How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0086. Découvre un fait important de sa vie antérieure (Mengungkap fakta besar



0086. Découvre un fait important de sa vie antérieure (Mengungkap fakta besar dari kehidupan sebelumnya)


Jamuan minum teh bersama nenek Kaisar Kwang Sun telah berlalu semenjak dua hari yang lalu. Namun, Kayena masih bisa merasakan efek dari jamuan minum teh sore itu. Ia tahu betul jika nenek Kaisar Kwang Sun tengah memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap status Kayena, selaku janda Raja yang tengah berbadan dua. Namun, Kayena tidak mau ambil pusing. Ketimbang memikirkan hal-hal yang dapat membuatnya tertekan, kemudian berpengaruh pada kehamilannya, Kayena lebih memilih untuk mengunjungi beberapa tempat di sekitar istana Robelia.


Kaisar Kwang Sun awalnya menolak ide tersebut. Setelah dibujuk, Kaisar Kwang Sun sempat setuju dengan catatan Kayena harus pergi dengan dirinya. Kayena tentu saja menolak, karena ia telah bertekad untuk membatasi pertemuan dengan pemimpin Astoria tersebut. Beruntungnya, rencana Kayena didukung dengan kesibukan pria tersebut sebagai kepala pemimpin dan kepala pemerintahan. Alhasil Kayena tetap berhasil meninggalkan istana, tanpa Kaisar Kwang Sun, namun dikawal oleh prajurit khusus yang biasanya bertugas mengawal Kaisar dalam mode penyamaran.


Padahal Kayena hanya ingin berkeliling di sekitar istana untuk menghirup udara segar. Namun, Kaisar Kwang Sun terlalu protektif. Kayena sendiri sebenarnya merasa tidak perlu dikawal, karena prajurit yang datang bersamanya juga orang-orang pilihan sang kakak. Mereka pasti punya kemampuan yang mumpuni, sehingga diberi kepercayaan untuk menjaga Kayena.


“Lihat toko pakaian di sana, Kima. Ramai sekali bukan?”


“Benar, Nona. Antreannya bahkan sampai menjuntai ke jalanan,” jawab si empunya nama yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


“Kira-kira pakaian jenis apa yang dijual di toko tersebut?”


“Entahlah, Nona. Mungkin hanya pakaian tradisional dengan harga murah meriah,” sahut Kima seraya menikmati sisa makanan tradisional yang tadi ia beli bersama Kayena.


Bukan rahasia umum lagi jika pakai dengan harga murah lebih mudah menarik perhatian khalayak ramai.


“Aku jadi penasaran.”


“Nona mau belanja pakaian? Jika iya, biar saya yang mengantre untuk Nona. Setelah dapat bagian, saya akan memanggil Nona untuk bertukar tempat.”


Kayena tersenyum tipis mendengar rencana sang tangan kanan. Sayangnya, ia tidak berniat untuk berbelanja. Ia meminta izin untuk menghirup udara segar, serta menikmati keindahan di sekitar istana Astoria. Desa di sekitar istana sangat asri dan sejuk, karena ditumbuhi oleh berbagai tumbuhan khas wilayah tropis. Itu saja rencananya, tidak lebih. Tidak ada dalam keinginan sedikitpun untuk pergi membeli pakaian baru. Namun, baru saja ia dan rombongannya hendak berbalik badan, sebuah suara tiba-tiba menginterupsi.


“Kenapa tidak jadi datang ke sana, Nona? Anda akan merasa kecewa jika tidak berkunjung ke sana. Minimal satu kali seumur hidup.”


Kayena berhenti, begitu pula dengan Kima dan yang lainnya. Ketika berbalik, ia menemukan sosok pria berpakaian tradisional Astoria, lengkap dengan penutup kepala yang menyembunyikan sebagian wajahnya. Kendati demikian, Kayena merasa tidak awam dengan suara pria tersebut.


“Memangnya ada apa di sana? Sampai-sampai saya harus datang ke sana, minimal stau kali seumur hidup?” tanya Kayena, melontar pernyataan yang sama.


Senyum tampak tersungging di bibir pria tersebut. Walaupun menggunakan pakaian tradisional, dari jenis kalian yang digunakan serta aksesoris tambahan lain, penampilannya itu dapat menunjukkan status sosialnya di masyarakat. Ia tergolong kelas menengah ke atas.


“Karena di sana ada penjahit yang sangat berbakat.”


Kayena menautkan kening, usai mendengar ucapan lawan bicaranya. “Saya sudah punya kenalan seorang penjahit yang sangat kreatif dan mahir. Jadi, saya tidak memerlukan penjahit lain.”


