How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0068. Pacte de sang Duke of Edinburgh (Perjanjian darah Duke of Edinburgh)



0068. Pacte de sang Duke of Edinburgh (Perjanjian darah Duke of Edinburgh)



“Ada apa, Tuan? Anda sepertinya sedang mencemaskan sesuatu.”


Pertanyaan tersebut datang dari salah satu prajurit kepercayaan Duke of Edinburgh kala mereka kembali ke tempat duduk. Menonton saksi kunci yang siap membuka kebenaran pada dunia.


“Ada sesuatu yang akan terjadi.”


Firasat Khayansar mengatakan demikian. Ada sesuatu yang akan terjadi di ruangan tersebut. Entah apa, namun biasanya firasat yang datang padanya tidak pernah salah. Ia hanya tinggal menunggu, apa yang sebenarnya akan terjadi di ruangan tersebut. Apakah akan muncul lagi penghalang bagi terbukanya kebenaran? Mengingat terkadang Tuhan tahu bagaimana cara menarik-ulur situasi dan kondisi.


Terkadang, pada satu waktu kebenaran sukar untuk ditegakkan, padahal sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, bukan berarti jika kebenaran akan selalu kalah dari kebatilan. Akan ada waktunya kebenaran menang melawan kebatilan. Waktu itu lah yang masih menjadi misteri. Yang pasti, kebenaran tidak pernah kalah dari kebatilan. Semua tergantung pada waktu.


“Siapa orang itu?” batin Khayansar ketika melihat seseorang baru saja memasuki ruangan, padahal pengadilan sudah dibuka sejak lama.


Gerak-gerik sosok yang dimaksud tampak mencurigakan. Hadir dengan pakaian tertutup serta sebuah penutup kepala, membuatnya tampak misterius. Firasat Khayansar semakin menangkap radar mencurigakan. Pasti akan ada sesuatu yang terjadi. Kemunculan sosok misterius itu dapat menjadi tolak ukur atau sekedar tanda-tanda.


Tak berselang lama, firasat yang sejak awal ia rasakan menunjukkan eksistensinya. Sosok mencurigakan yang datang di tengah persidangan tiba-tiba membuka penutup kepala yang melindungi sebagian wajahnya, kemudian insiden naas itu terjadi dengan begitu cepat tanpa bisa dihentikan oleh Khayansar. Mulai dari terdengarnya suara letupan senjata laras panjang secara beruntun. Disusul oleh tubuh Kyara yang kemudian jatuh ke lantai dengan darah segar yang berceceran dimana-mana, serta jeritan ketakutan yang terdengar memekikkan telinga, menjadi awal dari ketegangan yang terjadi di ruangan tersebut.


Khayansar dan orang-orangnya juga langsung bertindak. Tanpa diperintah, kaki-tangannya yang telah terlatih langsung mengevakuasi saksi kunci yang mereka miliki. Dilihat sari letak luka tembak, sosok misterius itu memang berniat membunuh Kyara. Namun, jika Tuhan masih berkehendak untuk memberi kesempatan pada pelayan tak berdosa itu, nyawanya pasti masih bisa tertolong.


Dengan amarah yang terkumpul dan coba diredam, Khayansar segera menarik pedang dari pembungkusnya. Mungkin sosok misterius itu tidak tahu bahwa mengacaukan jalannya persidangan yang digelar oleh Pengadilan Tinggi akan membuatnya dijatuhi hukuman mati. Apalagi jika sampai menyakiti para saksi, terutama saksi kunci.


“Anda sudah bosan hidup?” tanya Khayansar dingin ketika mengacungkan pedangnya ke arah sosok misterius yang dipanggil “paman” oleh Raja Robelia itu. “Apa Anda sadar dengan tindakan Anda?”


Sosok misterius itu tak bergeming. Ia malah dengan santai tersenyum miring. “Berani sekali kau mengarahkan senjata pada anggota keluarga kerajaan.”


Khayansar pun tak mau peduli. Ia tidak berniat sama sekali untuk menurunkan senjatanya. “Anggota kerajaan atau bukan, jika Anda tidak memahami hukum, lebih baik Anda diam.” Ia tak gentar. Sekalipun jika benar lawan bicaranya adalah anggota keluarga kerajaan Robelia yang tersisa.


