
00154. Pauvre vilain petit canard (Itik buruk rupa yang malang)
Mungkin orang lain di luaran sana sedang asik bergunjing tentang mantan kekasih raja Robelia. Sedangkan si empunya nama, terkunci dalam ruangan dengan pencahayaan minim, sangat dingin, kedap udara, serta lembab. Hanya beralaskan kain yang tipis sebagai alas, wanita cantik dengan wajah berukuran kecil yang tampak pucat itu duduk bersandar pada dinding yang dingin. Jika diperkirakan, sudah hampir 24 jam ia dikunci dalam ruangan itu tanpa makanan, hanya sebotol air minum yang disediakan oleh penjaga. Itu pun tidak ia sentuh sama sekali.
Katarina sudah mendengarnya. Sekarang ia bukan lagi selir tingkat IV atau pun satu-satunya wanita raja Robelia, melainkan seorang pengkhianat. Putri pengkhianat dengan status penjahat kelas berat atas kejahatannya yang telah membahayakan nyawa seorang raja.
“Pada akhirnya, sampai titik ini pun pemenangnya tetap Kayena,” katanya dengan suara setengah berbisik pada keheningan.
Keterbatasan pada anggota tubuh bagian bawah, membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan ketika hendak buang air kecil saja, ia harus menunggu kedatangan pelayan wanita untuk membantunya. Pada titik inilah air matanya terkadang jatuh tanpa dapat dapat dikontrol.
Padahal ia sudah memantapkan hati untuk tidak membuang air mata lagi. Jiwa dan raganya telah disakiti oleh orang yang sama, sampai-sampai ia mati rasa. Hidup rasanya tidak mau, mati pun rasanya segan. Ada beberapa hal yang belum ia selesaikan di dunia ini.
Katarina tidak takut mati. Ia hanya takut pergi tanpa ditangisi. Ia takut pergi ke tempat yang lebih sepi. Ia juga ingin mencari kembarannya yang tidak pernah diketahui. Ia juga belum sempat membalas keseluruhan dendamnya pada Kaizen, serta belum sempat memperbaiki kesalahan yang ia perbuat. Setidaknya, jika semua itu tidak dapat diwujudkan, ia ingin membuat raja Robelia menyesal telah menyakitinya sejauh ini.
Katarina hanya ingin dicintai dengan tulus. Alasan kenapa ia ingin menjadi ratu Robelia adalah supaya ia bisa setara dengan pria yang dicintai. Dengan posisi itu pula, ia dapat menjadi sosok yang tidak dipandang sebelah mata. Namun, ia gelap mata karena ambisi serta obsesi. Alhasil ia menggunakan segala cara untuk meraih posisi tersebut.
“Apa mungkin Kayena mengandung benih pria brengs*k itu lagi?” katanya tiba-tiba, teringat pada informasi yang ia dapatkan.
Raja Robelia dikatakan mengidap penyakit misterius yang mirip gejala yang dialami wanita hamil ketiga mengandung di semester pertama. Mungkin saja itu efek terjadinya kehamilan, karena malam itu bukan sekali raja Robelia menggagahi mantan istrinya. Jika benar, maka Katarina akan menjadi orang pertama yang akan menertawakan kesial*n raja Robelia. Pria bodoh itu telah membuang istrinya dengan cara terhina. Kini, mantan istrinya mengandung benihnya—walaupun masih dugaan.
Jika dugaan itu benar adanya, maka Kaizen dipastikan memiliki predikat baru sebagai suami paling tol*l yang pernah ada. Selain brengs*k dan bajing*n, pria itu juga akan kehilangan hak istimewa sebagai seorang ayah, karena sekarang wanita yang dicintainya telah dimiliki pria lain. Bahkan Katarina yakin jika bayi Kayena juga seutuhnya akan diterima dengan baik oleh pria itu.
Membayangkannya saja, Katarina sudah senang bukan kepalang. Setidaknya, jika tidak bersama dirinya, Kaizen akan berakhir dengan penyesalan selama sisa hidupnya.
“Ada apa ini?” Katarina bertanya-tanya pada dirinya sendiri ketika perutnya tiba-tiba terasa sakit. Rasa sakit yang berkumpul di perut bagian bawah—seperti rasa sakit yang muncul ketika periode datang bulan. Akan tetapi, rasa sakit yang kali ini ia rasakan datang dengan intensitas dua kali lipat lebih dahsyat.
