How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00101. L'audience a été pleine de surprises (Lanjutan sidang putusan penuh



00101. L'audience a été pleine de surprises (Lanjutan sidang putusan penuh kejutan)


“Selain kedua putusan untuk terdakwa, Yang Mulia Raja juga ingin membersihkan nama mantan Ratu Robelia, Kayena de Pexley. Karena tidak ditemukannya kebenaran terkait hubungan terlarang dengan Pangeran Kaezar, kedepannya ibu dari mendiang Putra Mahkota tidak boleh disebut sebagai mantan Ratu. Namun, perlu diingat jika selamanya beliau adalah Ratu di seluruh rakyat Robelia. Setiap langkah yang membawanya memasuki wilayah Robelia, akan disambut dengan tangan terbuka serta penghormatan dari berbagai lapisan masyarakat.”


Jika mereka berpikir pembacaan putusan telah selesai, karena putusan terakhir sudah dibacakan, maka mereka salah. Setelah putusan untuk kedua terdakwa dibacakan, ada tambahan putusan terkait pembersihan nama mantan Ratu Robelia, yaitu Kayena de Pexley. Raja Robelia bahkan berurusan dengan notaris kerajaan semalaman suntuk demi memikirkan keputusan untuk membersihkan nama mantan Ratu. Hasilnya, pagi ini ia berhasil mengejutkan semua orang dengan putusannya terkait kehormatan yang dikembalikan pada mantan istrinya.


“Perceraian di antara Raja dan Ratu Robelia yang saat ini berkuasa juga dapat diperbaiki di kemudian hari, jika memang kedua belah pihak setuju untuk kembali bersama. Kehormatan keluarga Pexley juga akan dikembalikan seperti sedia kala, karena keluarga mereka sudah berjasa besar pada kerajaan.”


Bak jatuh, tertimpa tangga pula. Baik Klautviz de Meré maupun Katarina tidak menyangka jika ada putusan tambahan seperti itu. Rupanya, selain ingin mengambil keputusan dalam zona aman, Raja Robelia juga ingin kembali mendapatkan apa yang sempat tidak rela ia lepaskan. Namun, siapa yang menyangka jika Raja Robelia juga akan memberikan keputusan yang mempermudah mantan Ratu Robelia serta keluarga Grand Duke Pexley.


“Keputusan Raja Robelia tidak dapat ditentang oleh siapapun, kecuali jika Duke of Edinburgh ingin menyampaikan saran.”


Rupanya, di antara mereka bertiga yang berdiri di hadapan Raja, hanya Duke of Edinburgh yang diberi kesempatan untuk bicara. Sejak tadi pria rupawan dengan seragam tentara angkatan laut itu berdiri dalam diam, menyimak semua putusan yang berasal dari Raja Robelia. Ia sudah menebak bahwa kemungkinan besar pria itu tidak akan mengeluarkan “hukuman mati” karena terlalu riskan pada kekuasaannya.


Hukuman yang Raja Robelia berikan cukup setimpal, karena dengan demikian, sekutunya sendiri akan kehilangan power sedikit demi sedikit. Ketika mereka kehilangan power, ia akan lebih mudah mengatur serta mengarahkan mereka.


“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya,” kata Khayansar ketika akhirnya buka suara, setelah maju dua langkah dari jajaran Klautviz de Meré dan Katarina. “Raja Robelia telah memenuhi janjinya dengan membersihkan nama Adik saya. Saya mengucapkan berterima kasih untuk itu. Namun, ada yang terlewat ketika pembacaan putusan.”


“Jika saya boleh tahu, apakah itu Duke of Edinburgh?” tanya utusan Pengadilan Tinggi.


“Putusan terhadap saksi kunci yang telah ditembak mati oleh paman Raja Robelia, Klautviz de Meré.”


Suasana di ruangan yang tadinya sempat riuh oleh bisik-bisik, kini kembali menjadi ladang keheningan. Mereka juga baru menyadari kebenaran dari perkataan Khayansar yang membawa-bawa soal saksi kunci yang ditembak mati oleh Klautviz de Meré. Walaupun terdakwa pelaku sudah dijatuhi hukuman, namun putusan untuk memberikan ketenangan pada korban belum diberikan.


