How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00126. Les vrais liens ne seront jamais rompus (Ikatan yang sebenarnya tak akan



00126. Les vrais liens ne seront jamais rompus (Ikatan yang sebenarnya tak akan putus)


Wanita dengan kondisi tubuh setengah telan—jang di atas ranjang itu sepenuhnya sadar dengan apa yang telah terjadi beberapa jam lalu. Kadar alkohol yang telah diminum bahkan tidak dapat menghalangi kesadarannya yang kembali—hampir sepenuhnya, setelah ia dipermalukan dengan cara yang sangat tidak terbayangkan. Sampai sekarang telinganya bahkan masih mendengar suara seorang pria yang tengah memuntahkan isi perutnya. Bersamaan dengan itu, terbayang jelas wajah pucat pasi pria yang merupakan kekasihnya, ketika gejolak yang berasal dari asam lambung timbul di saat ia tengah beraksi—menggoda pria tersebut.


Katarina tidak pernah membayangkan akan melihat raut wajah jijik kekasihnya, ketika ia tengah berusaha keras untuk membuat gairahnya on. Baru seperempat jalan, pria itu malah menghadiahi dirinya dengan gejolak asam lambung yang memicu mual, hingga muntah. Entah apa yang sebenarnya terjadi, karena sebelumnya mereka tidak pernah mengalami kejadian seperti ini ketika hendak berhubungan badan. Apa mungkin kekasihnya salah makan? atau masuk angin?


Belum sempat pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, suara orang muntah yang tadi terdengar jelas, kini senyap. Tidak berselang lama, pintu yang menjadi penghubung ke dalam tempat mandi terbuka. Menampilkan sosok rupawan dengan wajah yang masih dibasahi oleh air.


“Beri aku air,” ucapnya dengan wajah yang tampak pucat. Langkahnya tampak terseok-seok ketika berjalan ke arah kursi.


Dengan segera, Katarina bergegas untuk menuruni ranjang, setelah menarik luaran dari gaun tidurnya untuk digunakan kembali. Air minum yang tersedia di atas meja kecil dekat ranjang kemudian ia tuangkan pada sebuah gelas. Setelah terisi penuh, ia memberikannya pada sang kekasih.


“Si*l,” umpat Raja Robelia itu lirih. Tenggorokan hingga ujung lidah bagian dalamnya terasa sangat pahit setelah memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan. Ia belum sempat mengisi perut sejak siang, maka rasanya sangat tidak nyaman ketika asam lambungnya bergejolak. Beberapa teguk air yang ia minum untungnya dapat mengurasi sedikit rasa tidak nyaman.


“Apa yang Anda makan sebelum datang kesini? Kemungkinan besar Anda muntah-muntah karena salah makan.”


“Aku belum makan apapun sejak siang,” balas Raja Robelia tersebut, sebelum menyandarkan punggung pada sandaran kursi. “Perutku mual sekali,” keluhnya seraya memegangi perut alotnya yang ramping.


Bayangkan saja, ia belum makan apapun sejak siang, seteguk air pun tidak. Tiba-tiba rasa mual muncul akibat perutnya yang terasa seperti dikocok dengan hebat. Hampir tiga puluh menit ia habiskan untuk menahan rasa mual, sebelum akhirnya muntah-muntah di tempat mandi. Hanya cairan yang ia keluarkan, namun rasanya sangat menyakitkan sekaligus menyiksa.


“Kenapa diam saja? segera panggilkan dokter!”


Katarina gelagapan mendengarnya. “Baik. Saya akan segera memanggil dokter kerajaan untuk memeriksa kondisi Anda.”


Kaizen mendengus kasar seraya menatap wanita yang berstatus sebagai kekasihnya. Lagi-lagi usaha untuk melakukan kontak fisik dengan wanita itu gagal karena rasa mual yang tidak tertahankan. Aroma mawar yang tercium dari tubuh wanita itu benar-benar memicu gejolak yang menimbulkan rasa mual, hingga berakhir muntah-muntah. Kaizen benar-benar tidak habis pikir dengan penolakan ekstrim tubuhnya terhadap wanita yang dulu sering kali ia habisi di atas ranjang. Sekarang jangankan bercumbu, mencium aroma tubuhnya saja ia sudah kewalahan. Seolah-olah tubuhnya menolak keras untuk bernafsu pada wanita itu.


