
0039. PLaisir à sens unique (kenikmatan sebelah pihak)
Kayena tidak pernah tahu apa saja yang akan terjadi pada kehidupan kedua, di mana ia terbangun pasca memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri di masa lalu. Jika mengingat kehidupan pertama, ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala. Soal bagaimana nasib putranya—Pangeran Cassel—tumbuh dan berkembang di bawah pengawasan Kima serta keluarganya. Apa yang dilakukan Kaizen ketika mengetahui istrinya menghabisi nyawa sendiri. Apakah pria itu bahagia? Dan berakhir menikahi Katarina secara resmi? Menjadikan wanitanya sebagai Ratu Robelia berikutnya?
Kayena tak pernah tahu jawaban dari semua pertanyaan itu. Ketika terbangun pada masa awal kehilangan Pangeran Carcel pun, tujuan utama yang ia pegang adalah ingin mengubah nasib buruknya. Berkaca dari kehidupan sebelumnya, Kayena ingin berusaha mengubah nasib agar dapat hidup lebih layak pada kehidupan kali ini. Ia tak minta banyak, hanya ingin kebebasan. Tak apa jika ia harus menyandang status sebagai janda Raja, kemudian dikembalikan ke kediaman Pexley. Toh, tempat itu adalah tempat sebaik-baiknya rumah.
Namun, sekalipun telah mengalami reinkarnasi yang membuatnya hidup kembali, Kayena tidak mau mengalami time loop—kondisi di mana seseorang mengalami kejadian berulang-ulang dengan pola kejadian yang sama. Setidaknya tidak mau sampai mengulangi nasib yang sama dengan nasib di kehidupan sebelumnya.
“Akhirnya” lirih Kayena ketika pada akhirnya ia sampai pada ujung dari lorong rahasia yang telah ia lewati.
Sudah banyak pertanyaan yang berjubel di kepala. Semua itu harus segera ia tanyakan kepada Kaizen. Kenapa Kaizen? Karena pria itu harus menjelaskan, bagaimana bisa prajurit-prajurit yang diberi tugas olehnya berkhianat.
Setelah melewati partisi yang menjadi penghubung antara ruang rahasia serta kamar Raja, Kayena bergegas masuk ke ruang utama. Pria pemilik ruangan ini pasti ada di sana. Mungkin … tengah menunggu kehadirannya. Mengingat mereka ada janji temu malam ini.
Kayena memang datang agak terlambat, karena insiden para penghianat yang hendak berbuat jahat. Ketika berhasil mencapai ruang utama—tempat di mana sebuah ranjang berukuran besar berada, Kayena dapat melihat keberadaan Kaizen. Ruangan tersebut rupanya sudah disulap menjadi lebih bernuansa romantic. Ada banyak bunga segar, lilin-lilin yang menyala, makanan di atas meja, serta perapian yang menyala. Pria itu sendiri tengah duduk di bibir tempat tidur, membelakangi pintu masuk. Ia kemudian memutuskan untuk memanggil, hendak bertanya. Namun, ucapannya tak pernah sampai selesai dilontarkan.
“Yang Mulia …”
Dikarenakan pria itu langsung menyerang secara brutal. Bibir adalah target utama yang dilu—mat secara ganas. Jangan lupakan sepasang tangah yang langsung melingkari pinggang serta belakang punggung dengan posesif. Disambut dengan perlakuan demikian, Kayena tentu saja tidak tinggal diam. Sekuat tenaga ia meronta, berusaha agar lepas dari belitan lidah serta tangan kekar suaminya. Entah setan mana yang merasuki suaminya, sehingga pria itu berbuat demikian.
Sampai pada detik ke sekian, Kayena sadar akan satu hal. Ada sisa-sisa red wine yang bisa ia sesap di antara lu—matan dan hi—sapan suaminya.
Pria itu mabuk? Tebak Kayena. Namun, bagaimana bisa? Bukan kah belakangan ini minuman beralkohol dilarang Kaizen nikmati? Mengingat kondisi kesehatan sistem reproduksinya sempat mengalami cidera—dokter memberikan himbauan demikian dikarenakan takut akan efek samping alkohol bagi kesehatan reproduksi Raja. Asumsi Kayena semakin diperkuat dengan kalimat yang tiba-tiba lolos dari mulut suaminya, saat tautan bibir mereka sempat terlepas.
