How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00150. Soupçon, déception et début de punition (Kecurigaan, kekecewaan, serta



00150. Soupçon, déception et début de punition (Kecurigaan, kekecewaan, serta awal dari hukuman )


“Seharusnya tidak ada yang salah dengan ramuan itu. Efek dari tanaman herbal yang digunakan tidak akan berakibat fatal, karena menggunakan takaran yang pas. Aku sangat yakin, 98% efek dari ramuan herbal itu hanya menimbulkan efek halusinogen, euphoria ringan, perubahan dalam kondisi pikiran, hingga menimbulkan efek mabuk. Semua itu bekerja dengan semestinya. Aku bahkan tidak menggunakan campuran cannabis sativa ssp atau opium dalam campuran ramuan ini.”


Raja Robelia itu terus berceloteh seraya membaca setiap lebel yang ditempel pada botol-botol kaca berukuran kecil. Semua botol kaca itu berwarna gelap, tetapi isinya bisa dipastikan 100% berupa liquid atau cairan. Pasalnya botol yang berisi pil obat dan sebagainya didesain berbeda, supaya tidak ada kejadian tertukar antara ramuan herbal dan pil obat herbal.


“Aku juga tidak menggunakan tanaman herbal yang mengandung bahan kimia aktif yang dapat menyebabkan halusinasi hingga masalah fisik.” Beralih pada deretan lain, Kaizen terus berpikir keras tentang apa yang menyebabkan fungsi kedua kaki Katarina yang rusak. “Tanaman Kanna dari daratan Afrika juga tidak ada dalam komposisi bahan untuk membuat ramuan ini.”


Jika tanaman bernama Kanna yang berasal dari daratan Afrika masuk ke dalam komposisi bahan pembuat ramuan yang diberikan pada Katarina, maka Kaizen bisa dengan mudah menebak efek sampingnya. Tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan bius untuk melumpuhkan musuh, hewan buruan, atau pasien yang membutuhkan ketenangan dalam penanganan itu memang dapat menimbulkan rasa tenang dan kantuk. Namun, efek sampingnya jika digunakan berlebihan sangat berbahaya, karena dapat membuat seseorang mengalami halusinasi hingga badan yang mati rasa.


Sebagai seorang alkemis yang sudah professional, Kaizen tentu bekerja dengan sangat hati-hati. Ia bahkan memiliki labolatorium riset sendiri serta asisten yang mumpuni dalam bidang yang ia butuhkan sebagai alkemis. Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, karena setiap ramuan herbal dan pil obat herbal yang dibuat telah diuji coba untuk memastikan kelayakannya.


Ada beberapa jenis ramuan herbal dan pil obat herbal yang diuji coba pada manusia, ada pula yang diuji coba pada binatang. Khusus untuk ramuan herbal dan pil obat herbal yang mengandung toxic kelas I, II, dan III masih bisa diuji coba pada manusia. Sedangkan kelas IV dan V apalagi kelas tinggi, pasti akan diuji coba pada binatang, seperti tikus, kelinci, dan sebagainya.


“Tidak ada tanaman herbal yang beresiko membuat Katarina mengalami kelumpuhan,” ujar Kaizen dengan tubuh bersandar pada lemari kayu. Ke-dua tangannya terlipat di depan dada. “Atau jangan-jangan wanita itu hanya mengada-ada?”


Setelah hampir setengah jam berkutat dengan berbagai jenis obat herbal, pil obat herbal, sampai penawar racun, Kaizen masih tidak dapat menemukan solusi terkait masalah Katarina. Sebelum memberikan obat atau penawar, ia tentu saja harus mencari tahu terlebih dahulu. Apa yang menyebabkan Katarina kehilangan fungsi kedua kakinya.


“Yang Mulia, Anda sudah menemukan obatnya?” pertanyaan itu dilontarkan Kaelus setelah melihat rajanya kembali menampakkan diri. Namun, tidak ada apa pun yang ia bawa dari ruang rahasia.


Katarina yang sudah jauh lebih tenang juga diam-diam mencaritahu, di mana letak obat yang tadi dijanjikan oleh pria itu.


“Katakan dengan jujur, kakimu baik-baik saja atau benar-benar tidak dapat berfungsi?”


Siapa sangka pertanyaan seperti itulah yang pertama kali dilontarkan Kaizen, pasca membuat orang lain menunggu dengan penuh harapan.


“Apa aku salah dengar, Kaelus?” tanya Katarina dengan raut wajah datar. Bukan pada Kaizen ia berkata, melainkan pada tangan kanan kekasihnya. “Dia bertanya soal kondisi kedua kakiku?”


Kali ini Katarina bukan hanya bertanya. Ia bahkan mengalihkan pandangan pada Kaizen dengan mata memicing. Pria itu dengan seenak jidat meragukan kondisinya.