“Anda yakin? Padahal penjahit di tempat tersebut sudah mengelilingi hampir setengah bumi, jadi jam terbangnya sangat tinggi.”


“Saya tidak peduli. Lagi pula, jika penjahit di tempat itu sudah mengelilingi hampir setengah bumi, dan jam terbangnya tinggi, bukan berarti saya juga akan cocok dengan pakaian yang dijahit olehnya.”


“Anda, yakin?”


“Ya, saya …” kalimat Kayena menggantung begitu saja, ketika lawan bicaranya menunjukkan wajahnya secara keseluruhan. “… Killian!” serunya tidak percaya. “Bagaimana bisa kamu ada di sini?”


“Tidak perlu lagi memberikan penghormatan kepada ku, karena sekarang aku bukan lagi seorang Ratu.”


“Tetapi bagi saya, Anda tetaplah seorang Ratu. Walaupun tanpa mahkota dan singgasana.”


Kayena terenyuh mendengat kalimat yang dilontarkan lawan bicaranya. “Aku masih tidak menyangka bisa bertemu kamu setelah sekian lama,” ungkapnya.


Pertemuan terakhir mereka adalah pasca insiden Kaizen main hakim sendiri karena cemburu. Kayena kemudian berkunjung ke toko pakaian milik lawan bicaranya, yaitu Killian. Sepulang dari kunjungan tersebut, ia mengalami insiden kecil, kemudian bertemu dengan Pangeran Kaezar. Kebersamaan mereka kemudian memicu rumor yang sempat membuat Kayena geleng-geleng kepala. Semenjak peristiwa tersebut, Kayena tidak berhubungan lagi dengan Killian. Kayena berharap dengan begitu, Kaizen tidak akan menyakiti siapapun lagi karena sifat posesif dan protektif nya.


Siapa sangka jika Tuhan akan kembali mempertemukan mereka di tempat ini. Setelah semua yang terjadi.


“Aku senang kau baik-baik saja, Killian. Sepertinya kamu memang pandai beradaptasi di manapun kakimu berpijak.”


Setelah berkata demikian, Kayena menyuruh orang-orangnya untuk kembali melanjutkan perjalanan. Kayena sengaja membuat Killian jauh dengannya, karena pria yang tidak tahu apa-apa itu pernah menjadi sasaran Kaizen. Kayena tidak mau membuat Killian kesulitan lagi karena dirinya. Sudah cukup orang-orang di sekitarnya yang mengalami kesulitan, ia tidak mau menambah kesulitan pada orang lain.


“Kemana Anda ingin pergi, Ratu? Di saat saya memiliki sesuatu yang ingin dibagi bersama Anda.”


“Simpan saja untuk dirimu sendiri,” ujar Kayena yang sudah kembali melangkah. Ia tidak mau berurusan dengan Killian lagi, supaya pria itu hidup dengan aman dan nyaman, tanpa harus terlibat dengan pertempurannya melawan nasib.


“Anda yakin? Padahal saya memiliki informasi yang pasti Anda butuhkan.”


Kayena tidak menggubris. Ia tetap melanjutkan langkah seraya menyentuh permukaan perut datarnya. Kebiasannya semenjak berbadan dua memang lah kerap menyentuh permukaan datar tersebut.


“Apa Anda tidak ingin mengetahui alasan kenapa tiba-tiba Klautviz de Meré muncul, padahal pada kehidupan sebelumnya dia tidak pernah menunjukkan eksistensinya?”


Kontan, Kayena menghentikan langkahnya. Walaupun suara Killian terdengar lirih, serta diucapkan dengan bahasa Prancis yang fasih, membuat kalimat yang dilontarkan pria itu hanya dapat didengar dan dimengerti oleh Kayena, Kima, serta empat prajurit yang datang bersama mereka. Kayena tetap terkejut dibuatnya.


“Apa maksud kamu bicara seperti itu?” tanya Kayena tanpa beranjak. Bohong jika ia tidak penasaran, karena tiba-tiba saja Killian membahas Klautviz de Meré. Padahal pria itu tidak mungkin tahu-menahu soal Klautviz de Meré. Lantas, apa alasannya bicara demikian.


“Ayo cari tempat yang lebih nyaman untuk bicara, Yang Mulia. Saya punya banyak topik untuk dibicarakan dengan Anda,” ajak Killian dengan senyum misterius yang tersungging di bibir. Dalam sekejap, ia juga telah berdiri di hadapan Kayena. “Terutama soal kehidupan sebelumnya,” lanjutnya misterius.


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT dulu di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 15-07-23