“Katarina.”


Sebelum kekasihnya itu benar-benar meninggalkan ruangan, Kaizen kembali bersuara. Membuat langkah wanita tersebut terjeda seketika. “Tepati janji mu, Katarina,” ucapnya, memperingati sang kekasih akan perjanjian yang mereka buat lewat sebuah taruhan singkat beberapa saat lalu.


“Maksud Yang Mulia?”


Kaizen menyeringai kecil di sela-sela rasa mual yang masih mendominasi. “Minggu depan persiapkan diri mu dengan baik untuk menyambut anggota baru yang akan tinggal di tempat ini. Aku harap kalian bisa cepat akrab sebagai sesama wanita Raja.”


Di tempatnya berdiri, Katarina merasakan bahwa ia baru saja menggali kuburnya sendiri. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pulak. Gagal mendapatkan sang kekasih malam ini, konsekuensinya adalah harus setuju dengan keputusan kekasihnya yang akan mengangkat selir baru. Si*l sekali bukan?


**


“Kenapa telapak tangan kamu juga terluka? Apa semalaman kalian tidak tidur? akan tetapi bergulat?” pertanyaan retoris itu disampaikan oleh wanita cantik yang pagi itu kedatangan pasien kedua setelah kakak keduanya.


Cesare datang dengan tampang tidak berdosa ketika mengatakan bahwa telapak tangannya baru saja tergores—padahal kejadiannya sudah berlalu beberapa jam. Kayena sempat tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba kakak keduanya mengalami luka gores. Herannya lagi, luka itu dibiarkan begitu saja. Walaupun cesare berkata “baru” terluka, ia bisa melihat bahwa luka itu sudah mulai mengering. Itu berarti bahwa luka tersebut didapatkan berjam-jam lalu.


“Kami tidak memainkan permainan yang berbahaya,” jawab calon Pangeran kekaisaran Astoria tersebut. “Semalam Kakak pertama memberikan hadiah pernikahan. Kakak kedua kemudian memberikan contoh untuk berkenalan dengan salah satu benda yang dihadiahkan Kakak pertama.”


Kernyitan tercipta di kening Kayena yang sedang mengolesi luka gores di telapak tangan kekasihnya dengan salep. “Apa yang Kakak berikan kepada kamu, sampai-sampai kamu harus terluka seperti ini.”


Tidak langsung menjawab, Kaezar memilih untuk langsung memperlihatkan barang yang dimaksud. Toh, saat ini mereka hanya berdua di halam depan Yeowang-ui bang. Khayansar dan Cesare sudah terlebih dahulu pergi untuk berjumpa dengan Kaisar Kwang Sun. Selain memberikan hadiah, semalam Khayansar juga memberitahukan bahwa Kaisar Kwang Sun ingin bicara langsung kepadanya, mengenai pemberian posisi Pangeran kepada Kaezar. Sebelum bertemu sang Kaisar, Kaezar ingin bertemu dengan kekasihnya terlebih dahulu.


Keterkejutan tampak tergambar di wajah sang kekasih. Kaezar yang melihatnya justru merasa gemas. Ia memang tidak pandai menghadapi wanita. Namun, bersama kekasihnya, seolah-olah ia bisa melakukan segalanya.


Anggukan singkat ia berikan seraya mengelus permukaan perut ramping milik kekasihnya. Ia belum menyapa calon anak mereka yang masih sangat kecil di dalam sana.


“Kakak pertama memberikannya bersama dua brooch pin.”


“Aku sempat melupakan tradisi pemberian belati jantung samudra dan brooch pin turun-temurun, karena dulu Kaizen tidak mendapatkan keistimewaan ini.”


Kini giliran Kaezar yang dibuat terkejut. “Kenapa begitu?”


“Karena belati jantung samudra dipercaya hanya bekerja untuk keturunan keluarga Pexley, atau setidaknya anggota keluarga Pexley yang diakui oleh belati jantung samudra itu sendiri,” jawab Kayena seraya menatap belati jantung samudra yang ditunjukkan oleh kekasihnya. “Kaizen tidak mendapatkan belati jantung samudra karena dia adalah Matahari Kekaisaran yang tidak dapat masuk ke keluarga Pexley sepenuhnya. Justru aku yang dia ambil untuk dijadikan anggota keluarga Kadheston. Belati jantung samudra tidak akan berguna untuk pemilik garis keturunan Matahari Kekaisaran, karena elemen magis keduanya berbeda dan saling bertolak belakang. Mudahnya, Kaizen telah dilindungi oleh garis keturunannya sebagai Matahari Kekaisaran. Sedangkan belati jantung samudra hanya akan melindungi pemiliknya yang belum memiliki pelindung magis.”


