
0066. Le roi et sa concubine ont été complètement écorchés (Raja dan selirnya dikuliti habis-habisan)
Tidak ada cara untuk berkelit. Masalah kali ini sudah masuk ke dalam ranah pelik.
Sebagai seorang Raja sekaligus kepala Negara yang gerak-geriknya selalu diamati, Kaizen harus bisa mengambil keuntungan pada setiap kesempatan. Namun, lewat insiden dilaporkannya Selir Agung Katarina, Kaizen tidak dapat mengambil keuntungan dari berbagai sisi. Yang ada malah buntung; mengingat bagaimana Katarina dikuliti pada pengadilan pertama yang digelar hari ini.
Duke of Edinburgh tidak datang dengan tangan kosong. Pria itu datang dengan persiapan yang matang. Dalam kurun waktu satu minggu, ternyata Duke of Edinburgh telah melakukan penyelidikan besar-besaran di bawah radar. Walaupun terbilang singkat, namun Duke of Edinburgh berhasil mengumpulkan banyak bukti yang dapat memberatkan hukuman bagi terlapor, yaitu Selir Agung Katarina. Sekarang sulit untuk berkelit, karena sudah ada bukti disertai saksi.
Dalam pengadilan, bukti dan saksi adalah dua opsi yang paling penting untuk menjadi pertimbangan. Jika kedua opsi tersebut sudah dipenuhi, maka pihak Pengadilan Tinggi tinggal melakukan tinjauan berkelanjutan.
“Sebenarnya apa yang telah kau lakukan pada Ratuku, sial*n!” desisan itu sebenarnya lirih, namun masih terdengar jelas di telinga Katarina.
Sampai detik ini, sebenarnya Katarina masih besar kepala, jika saja Kaizen tidak mematahkan stigma yang telah ia percayai.
“Semua akan baik-baik saja.” Kata Kaizen beberapa saat yang lalu, masih segar dalam ingatan. Namun, semakin banyak bukti yang dilemparkan oleh Duke of Edinburgh, kekasihnya tampak mulai goyah. Pria itu tampak termakan oleh perangkap Duke of Edinburgh.
Mereka bukan saja sepasang kekasih, melainkan sekutu juga. Memecahkan rasa percaya di antara mereka sangat menguntungkan bagi lawan. Mungkin itu juga yang menjadi tujuan Duke of Edinburgh. Padahal, Katarina selalu percaya pada diri Kaizen yang menawarkan cinta, kasih sayang, status, serta perlindungan sejak awal mereka berjumpa. Namun, kepercayaan pria itu belakangan ini mudah sekali terpecah.
“Jadi, bagaimana Yang Mulia Selir? Apa Anda menerima laporan dari Duke of Edinburgh? Atau membantah laporan tersebut?”
Katarina berdiri dari duduknya. Keringat sebiji jagung yang menghiasi pelipis diabaikan begitu saja, kerena ada yang lebih penting dari keringan sebiji jagung yang menjadi tanda bahwa ia sempat dilanda rasa gugup.
“Saya membantah laporan tersebut, karena menurut saya bukti serta saksi yang dibawa oleh Duke of Edinburgh masih belum cukup meyakinkan. Lagipula, tidak ada yang langsung bisa berkata jika Saya lah dalang dibalik percobaan penculikan terhadap Mantan Ratu.”
“Apalagi yang belum cukup meyakinkan?” tanya Duke of Edinburgh dengan raut wajah serta nada bicara datar. “Di sini telah hadir para saksi yang telah disumpah akan bicara yang jujurnya.”
Duke of Edinburgh masih tampak tenang, karena sejatinya ia datang tanpa tangan kosong. Ibarat bidak catur, ia telah menyiapkan beberapa pion yang dapat menumpas habis sifat besar keras kepala Selir Agung Katarina. Wanita satu-satunya Raja yang tidak punya urat malu dan rasa takut. Kendati demikian, untuk saat ini ia akan memecah kepercayaan di antara sepasang kekasih itu terlebih dahulu. Jika mereka terpecah belah, akan lebih mudah untuk mengalahkannya.
“Ada yang ingin saya sampaikan, Duke of Edinburgh,” ucap Kaizen, buka suara setelah sekian lama bungkam. “Pada malam itu Selir Agung Katarina tengah menjalankan kewajibannya sebagai wanita Raja. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan semua tuduhan yang dilayangkan Duke of Edinburgh? Bisa saja semua tuduhan itu sengaja dibuat untuk menjebak Selir Agung Katarina.”
Diam-diam Katarina mengangguk dengan haru. Pada akhirnya pembelaan ini yang ia tunggu-tunggu.
“Bisa saja para prajurit serta pelayan yang Anda sebut-sebut sebagai saksi bersekongkol untuk menjebak Selir Agung Katarina,” lanjut Kaizen setelah beranjak dari singgasana miliknya. “Lagipula Anda telah melakukan penyelidikan mandiri, jadi kemungkinan besar ada keraguan yang timbul terhadap hasil penyelidikan. Seharusnya, masalah besar seperti ini melibatkan pihak internal istana untuk penyelidikan.”
Duke of Edinburgh menarik sudu-sudut bibir, sehingga tercipta seringai mematikan yang jarang sekali ditunjukkan. Ia sudah menebak jika Raja Robelia akan membela habis-habisan gundiknya. Kenapa? Karena wanita itu bukan saja kekasih sekaligus partner yang memuaskan di atas, melainkan sekutu terbaik yang dijadikan pion. Duke of Edinburgh terlampau jeli untuk menilai situasi dan kondisi.
