
00110. Blessures et traumatismes de Kayena (Luka dan Trauma Kayena)
Kondisi kesehatan satu-satunya wanita hamil di istana kekaisaran Astoria berangsur-angsur memburuk semenjak pertemuan terakhirnya dengan Killian. Ditambah lagi beban pikirannya semakin berat semenjak ia membaca surat dari sang kakak, serta tambahan informasi dari salah satu informan yang ia kirim ke medan perang—wilayah seberang perbatasan lebih tepatnya. Baru-baru ini ia mendapatkan lebih banyak informasi terkait pria yang telah membuka hatinya. Dari semua informasi yang ia dapatkan, kemungkinan besar memang benar telah terjadi kekacauan di wilayah seberang perbatasan.
Dikatakan bahwa barak militer milik tentara yang dikirim oleh kerajaan Robelia diserang oleh sekelompok orang tak dikenal. Ada pula tambahan informasi bahwa kavaleri Robelia dikhianati oleh anggota sendiri, sehingga mereka bisa kecolongan. Dampak dari peristiwa tersebut, hampir seluruh anggota kavaleri yang diterjunkan kehilangan nyawanya. Setelah mencerna semua informasi tersebut, bagaimana mungkin wanita yang tengah hamil muda itu tidak down?
Di usia kandungan yang masih terbilang sangat muda, rentan sekali terjadi gangguan yang dapat memicu keguguran. Kayena sudah berusaha tegar, senantiasa berpikir positif agar kondisi kesehatannya tetap stabil, sehingga ia bisa menjaga kehamilannya dengan baik. Namun, belakangan ini mimpi buruk juga tidak absen menyambangi tidurnya di malam hari. Semenjak pembicaraan terakhirnya dengan Killian, Kayena terus saja bermimpi tentang kehidupan pertama, di mana ia sangat menderita, namun tetap menanggungnya seorang diri.
Puncak penurunan daya tahan tubuh wanita hamil itu adalah pagi ini, ketika ia genap tinggal selama 3 minggu di Astoria. Ketika bangun di pagi hari, ia mendapati nyeri yang teramat pada bagian perut, serta menemukan dirinya mengalami pendarahan. Kondisi tersebut tentu saja membuat Kima dan yang lainnya diserang kecemasan yang berlebihan.
Kondisi gawat darurat lantas segera disampaikan kepada sang pemilik kekuasaan tertinggi, yaitu Kaisar Kwang Sun. Maka tidak heran ketika paviliun Yeowang-ui bang sejak pagi sudah didatangi oleh orang-orang Kaisar Kwang Sun. Mereka ditugaskan untuk mengobati wanita yang digadang-gadang sebagai “kekasih” sang Kaisar.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Kaisar Kwang Sun ketika tabib terbaik di kerajaan selesai memeriksa Kayena.
“Kondisi tubuh Nona Kayena masih sangat lemah, Yang Mulia Kaisar. Pendarahan yang terjadi kemungkinan besar diakibatkan tubuhnya yang terlalu lemah, serta banyaknya beban pikiran yang membuat mental Nona Kayena tertekan.”
Di samping Kayena yang berbaring tak sadarkan diri, ada Kima yang setia menemani. Ia tidak menangis, raut wajahnya tampak tegar. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia menyimpan banyak ketakutan dan kecemasan. Diam-diam ia akan menangis di suatu tempat ketika sudah terlalu ketakutan. Akan tetapi, sebisa mungkin Kima tidak memperlihatkan air matanya di hadapan sang nona.
“Kondisi ini bisa mengancam kehamilan Nona Kayena, karena pada usia kehamilan muda memang sangat mudah terjadinya keguguran.”
Kaisar Kwang Sun tampak menatap Kayena dengan sorot mata sedih. Ia kemudian meminta tabib kerajaan itu untuk segera pergi meracik obat herbal yang sekiranya dapat membantu mempercepat pengobatan Kayena.
“Apa yang terjadi belakangan ini? aku terlalu sibuk dengan urusan kenegaraan, sampai-sampai tidak mengetahui kondisi kesehatannya yang memburuk.”
Kima menunduk dalam ketika ditanya demikian. “Maaf, Yang Mulia Kaisar. Belakangan ini Nona memang terlalu banyak beban pikiran. Kondisi ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kelalaian Anda. Lagiupula Nona memang tidak ingin merepotkan Anda, oleh karena itu Nona menyembunyikan perihal kondisi kesehatannya yang belakangan memburuk.”
Kaisar Kwang Sun menghela napas gusar, kemudian kedua tanganya meraih tangan Kayena untuk digenggam. “Aku dengar pria yang selalu dia tunggu kedatangannya menghilang ketika bertugas. Apa itu salah satu alasan dari beban pikirannya?”