Menurut pengetahuannya, keluarga kerajaan Robelia yang tersisa hanya Kaizen dan Kaezar dari garis keturunan Raja Robelia terdahulu. Selain itu, ada keluarga Archduke of Rhea yang merupakan sepupu Kaizen dari saudara mendiang Raja Robelia terdahulu. Selebihnya tidak ada, karena anggota keluarga kerajaan Robelia yang tersisa sudah berpindah ke berbagai negeri, mengikuti pasangan mereka.


Wait, sepertinya Khayansar melupakan sesuatu. Pria misterius itu mengatakan bahwa dirinya adalah masih anggota keluarga kerajaan. Apa mungkin ia adalah … Klautviz de Meré?


Adik tiri Raja Robelia sebelumnya. Putra dari seorang seniman jalanan yang menjadi selir Raja Robelia sebelumnya (kakek Kaizen dan Kaezar). Pemilik titel pewaris yang dilupakan, karena menurut silsilah kerajaan, ia menempati urutan ke empat sebagai pewaris tahta, namun ia tidak pernah dapat mengklaim tahta tersebut.


Urutan pewaris tahta sendiri di mulai dari Raja Robelia terdahulu (kakek Kaizen dan Kaezar), turun ke putra sulungnya (ayah Kaizen dan Kaezar). Karena hanya memiliki dua putra, otomatis, Klautviz de Meré menempati posisi ke tiga sebagai pewaris tahta, yaitu setelah posisi ke dua diturunkan kepada Kaizen, selaku putra mahkota dari Raja Robelia. Kehadiran Kaezar kemudian menggeser posisi Klautviz de Meré ke posisi ke empat sebagai pewaris tahta. Posisinya sempat tergeser dua tingkat, menjadi posisi ke enam setelah lahir dua putri yang merupakan saudara perempuan Kaizen dan Kaezar. Namun, usia ke dua putri tersebut tidak berlangsung lama.


Klautviz de Meré kembali berada di posisi ke empat. Walaupun sebentar, karena tak berselang lama setelah Kaizen resmi menikah, istrinya—Kayena—dinyatakan tengah mengandung pewaris tahta kerajaan Robelia. Secara otomatis, posisinya kembali tergeser menjadi urutan ke lima, mengingat bayi yang dilahirkan oleh istri dari Raja Robelia itu akan otomatis meraih gelar putra mahkota. Jika bukan anak sulung mereka, maka gelar tersebut akan diturunkan ke anak mereka yang berikutnya.


Semakin sulit bagi Klautviz de Meré untuk mengklaim posisi sebagai pewaris tahta, jika keponakannya beserta penerus-penerusnya masih hidup. Namanya sempat menghilang dan dilupakan, semenjak ia membuat Raja Robelia (ayah Kaizen dan Kaezar) marah besar. Alasan kemarahan sang Raja masih simpang-siur, ada yang berkata jika Klautviz de Meré secara terang-terangan menyatakan perang antar saudara, sehingga sang Raja murka. Ada juga yang berkata jika Raja Robelia saat itu menolak memberikan gelar pada anak Klautviz de Meré yang dilahirkan oleh seorang wanita panggilan (wanita yang biasa dipanggil untuk menemani para Senor dari kalangan bangsawan). Entah mana yang benar, karena setelah itu Klautviz de Meré menghilang tanpa jejak.


Dua tahun yang lalu, Klautviz de Meré sempat terlihat di ibu kota Robelia. Namun, tidak lama. Kemudian, Klautviz de Meré kembali menghilang tanpa jejak. Keberadaanya selalu selalu sulit diendus.


“Jadi Anda … anggota keluarga kerajaan yang suka menghilang, layaknya bayangan,” ucap Khayansar. “Klautviz de Meré,” lanjutnya.


Bukan Klautviz Kadheston, sebagaimana mestinya para anggota keluarga kerajaan Robelia. Melainkan Klautviz de Meré yang mengambil marga dari keluarga ibunya, karena sempat dianggap tidak pantas menerima marga Kadheston di belakang namanya. Berbeda dengan Kaezar yang namanya disematkan marga Kadheston secara langsung oleh sang ayah. Ya, walaupun begitu, Kaezar juag diperlakukan sama seperti Klautviz de Meré oleh anggota keluarga kerajaan lainnya. Tidak dianggap layak mewarisi marga tersebut.


