How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0021. Les Soupços du Prince Kaezar (Kecurigaan Pangeran Kaezar)



0021. Les Soupços du Prince Kaezar (Kecurigaan Pangeran Kaezar)


“Apa Anda tidak menyukainya, Kapten?”


Seseorang bertanya pada pria rupawan yang telah menatap hidangan yang terdiri dari sup ikan haddock, strawberry cranachan, serta pai macaroni di atas meja dengan pandangan meneliti. Seolah-olah ia baru pertama kali melihat hidangan tersebut.


“Kelihatannya enak. Kapten tidak mau mencoba?”


“Jangan terlalu berharap banyak,” kata pemilik nama panggilan “Kapten” itu seraya menyimpan sendok di tempatnya kembali.



“Kenapa, Kapten? Saya pernah makan makanan Skotlandia sebelumnya. Saya rasa sup ikan haddock ini mirip dengan sup yang pernah saya makan. Rasanya pasti enak.”


“Masalahnya, Kapten tidak suka ikan haddock,” jawab suara lain yang baru saja mencicipi satu sendok pai macaroni. “Itu lah kenapa Kapten tidak berselera memakannya.”


“Astaga, saya lupa jika Kapten tidak suka ikan haddock. Bagaimana ini? apa mau saya pesankan menu yang lain?”


“Tidak perlu,” jawab Kaezar. Pemilik panggilan “Kapten” itu memang Kaezar Kadheston. Pangeran kedua di kerajaan Robelia yang punya wajah sangat rupawan. “Nikmati makanan kalian, aku akan mencari udara segar di luar.” Mendorong kursi, pria rupawan dengan pakaian kebesarannya itu kemudian bergegas pergi meninggalkan dua bawahan setianya.


Kaezar saat ini sedang berada di pesisir barat daerah ibu kota Robelia. Tempat di mana sebagian besar penduduknya merupakan imigran yang datang dari berbagai negera yang tidak jauh dari Robelia. Mengingat wilayah ini adalah tempat berdirinya dermaga transit kapal-kapal besar yang keluar-masuk wilayah Robelia lewat jalur perairan. Ini juga merupakan hari terakhirnya berada di ibu kota, sebelum kembali ke wilayah kekuasaannya, yaitu Sésilia. Pekan depan ia juga akan bertolak ke perbatasan Utara untuk melakukan pengawasan secara berkala. Sebagian besar hidupnya memang didedikasikan untuk pertahanan Robelia.


Hanya saja ada setitik rasa “ambigu” yang teramat menganggu. Semua itu jelas ada kaitannya dengan ratu Robelia, Kayena de Pexley. Wanita yang sangat mencintai raja Robelia itu belakangan tampak berbeda. Ia yang sempat kehilangan putra sebagai poros utama hidupnya, kini telah kembali menemukan poros baru. Kembali percaya diri dan tampil berapi-api, meninggalkan kesan bak biarawati yang selalu identik dengan warna hitam-putih. Sekarang Kayena kembali pada image sebagai bidadari nasional yang memikat hati.


Di sisi lain, Kaezar juga dibuat ‘heran’ dengan perilaku Kayena yang belakangan selalu memancarkan aura permusuhan dengan Kaizen. Anak perempuan kesayangan Grand Duke Pexley itu tampak enggan dekat-dekat Kaizen yang notabene suaminya sendiri. Bahkan ada desas-desus yang sempat tersebar, jika sang ratu sempat mengutarakan keinginan untuk bercerai. Sayangnya keinginan tersebut ditolak mentah-mentah oleh sang raja. Pangeran Kaezar sendiri bisa menebak kenapa sang raja tidak mau melepas ratunya, padahal ia sudah memiliki wanita yang dicintai setengah mati sebagai selir.


Lagipula siapa yang mau melepaskan istri seperti Kayena de Pexley? Cantik, jelas. Paras Kayena tidak perlu dipertanyakan lagi. Cerdas? jelas. Berasal dari golongan bangsawan? Sudah dapat dipastikan jika jawabannya adalah yes. Kayena juga punya dukungan politik yang kuat dan positif berkat pengaruh sang ayah yang merupakan salah satu Grand Duke paling berpengaruh di Robelia. Semua kelebihan yang dimiliki Kayena sudah cukup untuk mengantarkan dirinya pada posisi ratu, karena memang ia adalah kandidat paling kuat. Hanya saja, ia tidak dapat mendapatkan feedback apa-apa setelah memberikan segalanya pada pria yang menikahinya karena sebuah keharusan.


“Kapal layar keluarga kerajaan?” gumam Kaezar ketika melihat sebuah kapal layar berukuran besar yang baru saja mendekat ke arah dermaga. Dari simbol kerajaan Robelia yang tertera pada beberapa bagian kapal, Kaezar sangat yakin dengan penglihatannya.