“Kau tidak melihatnya? Apa kedua matamu tertutup oleh rasa benci kepada anak haram ini?” ujar Katarina dengan suara dingin. Ia tampak tidak ingin lagi berdebat dengan kekasihnya itu. Entah menguap ke mana rasa cintanya yang begitu banyak, sehingga sekarang hanya tersisa rasa benci, marah, dan kecewa.


“Aku bukannya meragukanmu, tetapi dari komposisi tanaman herbal yang aku gunakan untuk membuat ramuan itu, tidak ada tanaman herbal yang memiliki efek menghilangkan fungsi anggota tubuh atau merusak anggota fisik.”


Katarina menatap lawan bicaranya dengan sorot mata yang tidak dapat dijelaskan. Tanpa kata, ia kemudian menggunakan kedua tangannya untuk menopang tubuh. Kedua tangan yang di simpan di kanan dan kiri itu ia gunakan sebagai penyangga ketika ia berusaha untuk beranjak dari tempat tidur. Namun, sekuat tenaga ia mencoba, bagian bawah tubuhnya terasa begitu berat. Sukar digerakkan, bahkan seperti tidak ada pergerakan sama sekali ketika ia mencoba untuk berguling ke samping. Jangankan berguling, menggerakkan salah satunya saja sangat sulit.


“A-pa yang sedang kau lakukan? Sudah. Hentikan saja sandiwaramu.” Kaizen melerai dengan nada malas. Padahal, ia sendiri tidak mau semakin merasa bersalah.


Katarina tidak menggubris. Ia terus mencoba untuk membuktikan pada kekasihnya yang sangat bajing*n dan brengs*k. Walaupun ia harus menahan rasa ngilu karena sekuat tenaga berusaha, tetapi bagian tubuhnya tetap seperti mati rasa. Kaelus saja yang melihatnya tampak tidak nyaman. Di matanya, bagaimana Katarina berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan bagian kaki, terlihat sangat nyata dan bukan rekayasa.


Pada akhirnya, Katarina tetap tidak berhasil. Ia justru hampir terjungkal karena tubuh atasnya bergerak secara agresif, sedangkan tubuh bagian bawahnya seperti membatu. Untung saja ada Kaelus sigap membantu. Sedangkan Kaizen yang tadinya sudah siap membantu, kalah sigap dan akhirnya memilih bersikap acuh tak acuh.


“Aku akan memanggil dokter kerajaan untuk memastikan kondisi ke-dua kakimu.”


Katarina yang telah kembali ke posisi semula dengan bantuan Kaelus, langsung menatap Kaizen dengan dingin. Jenis tatapan yang sebelumnya belum pernah dilayangkan kepada kekasihnya itu.


“Jika kamu tidak dapat memenuhi apa kamu janjikan, panggil semua dokter hebat yang ada di kerajaan ini untuk menyembuhkan kakiku. Jangan hanya banyak bicara.”


Kaizen mengepalkan kedua tangan dengan erat. Jika sudah kembali ke settingan flat, Katarina sudah seperti dirinya; keras kepala dan susah diatur.


“Satu lagi, bawa aku ke tempat lain. Di mana pun itu, terserah. Aku tidak sudi berada di tempat ini.”


“Bagus jika kau sadar diri. Tempat ini memang tidak pantas untukmu,” balas Kaizen tidak kalah keras kepala. “Kaelus, bawa dia pergi dari peraduanku. Tempatkan dia di mana pun, terserah kau saja.”


Mungkin hanya ada Kaelus yang paling normal di antara pasangan kekasih yang sekaran tampak seperti pasangan love-hate. Sebagai bawahan yang setia pada tuannya, Kaelus hanya bisa mengiyakan tanpa banyak bicara. Ia kemudian segera mengambil alih tubuh Selir Katarina untuk dibawa dalam gendongan ala bridal style.


Ini adalah kali pertama Katarina digendong oleh pria, selain Kaizen. Dulu, ia selalu enggan berdekatan dengan pria lain, kecuali Kaizen. Sekarang beda lagi. Ia justru baru sadar jika kekasihnya itu tampak seperti manusia tanpa hati. Tanpa perasaan.


“Bawa aku pergi. Bawa aku pergi dari sini,” ucapnya, bak mantra ketika Kaelus mulai membawanya keluar dari peraduan pribadi Raja Robelia.


