
0036. Le Rejet de Catherine Par Le Roi (Penolakan Raja terhadap Katarina)
“Kayena!”
Pemilik nama itu tidak menggubris, memilih melenggang pergi tanpa berniat untuk kembali. Hal itu tentu saja membuat pria yang baru saja memanggil namanya geram bukan main.
“Lepas, Katarina.”
“Tidak,” tolak si empunya nama. Menunjukkan sifat keras kepalanya.
“Katarina,” geram pria rupawan tersebut. Di satu sisi ia ingin segera mengejar sang istri, namun di sisi lain ia tidak mungkin mendorong selirnya begitu saja. “Tindakan mu ini sangat berlebihan.”
“Berlebihan?” Katarina mengambil jarak. Menatap sang kekasih dengan pandangan tak percaya. “Apa yang Anda maksud, Yang Mulia? apa tindakan yang didasari oleh rasa rindu menurut Anda berlebihan?”
“Bukan.” Kaizen menggelengkan kepala seraya melepaskan kedua tangan Katarina. “Kau berhak merindukanku. Tapi, untuk saat ini ada yang lebih penting dari itu.”
“Apa yang lebih penting dari perasaan rindu saya, Yang Mulia? apakah perasaan Yang Mulia Ratu?” tebak Katarina, tepat sasaran. Kaizen pasti berkeinginan untuk segera mengejar Kayena. Ia tentu saja tidak akan membiarkannya.
“Benar.”
Dan si*lnya bagi Katarina, Kaizen tampak tidak berniat untuk menyangkal. Pria itu dengan gamblang mengatakan jika Kayena lebih penting ketimbang rasa rindu Katarina. Bahkan pria itu tidak menunjukkan raut bersalah ketika berkata demikian.
“Kenapa Anda bersikap seperti ini pada saya, Yang Mulia? apa karena Anda takut Ratu kecewa? Bukan kah Ratu sudah tahu hubungan kita yang sebenarnya?”
Pertanyaan bertubi-tubi itu dilontarkan Katarina dalam satu kesempatan. Namun, Kaizen tak berniat menjawab semuanya. Ia hanya ingin wanita itu mengerti, kemudian segera menyingkir. “Aku bisa menjelaskannya nanti. Sekarang, menyingkir lah, Katarina. Aku harus membawa Ratuku kembali.”
“Padahal aku ada disini, Yang Mulia!” seru Katarina, emosi. “Ini aku, kekasihmu.”
Kaizen terdiam. Netra gelapnya berkedip dua kali, kemudian bergulir menatap ke arah netra milik lawan bicaranya yang sudah berkaca-kaca. Wanita bertubuh mungil itu sudah siap meledakkan bendungan air mata.
“Katarina,” panggilnya, melemah. “Jangan menangis.” Ia mengangkat tangan, mencoba menyeka butir pertama yang lolos begitu saja dari kelopak mata kekasihnya. “Kenapa kau menangis untuk sesuatu yang tidak jelas.”
“Apa yang Anda maksud tidak jelas? Untuk pertama kalinya saya …merasa kecewa karena Anda lebih mementingkan Ratu. Padahal sudah jelas-jelas ada saya di sini.”
“Maaf,” kata Kaizen seraya mengecup kelopak mata kekasihnya, bergantian. “Tapi, untuk saat ini keberadaan Kayena sangat penting bagiku.”
“Wanita sial*n itu lagi!” geram Katarina di dalam hati. “Kenapa? Apa karena Yang Mulia ingin memastikan sesuatu bersama Ratu?”
“…”
“Apa tebakan saya benar?” tanya Katarina dengan satu tangan mengelus dada bidang Kaizen, sensual. “Saya tebak, sesuatu yang akan Anda pastikan dengan Ratu pasti menggunakan benda ini.”
Kaizen terhenyak cukup hebat ketika “adik kecil” miliknya di bawah sana disentuh tanpa ancang-ancang. Entah sejak kapan jemari mungil Katarina mengarah di sana, sekarang Kaizen malah merasakan sentuhan serta remasan sensual di bawah sana. Gerakan ringan yang biasa kekasihnya gunakan untuk membangunkan “adik kecil” miliknya.