Katarina tahu ada yang salah dengan perutnya. Awalnya ia mengira itu adalah gejala yang timbul karena ada gangguan pada lambung, mengingat ia sengaja dikurung tanpa diberi makan. Itu berarti ia sengaja dibuat kelaparan. Kendati demikian, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi seiring berjalannya waktu. Sampai detik di mana Katarina merasakan ada sensasi lembab yang mengalir dari celah di antara paha. Barulah ia menyadari jika rasa sakit yang dialami olehnya bukan rasa sakit karena kelaparan, tetapi disebabkan oleh alasan lain.
Jeritan kesakitan kemudian menggema di ruangan berukuran sempit itu. Membuat para penjaga yang siaga di depan ruangan isolasi langsung terperanjat kaget. Dengan panik mereka membuka pintu, lalu memastikan kondisi tahanan yang terbilang “istimewa” itu.
“Apa yang terjadi, Nona? Anda baik-baik saja?” tanya salah seorang penjaga ketika mendekati Katarina yang wajahnya sudah sangat pucat.
“Segera panggilkan dokter!”
Pada akhirnya, ruangan yang sepi itu dalam sekejap menjadi riuh oleh suaranya rintihan kesakitan serta kesibukan orang-orang keluar-masuk ruang sempit tersebut.
Sedangkan di posisi lain, ada seorang pria yang baru saja mencuci wajahnya dengan air mengalir hingga bersih. Menghilangkan bekas noda darah yang terciprat dari jasad pengirim surat yang datang dari Robelia. Pasca mendengar pesan yang dibawa dari Robelia, tanpa rasa kemanusiaan ia langsung mengakhiri hidup pengirim surat tersebut.
Orang-orangnya telah membersihkan jasad si pengirim surat. Yang tersisa di tempat tersebut hanyalah genangan cairan merah yang kental dan berbau anyir.
“Saat ini Nona Katarina bahkan dikurung di penjara bawah tanah karena statusnya ditetapkan sebagai penjahat kelas berat. Kondisi kesehatannya juga tidak bisa dibilang baik-baik saja.”
Salah seorang kaki-tangannya memberi tambahan informasi. Di dalam istana Robelia memang masih berkeliaran orang-orang yang bekerja untuknya, Klautviz de Meré.
“Posisi pion yang sudah aku persiapkan sejak lama sudah tidak berguna,” balas Klautviz de Meré. “Sekarang dia tidak lagi bisa menjadi batu loncatan untuk merebut tahta kerjaan Robelia.”
“Tetapi, bukannya raja Robelia yang saat ini berkuasa sangat mencintai putri Anda?”
“Sejak awal anak Klein hanya mencintai satu wanita dan wanita itu bukan putriku.”
Kaki-tangan Klautviz de Meré tentu terkejut. Ia adalah salah satu dari segelintir orang yang percaya bahwa raja Robelia sangat mencintai mantan selir agung, ketimbang mantan istrinya. Rupanya prediksi itu salah.
“Jika putriku tidak dapat digunakan lagi, terpaksa kita harus menggunakan kekuatan orang-orang dalam yang tersisa. Setelah merebut Kyen, kita akan langsung menuju istana.”
“Lalu bagaimana dengan putri Anda? Apa Anda akan membiarkannya terbunuh begitu saja?”
“Aku memang seorang penggila kekuasaan, tetapi aku juga masih memiliki perasaan.”
Ungkapan Klautviz de Meré tentu saja membuat lawan bicaranya kembali tertegun. Namun, ketika ia kembali buka suara, rasa tertegun itu berubah menjadi kengerian.
“Aku bisa membunuh ayahku sendiri, saudara laki-laki, penerus yang belum dilahirkan, bahkan wanita yang kucintai tanpa belas kasih. Kau pikir aku akan peduli pada nyawa anak yang tidak pernah aku besarkan secara langsung? aku justru akan membuat kematiannya sebagai batu loncatan berikutnya.”
Klautviz de Meré berkata tanpa emosi seraya menatap ke luar jendela. “Akan tetapi, aku percaya jika putraku akan muncul ketika nyawa kembarannya berada dalam bahaya. Jadi, tidak ada salahnya menggunakan Katarina untuk memancing pewarisku yang sesungguhnya.”
💰👑👠
TBC
Tanggerang 06-09-23