
0078. Katarina pleure et Klautviz de Meré persuade (Tangis Katarina dan bujukan Klautviz de Meré)
Siapa yang tidak sedih ketika harus berulang kali mendapatkan penolakan? Wanita bukan kah mahluk yang lemah dan perasa? Maka, jangan salahkan Katarina jika pada akhirnya ia merasa terluka. Walaupun tekadnya sekeras baja, ia tetap saja mahluk yang perasa.
Kali ini penolakan ke sekian telah ia dapatkan. Entah ada apa dengan kekasihnya, sampai-sampai pria itu tidak bisa “bangun” seperti biasa, sekalipun ketika ia merendahkan diri untuk menggoda hasratnya. Apa ada yang salah dengan prianya? Bukan kah kala insiden “low blow” yang dilakukan mantan Ratu, kondisi kesehatan kekasihnya sudah dinyatakan membaik hampir Sembilan puluh delapan persen. Malam itu ia bahkan menyaksikan sendiri bagaimana performa kekasihnya ketika berhubungan badan dengan mantan Ratu.
Katarina tidak buta. Prianya bisa berulang kali menggagahi mantan Ratu dalam satu kesempatan, namun sekarang sulit sekali mengajak pria itu menikmati surga dunia. Sudah beberapa kali ia mencoba untuk menggodanya, namun tetap saja hasilnya adalah kegagalan.
“Berhentilah menangis, Yang Mulia Selir,” lirih seorang pelayan, menarik perhatian Katarina yang sejak tadi melamun.
“Siapa yang menangis!” ketus Katarina dengan tangan segera menyeka sudut matanya. “Cepat ambilkan aku anggur!” serunya kemudian pada pelayan. “Jangan lupa hidangkan makanan kesukaan ku, Kyara.”
“Maaf, Yang Mulia Selir. Tapi, Kyara sudah tidak ada.”
Pemilik gelar Selir Agung itu mendengus seraya melipat salah satu kakinya, agar bertumpu pada kaki satu lagi. Ia lupa jika pelayan yang merangkap sebagai tangan kanannya itu sudah berkhianat, kemudian berakhir ditembak mati ketika peradilan dilangsungkan. Entah bagaimana nasib Kyara sekarang, ia berharap jika pengkhianat itu sudah kembali ke sisi Tuhan. Kendati demikian, bohong jika ia tidak merasa kehilangan. Selain Kyara yang datang bersamanya dari estat Grand Duke Pexley, pelayan lain yang selama ini melayaninya tidak bisa akrab dengan sifatnya.
“Si*l, aku lupa jika pengkhianat itu sudah tidak ada,” lirihnya. Ia kemudian meminta pelayan lain untuk segera membawa pesanannya.
Kekasih Raja Robelia itu belum mengisi perut ketika melancarkan aksinya. Ia tidak mau berakhir dengan enter wind—masuk angin—mengingat tadi ia meninggalkan istana Raja dengan kondisi basah kuyup. Jadi, sekarang ia ingin menghangatkan badan dengan minum anggur terbaik serta menikmati makan malam istimewa. Belakangan ia memang kerap menikmati anggur pada jam makan malam, atau bahkan pada jam makan siang.
“Hari ini kepala koki memasak menu kesukaan Yang Mulia Selir, yaitu Foie gras. Silahkan dinikmati, Yang Mulia Selir.”
Katarina tidak merespon, namun ia segera menggerakkan tangan untuk mengusir pelayan tersebut. Dua porsi Foie gras telah terhidang di hadapannya. Lengkap dengan anggur merah, serta menu pendamping lain. Foie gras sendiri merupakan makanan khas Prancis yang terbuat dari hati angsa atau bebek. Hidangan ini sangat popular di Eropa, tergolong sebagai salah satu makanan dengan harga fantastis, serta makanan tertua di dunia.
“Seared foie gras with mission fig and balsamic reduction,” katanya ketika meraih piring Foie gras pertama.