Sebelum dinyatakan meninggal dunia, Kyara adalah saksi kunci. Keselamatannya dilindungi oleh Pengadilan Tinggi. Namun, mereka melupakan bagian Kyara, di mana seharusnya ia diberikan keistimewaan dengan cara dibersihkan nama baiknya.


“Mendiang adalah saksi kunci yang seharusnya dilindungi. Dia tewas dengan cara yang mengenaskan, serta dituduh sebagai pengkhianat yang mencemarkan nama baik wanita Raja. Lalu di mana keadilan untuknya?”


Utusan Pengadilan Tinggi tidak bisa menjawab, karena memang tugasnya hanya sebatas menyampaikan putusan. Sedangkan isi dari putusan itu sendiri disusun serta dipertimbangkan oleh Raja dan para petinggi Pengadilan Tinggi.


Melihat ketidakmampuan utusan Pengadilan Tinggi menghadapi serangan tiba-tiba yang dilayangkan oleh Khayansar, Kaizen kali ini tidak bisa tinggal diam. “Sepertinya masalah ini sempat luput dari perhatian,” ujarnya, membuat perhatian para audience kini berpusat kepadanya.


“Masalah mendiang pelayan Selir Katarina, saya sudah memikirkannya. Berkat keberanian mengungkapkan keberanian, dia berhak mendapatkan pujian. Di sisi lain, tindakannya mengkhianati majikan yang sudah mengangapnya seperti saudara sendiri tidak dapat dibenarkan. Keadilan yang dapat saya berikan hanya sebatas pembersihan nama baiknya sebagai saksi, Kerajaan juga akan memberikan satu juta Piéces d’or untuk keluarga yang ditinggalkan.”


“Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia Raja,” ujar utusan Pengadilan Tinggi, merespon kecepatan sang pemimpin dalam memutuskan keadilan bagi mendiang Kyara.


Akan tetapi, bagi Khayansar, keputusan itu terlalu “murah” jika ditukar dengan satu nyawa yang telah dikorbankan. Iming-iming pemberian satu juta Piéces d’or untuk keluarga yang ditinggalkan juga ibarat “pemanis” bagi mereka yang harus merelakan seorang putri.


“Jika itu keputusan yang dapat diberikan oleh Raja Robelia, saya berani menilai bahwa putusan ini sangat tidak sebanding.”


Komentar Khayansar yang sangat berani tentu saja menuai respon positif dan negatif. Namun, sebagian besar dari audience tahu berapa skala kejeniusan putra sulung Khiev de Pexley. Pria yang digadang-gadang bisa menjadi menantu dari Royal Family itu tidak akan bicara sembarangan, tanpa pertimbangan.


“Lalu, menurut Duke of Edinburgh, apa keputusan yang seharusnya diambil?” tantang Raja Robelia.


“Tidak ada yang harus diubah dari keputusan Anda, saya hanya ingin menambahkan perlindungan untuk keluarga mendiang saksi kunci. Sama halnya dengan saksi lain, keluarga mendiang saksi kunci akan sepenuhnya berada dalam perlindungan saya.”


“Kenapa Anda bertingkah sok bijaksana, Duke of Edinburgh? Dalam kasus ini, Anda sangat melindungi para saksi yang sebenarnya tidak seberapa penting.”


Sahutan itu berasal dari belakang tubuh Khayansar, lebih tepatnya berasal dari Selir Raja Robelia yang saat ini berkuasa. Menyerobot bagian sang Raja yang hendak bicara.


“Bukan bertingkah sok bijaksana, tetapi ini adalah rasa terima kasih saya kepada mereka yang mau bersaksi untuk mengungkapkan kebenaran,” balas Khayansar, bijak. “Jika bukan karena mereka yang berani buka suara, kebusukan wanita Raja Robelia yang diagungkan mungkin tidak akan terungkap.”


Tanpa membalikkan badan, Khayansar berhasil melontarkan balasan yang membuat lawan bicaranya terdiam. Wanita itu hampir saja melangkah maju untuk melabrak Khayansar, pria yang dulu pernah membuatnya tertarik. Namun, gerakannya ditahan Klautviz de Meré.


“Jangan gegabah, karena itu hanya akan merugikan posisi mu,” ujar Klautviz de Meré, setengah berbisik pada Katarina.


Namun, Khayansar punya indra pendengaran yang peka. Ia masih bisa mendengar ujaran tersebut, ujung bibirnya tertarik tipis secara diam-diam.