“Malam ini aku akan membuatmu kewalahan berc*nta, Katarina.”
Katarina? Kayena mencelos mendengarnya. Jadi, saat ini yang sedang dipikirkan oleh suaminya adalah Katarina. Lantas, kenapa harus ia yang menerima pelecehan secara seksual?
Kedatangan Kayena kemari hanya untuk bicara, bukan untuk diserang tiba-tiba, kemudian dikurung di antara kedua lengan kokoh Kaizen yang dihiasi otot biseps dan triseps. Kaizen bahkan tidak membiarkan Kayena menghirup oksigen dengan benar, karena ciuman demi ciuman terus diberikan. Kayena sampai terengah-engah di bawah kendali pria yang berhasil membawanya ke tempat tidur dalam sekejap mata. Menyingkirkan jubah tebal miliknya entak kemana.
“Ini aku, Kayena. Bukan Katarina,” ujar Kayena ketika diberi sedikit kesempatan untuk bicara, sedangkan Kaizen tengah membawa bibirnya ke permukaan kulit leher Kayena yang mulus tak bercela.
“Diam dan nikmati saja, Katarina. Mengerang lah seperti biasa.”
“Tidak!” tolak Kayena. “Ini aku, bukan dia!” ujarnya, terus mencoba menyadarkan Kaizen.
Namun, pria itu seolah-olah tuli. Ia tetap asik memberikan ciuman pada setiap jengkal kulit yang dilewati. Kayena bahkan sampai menggigit bibirnya kuat-kuat demi menahan suara laknat yang bisa kapan saja keluar dari mulutnya. Tubuhnya bereaksi secara ilmiah, mengkhianati harga dirinya yang terasa dicabik-cabik.
“Kaizen. Ini aku, Kayena!”
Kayena semakin dibuat ketakutan ketika salah satu tangan Kaizen yang bebas mulai bergerilya di bawah sana. Menyingkap bagian bawah sleepwear night dress yang digunakan hingga berkumpul di pinggang. Membuat tubuh bagian bawah Kayena yang hanya dilindungi kain tipis terekspose begitu saja.
“Kaizen!” jerit Kayena, tak terima. Ia meronta sekuat tenaga, namun tidak sebanding dengan tenaga pria di atasnya.
Sudah tidak ada lagi attitude and manner yang Kayena terapkan. Ia bahkan tak segan memanggil Raja Robelia itu dengan nama, mengingat yang terpenting baginya saat ini adalah melepaskan diri dari Kaizen. Pria itu sepertinya sudah out of control akibat mabuk. Tidak ada kelembutan sama sekali dalam setian sentuhannya. Lama-kelamaan, wewangian khas dari ektra crocus sativus atau Safron, jasmine, dan ylang-ylang membuat Kayena pusing bukan kepalang. Tiga jenis wewangian itu tercium kuat di rungan ini.
Kayena tanpa sengaja meloloskan erangan yang menurutnya menjijikkan, ketika Kaizen berhasil meninggalkan satu mark (tanda) di atas permukaan dadanya yang terbuka. Reaksi tubuhnya kemudian menggila. Kayena tidak tahu kenapa, namun ada yang salah dalam dirinya. Hasratnya tiba-tiba terpacu tanpa sebab yang pasti. Apa karena Kaizen? Sepertinya tidak. Mengingat sebelum ini Kaizen juga kerap menciptakan skinship, namun pertahanan dirinya kuat.
“Bagus, mengerang lah seperti itu,” bisik Kaizen dengan suara rendahnya. “Lebih keras lagi.”
Kayena menggelengkan kepala dengan segera. “Tidak. Aku tidak sudi mengeluarkan suara menjijikan itu …ahk!”
Kayena terdiam dengan bibir digigit kuat-kuat. Harga dirinya kembali tersakiti, karena tubuhnya beraksi terhadap sentuhan Kaizen. Ia bahkan tak sudi mengeluarkan erangan, namun secara gamblang tubuhnya berkata lain. Jelas-jelas kekalahan tersebut membuat pria yang berada di atas tubuhnya semakin dipecut semangat.