“Apakah ada jaminan keadilan jika pihak internal diikutsertakan dalam penyelidikan?” tanya Duke of Edinburgh. “Dari peristiwa yang sebelumnya terjadi, Adik saya yang baru saja mengalami insiden percobaan penculikan yang bisa sangat merangkap sebagai percobaan pembunuhan, langsung digiring ke Pengadilan Tinggi hanya karena rumor kekanakan yang beredar di luaran.”
Kaizen terdiam. Katarina juga ikut bungkam. Tidak ada yang berani berani bersuara, kecuali Duke of Edinburgh yang terlihat sangat gagah dan pemberani membalikkan topik pembicaraan.
“Adik saya bahkan tidak diberikan kesempatan untuk memberikan pembelaan.” Pendar mata tajam Duke of Edinburgh bergerilya. Kali ini tak hanya menatap sepasang kekasih yang kerap berperilaku layaknya binatang. “Kalian menuduhnya atas perzinahan dan pengkhianatan. Hanya karena dia terlihat beberapa kali menghabiskan waktu bersama Elang Muda Kekaisaran, lantas kalian menuduh mereka memiliki hubungan yang menjijikkan.”
“Apa kalian sempat melakukan penyelidikan lanjutan?” tanya Duke of Edinburgh, lagi. Kali ini pendar matanya berhenti wanita yang tampak seperti pada itik buruk rupa. “Bahkan sebelum genap 24 jam semenjak insiden yang menggemparkan seluruh rakyat Robelia, kekasih dari pemimpin kalian asik mengundang para wanita bangsawan untuk pesta teh di kediamannya.”
Kali ini Katarina yang dibuat terpaku. Benaknya bertanya-tanya, bagaimana bisa Khayansar mengetahui semua itu?
Apa mungkin Khayansar cenayang? Rasanya tidak mungkin. Yang lebih memungkinkan, pria itu pasti memiliki banyak kaki-tangan di Robelia. Tidak mungkin juga ia mudah menutup telinga jika semenjak beberapa bulan terakhir tersebar rumor jika adiknya meminta perceraian pada Raja. Pasti rumor tersebut sudah sampai ke telinganya.
“Kedatangan saya hari ini bukan untuk mengkritik apalagi menguliti sikap pasangan nomer satu di Robelia, melainkan untuk membersihkan nama Adik saya, Kayena de Pexley.”
Pantang bagi Khayansar membiarkan nama adiknya tercemar terlalu lama. Mengingat kemungkinan besar, adiknya tetap akan mempertahankan “benih” yang dititipkan oleh bajing*n tengik yang berdiri di hadapannya.
Kayena terlalu baik untuk menghilangkan mahluk tak berdosa dalam rahimnya. Berkaca dari kehilangan sebelumnya, wanita cantik itu sangat terpukul. Sekalipun kali ini ia mengandung tanpa direncanakan, baginya mahluk dalam kandungannya tetap lah titipan Tuhan yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa. Jadi, sebagai kakak yang menginginkan adiknya hidup bahagia setelah bebas dari istana Robelia, Khayansar harus terlebih dahulu membersihkan nama baik sang adik.
“Sepanjang masa jabatannya sebagai Ratu Robelia, Kayena telah melakukan tugasnya dengan baik. Sebagai istri, maupun Ratu di negeri ini. Akan tetapi, balasan yang kalian berikan adalah ketidakpercayaan, pengkhianatan, pencemaran nama baik, bahkan percobaan pembunuhan.” Kali ini Khayansar menatap ke arah Kaizen. Lekat, seolah-olah tidak ada objek lain di matanya, selain mantan adik iparnya yang bajing*n itu. “Bersihkan nama Adikku. Silahkan lakukan penyelidikan ulang, karena aku telah membuka jalan bagi kebenaran.”
Setelah berkata demikian, Khayansar berjalan satu langkah lagi. Maju, menghadap Raja Robelia beserta kekasihnya. “Untuk kedepannya, jangan lagi mengusik keluarga Pexley, jika kalian tidak mau negeri ini menjadi lautan darah.”
Mendapatkan tantangan perang secara terbuka, ruangan sidang tentu saja menjadi riuh seketika. Namun, Kaizen sendiri memilih untuk diam. Walaupun egonya sudah diinjak-injak sejak tadi.
“Silahkan hapus nama keluarga Pexley dari catatan sejarah yang ada Robelia. Karena kami juga sudah tidak mau berurusan lagi dengan Robelia, sekalipun kelak pewaris terakhir negeri ini ada bersama kami.” Kalimat itu diucapkan dengan lantang, berselimut teka-teki yang tidak bisa langsung dimengerti. “Sebagai hadiah terakhir, saya hadirkan saksi yang tidak mungkin diragukan lagi kesaksiannya.”
Ada seringai yang tampak di wajah dingin Khayansar. Setelah berkata demikian, ia kemudian berbalik badan, melangkah pergi ke arah pintu yang baru saja terbuka. Mempersilahkan seorang pelayan muda masuk ke dalam ruangan.
“Selesaikan tugas mu,” ujar Khayansar ketika berpapasan dengan pelayan tersebut.
“Baik, Tuan Muda,” jawabnya.
Khayansar tersenyum tipis, sangat tipis. Walaupun tanpa berbalik badan, ia bisa menangkan kebingungan serta keterkejutan dari arah belakang. Disusul sebuah pekikan nyaring dari itik buruk rupa yang sekarang jantungnya pasti berhenti bekerja barang sejenak.
“Kyara, sedang apa kau di sini!”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini? Masih mau next? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 22-06-23