Dengan wajah yang disembunyikan dalam tangkupan kedua telapak tangan, Katarina membiarkan tangan kanan kekasihnya yang bajing*n dan brengs*k membawa dirinya pergi ke mana pun. Kembali ke paviliun Selir Tingkat IV juga tidak apa-apa, setidaknya pemandangan dari balik jendela paviliun itu indah. Tempatnya juga sepi, cocok untuk menenangkan pikiran dan mulai menjalani perawatan. Jika bukan paviliun Selir Tingkat IV, paviliun belakang harem istana yang dibangun terpisah dari tiga bangunan inti yang ada di lingkungan istana juga bukan pilihan yang terlalu buruk.


Katarina bahkan siap jika dikirim ke luar istana. Asalkan kedua kakinya kembali berfungsi dengan baik. Mendapati kenyataan bahwa kedua kakinya tidak dapat berfungsi dengan baik, sama menyakitkannya ketika ia mengetahui bahwa selama ini Raja Robelia selalu menggunakan kontr*resepsi alami, sehingga ia tidak dapat mengandung. Bahkan rahimnya juga terancam rusak akibat efek penggunaan tanaman herbal yang dijadikan sebagai kontr*resepsi alami.


“Kenapa kau membawaku ke sini?” bingung Katarina ketika membuka mata.


“Yang Mulia Raja mengizinkan Anda untuk tinggal di mana pun. Saya pikir Anda akan merasa senang jika tinggal di sini,” jawab Kaelus dengan jujur.


“Tetapi ini istana Selir Agung?”


Kaelus membawa Katarina ke istana Selir Agung. Tempat itu sudah tidak berpenghuni semenjak Katarina diturunkan menjadi Selir Tingkat IV. Sekarang ia kembali ke tempat itu dengan kondisi yang terbilang menyedihkan. Tidak ada yang berubah sama sekali dari tempat itu, namun pemiliknya yang telah berubah.


“Terima kasih,” ucap Katarina dengan suara pelan ketika Kaelus mendudukkannya di atas tempat tidur.


Kaelus menjawab ucapan terima kasih itu dengan anggukan kepala. Ia sempat menyalakan perapian, membuka tirai jendela, bahkan memastikan kondisi tempat itu aman dan nyaman untuk digunakan. Barulah ia berbalik, berniat meninggalkan tempat tersebut.


“Saya akan segera memanggil pelayan. Silahkan istirahat dengan tenang.”


Katarina mengangguk kecil. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa, karena tangan kanan kekasihnya itu seperti memiliki dua kepribadian. Dulu, Kaelus tampak menyebalkan. Seperti robot yang telah di-setting dengan ekspresi datar dan mulut pedas. Sedangkan saat ini, Kaelus lebih mirip manusia dengan sifat yang lebih manusiawi.


“Kenapa kau melakukan semua ini? apa karena kau merasa kasihan?”


“Jangan salah paham,” balas Kaelus dengan raut wajah yang seperti biasa; datar, tanpa ekspresi tertentu. “Saya sudah mengatakan alasannya. Saya harap Anda mulai mempertimbangkan untuk kedepannya dan tidak lagi bertindak gegabah.”


Setelah berkata demikian, Kaelus pergi begitu saja. Tanpa menunggu respon Katarina, ia sudah meninggalkan keheningan bersama penghuni tempat tersebut.


“Setidaknya dia lebih manusiawi dari pada bajing*n itu.”


Di sisi lain, Kaizen masih berusaha keras untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Katarina. Tidak mungkin wanita itu tiba-tiba mengalami kelumpuhan, tanpa penyebab yang jelas. Ia juga sudah mengerahkan satu tim dokter khusus milik kerjaan Robelia untuk memeriksa dan merawat Katarina. Hasil pemeriksaan tidak dapat langsung keluar, karena membutuhkan waktu untuk ditinjau dan dipertimbangkan.


Selama kurun waktu itu berlangsung, Kaizen memilih untuk menghindari Katarina. Wanita itu pasti membutuhkan waktu. Seraya menunggu, Kaizen tetap menjalankan rencana pertunangannya dengan Lady Claudine. Dibantu oleh Kaelus, Kaizen turun tangan langsung untuk memilih cincin pernikahan yang dipesan lewat tukang perhiasan langganan keluarga kerajaan. Kaizen benar-benar tidak berpengalaman perihal pernak-pernik yang disukai oleh wanita. Ia selalu mengandalkan orang lain untuk memilihkan perhiasan bagi wanita-wanitanya; Kayena dan Katarina.


“Semua cincin yang ditampilkan adalah kategori ultra luxury high-end brand dan menduduki posisi sebagai perhiasan paling popular dengan nilai jual yang cukup tinggi. Setiap perhiasan yang kami buat selalu memiliki ‘cahaya’ tersendiri, sehingga membuat aura pemakainya begitu terpancar.”