Kima terhenyak dalam diam. Ia tidak tahu sejauh apa Kaisar Kwang Sun mengetahui soal hubungan Kayena dan Elang Muda Kekaisaran. Ia juga tidak boleh asal bicara, karena lawan bicaranya adalah seorang Kaisar yang jelas-jelas menyimpan rasa suka untuk nonanya.
“Benar, Yang Mulia.” Kendati demikian, Kima juga tidak dapat berbohong begitu saja, karena ia tahu Kaisar Kwang Sun bukan pria yang bodoh. “Nona juga mendapat kabar bahwa kondisi di Robelia sedang tidak kondusif. Di sisi lain, kedua saudara Nona tengah berada di Robelia guna memperjuangkan hak serta keadilan untuknya.”
“Seharusnya dia tidak memikirkan banyak hal, di saat kondisi tubuhnya memburuk. Mendengarnya memanggil nama pria lain ketika berada di alam bawah sadar, membuat ku yakin jika pemilik nama itu pasti sangat dia rindukan.”
Kima tidak tahu harus memberikan respon seperti apa. Jadi, ia memilih untuk diam dalam tunduk membiarkan lawan bicaranya. Lagipula tanpa diberi penjelasan pun, sang Kaisar sudah pasti paham.
Anggukan Kima berikan sebagai jawaban. Sebelum benar-benar meninggalkan paviliun Yeowang-ui bang, ia sempat berkata pada Kayena yang masih tidak sadarkan diri.
“Bolehkah aku iri dengan pria yang kamu berikan kesempatan untuk memiliki kepercayaan mu? Setelah sekian lama menunggu perpisahan mu dengan Raja bodoh itu, rupanya aku masih kalah telak dengan kehadiran pria lain. Jelas-jelas aku yang lebih dulu mencintaimu.”
“…”
“Aku harap kali ini pilihan mu untuk memberi pria itu kesempatan bukan pilihan yang salah,” lanjut Kaisar Kwang Sun. “Namun, jika suatu saat nanti pria kali ini masih tidak bersyukur karena telah memiliki diri mu, berikan aku satu kesempatan untuk membahagiakan dirimu. Aku akan memberikan segalanya demi kebahagiaan wanita yang aku cintai.”
Setelah berkata demikian, barulah Kaisar Kwang Sun pamit undur diri. Kima juga sempat mengantar kepergian pemimpin negeri ini. Meninggalkan Kayena yang rupanya membuka mata tidak lama setelah kepergian Kaisar Kwang Sun. Kayen juga masih sempat mendengarkan ucapan terakhir sang Kaisar sebelum meninggalkan sisinya.
“Anda terlalu baik,” gumam Kayena dengan gerak bibir yang terbilang lemah. “Untuk saya yang sempat kesulitan membuka hati karena belenggu masa lalu, Anda terlalu sempurna.”
Kayena menatap lurus ke arah langit-langit ruangan yang ia tempati. Masih ada rasa sakit yang tertinggal di area perut, kini ditambah dengan rasa bimbang di hati. “Akan tetapi, menginginkan Anda yang terlalu sempurna juga membutuhkan usaha yang tidak main-main. Jadi, maaf, Kaisar Kaysan. Hati saya telah memilih pemiliknya sendiri. Tidak mudah bagi saya untuk membuka hati lagi setelah dikhianati. Jadi, saya akan tetap teguh dalam pilihan kali ini. Dia pria yang terpilih, yang tidak kalah baik dari Anda.”
Kayena telah diberi berkah dengan hidup kembali. Kali ini ia tidak langsung mudah memberikan kepercayaan pada seorang pria yang hendak memasuki hatinya. Butuh waktu sampai ia membiarkan pria “terpilih” itu untuk mengetuk pintu hatinya.
Kaezar adalah orang yang beruntung, karena ia gigih dan tulus ketika mengharapkan kesempatan untuk mendapatkan Kayena. Ketika usahanya mendapatkan respon balik, tidak ada kata-kata di dunia ini yang mampu menjelaskan perasaannya.
Kayena mungkin pernah terluka, hingga menimbulkan trauma. Namun, pada kesempatan hidup kali ini, ada sosok yang menawarkan penawar paling mujarab. Luka dan traumanya perlahan ia sembuhkan dengan penawar bernama cinta. Rasa tulus yang datang dari hati seorang pria yang tidak pernah mendedikasikan hidupnya untuk wanita manapun, selain Kayena de Pexley.
“Bagaimana kabar mu, Pangeran? Aku sangat merindukan mu, sampai-sampai bayi kita ikut merasakan kerinduan ibunya,” gumamnya ketika sekelebat bayangan menampilkan wajah rupawan sang kekasih hati. “Aku harap di manapun kamu berada, kamu baik-baik saja. Lekaslah datang. Aku ingin segera bertemu dengan mu.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 16-08-23