Dari tempatnya berdiri, ia bisa mengawasi dengan lebih teliti. Mulai dari perahu layar itu menurunkan jangkar, sampai menurunkan barang bawaan dan penumpang. Opini Kaezar dibenarkan dengan munculnya raja Robelia yang keluar dari kapal dengan menggandeng kekasihnya menuju kereta kuda berlambang kerajaan Robelia. Pelayan yang duduk di sebelah kusir telah turun dari tempatnya untuk membuka tangga kereta sebelum membuka pintu. Sejauh itu tidak ada yang aneh, selain pertanyaan ‘kenapa rombongan kerajaan Robelia kembali lebih awal dari jadwal’ yang terbesit di kepala.


Sampai pada akhirnya pasangan kekasih haram itu masuk ke dalam kereta kuda, lalu pergi begitu saja diikuti oleh segerombolan prajurit serta pelayan, Kaezar tidak menemukan sosok itu. Bagaimana mungkin mereka kembali tanpa sosok itu? padahal jelas-jelas mereka pergi bersama. Perasaan tak nyaman langsung menyergap relung hatinya.


Tanpa pikir panjang Kaezar langsung mencaritahu. Masih ada beberapa prajurit yang tertinggal di dermaga. Ia memutuskan untuk mencari jawaban dari kecurigaannya lewat mereka.


“Kami memberi salam kepada Elang Muda Kekaisaran,” kata mereka ketika menyambut kemunculan Kaezar dengan salam hormat.


Kaezar mengangguk dengan singkat. “Dimana Yang Mulia Ratu?” Tanyanya to the point. “Kenapa hanya Raja dan Selir yang kembali?”


“Maafkan kami, Pangeran. Tapi, kapal layar ini hanya membawa Yang Mulia Raja dan Selir Agung Katarina. Sedangkan Yang Mulia Ratu …” prajurit yang angkat bicara itu tampak gugup dan kikuk.


Kaezar tanpa segan mendesak prajurit tersebut untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, sampai-sampai Kaizen kembali lebih cepat dengan selirnya, tanpa sang ratu.


“Kapten.”


Andrew yang merupakan orang kepercayaan Kaezar datang bersama dua rekan sejawatnya di militer. Menghadap sang Elang Muda Kekaisaran yang tampak menunjukkan emosi tersembunyi di balik wajah datarnya.


“Kumpulkan prajurit bayangan,” perintah Elang Muda Kekaisaran. “Kita akan segera menjemput Ratu.”


“Menjemput Yang Mulia Ratu?” bingung Andrew. “Tapi, bukannya jadwal kepulangan Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu adalah besok?” Andrew yang sempat mengawal kepergian raja dan ratu Robelia itu tentu saja dibuat kebingungan dengan titah Elang Muda Kekaisaran. Padahal menurut jadwal, pasangan paling dihormati di Robelia itu baru akan kembali esok hari. “Lagi pula kita tidak bisa berlayar dengan cuaca seperti ini, Pangeran.”


Kaezar terdiam dengan pandangan lurus ke arah langit-langit yang menghiasi perairan Robelia. Dari warna mega putih yang kini menjadi abu-abu pekat, menandakan jika akan terjadi hujan dan badai. Wilayah perairan utama di Robelia memang terbilang unik, karena perairan Robelia termasuk tempat paling elektrik seperti Danau Maracaibo di Venezuela. Disebut tempat paling elektrik karena bisa menghasilkan kilatan petir terbanyak dengan konsistensi 300 hari dalam satu tahun.



...(Danau Maracaibo di Venezuela)...


“Sebaiknya kita menunggu esok hari jika ingin pergi berlayar, Pangeran,” usul Andrew.


Kaezar keberatan dengan ide tersebut. Jika saja sekarang memungkinkan untuk segera mengarungi lautan, ia akan melakukannya tanpa pikir panjang. Sayang, alam tak mendukung keputusan tersebut.


“Setelah saya mendengar ceritanya lebih detail, Yang Mulia Ratu saat ini pasti masih berada di kerajaan Alexia,” kata Andrew, menyampaikan. “Anda jauh lebih mengenal Yang Mulia Ratu ketimbang saya. Anda pasti tahu jika Yang Mulia Ratu sangat pandai dalam menghadapi situasi.”


“Cette personne n’est pas saine d’esprit (orang itu memang tidak waras),” batinnya ketika wajah kakaknya terlintas dalam benak. Mungkin saja sekarang pria itu sedang berbagi kehangatan di atas ranjang dengan kekasihnya, tanpa memikirkan sang istri yang masih berada di negeri orang.


Kaezar yang berhasil dibujuk oleh Andrew, memilih untuk memesan penginapan di dekat pelabuhan, serta mengumpulkan pasukan bayangan. Mereka tidak bisa berlayar hari ini, jadi akan segera berlayar esok hari.


Ketika menunggu pagi kembali datang, Kaezar sampai-sampai tidak bisa memejamkan mata. Sepanjang malam ia hanya berdiri di dekat jendela yang dibiarkan terbuka lebar, menatap ke arah perairan yang tengah menampilkan pertunjukkan kilatan petir. Diam-diam Kaezar menjaga amanah dari Grand Duke Pexley untuk menjaga putri tercintanya. Kaezar melakukan amanah itu di bawah radar, sehingga tidak banyak yang sadar.


