
00100. Arrivée de Khayansar et punition de l'accusé (Kedatangan Khayansar & hukuman para terdakwa)
Dua kavaleri besar pasukan yang terdiri dari angkatan laut dan darat sudah bergerak keluar dari wilayah Kyen semenjak matahari masih terlelap di peraduan. Ketika tiba di pelabuhan utama wilayah Kyen, sang pemimpin—Mayor Khayansar de Pexley—bertemu dengan salah satu pengirim surat berkuda cepat yang berasal dari wilayah seberang perbatasan Robelia. Dua kavaleri besar di bawah kepemimpinannya hampir saja terpecah menjadi dua, ketika ia mendapatkan informasi bahwa calon dari adiknya belum ditemukan.
Sudah beberapa hari semenjak adik dari Raja Robelia itu menghilang, Khayansar de Pexxley juga sudah mengirim orang untuk mencari tahu tentang keberadaan dari calon pasangan adik tercintanya itu. Ia tidak akan tinggal diam jika sampai pemilik julukan Elang Muda Kekaisaran itu kenapa-kenapa, karena masalah ini akan ada sangkut pautnya dengan nasib sang adik yang baru ditata ulang.
“Sekarang apa yang akan Anda lakukan, Your Grace? Perlukah saya yang langsung pergi ke wilayah seberang perbatasan untuk memastikan?”
Tawaran itu datang dari bawahan Khayansar, salah satu dari tiga bawahan utama yang sangat ia percayai. “Tidak perlu,” ujarnya kemudian. “Aku yakin Elang Muda Kekaisaran bisa menjaga diri dengan baik. Dia punya tekad kuat untuk bertahan hidup.”
“Baiklah, jika itu keputusan Anda, Your Grace. Apa sekarang kita melanjutkan perjalanan ke Ibu Kota?”
Khayansar mengangguk samar, sebelum kembali berdiri tegak. Tubuh tegapnya dibalut pakaian militer angkatan laut yang melekat dengan pas, menambah aura gagah serta kharisma Mayor angkatan Laut kebanggan Edinburgh tersebut.
“Kita harus bergegas ke ibu kota, karena masalah yang sudah berlarut-larut ini harus segera diselesaikan dengan tuntas.”
“Baik, Your Grace.”
Satu minggu yang telah dijanjikan sudah sampai pada tempo yang menjadi batas akhir. Maka, hari ini Khayansar kembali ke ibu kota—lebih tepatnya ke istana—untuk menagih janji sang Raja. Entah apa keputusan yang akan diambil pria itu, namun Khayansar telah mempersiapkan diri dengan baik, terkait apapun keputusan yang dipilih mantan adik iparnya. Keinginannya hanya satu; membersihkan nama sang adik, serta memberikan hukuman yang setimpal bagi para pelaku yang telah ikut serta menyumbangkan kerumitan, kesedihan, juga kesakitan pada adik tercintanya.
“Your Grace, saya juga baru mendapat informasi bahwa adik Anda, Duke Cesare telah pergi ke wilayah seberang perbatasan. Beliau akan menyusul setelah mencaritahu kondisi Pangeran Kaezar.”
Khayansar berdeham kecil sebagai respon. Pandangannya masih tertuju ke arah lurus, di mana setelah genangan perairan Robelia yang membentang dengan panjang berakhir, ia bisa melihat siluet istana kerajaan Robelia. Hari ini ia akan menuntaskan tugas yang seharusnya selesai sejak awal. Sayang, kehadiran Klautviz de Meré telah mengacaukan segalanya. Pria itu punya terlalu banyak pelindung, sehingga dengan sangat berani berbuat di luar nalar. Raja Robelia sendiri tidak dapat leluasa menghukum Klautviz de Meré, karena bayang-bayang perjanjian yang dibuat Raja terdahulu.