Olahan Foie gras satu ini terlihat sederhana, namun hadir dengan citarasa segar dengan tekstur Foie gras yang lembut. Porsinya memang sedikit, membuat menu ini ditekankan pada cita rasanya. Katarina paling suka dengan saus yang digunakan untuk melumuri Foie gras nya.
Selain Seared foie gras with mission fig and balsamic reduction, kepala koki juga menghidangkan fillet steak with foie gras and *truffles*.
Olahan kali ini adalah steak yang biasa dibuat dari daging dan aneka rempah, kemudian dikombinasikan dengan foie gras yang lezat. Keduanya membuat olahan steak kali ini berbeda, lezat maksimal, dan tentu saja mewah berkat tambahan truffle. Truffle sendiri merupakan bagian dari jamur Ascomycetes, biasanya ditemukan menempel pada akar pohon. Rasa truffle sendiri mirip seperti keju, agak seperti kacang dan beraroma menyengat (truffle hitam). Ada juga yang beraroma campuran keju dan bawan putih (truffle putih).
“Makanan selezat ini tidak pernah dinikmati oleh mantan Ratu, sayang sekali,” cibir Katarina, ketika mengingat fakta bahwa putri Khiev de Pexley itu tidak pernah menikmati olahan foie gras seumur hidupnya.
Ketika ditanya alasannya apa, Kayena de Pexley dengan lantang menjawab jika proses produksi foie gras sangat tidak berperikehewanan. Diketahui bahwa proses pemberian makan pada angsa atau bebek dilakukan secara paksa, supaya ukuran hatinya membengkak sepuluh kali lipat lebih besar. Bagi Kayena, yang perlu digaris bawahi adalah; mengonsumsi foie gras hanya akan melanggengkan “penyiksaan” pada bebek atau angsa di dunia. Selain proses pemberian makan, mengonsumsi foie gras juga beresiko terkena penyakit, serta beresiko keracunan.
Sedangkan bagi Katarina, menikmati foie gras adalah salah satu cara untuk menikmati kemewahan dari berbagai fasilitas yang disediakan oleh kekasihnya. Semenjak tinggal di istana Selir, makanan yang tidak pernah ia makan, bahkan tidak pernah ia lihat, bisa kapan saja dihidangkan. Ia bebas meminta makanan apa saja untuk dihidangkan, sekalipun makanan tersebut harganya fantastis di pasaran. Tidak seperti Kayena yang hanya makan daging merah sesekali, dan lebih memilih memakan ikan dengan sayur organik setiap hari, Katarina lebih suka menikmati daging merah, serta olahan laut yang langka, seperti salmon, tuna, oyster, lobster, dan sebagainya.
Dari perbedaan pilihan jenis makanan saja, sudah membedakan anggaran pengeluaran antara dapur istana Ratu dan dapur istana selir. Dapur istana Ratu terbilang lebih hemat, karena sebagian besar pangan yang diolah untuk kebutuhan sehari-hari dihasilkan dari kebun pribadi, dirawat langsung oleh para pelayan, bahkan Ratu mereka sendiri. Jika hasil panen kebun melimpah, maka Ratu akan membuat skema pembagian dan penyimpanan sebagai bibit di musim berikutnya. Sedangkan dapur istana Selir lebih banyak menghabiskan anggaran untuk jamuan makan, karena hampir delapan puluh persen bahan makanan dibeli dari luar Robelia.
“Sepertinya tenaga Selir Agung terkuras banyak setelah menghadapi Raja Robelia.”
Mendengar suara yang cukup asing ditangkap indra pendengaran—padahal tidak ada siapa-siapa selain dirinya—membuat Katarina segera menoleh seraya terbatuk-batuk kecil.
“Siapa yang mengijinkan Anda masuk ke sini?” tanyanya, tak bersahabat pada pemilik suara tersebut.