“Kau mengenaliku, Putra sulung Khiev de Pexley?”


Khayansar menarik pedang yang sempat di arahkan kepada Klautviz de Meré. Namun, bukan berarti ia takut. “Saya tidak peduli sekalipun Anda adalah Klautviz de Meré, paman dari mantan suami Adik saya. Saya hanya ingin Anda bertanggung jawab atas kekacauan yang saat ini terjadi.”


“Aku tidak mengacaukan apapun, Tuan Muda Pexley. Aku hanya muak mendengar jal*ng rendahan seperti pelayan itu bicara terlalu banyak.”


“Bukan pelayan itu yang seharusnya Anda sebut sebagai jal*ng, melainkan …” Khayansar menoleh ke arah belakang. Lebih tepatnya ke arah Katarina berada. “ … dia.”


Klautviz de Meré mengikuti arah pandangan Khayansar. “Dia terlalu agung untuk disebut sebagai jal*ng,” balasnya. “Bukan kah begitu, keponakan ku?” pandangannya kini beralih pada Kaizen.


Baik Katarina maupun Kaizen, sepertinya masih shock dengan kekacauan yang tiba-tiba terjadi di tengah-tengah pengadilan. Sekarang, Khayansar bahkan sudah turun tangan dengan pedang yang siap menebas kepala siapa saya yang berani melawannya menegakkan keadilan.


“Paman, sebaiknya kita bicara lagi nanti. Saat ini kami sedang mengadakan peradilan,” ucap Kaizen kemudian. Kali ini ia bahkan repot-repot meninggalkan singgasana.


“Tentu,” jawab Klautviz de Meré seraya menaikkan ujung senapan laras panjang yang tadi ia gunakan untuk menembak Kyara ke bahu. “Sudah lama kita tidak bertemu dan berbincang.”


Kaizen mengangguk. “Kita akan bicara lagi setelah saya menyelesaikan peradilan hari ini,” katanya. “Katarina,” ia memanggil sang wanita. “Kau … tidak melupakan Paman ku bukan?”


Pemilik nama tersebut menggelengkan kepala dengan kaku. “M-ana mungkin saya lupa,” jawabnya dengan suara lirih. “Beliau adalah Paman Klautviz de Meré.”


Mendengar namanya disebut oleh Katarina, pria yang sudah memasuki usia kepala empat itu tersenyum miring. “Mana mungkin kau melupakan Ayah,” katanya di dalam hati. “Katarina de Meré.”


Ada tatapan yang sulit dapat diartikan ketika Klautviz de Meré menatap selir Raja Robelia. Tatapan tersebut tak luput dari sepasang mata tajam milik Khayansar.


“Simpan pertemuan mengharukan antara paman dan keponakan untuk lain kali, karena saat ini ada yang lebih penting!” kalimat yang dilontarkan Khayansar kembali menarik perhatian. “Tuan Klautviz de Meré yang terhormat, apa Anda tahu mengetahui hukuman bagi seorang yang mengacaukan jalannya persidangan yang digelar oleh Pengadilan Tinggi akan dijatuhi hukuman mati?”


Klautviz de Meré tampak abai. Ia tak gentar. Tak terpengaruh pula, sekalipun terancam dihukum mati. Toh, ia sudah lebih dari tujuh kali mengalami kejadian yang hampir membuatnya mati. Maka, ia tak merasa takut lagi.


“Silahkan jatuhkan hukuman apapun, aku tidak akan merasa keberatan setelah membunuh pengkhianat terhadap anggota keluarga kerajaan.”


“Begitu rupanya,” respon Khayansar yang kini membiarkan pedangnya menganggur. “Klautviz de Meré memang tidak pernah takut mati. Tidak mengenal peraturan dan hukum. Ternyata rumor lama itu benar?”


Klautviz de Meré tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat aneh di tengah atmosfir yang sangat mencekam. Hanya dia yang berani tertawa pada situasi seperti itu.