“Katarina,” geram Kaizen. Memberi peringatan, namun wanita bertubuh mungil itu tampak masih enggan menyingkirkan tangannya. “Jangan main-main,” ucap Kaizen, memperingati dengan suara beratnya.
Katarina mengerucutkan bibir seraya memberikan remasan cukup kuat sebelum melepaskan benda yang tidak bereaksi sama sekali dengan rangsangan tersebut. Tumben sekali. Padahal Kaizen sempat melenguh frustasi di akhir serangan.
“Aku harus segera pergi,” ujar Kaizen setelah berhasil lepas dari godaan tangan kekasihnya. Ia sendiri agak heran, kenapa “adik kecil” miliknya tidak langsung bereaksi seperti semalam? Padahal, semalam saat Kayena tidak melakukan apa-apa, benda itu bisa langsung beraksi dengan berlebihan. Biasanya jika bersama Katarina pun begitu.
Benda tersebut memang sensitif dan mudah sekali terbangun. Namun, kenapa sekarang tidak? rasa-rasanya aneh.
“Anda tetap akan mengejar Ratu?”
“Hm.”
“Kenapa?” tanya Katarina, menuntut jawaban sejujur-jujurnya. Ia masih tidak rela dicampakkan begitu saja.
“Aku masih butuh kontribusi Ratu.”
Katarina tersenyum miring mendengarnya. “Untuk menghadirkan seorang Pangeran?”
Kaizen tertegun mendengar kalimat tersebut. “Darimana kau punya pemikiran seperti itu?”
Gelengan kepala Kayena berikan sebagai jawaban. “Kenapa? Kenapa harus bersama Ratu? Bukan kah saya juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama?”
“…”
“Saya juga bisa melahirkan bayi laki-laki untuk Anda!” Katarina berseru dengan amarah yang semakin menggebu. “Kenapa harus Ratu?!” tanyanya dengan penekanan pada kata ‘harus’. “Bukan kah saya juga punya kesempatan untuk itu? tapi … kenapa Anda tidak memberikannya?”
Kaizen memejamkan mata sejenak, sebelum kembali membuka suara. “Aku sudah memberikan kesempatan itu.” Kedua bola mata hitamnya berkilat, ada emosi yang tersembunyi di baliknya. “Tapi, kau tidak bisa menggunakan kesempatan itu dengan baik.”
Kaizen menghembuskan napas gusar. “Kau akan mengetahuinya sendiri suatu saat nanti,” kata Kaizen. “Sekarang, biarkan aku mengejar Ratuku,” lanjutnya, sebelum mengambil langkah lebar meninggalkan Katarina yang masih mematung di tempatnya berdiri.
Wanita bertubuh mungil itu tampak shock, karena kehadirannya baru saja ditolak mentah-mentah oleh Kaizen.
“Kyara!” panggilnya kemudian dengan mata berkaca-kaca. Tak berselang lama, pelayan pribadinya itu datang tergopoh-gopoh. Raut terkejut langsung tercipta di wajahnya, ketika melihat Katarina berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
“Yang Mulia Selir, apa Anda baik-baik saja?”
Katarina menyeka sudut matanya seraya berjalan ke arah Kyara. “Semuanya akan baik-baik saja jika aku berhasil tidur dengan Yang Mulia Raja pada malam yang telah ditetapkan oleh Paus Calius.” Ada senyum misterius yang muncul di sela-sela raut wajahnya yang tak terbaca. “Oleh karena itu, aku butuh ramuan perangsang berdosis tinggi untuk menjebak Yang Mulia Raja, Ratu, serta Pangeran Kaezar. Apa kau bisa mencarinya untukku?”
**
“Pangeran Kaezar!”
Pemilik nama tersebut sempat mengabaikan panggilan itu, karena ia sempat berpikir bahwa pendengarannya salah tangkap. Namun, ketika panggilan yang sama diulang untuk kedua kalinya, tanpa pikir panjang ia pun menoleh ke arah sumber datangnya suara. Alangkah terkejutnya ia ketika menemukan sosok cantik yang tengah berlari tanpa alas kaki ke arahnya. Di belakang sosok itu jelas sekali ada beberapa pengawal pribadi Raja yang mengejarnya.