“Sebelum kau tinggal di tempat ini, wanita yang membuat ku lahir ke dunia sudah terlebih dahulu menginjakkan kakinya di sini.”
Katarina terbungkam. Rupanya pria bernama Klautviz de Meré adalah putra seorang selir. Ia baru mengetahuinya, karena memang tidak terlalu mengenal asal-usul Klautviz de Meré.
“Kau menikmati jamuan makan malam mu?”
“Ya, sebelum Anda tiba-tiba menerobos masuk.” Katarina masih tidak bersahabat. Dengan acuh, ia kembali menikmati menu makan malamnya yang istimewa.
“Nikmatilah kemewahan harem istana, selagi hanya ada kau di dalamnya,” lanjut Klautviz de Meré yang kini mengambil posisi duduk di seberang Katarina. “Dulu tempat ini dihuni puluhan Selir yang haus kasih sayang dan belaian.”
“Uhuk …uhuk …”
Kali ini Katarina terbatuk cukup hebat. Soal informasi yang baru ia dengar, ia memang cukup terkejut. Pemahaman Katarina soal sejarah kerajaan Robelia hanya sampai dinasti sebelumnya, di mana Raja Robelia terdahulu sangat mencintai istrinya (ibu kandung Kaizen), sehingga tidak pernah mengangkat seorang Selir. Sampai datang situasi di mana mengharuskan ia menjadikan putri dari kerajaan musuh sebagai Selir, bahkan dari peristiwa tersebut lahir seorang Pangeran yang tidak pernah merasakan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya, yaitu Pangeran Kaezar.
“Sekarang tidak ada lagi lawan yang sebanding dengan mu,” ucap Klautviz de Meré, kembali membuka pembicaraan. “Namun, bukan berarti tidak ada kemungkinan jika keponakan ku itu tidak akan melirik wanita lain.”
“Apa maksud Anda?!”
“Jangan bodoh, Katarina.” Klautviz de Meré menatap lawan bicaranya lekat. “Kekasih mu itu punya ego yang tinggi. Kau pikir kenapa dia menjadikan mu wanitanya, di saat dia memiliki wanita seperti putri Grand Duke Pexley?”
“Karena dia mencintaiku,” balas Katarina, mantap. “Dia membutuhkan aku, dan hanya aku yang dapat mengerti kebutuhannya yang buas seperti hewan liar.”
“That’s my girls,” sahut Klautviz de Meré di dalam hati. Dia suka sifat percaya diri putrinya yang tinggi. “Benar,” katanya kemudian. “Tetapi kebutuhan sekunder masih dapat tergantikan dengan kebutuhan pokok.”
“Maksud Anda?”
“Coba pikirkan posisi mu baginya? Baik dulu maupun sekarang.” Melihat lawan bicaranya diam, Klautviz de Meré malah menyunggingkan senyum miring. “Apakah kau terbilang kebutuhan sekunder atau kebutuhan pokok baginya?”
Sebenarnya tanpa dijawab pun, Klautviz de Meré tahu jawabannya. Kebutuhan pokok—utama—bagi hidup keponakannya adalah Kayena de Pexley. Dari segi manapun, anak kesayangan Khiev de Pexley adalah pasangan paling cocok untuknya. Namun, karena alasan itu pula Klautviz de Meré tidak pernah menginginkan pernikahan keponakannya bertahan lama. Jika bersama Kayena, sukar untuk menggulingkan Kaizen dari tahta, mengingat dukungan di belakangnya terlalu kuat. Alasan itu lah yang membuat Klautviz de Meré selama ini memilih untuk tetap memantau dari bawah radar.
Klautviz de Meré sadar jika belum waktunya ia keluar, selama putri Khiev de Pexley masih menguasai singgasana Ratu. Setelah berhasil menyingkirkan putri Khiev de Pexley lewat putrinya, Klautviz de Meré juga masih menunggu. Alasan yang akhirnya membuat Klautviz de Meré keluar dari tempat persembunyian adalah posisi putrinya yang terancam. Bidak satu-satunya yang telah ia persiapkan dengan baik, hampir saja dijatuhi hukuman mati, jika ia tidak segera keluar. Katarina tidak boleh meninggalkan istana, sebelum ia berhasil menduduki singgasana Ratu Robelia.