Bagaimana Khayansar bisa tahu soal perjanjian darah itu? perjanjian yang sejatinya sangat bersifat rahasia dan hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Dari segelintir orang itu, ayahnya—Khiev de Pexley—menjadi salah satunya. Dulu sang ayah adalah salah satu Ksatria yang dekat dengan Raja Robelia. Khiev de Pexley bahkan menjadi salah satu saksi yang mengetahui soal keberadaan perjanjian darah di antara Raja Robelia terdahulu. Di antara segelintir orang yang tahu, saksi yang masih hidup hanya Khiev de Pexley. Sedangkan pihak yang langsung terikat perjanjian darah tersebut adalah Klautviz de Meré, Kaizen Alexander Kadheston, serta Kaezar Kadheston.
“Selamat datang, Duke of Edinburgh. Yang Mulia Raja sudah menunggu Anda di istana.”
Setibanya di pelabuhan utama ibu kota, beberapa Ksatria istana telah berjaga. Menyambut dua kavaleri besar yang dibawa oleh Khayansar. Namun, dua kavaleri besar itu masih setengah dari pasukan yang hari ini datang di bawah kepemimpinannya. Ada empat kavaleri lain yang akan bersiaga di setiap sudut Robelia. Siap menunggu aba-aba, jika sang pemimpin memberikan komando agar para Ksatria dalam empat kavaleri tersebut bergegas untuk memasuki Robelia, kemudian menaklukkan kepemimpinan di dalamnya, mereka telah siap sedia.
Ditemani oleh beberapa Ksatria yang sudah berpangkat Perwira Tinggi, Khayansar kemudian dipersilahkan untuk masuk. Kali ini bukan ruangan utama di gedung Pengadilan Tinggi yang akan menjadi saksi, melainkan aula utama di istana Robelia. Tempat tersebut rupanya sudah terisi oleh banyak orang, tampak dari ramainya pembicaraan orang-orang di dalamnya. Ketika Khayansar masuk, keramaian itu berubah menjadi ladang keheningan. Tidak lama, datang sang Raja bersama kekasihnya. Pasangan kekasih itu tampil serasi dengan pakaian yang didominasi oleh warna putih dan keemasan.
Masing-masing tempat sudah diisi oleh orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kelas bawah hingga kelas atas, seperti para bangsawan serta para penjabat kerajaan. Mereka datang dengan tujuan masing-masing, ada yang mewakili rakyat kelas bawah, ada pula yang berasal dari fraksi pro Katarina, pro mantan Ratu, hingga kontra terhadap Katarina atau mantan Ratu. Semua duduk di tempatnya masing-masing, menunggu keputusan final Raja terkait insiden yang menggemparkan pada saat sidang yang digelar Pengadilan Tinggi.
Pihak-pihak yang bersangkutan, seperti Khayansar de Pexley, Klautviz de Meré, serta Selir Agung Katarina kemudian dipanggil untuk menghadap Raja Robelia yang sudah duduk di singgasananya. Di sebelah kanan ada utusan dari pihak Pengadilan Tinggi, sedangkan di sebelah kiri ada Menteri Pertahanan serta kepala penjara kelas berat istana.
“Hari ini kita berkumpul di aula utama istana untuk memutuskan masalah terkait laporan yang diajukan oleh Duke of Edinburgh.”
Utusan dari Pengadilan Tinggi kembali diberi wewenang untuk menjadi pembicara. Membuka pembahasan pada pagi yang cerah itu, terkait masalah utama yang membuat mereka berkumpul di sana.
“Ketika laporan Duke of Edinburgh masuk ke Pengadilan Tinggi, Duke of Edinburgh juga telah menyertakan saksi serta bukti yang memperkuat laporannya. Terdakwa dari laporan Duke of Edinburgh sendiri adalah kekasih Matahari Kekaisaran, yaitu Selir Agung Katarina.”
Khayansar hampir saja meloloskan decakan, ketika itik buruk rupa yang dulu bersarang di kandang kuda milik keluarganya, hari ini disebut-sebut sebagai kekasih dari seorang Raja. Telinganya tidak pernah terbiasa dengan status baru si itik buruk rupa.