“Ada lagi yang Duke of Edinburgh inginkan?” tanya Raja Robelia. Dari tindak-tanduknya, ia sengaja memenuhi segala keinginan lawan bicaranya, karena saat ini Khayansar lah tokoh paling berpotensi untuk mengacak-acak kerajaan Robelia. Lihat saja bawaan pria itu, kurang lebih ada 4.00 pasukan yang sudah siap menyerbu Robelia di luar sana.


“Jika hanya itu yang dapat Raja Robelia berikan untuk membersihkan nama Adikku, serta memberi keadilan untuk mendiang saksi kunci, saya tidak berniat untuk menuntut apa-apa lagi.”


Ada rasa lega yang mendera perasaan Kaizen selaku Raja Robelia. Akhirnya, setelah satu minggu dikejar-kejar oleh tuntutan yang diberikan Khayansar, ia akhirnya bisa bernapas dengan lega. Namun, di sisi lain, ia merasa jika Khayansar masih kurang puas dengan keputusan tersebut. Pria itu terlihat punya gambaran lebih soal putusan yang hari ini dikeluarkan. Dari ekspresi wajahnya yang tampak masih tenang, tidak lagi terlihat hendak melontarkan “bom waktu” lewat kalimat-kalimat pedasnya, Kaizen seharusnya lega.


“Saya hanya ingin mengingatkan satu hal, sebelum pergi dari tempat ini.”


“Silahkan katakan, Duke of Edinburgh. Tidak ada yang melarang Anda di sini.”


“Hari ini saya tidak lagi memiliki kesempatan untuk menyeret wanita Anda ke penjara,” ujarnya tiba-tiba. Mengungkit perjanjian darah yang sempat ia, karena konfrontasi Klautviz de Meré. “Maka, suatu hari nanti saya akan memastikan bahwa wanita yang Anda lindungi hingga saat ini akan bersujud di depan kaki Adik saya,” lanjutnya dengan aura dingin yang mampu membuat seisi ruangan tercekat.


“Saya juga akan memastikan bahwa Adik saya yang telah dipermalukan dan dibuang begitu saja, tidak akan kembali menjadi istri dari pemimpin negeri ini.”


Kali ini bukan saja seisi ruangan yang dibuat tercekat hebat, namun Kaizen juga. Ia sampai-sampai dibuat beranjak dari singgasana miliknya.


“Tidak, jangan katakan kalimat mengerikan itu, Duke of Edinburgh.”


“Saya tidak pernah menarik lagi janji yang telah saya buat,” balas Khayansar. “Saya akan memastikan jika Kayena tidak akan pernah kembali kepada Anda. Jika Anda berani menganggu kehidupan Kayena, itu berarti Anda siap berhadapan dengan saya.”


Khayansar de Pexley telah berjanji untuk kedua kalinya. Sebagai bukti dari janji yang telah ia buat, satu ayunan pedang ia gunakan untuk menggores telapak tangannya sendiri. Perjanjian berdarah telah dibuat. Walaupun dibuat secara verbal (tidak tertulis), perjanjian tersebut sangat penting bagi seorang prajurit seperti Khayansar.


Khayansar sudah tidak mempedulikan Klautviz de Meré untuk saat ini. Akan ada waktunya bagi Kaizen menyadari efek dari keputusannya hari ini. Fokus utamanya tetap kembali pada nama baik sang adik, serta membalas Raja Robelia serta gundiknya. Namun, karena hari ini ia gagal menjebloskan Katarina ke penjara, ia masih memegang satu janji. Suatu saat nanti, ia akan membuat wanita itu sujud di kaki adiknya yang saat ini tengah mengandung penerus tahta Kerajaan Robelia.


Dikarenakan tadi Kaizen sudah mengembalikan kehormatan sang adik, serta menegaskan bahwa pernikahan di antara mereka bisa diperbaiki kapan saja, Khayansar akhirnya membuat perjanjian darah yang baru. Sampai mati pun, ia tidak akan membiarkan Kaizen mendapatkan adiknya lagi. Jika bukan bersama Kaezar, masih ada Kaisar Kaysan yang dapat menjadi pendamping adiknya. Selain Kaisar Kaysan, di luar sana juga banyak pria baik-baik yang mau menjadi pendamping adiknya. Namun, Khayansar dengan keras mengatakan “TIDAK” jika pria tersebut adalah Kaizen.