Katarina memang bukan kebutuhan pokok bagi Kaizen. Mungkin hanya kebutuhan sekunder—kebutuhan tingkat kedua. Namun, Klautviz de Meré masih bisa membuat Katarina menjadi tampak seperti kebutuhan pokok bagi Kaizen. Salah satu caranya adalah dengan menghadirkan pewaris tahta.
“Sekalipun kau bukan kebutuhan pokok baginya, sekarang hanya ada kau di sisinya. Gunakan kesempatan itu dengan baik,” kata Klautviz de Meré, manipulatif. “Kau harus menghadirkan tameng bagi dirimu sendiri, supaya kau bisa tetap bertahan di harem istana.”
“Tameng?”
“Ya. Tameng yang dapat melindungi dirimu dari berbagai macam serangan internal, maupun eksternal. Tameng yang juga dapat membuat mu menduduki singgasana Ratu.”
“Tameng yang Anda maksud …adalah seorang pewaris?” tanya Katarina, penasaran.
Klautviz de Meré mengangguk singkat. “Lahir kan satu pewaris, maka posisi mu akan aman. Sekalipun Raja membawa wanita baru untuk tinggal di harem istana, dengan hadirnya pewaris, posisi mu tidak akan tergeser sama sekali.”
“Saya sudah mengusahakannya,” balas Katarina dengan suara kecil. Ada geram di dalam hati, karena memang selama ini ia menunggu berkah tersebut dalam rahimnya. “Saya tidak pernah menyerah untuk mengusahakan apa yang Anda maksud.”
Klautviz de Meré tersenyum miring dengan tangan menyodorkan sesuatu ke arah putrinya. “Minum ini secara rutin,” katanya. “Dulu ibu mu juga kerap mengonsumsinya.”
“Apa ini?” bingung Katarina ketika melihat sebuah botol kaca berukuran kecil disodorkan kepadanya. “Dan, apa maksud dari ucapan terakhir Anda? Anda bicara seolah-olah mengenal Ibu saya. Saya saja …tidak pernah mengenal sosoknya.”
“Aku sangat mengenal Ibumu,” jawab Klautviz de Meré setelah memberikan botol kaca berukuran kecil pada putrinya. “Dia wanita yang baik dan penyayang. Parasnya cantik, manis, dan lugu seperti diri mu.”
“Begitu kah?” Katarina tampak ragu ketika bertanya. Ia saja tidak mengetahui banyak informasi soal ibunya, kenapa orang asing seperti Klautviz de Meré bisa lebih mengenalnya. “Apa Anda tahu banyak tentang Ibu saya? Saya ingin mendengar soal dirinya.”
“Tentu.” Klautviz de Meré menjawab seraya beranjak. “Saya akan dengan senang hati memberitahu soal Ibumu. Tetapi, sebelum itu, kau harus menjawab satu pertanyaan ku.”
“Apa yang ingin Anda tanyakan?”
Klautviz de Meré menatap lawan bicaranya lekat, sebelum buka suara. “Malam di mana kau berencana untuk menyingkirkan Ratu, apa yang sebenarnya terjadi di antara Raja dan Ratu? Apa benar mereka telah melakukan hubungan badan?”
Katarina gelagapan. “Bagaimana bisa Anda mengetahui semua itu? apa Anda menyelidiki saya secara diam-diam?”
“Asal kau tahu, kaki-tangan dan mata ku tersebar di setiap penjuru istana, jadi jangan lengah Katarina” de Meré, lanjutnya di dalam hati.
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau lanjut?
Spam komentar NEXT dulu di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 07-07-23