“Dari laporan Duke of Edinburgh, Selir Agung Katarina menerima tuduhan sebagai otak dibalik percobaan penculikan serta pembunuhan terhadap mantan Ratu Robelia, yaitu Kayena de Pexley. Selir Agung Katarina juga diyakini sebagai otak dari penggulingan tanta mantan Ratu.”
Ada gurat kekesalan di wajah Selir Agung itu. Jelas sekali ia tidak suka, ketika namanya disandingkan dengan tuduhan kejahatan sebanyak itu.
“Semua bukti dan saksi yang dimiliki Duke of Edinburgh sejatinya sudah menguatkan laporan tersebut. Namun, saksi kunci yang seharusnya memberikan titik terang malah terbunuh dengan tragis pada hari persidangan.”
Kali ini, topik pembicaraan mengerucut pada Klautviz de Meré yang berdiri di samping Katarina dengan raut wajah tanpa ekspresi tertentu. Ia tampak tenang dan menguasai medan dalam diri serta sekitarnya dengan baik.
“Archduke Klautviz de Meré yang berdiri di hadapan kita semua adalah pelaku dari terbunuhnya saksi kunci,” lanjut utusan dari Pengadilan Tinggi. “Sebagaimana keinginan Duke of Edinburgh untuk memperjuangkan hak serta keadilan bagi adik serta mendiang saksi kunci, Yang Mulia Raja Robelia telah mempertimbangkan keputusan bagi kesejahteraan bersama, setelah mempelajari masalah ini dari berbagai sudut pandang.”
Sedangkan bagi Katarina, setelah beberapa hari yang mereka lalui dengan kedekatan yang kembali semula, ia percaya seratus persen bahwa sang kekasih pasti akan berpihak kepadanya lagi.
Bagi Klautviz de Meré sendiri, ia masih memiliki kartu AS berupa perjanjian darah di antara mereka. Jadi, ia tidak terlalu takut. Namun, tidak dapat terlalu percaya diri pula. Entah apa keputusan yang akan diambil oleh keponakannya itu. Pastinya, ia juga sudah punya antisipasi sejak dini.
“Terkait masalah yang paling jelas, fatal, serta memalukan Kerajaan, terdakwa atas nama Klautviz de Meré akan dijatuhi hukuman pelepasan kekuasaan serta otoritas sebagai Archduke. Dengan demikian, Klautviz de Meré tidak dapat lagi sewenang-wenang menggunakan kekuasaan serta ikut campur masalah kerajaan.”
Keputusan yang baru dibacakan ini menuai berbagai reaksi, positif serta negatif tentunya. Bagi Klautviz de Meré sendiri, ia cukup terkejut dengan keputusan sang keponakan yang berani mengambil kekuasaan serta otoritasnya sebagai Archduke. Walaupun selama ini ia menghilang bak ditelan bumi, tidak pernah menjalankan tugas sebagaimana mestinya, dengan pelepasan kekuasaan serta otoritas ini, secara tidak langsung ia kembali dibuang dari kerajaan.
“Klautviz de Meré juga diharuskan menyerahkan para Ksatria yang bekerja untuknya pada balai Ksatria milik istana, kemudian harus menjalani hukuman di wilayah terluar Robelia untuk mengabdikan sisa hidupnya sebagai Ksatria yang berguna,” lanjut utusan dari Pengadilan Tinggi.
Memang tidak ada indikasi “hukuman mati” yang disebutkan dalam serangkaian hukuman yang dijatuhkan pada Klautviz de Meré. Bagi Khayansar, hukuman tersebut hanya sebagian dari rencana Raja Robelia agar tetap berada dalam zona aman. Artinya, Klautviz de Meré dibuat tidak memiliki kekuatan serta kekuasaan secara perlahan, namun Raja Robelia tetap memegang batasan terkait perjanjian darah yang terikat di antara mereka.
“Terdakwa Klautviz de Meré tidak diperkenankan untuk menentang keputusan Raja Robelia, karena Your Majesty sudah bermurah hati.”