“Saya juga akan memastikan bahwa selama sisa hidup Anda, Kayena tidak akan pernah Anda temukan di manapun, terkecuali jika Kayena sendiri yang menunjukkan keberadaannya.”


Setelah berkata demikian, Khayansar menjatuhkan ujung pedangnya pada permukaan lantai. Sehingga bunyi yang khas terdengar cukup nyaring, ketika senjata itu berbenturan dengan permukaan lantai yang keras.


“Mungkin ini adalah peringatan terakhir dari saya. Pada pertemuan berikutnya, saya akan memastikan bahwa Anda bukan lagi orang yang patut saya hormati.”


Itu adalah kalimat terakhir Khayansar, sebelum memberikan penghormatan pada beberapa orang tetua serta veteran militer angkatan Laut Robelia yang dikenalnya. Namun, tidak terhadap Kaizen. Ia langsung pergi setelah menyimpan kembali senjatanya ke dalam sarung. Kepergiannya diikuti oleh para Ksatria berpangkat Perwira Tinggi yang ikut menemani. Ruangan seketika menjadi lebih senyap, serta hampa ketika putra sulung Khiev de Pexley itu meninggalkan ruangan. Goncangan tak kasat mata seolah-olah berhasil dibuat oleh pria itu.


Kaizen sendiri langsung tampak linglung dengan langkah mundur teratur, kemudian jatuh terduduk di singgasana miliknya. Kondisi tersebut tentu saja membuat beberapa orang risau, tidak terkecuali Katarina yang langsung menghampiri kekasihnya.


“Yang Mulia, Anda baik-baik saja?” dengan risau ia bertanya, namun tidak digubris sama sekali oleh Kaizen.


“Peradilan hari ini telah selesai. Silahkan kalian bubarkan pertemuan ini.”


Hanya itu kalimat yang diucapkan Kaizen sebelum bergerak dengan sorot mata gamang. Ia pergi begitu saja dari tempat tersebut, disusul oleh Katarina yang tampak berusaha keras untuk mendapatkan perhatian kekasihnya. Pria itu jelas tidak baik-baik saja setelah mendapatkan larangan serta ancaman dalam satu kesempatan. Sepertinya ia shock berat.


“Kenapa Anda menjadi seperti ini, Yang Mulia? hanya karena satu wanita yang telah Anda buang, Anda rela membuat putusan yang begitu gegabah.”


Kalimat-kalimat beruntun itu rupanya berhasil membuat langkah lebar Kaizen yang tengah menyusuri lorong terhenti seketika. Pria itu memang berhenti, lebih tepatnya membatu. Katarina kemudian memutuskan untuk segera menyusul.


“Setelah menurunkan posisi saya, membuang paman Anda sendiri, keputusan gila apa lagi yang akan Anda lakukan demi wanita buangan itu?”


Kaizen tidak membuka mulut. Ia masih bungkam. Membuat Katarina tak segan untuk memuntahkan unek-unek yang berasal dari rasa kecewanya.


“Apa lagi yang akan Anda lakukan setelah Khayansar de Pexley melarang Anda untuk mengharapkan Adiknya?”


“Apapun,” balas Kaizen, pada akhirnya buka suara. “Apapun akan aku lakukan untuk membawanya kembali.”


“Termasuk jika Anda diharuskan mengorbankan saya?”


Kaizen kembali terdiam. Ia belum sepenuhnya mendapatkan kembali kendali penuh atas dirinya. Sebagian kesadarannya masih tersedot oleh ancaman serta larangan Khayansar. Kaizen merasa jika jalan untuk mendapatkan Kayena kembali semakin sulit, terjal, hingga tidak memungkinkan. Perasaan tersebut membuatnya merasa marah.


“Ya.”


“Yang Mulia!” protes Katarina. “Apa Anda sadar dengan apa yang baru saja Anda katakan?”


“Aku akan mendapatkan Kayena kembali, dengan apapun caranya,” lanjut Kaizen dengan sorot mata dingin yang tidak dapat dibantah.


Kaizen sudah berjanji pada dirinya sendiri, Kayena pasti akan kembali ke sisinya. Ia akan memastikan bahwa wanita itu tidak akan pernah hidup bahagia, jika bukan bersamanya. Kendati bukan dirinya yang mendapatkan Kayena, maka pria manapun tidak boleh memiliki Kayena.


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 05-08-23