Mau sebanyak apapun penjual perhiasan langganan keluarga kerajaan itu menjelaskan, sejatinya Kaizen tidak akan paham. Dikarenakan isi kepalanya sudah tercerai-berai sejak insiden kelumpuhan yang menimpa Katarina. Ditambah lagi ia kembali merasakan gejala mual dan muntah dengan intensitas yang semakin meningkat. Tubuhnya juga bisa seharian terasa lemas dengan kepala berdenyut nyeri.


“Kaelus, kau saja yang memilih. Aku percaya pada pilihanmu.”


Lagi dan lagi Kaizen memutuskan untuk menitik beratkan tugas pada tangan kanannya. Padahal Kaelus juga manusia yang punya kelemahan dan rasa lelah. Semenjak pulang dari London, disambut dengan berita tentang mantan Ratu sampai peristiwa kurang menyenangkan yang menimpa Selir Katarina, Kaelus belum mengambil jeda untuk istirahat.


Omong-omong soal Katarina, wanita Raja Robelia satu itu tengah menjalani perawatan intensif di istana Selir Agung. Setelah diperiksa oleh dokter, rupanya memang benar ada kerusakan fungsi di ke-dua kakinya. Walaupun sudah diketahui ada kerusakan pada fungsi kedua kaki Katarina, tetapi belum ada penjelasan lebih lanjut soal alasan yang menyebabkan kerusakan pada fungsi kedua kaki tersebut.


“Ada apa ini?” tanya Kaelus ketika melihat beberapa petugas kesehatan menyambangi peraduan raja. Ia baru saja kembali pasca menyelesaikan masalah pembelian cincin tunangan Raja Robelia dengan Lady Claudiane.


Tiba di peraduan Raja Robelia, ia malah dikejutkan dengan keberadaan beberapa petugas kesehatan. Padahal Kaelus tahu betul jika sudah tidak ada Katarina di sana. Lalu, siapa yang sedang sakit?”


“Yang Mulia?” tanya Kaelus dengan kening bertaut ketika melihat Raja Robelia yang tadinya sehat-sehat saja, kini berbaring tidak berdaya di atas tempat tidur. Rona wajahnya yang pucat tampak kontras sekali dengan biasanya. “Anda kenapa, Yang Mulia?”


Melihat rajanya dalam kondisi tersebut, Kaelus tentu saja langsung dilanda kemasan. Ia mengenal Raja Robelia sebagai sosok yang memiliki imun bagus, sehingga tidak mudah terserang penyakit.


“Yang Mulia Raja mengalami hypoglycemia, Tuan Kaelus.” Seorang dokter berkata seraya melepaskan kaca mata yang bertengger di hidungnya. Sepertinya dokter itu yang bertanggungjawab untuk melakukan pemeriksaan.


“Hypoglycemia?”


“Seseorang yang mengalami hypoglycemia akan merasakan tubuhnya lemas, jantung berdebar-debar, pusing, pandangan buram, hingga keringatan. Sebelum muncul gejala hypoglycemia pada Yang Mulia, sempat ada keluhan perutnya yang terasa sangat mual hingga muntah. Semua makanan yang dikonsumsi juga kembali dimuntahkan, sehingga Yang Mulia kehilangan banyak tenaga.”


Kaelus tidak tahu harus merespon bagaimana, karena kondisi rajanya terdengar cukup mengkhawatirkan.


“Anda baik-baik saja, Yang Mulia?” tanya Kaelus ketika rajanya membuka mata dan merubah posisi menjadi duduk bersandar.


“Buruk. Kondisiku sangat buruk,” jawab Kaizen dengan suara parau. Ia kemudian kembali bercerita. “Kepalaku seperti mau pecah. Perutku bergejolak hebat. Aku kehilangan kendali atas tubuhku sendiri.”


Kaelus menggaruk tengkuk bagian belakang kepala, bingung harus menanggapi cerita sang raja. Jika ia boleh jujur, kondisinya rajanya sudah seperti kondisi mendiang Raja Klein ketika mendiang Ratu Carlein mengandung. Akan tetapi, Raja Robelia yang saat ini berkuasa tidak menghamili wanita mana pun. Jadi, mana mungkin kondisinya dapat disamakan.


“Satu lagi, aku benci aroma parfum wanita serta keberadaan mereka di sekelilingku. Segera ganti pelayanan yang bekerja untukku dengan pelayanan pria. Jangan biarkan wanita manapun memasuki peraduanku sampai aku memberikan izin.”


Kali ini Kaelus benar-benar dibuat tertegun dengan perintah sang Raja Robelia yang tiba-tiba anti-pati terhadap wanita. Padahal, belum lama ini pria itu berencana untuk melangsungkan pertunangan dan sedang mempertimbangkan untuk memiliki banyak selir. Apakah ini yang namanya teguran langsung dari Sang Pencipta?


💰👑👠


TBC



Tanggerang 01-10-23