
0061. Tenter de Devenir Impéractice (Tawaran untuk menjadi Permaisuri)
“Nona. Jika pria itu meninggalkan jejak pada tubuh Anda, jangan pernah berpikir dua kali untuk segera menghilangkannya,” ucap Kima tiba-tiba ketika pelukan di antara mereka mulai melonggar. “Karena saya tidak mau Anda berurusan lagi dengan apapun yang berkaitan dengan pria itu.”
“Apa maksud mu, Kima?”
“Saya tidak mau Anda berurusan lagi dengan pria itu,” jelas Kima. “Entah bersama Pangeran Kaezar atau Kaisar Kaysan, saya akan selalu mendukung keputusan Anda, Nona. Namun, jangan pernah kembali ke pelukan pria itu.”
Tersenyum kecil. Itulah respon yang ditunjukkan oleh Kayena ketika Kima selesai mengucapkan kalimatnya dengan raut wajah serius. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya, lalu menggunakan tangan tersebut ia mengelus pucuk kepala tangan kanan yang sudah seperti keluarga sendiri.
“Aku juga tidak ingin terlibat dengannya lagi, Kima.” Sudah cukup di kehidupan yang sebelumnya aku terlibat dengan pria itu. Pada kehidupan kali ini, kisah kami sudah selesai sampai di sini—lanjutnya di dalam hati.
Tujuannya pada kehidupan kali ini adalah berpisah dengan pria itu. Sekalipun benar ada benih yang pria itu tinggalkan, kemudian benih itu tumbuh dan berkembang, ia tak akan sungkan untuk merawatnya dengan baik. Kenapa? Karena hasil dari benih pria itu tidak bersalah. Ia yang lahir tanpa bisa memilih orang tua, hanya mahluk tak berdosa yang tidak tahu apa-apa.
Pada kehidupan sebelumnya, Kayena tidak memiliki banyak kesempatan untuk merawat bayi-bayinya hingga dewasa. Jika sekarang Tuhan percaya padanya, kemudian menitipkan satu malaikat kecil lagi, maka ia akan berdoa agar Tuhan juga memberinya waktu yang tidak terbatas untuk menebus masanya yang terbatas di kehidupan sebelumnya.
Jujur, goals Kayena sebenarnya sederhana. Setelah terlepas dari Kaizen, ia ingin hidup bebas; bahagia dengan pria sederhana yang mencintainya tanpa syarat, kemudian mengandung, melahirkan, dan membesarkan buah cinta mereka di lingkungan keluarga yang harmonis. Namun, jika Tuhan tidak berbaik hati memberinya pasangan yang tulus, ia akan tetap menikmati perannya sebagai ibu tunggal. Ayah dari bayi yang ia lahir kan tidak akan diberi hak apapun, karena Kayena akan mengklaim bayi itu untuk dirinya sediri.
Lantas, kenapa tiba-tiba Kima membawa-bawa Pangeran Kaezar dan Kaisar Kaysan dalam satu topik yang berkaitan dengan sebuah pilihan? Memangnya apa yang harus Kayena lakukan? Memilih salah satu di antara mereka?
Jelas-jelas dengan statusnya sebagai “janda dan mantan Ratu” tidak akan mudah baginya berurusan dengan pria yang memiliki gelar bangsawan tak main-main. Misalnya seperti Pangeran Kaezar yang sudah jelas-jelas merupakan adik tiri dan mantan suaminya. Masih salah satu bagian dari Royal Family. Sedangkan Kaisar Kaysan, merupakan seorang Kaisar. Walaupun sebelumnya pernah menikah ketika masih menjabat sebagai PM atau Putra Mahkota, tetap saja posisi sebagai pendamping Kaisar pasti akan diberatkan dengan standar dan kualifikasi tinggi.
Minus lainnya adalah ketika Kayena positif mengandung, maka ia akan semakin dipandang sebelah mata. Tidak menutup kemungkinan bahwa bayi dalam kandungannya nanti dipertanyakan asal-usulnya. Apakah milik mantan suaminya, atau milik pria yang dirumorkan menjadi pasangan gelapnya. Memikirkannya saja membuat Kayena pening. Lagipula, manusia hanya bisa merencanakan, sedangkan Tuhan yang akan menentukan.
