
0075.la souveraineté absolue du roi tyran était remise en question (kedaulatan Raja Tiran dipertanyakan)
“Sebenarnya apa yang membuat keputusan Yang Mulia tertahan?”
Penasihat hukum yang didatangkan secara langsung itu kembali bertanya pada sang Raja. Di luar saja, suara rakyat masih terdengar dari gerbang masuk. Semenjak bocornya insiden kurang menyenangkan di peradilan yang digelar oleh Pengadilan Tinggi, rakyat langsung berkumpul dan membentuk koloni besar di depan gerbang utama. Mereka menyuarakan petisi soal kekacauan pada peradiran yang seharusnya melahirkan keadilan bagi mantan Ratu mereka.
“Rakyat semakin mendesak di balik gerbang utama,” tambah penasihat hukum Robelia tersebut. “Mereka hanya ingin keadilan; bentuk dari keadilan itu sendiri salah satunya adalah dihukumnya Archduke Klautviz de Meré.”
“Tidak semudah itu menjatuhkan hukuman kepada Paman ku sendiri.”
Akhirnya setelah sekian lama, Raja Robelia itu buka suara. Jelas sekali di wajahnya tergambar berbagai pertimbangan. “Archduke Klautviz de Meré bukan saja Adik mendiang Raja terdahulu, sekaligus Paman ku. Dia juga salah satu pahlawan perang yang namanya tertulis dalam daftar seratus orang yang harus dihormati berkat jasa-jasanya.”
“Maaf menyela, Yang Mulia. Lantas, apa bedanya dengan Grand Duke Pexley? Beliau juga pahlawan perang yang masih berkontribusi hingga beberapa hari yang lalu—lebih tepatnya sebelum beliau menebas habis harga diri demi menyelamatkan nama baik Putrinya.”
Raja Robelia terdiam. Dari sekian banyak orang cerdas yang ia kenal, penasihat hukum Robelia memang yang paling unggul. Selain itu, ia juga berpikir secara rasional, serta berada di tim netra, alias tidak memihak kubu manapun.
“Jika dibandingkan, jasa-jasa Grand Duke Pexley lebih banyak daripada Archduke Klautviz de Meré. Lalu, kenapa saat itu Anda tidak dapat menunjukkan toleransi sedikitpun? Sedangkan pada kesempatan kali ini … Yang Mulia terbilang keberatan dalam mengambil keputusan.”
“Memang tidak semudah itu,” gumam Kaizen. Bukan masalah pamannya saja yang tiba-tiba muncul kembali dan menimbul kehebohan di ruang peradilan. Namun, Kaizen juga sudah terikat janji. Janji yang membuatnya tidak boleh mengusik hidup Klautviz de Meré dengan sengaja.
Kendati demikian, sekarang yang menjadi perhatian adalah gejolak masa di luar sana. Masa terkumpul dari rakyat di sekitar ibu kota. Mereka hadir untuk meminta keadilan terhadap mantan Ratu. Selain itu, mereka juga menginginkan Klautviz de Meré dihukum mati, sebagaimana mestinya. Sedangkan Selir Agungnya yang dicurigai sebagai dalang dari insiden percobaan penculikan dan pembunuhan terhadap mantan Ratu juga tidak luput dari incaran. Rakyat menginginkan wanita itu membusuk di penjara selamanya, atau langsung dijatuhi hukuman penggal sebagaimana mestinya.
Situasi semakin tidak kondusif semenjak Duke of Edinburgh atau Khayansar meninggalkan ruang peradilan bersama anak buahnya. Pria itu langsung pergi dari istana, membawa serta para saksi yang keselamatannya memang harus diprioritaskan. Kepergian Duke of Edinburgh juga menjadi awal mulanya kesabaran rakyat ibu kota pecah. Mereka yang mengenal Kyara dari pihak pengurus, serta pelayan di istana Robelia juga ikut berdemo.
“Sebaiknya Yang Mulia segera mengambil keputusan,” tekan penasihat hukum. “Jika kali ini Yang Mulia tetap ingin melindungi Archduke Klautviz de Meré, maka kedaulatan absolute Anda sebagai Raja akan semakin diragukan.”
Kaizen menghembuskan napas kasar. Masalah peradilan yang tidak berjalan dengan baik, menimbulkan buntut sepanjang ini. Ia juga mulai merutuki kebodohannya sendiri, ketika ia menerima kehadiran Pamannya yang sudah lama menghilang dengan tangan terbuka. Padahal jelas-jelas tindakan yang dilakukan pamannya tidak dapat dibenarkan. Hukum di Robelia jelas berkata; siapapun yang mengacaukan jalannya sidang yang dibuka oleh Pengadilan Tinggi, hukumannya adalah eksekusi mati.
“Perkataan penasihat hukum ada benarnya Yang Mulia,” kata Kaelus yang sejak tadi berdiri tegap sembari menyimak. “Maafkan kelancangan saya. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kepercayaan Rakyat terhadap pemerintah semakin berkurang, semenjak insiden yang menimpa mantan Ratu.”