Sosok cantik dalam pengejaran para pengawal pribadi Raja itu tampak berlari sekuat tenaga, bahkan siap menerjang dirinya. Maka yang dilakukan olehnya kemudian adalah membuka tangan, siap menerima terjangan sosok cantik yang terlihat butuh pertolongan.
“Kenapa Anda berlari seperti itu? bagaimana jika Anda terjatuh, kemudian terluka?” tanya Kaezar ketika berhasil menangkap sosok cantik tersebut. Jantungnya hampir lepas ketika sosok cantik itu menerjang tubuhnya tanpa aba-aba. Untung saja pertahanan tubuhnya kuat.
“Kamu meraih aku lagi, Pangeran.” Sosok cantik itu membalas seraya mengambil jarak di antara mereka—agar kontak mata bisa tercipta. “Sekali lagi, terima kasih.”
Kaezar mengangguk kecil, kemudian melepaskan sosok cantik itu. Ia masih punya kesadaran penuh, jika tempat ini adalah istana, dan sosok cantik yang baru saja menerjang tubuhnya adalah istri dari penguasa di istana ini. Citra mereka akan semakin buruk jika terang-terangan menunjukkan kedekatan di muka publik.
“Kenapa Anda berlarian tanpa alas kaki?” pandangan Kaezar meneliti penampilan Ratu Robelia dari bawah ke atas. Wajah cantik itu seperti baru bangun tidur—polos tanpa riasan wajah—namun tetap cantik dan mempesona.
“Ah, itu karena aku baru saja melarikan diri dari …”
“Kayena!”
Kalimat Kayena tidak sampai rampung diucapkan, karena ada suara lain yang tiba-tiba menyela dengan cara menyerukan namanya. Ketika mereka berdua menoleh ke belakang, tampak Raja Robelia datang dengan langkah tergesa-gesa.
“ …pria itu,” sambung Kayena.
“Anda melarikan diri dari suami Anda sediri?”
Kayena mengedipkan bahu acuh. “Suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami.”
“Kayena,” panggil Kaizen lagi, ketika pria itu sudah berhasil mengikis jarak di antara mereka. “Ayo kita kembali. Kau tidak bisa pergi sebelum aku memberi izin.”
“Saya hanya memberi Anda dan Selir Katarina ruang untuk melepaskan rasa rindu,” balas Kayena sekenanya. “Lagipula saya juga harus kembali ke istana Ratu untuk …”
“Selama masa hukuman mu belum selesai, kau dilarang meninggalkan Istana Raja,” potong Kaizen seraya meraih pergelangan tangan kiri sang istri. Lebih tepatnya mencengkram, agar wanita itu tidak kabur lagi.
“Lepaskan. Anda menyakiti tangan saya, Yang Mulia.”
“Tidak akan aku lepaskan, sebelum kau kembali bersamaku,” kekeuh Kaizen. Sekarang ia bahkan tega menarik istrinya agar menjauh dari Kaezar.
Kaezar tentu saja tak tinggal diam begitu saja melihatnya. “Lepaskan tangan Anda, Yang Mulia. Anda menyakiti Ratu.”
“Jangan ikut campur soal rumah tanggaku, Pangeran Kaezar.”
“Tapi, Anda menyakiti istri Anda,” balas Kaezar seraya menyentakkan pegangan tangan Kaizen pada pergelangan tangan kiri Kayena. “Hanya pria pecund*ng dan pengec*t yang berani menyakiti seorang wanita,” tegasnya. Ia kemudian menoleh pada Kayena dengan tangan membungkus jemari mungil wanita tersebut dengan jemarinya sendiri. Menciptakan genggaman hangat yang sama sekali tidak menyakiti.
“Ayo kita pergi dari sini,” ucapnya pada Kayena. “Untuk apa menetap bersama pria yang tidak dapat menjaga perasaan pasangannya sendiri.” Kali ini tatapan Kaezar sempat bersirobak dengan Kaizen. “Di luar sana masih banyak pria yang siap menjadikan Anda wanita paling berharga di dunia.”
💰👑👠
TBC
Tabur emoticon yuk di sini 👇
Buat Katarina 😤 ...
Buat Kayena 😀 ...
Buat Kaizen 😬 ...
Semoga suka 😘 Maaf belum bisa daily update apalagi crazy up 🥲. Jangan lupa like, vote, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 16-05-23