Kaezar mulai paham, karena ia tahu betul elemen magis yang dimaksud sang kekasih. Ia pernah mendengar bahwa calon Raja Robelia selanjutnya telah diberkahi semenjak berada dalam kandungan. Raja yang lekat dengan julukan Matahari Kekaisaran bukan tercipta tanpa alasan. Konon katanya, julukan itu disematkan pada setiap Raja Robelia—sekalipun negeri tersebut bukanlah berbentuk kekaisaran, namun masih kerajaan. Pewaris tahta kerajaan Robelia akan secara otomatis diberi julukan Matahari Kekaisaran. Biasanya merupakan anak pertama yang mewarisi tahta, serta warisan ilahi berupa pelindung magis yang tidak diketahui dengan jelas asal-usulnya.


Rupanya Kaizen telah mendapatkan pelindung magis tersebut, karena ia terlahir sebagai pemilik tahta kerajaan Robelia berikutnya. Maka tidak heran jika selama ini ia tetap kokoh menguasai singgasana miliknya, sekalipun badai menerjang dari sega penjuru. Jika bukan kematian yang menjadi ujian terberat bagi Matahari Kekaisaran, ujian lainnya akan berasal dari orang-orang yang ia cintai.


“Kakak pertama berkata bahwa belati jantung samudra ini berpasangan dengan belati harapan sang surya yang kamu miliki.”


Kayena terdiam. Ia tidak menyangka jika para kakaknya juga akan membawa-bawa topik terkait belati harapan sang surya. Benda tajam yang ia gunakan untuk menghilangkan nyawa pada kehidupan sebelumnya.


“Selain dapat melindungi pemiliknya, belati harapan sang surya juga dapat membuat pemiliknya mengulang waktu lewat kematian.” Kaezar kembali bersuara. Kali ini dengan pandangan yang sama-sama beradu. “Itu adalah kepercayaan yang dikaitkan dengan belati harapan sang surya. Kakak pertama dan kedua juga menjelaskannya kepada ku,” lanjut Kaezar.


Kayena tersenyum dengan pandangan yang tidak terlepas dari kekasihnya. “Benar. Ketika Ayah memberikan belati harapan sang surya, ayah juga mengatakan kepercayaan yang terikat dengan belati harapan sang surya.”


Kayena tiba-tiba berdiri, membuat tangan Kaezar yang bermukim di perutnya kehilangan landasan untuk beberapa saat. Wanita cantik itu tiba-tiba menaikkan satu kaki pada sebuah batu untuk dijadikan pijakan. Menggunakan kedua tangan, ia kemudian menyingkap rok bagian bawahnya dengan gerakan sehalus mungkin. Guna menghargai harkat serta martabat sang kekasih, Kaizen segera membuang muka. Padahal Kayena hanya menyingkap bagian rok sampai lutut, supaya ia dapat mengeluarkan belati harapan sang surya yang ia simpan pada ikat di atas lututnya.


“Inilah belati harapan sang surya yang hanya dapat dibicarakan, namun sudah untuk diperlihatkan.”


Kaezar kembali menoleh kepada sang kekasih yang tengah menyodorkan sebuah belati. Belati yang kemarin diceritakan oleh kedua calon kakak iparnya, kini terpampang nyata di hadapannya.


“Belati harapan sang Surya yang dapat mengembalikan waktu lewat kematian.” Kayena berkata seraya membawa belati miliknya agar bertemu dengan belati jantung samudra milik Kaizen. “Dalam satu generasi, hanya terlahir satu pasangan yang mewarisi belati harapan sang Surya dan belati jantung samudra, atau tidak ada sama sekali.”



Kayena tersenyum kecil seraya menatap kedua benda tajam tersebut, sebelum menatap hangat kekasihnya. “Belati harapan sang Surya milikku telah menemukan pasangan yang seharusnya, yaitu belati jantung samudra milik kamu.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 09-08-23