“Nona tampak bosan. Harus kah saya meminta salah satu pelayan di sini untuk mengantarkan Nona berkeliling?” tanya Kima ketika melihat pandangan sang nona yang tampak kosong.
Pembicaraan hari itu selesai begitu saja, setelah Kayena memastikan jika ia tak akan kembali pada Kaizen. Sekalipun ada benih yang berhasil pria itu tinggalkan, kemudian tumbuh menjadi bakal calon anak manusia. Setelah salah satu dari empat pria yang disayanginya datang menjemput, Kayena akan meninggalkan Astoria. Ia tidak mau terlalu lama merepotkan orang lain, apalagi mereka semua begitu menyimpan harapan besar padanya. Jangan berpikir jika Kayena tidak tahu. Ia lebih dari tahu mengenai rumor yang telah berkembang di luaran. Namun, ia tetap belum mengetahui fakta jika saat ini ia telah berbadan dua.
“Kita berkeliling di sekitar paviliun ini saja, Kima,” usul Kayena. Merasa bosan dengan kegiatan itu-itu saja selama empat hari berturut-turut, Kayena akhirnya setuju dengan ide yang diusulkan Kima.
Ketika masih menjabat sebagai Ratu, tidak ada waktunya yang terbuang sia-sia. dari bangun pagi hingga tidur lagi, ia melakukan berbagai kegiatan. Sehingga waktunya tidak terbuang sia-sia, karena jadwal kesehariannya begitu produktif. Namun, sekarang ia merasakan posisi menjadi pengangguran. Rasanya … sangat membosankan bagi Kayena yang sejak kecil aktif mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan positif.
“Saya dengar musim Semi di Astoria adalah musim paling tepat untuk melihat bunga Wisteria. Bunga-bunga wisteria di sini akan mekar pada pertengahan bulan April hingga pertengahan Mei.”
...Wisteria Flower...
“Begitu kah?” respon Kayena yang tengah berjongkok di depan hamparan bunga-bunga yang tengah bermekaran di depan paviliun. “Aku menjadi tidak sabar ingin melihatnya.”
“Saya juga, Yang Mulia. Kapan lagi kita bisa melihat secara langsung bunga yang melambangkan cinta dan kebangsawanan,” heboh Kima. Jika sudah membahas topik yang ada sangkut-pautnya dengan bunga, maka Kima adalah suhu-nya. “Biasanya kita melihat bunga Wisteria lewat buku, perkamen, dokumen kuno, atau lukisan para seniman jalanan. Sekarang kita bisa melihatnya secara langsung, dengan catatan harus sabar menunggu musim semi tiba.”
“Aku juga ingin tinggal lebih lama, jika saja memungkinkan.”
“Kalau begitu tinggal lah lebih lama, Nona.”
Kayena kontan menoleh ketika mendengar jawaban atas pernyataannya. Padahal, yang ia ajak bicara adalah Kima, namun kenapa tiba-tiba saja suara Kima menjadi sangat berbeda. Ketika berhasil menoleh sempurna, ia dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita tua yang masih tampak sehat di usia senjanya. Wanita tua itu tidak datang seorang diri, namun ditemani oleh seorang dayang senior, serta ada sekitar enam atau delapan dayang muda yang mengikutinya.
“Maaf, Yang Mulia.”
Kayena memberi hormat untuk sekedar menjaga formalitas. Bagaimana pun juga dilihat dari pakaiannya, wanita tua yang menjadi lawan bicaranya pasti bukan orang dari kalangan biasa saja. Lihat saja motif naga di beberapa bagian pakaian yang ia gunakan. Motif naga pada pakaian wanita menandakan statusnya yang pernah melahirkan seorang pewaris tanta.