Baru saja Klautviz de Meré hendak membuka suara, namun utusan dari Pengadilan Tinggi seolah-olah sudah mengerti. Ia juga telah dibekali informasi oleh Raja Robelia, bahwa jangan biarkan Klautviz de Meré buka suara untuk menawar hukumannya. Klautviz de Meré sendiri hanya bisa mengepalkan tangan dengan gejolak emosi yang mulai meninggi.
“Beraninya dia bermain-main dengan ku,” batinnya di dalam hati dengan tatapan tertuju pada sang keponakan.
“Selanjutnya, terdakwa kedua adalah Selir Agung Katarina.”
Namanya disebut, Katarina mulai merasakan perubahan suhu di sekitarnya. Mulai diselimuti rasa gelisah yang menakutkan. Melihat hukuman yang diberikan pada paman kekasihnya yang tidak main-main, ia menjadi kian ketakutan.
“Terkait laporan Duke of Edinburgh, beserta saksi dan bukti yang dilampirkan secara nyata, Selir Agung Katarina tidak dapat ditetapkan sepenuhnya sebagai terduga pelaku. Saksi kunci juga telah tewas dengan tragis. Namun, melihat besarnya efek dari perbuatan Selir Agung Katarina, Yang Mulia Raja telah mempertimbangkan hukuman yang paling setimpal.”
Keheningan di ruangan tersebut kian menyiksa Katarina. Entah siapa yang dapat menolongnya, agar keluar dari situasi mencekam kali ini.
“Walaupun belum sepenuhnya terbukti bersalah, keterlibatan Selir Agung Katarina dengan para pelaku tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, sebagai hukuman atas perbuatannya, Yang Mulia Raja memutuskan untuk ...”
Katarina memejamkan mata, selagi menunggu pembacaan keputusan berikutnya. Ia benar-benar dilanda kekacauan, terutama irama detak jantungnya.
“ ... menurunkan posisi Selir Agung Katarina menjadi Selir tingkat IV. Mulai besok, Selir Katarina akan tinggal di tempat tinggal Selir tingkat IV, bukan lagi tinggal di peraduan Selir Agung."
Katarina merasa indra pendengarannya mengalami masalah dalam beberapa detik. Ia ingin pura-pura tidak mendengar hukuman yang ditujukan padanya, namun suara utusan Pengadilan Tinggi itu menggema dengan jelas di telinganya.
“Selir Katarina juga akan mendapatkan hukuman sosial, yaitu harus menjadi sukarelawan di yayasan sosial serta panti yang dikelola oleh keluarga Kerajaan," tambah utusan Pengadilan Tinggi itu. Masih belum selesai membacakan putusan. “Selir Katarina juga dilarang ikut campur masalah politik, serta masalah Harem istana. Jika kedepannya posisi Selir Agung atau Ratu kembali terisi, Selir Katarina dilarang untuk menyuarakan rasa keberatan."
Darah wanita pemilik julukan itik buruk itu mendidih seketika, kala mendengar putusan terakhir Raja. Rasanya tidak adik, ia dihukum sekejam ini. Padahal saksi kunci tidak hadir untuk membenarkan kejahatannya. Namun, sebelum ia mendapatkan peluang untuk protes, utusan Pengadilan Tinggi sudah terlebih dahulu membaca putusan lain. Putusan yang rupanya berhasil membuat si itik buruk rupa kian murka.
“Selain kedua putusan untuk terdakwa, Yang Mulia Raja juga ingin membersihkan nama mantan Ratu Robelia, Kayena de Pexley. Karena tidak ditemukannya kebenaran terkait hubungan terlarang dengan Pangeran Kaezar, kedepannya ibu dari mendiang Putra Mahkota tidak boleh disebut sebagai mantan Ratu. Namun, perlu diingat jika selamnya beliau adalah Ratu di hati seluruh rakyat Robelia. Setiap langkah yang membawanya memasuki wilayah Robelia, akan disambut dengan tangan terbuka serta penghormatan dari berbagai lapisan masyarakat."
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 03-08-23