Kaelus pernah berpikir, dari mana datangnya pengetahuan sang Raja Robelia terkait berbagai jenis obat-obatan, racun, sampai pencegahan dan pengobatannya. Rupanya Raja Robelia memang salah seorang Alkemis yang sudah jarah dijumpai pada periode ini.


“Beristirahatlah di sini sampai kondisi jauh lebih baik. Aku harus pergi.”


“Apa yang akan Anda lakukan setelah ini, Yang Mulia?” tanya Kaelus sebelum Raja Robelia beranjak. “Anda telah dibohongi sejak awal. Saya memang tidak yakin, apakah Selir Katarina mengetahui identitasnya sebagai anak Klautviz de Meré atau tidak. Akan tetapi, jika Selir Katarina mengetahuinya, maka sudah jelas ada rencana besar yang membuat Klautviz de Meré ikut serta melibatkan anaknya. Rencana ini pasti sudah dibuat semenjak belasan tahun silam.”


Di tempatnya berdiri, Kaizen tampak mengepalkan kedua tangannya. Aura gelap kian menyelimuti, bersamaan dengan isi kepala yang direcoki oleh berbagai kemungkinan.


“Kali ini tidak akan aku biarkan,” ucapnya sebelum berlalu begitu saja.


Kaelus yakin jika amarah akan membuat Raja Robelia itu bertindak gegabah. Namun, siapa yang tidak marah jika berada di posisi Kaizen?


Sementara itu di tempat lain, Katarina tampak menggunakan kesempatan dengan sebaik mungkin. Sepeninggalan Raja, ia berlagak sebagai nyonya rumah—mengingat ialah satu-satunya wanita Raja yang tersisa. Secara tidak langsung, ia juga memperingati para Lady yang hadir, bahwa posisinya sangatlah penting. Selain satu-satunya, ia juga merupakan kekasih tercinta Raja Robelia.


“Jadi, Nona Katarina mengizinkan Yang Mulia Raja memiliki pendamping lain?”


Katarina sebenarnya muak dipanggil dengan embel-embel “nona”. Mengingat sekarang ia adalah selir tingkat IV, maka sebutannya bukan lagi Yang Mulia, melainkan “nona” saja.


“Benar. Saya mengizinkan Yang Mulia mengambil wanita lain sebagai pendamping, karena memang Yang Mulia membutuhkan pendamping untuk mengurus Negara.”


“Kenapa tidak Nona Katarina saja yang mengurus segalanya? maksud saya bersama dengan Yang Mulia Raja. Jadi, tidak perlu ada wanita lain di antara Nona Katarina dan Yang Mulia,” ujar salah seorang Lady yang kala itu menjadi salah satu lawan bicara Katarina.


Dari tempatnya berdiri, Katarina tampak tersenyum pongah. “Saya memiliki tempat istimewa tersendiri bagi Yang Mulia. Sedangkan wanita yang nantinya akan mendamping Yang Mulia, kurang lebih akan berperan seperti mantan Ratu.”


Kalimat yang dilontarkan Katarina barusan tentu saja membuat para Lady yang ada di sekitarnya bungkam. Mereka datang dengan harapan tinggi, walaupun tahu jika Raja Robelia hanya ingin menjalin pernikahan untuk hubungan politik. Tetap saja, mendengar ucapan Katarina, ada rasa insecure yang hadir.


“Ah, rupanya kekasih saya telah kembali.” Katarina berkata dengan gembira kala melihat Kaizen kembali muncul di tengah-tengah pesta.


Dengan senyum lebar yang terpatri, ia sangat siap menyambut kehadiran Kaizen yang tengah berjalan. Pandangan pria itu hanya terkunci padanya. Pasti wanita lain di tempat ini sekarang merasa iri.


“Yang Mulia …”


“Maaf membuat mu menunggu lama. Ada sedikit urusan yang harus saya selesaikan,” ucap Raja Robelia. Namun, bukan kepada Katarina, melainkan pada Lady Cyrene Asterya d’Oclean yang berdiri di tempat belakang Katarina.


“Semoga keterlambatan ini tidak membuat Anda menolak niat baik saya untuk melamar Anda, my Lady.”


Kalimat terakhir yang diucapkan Raja Robelia berhasil membungkam semua orang, tidak terkecuali Katarina. Itik buruk rupa yang bermimpi menjadi angsa itu, malam ini malah mempermalukan dirinya sendiri.


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 18-08-23