“Tidak perlu meminta maaf, karena Nona tidak salah sapa-apa,” ujar nenek Kwang Sun, ramah. “Bagaimana jika kita mengobrol sebentar di Yeowang-ui bang?”
Kayena hanya bisa mengangguk kecil sebagai persetujuan. Yeowang-ui bang kemudian menjadi tempat berikutnya bagi keduanya. Ditemani oleh secangkir teh serta kudapan-kudapan manis yang terbuat dari tepung beras, obrolan dilanjutkan setelah wanita tua itu memperkenalkan diri sebagai nenek dari Kaisar Kaysan.
“Saya dengar Nona sangat menyukai teh.”
“Benar, Yang Mulia. Saya sangat suka minum teh.”
“Lalu bagaimana dengan minuman hasil fermentasi yang mengandung alkohol?”
“Tidak,” jawab Kayena cepat. “Saya tidak biasa mengonsumsi alkohol karena alasan kesehatan.
“Minuman beralkohol memang tidak bagus bagi kesehatan,” ungkap nenek Kaisar seraya menyeruput teh terakhir dalam cangkirnya. “Saya telah mendengar banyak soal Nona dari Kaisar yang merupakan cucu saya sendiri.”
Sejauh ini Kayena masih belum paham dengan tujuan dari percakapan antara dirinya dengan nenek dari Kaisar Kwang Sun atau Kaysan. Kenapa? Karena gerak-gerik nenek Kaysan tampak sulit dibaca. Wanita tua yang merupakan ibu dari Kaisar Astoria sebelumnya, dengan kata lain ibu dari ayah Kwang Sun. Nenek Kwang Sun, sekaligus orang tua yang berperan ganda orang tua Kwang Sun.
“Jika Anda ingin melihat bunga Wisteria yang menjadi primadona di Astoria, maka tinggal lah lebih lama di sini,” kata nenek Kaisar Kwang Sun. “Astoria adalah surganya bunga empat musim,” lanjutnya seraya mengambil alih punggung tangan Kayena untuk digenggam. “Jika Nona benar-benar suka disini, mungkin Nona juga bisa mempertimbang posisi Permaisuri yang kosong.”
“Saya …” kayena berhasil kehilangan kata-kata karena kalimat terakhir yang diucapkan oleh nenek Kaisar Kwang Sun. Ibarat serangan dadakan yang tidak dapat diprediksi.
“Seperti diketahui oleh Nona Kayena, posisi Permaisuri sedang kosong. Di sisi lain, Yang Mulia Kaisar tampak tulus menunjukkan ketertarikannya pada Nona Kayena.”
Kayena harus menjawab apa? ia tahu Kaisar Kwang Sun atau Kaysan memiliki ketertarikan kepadanya. Namun, apalah daya jika ia tidak dapat membalas perasaan tersebut. Karena, Kayena sendiri tidak tahu betul perasaannya yang sempat dicabik-cabik oleh Kaizen, akan berhasil disembuhkan oleh siapa.
“Maaf menyela, Nona Kayena.”
Kima datang sebagai penyelamat, ketika Kayena tidak dapat menjawab. Ia membawa masuk sepucuk surat bersamanya, sepulang dari mengambil air putih untuk Kayena.
“Ada surat dari perbatasan Robelia,” katanya memberi tahu lewat kode.
Kayena menangkap maksud dari kode tersebut dengan baik. Sembari tersenyum lebar, ia menerima surat tersebut. “Yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba,” gumamnya tanpa sadar. Sudah lama ia menantikan sebuah kabar. Dari seorang pria yang pernah meninggalkan janji akan segera menjemput serta menerima segala kemungkinan yang terjadi ketika mereka dipertemukan kembali. Pria rupawan itu bahkan sudah mengklaim sebuah pertanggung jawaban, jika sewaktu-waktu perutnya diisi oleh mahluk tak berdosa.
💰👑👠
TBC
Catatan : Cerita ini hanya fantasi, jadi jika ada kesamaan nama tokoh/tempat, bukanlah sesuatu yang disengaja. Sumber semua foto; pinterest.
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 16-06-23