“Saya dengan kau datang untuk membersihkan nama Adikmu yang telah menjadi mantan Ratu beberapa hari yang lalu. Benar begitu?” Klautviz de Meré yang tidak mudah ditebak tindak-tanduknya, kali ini menatap Khayansar tanpa takut. “Kenapa harus melakukan berbagai trik hanya untuk membersihkan satu nama yang telah ternoda. Jika kau memintanya baik-baik, Raja Robelia pasti akan segera melakukannya.”


Tidak sampai dua detik, pedang milik Khayansar kembali terayun. Kali ini berhenti tepat di mana jantung Klautviz de Meré berasal. “Membersihkan nama Adik saya bukan lah permintaan, namun kewajiban Raja kalian yang untuk menegakkan keadilan,” ujarnya dengan suara datar dan wajah tanpa ekspresi. “Hari ini Anda telah mencegah upaya untuk membersihkan nama Adik saya. Anda pikir, saya akan diam saja?”


“Memangnya apa yang bisa kau lakukan?” tantang Klautviz de Meré.


“Apa saja bisa saya lakukan, termasuk menyeret gundik Raja mendekam di dalam penjara,” balah Khayansar.


“Kalau begitu lakukan saja jika bisa.”


Mendengar ucapan Klautviz de Meré, Katarina terhenyak kaget. Apa-apaan pria itu, mengkonfrontasi Khayansar yang sudah tidak bisa diajak kompromi. Apa mungkin pria itu sengaja berbuat demikian untuk memukul mundur Khayansar?


“Akan saya lakukan, Tuan Klautviz de Meré yang terhormat,” janji Khyansar. “Namun, jika hari ini saya tidak berhasil menyeret wanita rendahan itu ke dalam penjara, suatu hari nanti saya akan membuat dia bersujud di depan kaki Adik saya.”


Khayansar de Pexley telah berjanji. Sebagai bukti dari janji yang telah ia buat, satu ayunan pedang ia gunakan untuk menggores lengan Klautviz de Meré sehingga darah pria itu mengotori pedangnya. Kemudian ia menggunakan pedang yang sama untuk membuat luka pada telapak tangannya sendiri hingga mengeluarkan darah segar.


Perjanjian berdarah telah dibuat. Walaupun dibuat secara verbal (tidak tertulis), perjanjian tersebut sangat penting bagi seorang prajurit seperti Khayansar.


Setelah membuat Klautviz de Meré bungkam untuk beberapa saat, Khayansar berbalik badan ke arah Kaizen dan Katarina yang sudah meninggalkan singgasana mereka. Dengan pedang masih di tangan, ia mendekati sepasang manusia yang perilakunya tak lebih baik dari binatang.


Tidak ada yang berani menghentikan Khayansar, karena Raja mereka sekalipun diam saja tanpa berkutik.


“Persidangan hari ini kacau entah karena adanya konspirasi atau tidak, yang pasti sudah menjadi tugas Anda untuk membersihkan nama Adik saya,” kata Khayansar dengan sorot mata datar. Menatap nyalang ke arah mantan adik iparnya. “Jika semua bukti serta saksi yang telah saya tunjukkan masih tidak membuat Anda bertindak, maka jangan terkejut ketika saya kembali lagi ke tempat ini dengan tujuan untuk memporak-porandakan masa pemerintahan Anda.”


Setelah berkata demikian, Khayansar memasukkan kembali pedang miliknya ke dalam tempat. Tanpa banyak kata, ia kemudian berbalik badan dan melenggang pergi, meninggalkan ruang pengadilan yang sudah tidak kondusif lagi.


“Ah, satu lagi.” Ternyata, masih ada yang dilupakan oleh putra sulung Khiev de Pexley itu. Sebelum benar-benar pergi menyusul kaki-tangannya yang sudah membawa Kyara, ia sempat mengatakan apa yang dilupakannya. “Berhenti mencari Adik saya, karena Anda maupun orang-orang suruhan itik buruk rupa di samping Anda tidak akan menemukannya. Anggap saja jika Adik saya telah kembali ke tempat yang semestinya. Jadi, jangan pernah berpikir untuk mengusik hidupnya lagi.”


💰👑👠


TBC


Terharu nggak sih sama perjuangan Abang Khayansar 🤧 gentle banget gitu.


Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini kalau mau lanjut 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 23-06-23