“Aku tahu itu,” balas Kaizen. Hanya saja tidak mudah untuk menjatuhkan hukuman pada Klautviz de Meré. Di sisi lain, ia juga tidak mau jika kedaulatan absolut nya sebagai Raja semakin diragukan dan dipertanyakan. “Apa ada dari kalian yang mampu memberi solusi? Rasanya kepala ku mau pecah memikirkan jalan terbaik untuk masalah ini.”
“Solusi dari saya hanya satu, Yang Mulia. Selesaikan peradilan terkait laporan Duke of Edinburgh. Jika kasus ini ditutup begitu saja, banyak pihak yang akan kecewa.”
“Dengan catatan Selir Agung terancam dalam bahaya,” ujar Kaizen. Untuk saat ini Katarina adalah partner terkuat yang ia miliki. Karena selain posisi sebagai wanita Raja, wanita itu juga memiliki dukungan dari separuh bangsawan di Robelia. “Tujuan ku adalah mengamankan posisi Selir Agung dan juga … Archduke Klautviz de Meré.”
Penasihat hukum tampak menautkan kening. Ketimbang melirik sang Raja, ia memilih melarikan pandangan ke arah Kealus. “Jika itu keputusan Yang Mulia, silahkan berikan konfirmasi secara resmi. Namun, menurut saya, alangkah lebih baik jika menyelesaikan laporan Duke of Edinburgh terlebih dahulu, supaya kita bisa mengetahui kebenaran tentang percobaan penculikan serta dugaan percobaan pembunuhan terhadap mantan Ratu.”
Kaizen terdiam. Berkaca dari penyelidikan sebelumnya, hampir semua bukti dan saksi mengarah ke Katarina. Hal itu tentu saja memberatkan posisinya sebagai terduga pelaku. Kaizen juga yakin jika Katarina ada sangkut pautnya, namun ia tidak boleh membiarkan pionnya itu dalam posisi berbahaya.
“Untuk saat ini, lebih baik segera bubarkan mereka,” titah Kaizen, pada akhirnya. Mereka yang dimaksud adalah para rakyat yang berjubel di gerbang utama. Mereka yang tengah meminta keadilan atas nama mantan Ratu. “Buat mereka takut, dengan cara mengingat siapa pemilik otoritas tertinggi di negeri ini.”
“Arcduke Klautviz de Meré tidak akan dihukum, namun untuk sementara waktu dia akan dilarang meninggalkan istana. Begitu pula dengan Selir Agung Katarina.”
Keputusan Kaizen tidak akan memberikan kepuasan pada rakyat, apalagi Duke of Edinburgh. Kaelus serta penasihat hukum saja “kecewa” setelah memberikan masukan panjang kali lebar. Keputusan tersebut mereka nilai terlalu beresiko bagi kepercayaan rakyat terhadap kedaulatan absolut Raja.
Di sisi lain, ada pihak yang tampak tenang-tenang saja, sekalipun dari jendela ia bisa melihat rakyat ibu kota Robelia yang tengah berkoar-koar. Sudah lama ia tidak melihat rakyat ibu kota berdesakan di gerbang utama, hanya karena menginginkan keadilan. Sejak dahulu, keturunan Raja Robelia pasti punya sifat egois yang akan bertentangan dengan rakyat.
“Kita lihat sejauh mana keponakan ku membela diri mu?” ujarnya pada wanita muda yang sejak tadi tampak tidak nyaman akan kehadirannya. “Aku dengar dia sangat tergila-gila pada …tubuh mu,” lanjutnya dengan sorot mata tajam yang berkilat.
“Jaga bicara Anda!” seru pemilik gelar Selir Agung tersebut. “Yang Mulia Raja sangat mencintai saya.”
“Ah, iya. Cinta. Aku bisa melihat keponakan bodoh ku itu memang mudah bertingkah gegabah karena cinta.”
“Jaga bicara Anda. Jangan sekali-kali Anda menghina kekasih saya.” Katarina tidak terima begitu kekasihnya dibilang bodoh. Baginya Kaizen sangat pintar, serta gentleman, walaupun terkadang ia egois dan sukar ditebak.
“Asal kau tahu …” putriku, lanjutnya di dalam hati. “Seorang pria hanya jatuh cinta satu kali.”
Katarina bungkam. Tak berniat langsung menjawab.
“Lalu apa kau tahu, siapa yang berhasil membuat keponakan ku jatuh cinta?” tanya Klautviz de Meré dengan senyum miring yang tersungging.
“Tentu saja aku,” kata Katarina. Menjawab dengan mantap. “Yang Mulia sudah membuktikannya lewat malam-malam yang kita habiskan bersama. Tidak ada wanita yang mampu membuatnya puas, selain saya.”
Senyum miring Klautviz de Meré semakin tersungging. Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, ia kembali melontarkan fakta yang membuat Katarina terdiam. “Banyaknya malam mengairahkan yang kalian lewatkan bersama, tidak lantas dapat dijadikan sebagai tolak ukur jika keponakan ku mencintai mu.”
“Mengingat aku pun begitu. Banyak malam mengairahkan yang aku lewatkan bersama ibu mu, namun wanita yang aku cintai justru milik Kakakku,” lanjut Klautviz de Meré di dalam hati.
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini? Penasaran? Mau baca tentang asal-usul Klautviz de Meré?
Spam komentar NEXT dulu di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 03-07-23