Sejak kecil, cuma Kayena satu-satunya wanita yang tidak membuat penyakit mysophobia nya kambuh. Kaezar memang mengidap mysophobia yang bisa disebut mendekati gangguan mental, dimana ia memiliki rasa takut berlebih terhadap mahluk bernama wanita. Setiap kali ia dekat dengan mereka, rasanya seperti ia dihadapkan dengan sesuatu yang menjijikan dan kotor. Sehingga ia kerap merasa mual dengan tubuh gemetar. Penyakit itu tentu saja membuat Kaezar menutup diri dari perempuan, kecuali Kayena. Putri dari pria yang telah memberinya banyak kasih sayang serta ilmu yang bermanfaat itu adalah satu-satunya wanita yang tidak membuatnya merasa jijik.


“Ada apa?” pertanyaan itu dilontarkan Kaezar yang baru saja menghampiri Andrew.


“Beberapa orang nelayan yang baru saja kembali mengatakan bahwa mereka melihat para perompak kembali berkeliaran di perbatasan wilayah perairan Robelia.”


“Perompak?”


Andrew mengangguk. “Perompak-perompak itu datang dari luar Robelia, mereka berkeliling samudra untuk menjarah kapal.”


“Masalah seperti ini seharusnya segera ditangani,” kata Kaezar seraya mengalihkan pandangan ke arah kesibukan di sekitar pelabuhan.


“Masalahnya ... para nelayan itu juga berkata jika mereka melihat para perompak menjarah kapal layar dengan lambang kerajaan Robelia.”


Terdiam. Kaezar kontan bungkam dengan tubuh membeku.


“Bagaimana ini, Pangeran? Saya telah mencaritahu, penjaga dermaga bilang keluarga kerajaan pergi menggunakan dua kapal layar menuju Alexia. Satu kapal layar yang paling besar telah kembali, itu berarti satu kapal layar lain yang belum kembali dinaiki oleh Yang Mulia Ratu …”


“Siapkan kapal layar dan persenjataan lengkap. Kita akan segera berangkat,” potong Kaezar, tak lagi bisa menunggu. Ia akan sangat menyesal jika sesuatu yang buruk terjadi pada Kayena.


Maka dengan segera ia mengumpulkan 10 prajurit bayangan yang memiliki kekuatan setara dengan 40 prajurit biasa. Bergegas mencaritahu kebenaran dari informasi simpang-siur yang berseliweran di dermaga. Ketika berhasil menemukan perahu layar berlambang kerajaan Robelia di batas perairan wilayah Alexia, Kaezar langsung bisa menangkap pemandangan dimana sejumlah perompak tengah menjarah kapal layar berukuran kecil itu. dengan strategi matang yang disusun dalam waktu singkat, serta berbekal pengalaman yang tidak sedikit, Kaezar dan pasukannya berhasil meringsek masuk dan memukul mundur para perompak.


Untung saja Tuhan masih memberinya kesempatan, sebelum terlambat menyelamatkan Pendamping Matahari Kekaisaran yang disia-siakan begitu saja.


“Je suis là (Aku ada di sini),” katanya ketika berhasil menangkap tubuh Kayena yang bergetar hebat. Membawanya ke dalam dekapan hangat supaya wanita itu merasa aman. “N’ayez pas peur. Je viens pour toi (Jangan takut. Aku datang untuk menyelamatkan mu).”


Kaezar datang tepat waktu sebelum wanita cantik itu terluka. Hanya saja Kaezar tak dapat memungkiri fakta jika insiden tersebut akan meninggalkan bekas dalam ingatan. Fisik mungkin boleh tak terlukai, namun hati? Kaezar bisa dengan jelas melihat luka dan ketakutan di wajah Kayena.


“S-aya bisa melakukannya sendiri, Pangeran.”


Kaezar mengalihkan pandangan dari luka memar di area siku ke wajah cantik di hadapannya. Kondisinya sudah jauh lebih baik pasca diselamatkan satu jam yang lalu. Ia dan pasukan bayangan berhasil menumbangkan para perompak.


“Apa perasaan mu sudah lebih baik?”


Lawan bicaranya mengangguk dengan senyum tipis yang terulas. “Terima kasih karena lagi-lagi telah menolong saya, Pangeran.”


Kaezar tak menggubris. Memilih membenarkan letak jubah kebesaran miliknya yang melindungi tubuh Kayena. Ia sudah bilang tak perlu mengucapkan terima kasih. Toh, ia hampir lalai menjalankan amanah untuk menjaganya.


“Untuk kedepannya, jangan lagi mengorbankan dirimu untuk orang itu,” kata Kezar tiba-tiba. “Pengorbanan mu sama sekali tidak berarti untuk manusia sepertinya.”


“…”


“Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku akan selalu berada di belakangmu untuk menjagamu.”


Kayena tersenyum hangat seraya menggelengkan kepala. “Berjalan lah di samping saya, Pangeran. Saya tidak butuh perlindungan, selagi Anda ada di sisi saya.”


💰👑👠


TBC


NOTE : Karena hari ini Author milad, insyaallah double update untuk membayar rasa rindu readers 😘


Semoga suka. sampai jumpa di part berikutnya. Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 02-04-23