Kayena tidak tahu harus berbuat apa lagi ketika kedua tangannya dijadikan satu di atas kepala. Pada kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Kaizen selalu melakukannya secara to the point, tak peduli pada perasaan Kayena. Apakah wanita itu puas atau tidak, Kaizen tak pernah peduli. Setelah berhasil menyiram ladang Kayena dengan benihnya, Kaizen akan bergegas pergi begitu saja. Namun, kali ini performa pria itu berbeda.
Kayena dibuat menderita dengan setiap sentuhannya yang melibatkan tenaga ekstra. Tidak ada kelembutan sama sekali. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ada nama wanita lain yang terus ia sebut dalam racauan. Padahal tubuh yang tengah ia nikmati adalah milik Kayena.
“Jangan lakukan, Kaizen.” Kayena menggelengkan kepala dengan frustasi. Ada air mata yang mulai membanjiri wajahnya. “Jangan!” serunya lagi, berharap jika pria yang hendak meraih puncak itu tidak menyiram benihnya di dalam sana.
“Je ne supporte pas,” erang Kaizen di sela-sela rasa putus asa Kayena. (Aku sudah tidak tahan)
Kayena menggelengkan kepala lagi, berharap Kaizen masih punya setitik akal sehat. Namun, tindakan yang pria itu lakukan berikutnya adalah membenamkan diri lebih dalam sebelum menyiram benihnya di ladang Kayena tanpa aba-aba.
“Condamner. Condemner. Condemner,” umpat Kayena dengan napas terengah dengan suara serak. Hancur sudah setitik harapan yang sempat ia miliki. Tidak ada lagi rasa sakit yang sebanding dengan digauli oleh suami yang tidak mengingatnya sama sekali. (sial*n)
Sepanjang permainan yang menyakitkan itu, Kayena dibuat terluka luar dan dalam. Bahkan pria itu tak berhenti sampai di sana, setelah menyebut nama Katarina untuk ke sekian kalinya.
“Kau kelelahan, Katarina?” Bisik Kaizen yang baru saja ambruk ke sisi kanan Kayena setelah mendapatkan ******* ke sekian. Sedangkan wanita di sampingnya tampak kehabisan suara dengan tubuh mati rasa.
“Tidurlah. Aku tahu kau lelah,” lanjutnya, namun tak direspon sama sekali oleh Kayena. “Hari ini kau banyak memberontak.”
Kayena masih terdiam. Sedangkan Kaizen masih sempat meracau, sebelum akhirnya takluk pada kantuk. Meninggalkan Kayena yang masih meratapi nasibnya yang menyedihkan. Ia baru bisa sedikit bernafas lega ketika kedua tangannya di lepaskan. Jelas sekali cengkraman tangan Kaizen pada pergelangan tangannya meninggalkan jejak yang mengerikan. Berwarna merah gelap, mencetak jelas gambar jemari panjang di pelaku.
“Ini adalah pertama dan terakhir kalinya kamu menyentuh tubuhku pada kehidupan kali ini,” ucap Kayena dengan suara getir. Masih ada sedikit tenaga yang bisa ia gunakan untuk segera meninggalkan tempat ini, sebelum pria itu terbangun. Akan panjang urusannya jika pria itu sampai bangun dan menyadari perbuatannya.
Oleh karena itu, Kayena bergegas pergi tanpa meninggalkan satu pun jejak yang dapat mengindikasi keberadaannya. Meninggalkan Kaizen seorang diri di atas tempat tidur yang telah menjadi saksi bisu keberingasannya. Namun, rupanya masih ada satu orang lagi yang menjadi saksi bisu. Ia tampak berdiri kaku di balik sebuah partisi yang digunakan sebagai sekat pemisah. Ada deru jantung yang bertalu-talu, semenjak ia bersembunyi di tempat itu.
Sepeninggalan Kayena, ia baru mau keluar dari tempat persembunyiannya. Menghampiri Kaizen yang tampak lelap dengan ketampanan yang masih sama di matanya.
“Haruskah saya memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin, Yang Mulia?” bisiknya ketika berhasil menghampiri pria rupawan yang tubuhnya hanya ditutupi selembar kain tersebut.
💰👑👠
TBC
Gimana perasaan readers setelah baca bab ini? jujur, Author nulisnya sambil nahan napas 😤 kira² gimana bab selanjutnya?? ada yang penasaran?
Semoga suka 😘 Maaf belum bisa daily update apalagi crazy up 🥲. Jangan lupa like, vote, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 21-05-23