
00160. Des regrets sans fin (Penyesalan tanpa akhir)
Kaelus adalah orang yang setia pada tuannya. Namun, terkadang kesetiaan juga ada batasnya—sama seperti sebuah kesabaran. Ia tahu tuannya bukan orang yang baik, tetapi bukan juga orang yang selalu berperilaku buruk. Kaelus percaya jika setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Akan tetapi, hari ini ia mendapati kekurangan yang terlalu menonjol dari tuannya. Tuannya itu selalu fokus pada satu tujuan yang menjadi targetnya. Dalam keadaan seperti itu, tidak jarang jika tuannya melewatkan berbagai hal penting yang dianggap sepele.
Tuannya mengambil putri Klautviz de Meré sebagai mistress—wanita simpanan—guna menyalurkan hasrat berlebihan, supaya tidak menyakiti wanita yang dicintai. Fokusnya selalu pada tujuan awal sampai ia melupakan fakta jika wanita adalah mahluk paling perasa, peka, sekaligus rumit. Mungkin tujuan awalnya, sang tuan menggunakan wanita simpanan supaya tidak menyakiti wanita yang dicintai dengan hasratnya yang tinggi. Namun, dalam proses itu, tuannya melakukan banyak kesalahan yang dianggap sebagai hal lumrah. Padahal hal lumrah itu kerap kali menyakiti wanita yang dicintai.
Sekarang, puncak dari kesalahan fatal dari tuannya adalah lebih percaya pada wanita lain, ketimbang wanita yang ia cintai—wanita yang sejak awal ingin ia lindungi dari dirinya sendiri. Hati wanita mana yang tidak hancur, jika pria yang menjadi suaminya lebih mempercayai orang lain. Terlebih-lebih suaminya sudah menjelma sebagai Raja Tiran sekaligus pria red flag yang selalu over thinking, over posesif, dan sebagainya.
“Kaelus, katakan sesuatu? Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Tidak ada yang bisa saya berikan sebagai saran, Yang Mulia.”
Kaelus menjawab dengan jujur. Kali ini ia juga menundukkan kepala, guna menyembunyikan kekecewaan yang tersirat di wajahnya. Sebagai salah satu orang yang terbilang asing, ia sangat merasa iba dengan nasib sial yang menimpa mantan ratu Robelia, yaitu Kayena. Pantas saja para pria yang menyayangi Kayena berjuang mati-matian demi membebaskannya dari pria seperti tuannya.
“Saya rasa semuanya sudah terlambat, Yang Mulia.”
“Apa maksudmu bicara seperti itu?” emosi raja Robelia itu tentu saja terpancing ketika tangan kanannya bicara demikian. Terdengar seolah-olah mematahkan harapannya.
“Saat ini tidak ada lagi yang harus diperbaiki karena kesalahan Anda sudah sangat fatal. Di saat Anda—suami Nona Kayena sendiri lebih memilih untuk menyelamatkan Nona Katarina yang jelas-jelas terbukti bersalah pada pengadilan terakhir, saya rasa sampai di titik itu saja kesempatan Anda sudah habis.”
Tuannya bungkam dan Kaelus belum mau berhenti mengeluarkan unek-unek. “Salah Anda sejak awal adalah tidak tegas terhadap Nona Katarina. Anda selalu melindungi Nona Katarina karena Anda membutuhkannya sebagai pion serta pelampiasan hasrat. Walaupun selama ini semua perhatian yang Anda berikan kepada Nona Katarina hanya sebatas sandiwara, Anda sudah bertindak terlalu jauh sehingga sandiwara itu terlihat lebih nyata dari seharusnya.”
Raja Robelia—Kaizen tampak terdiam di tempat. Ucapan Kaelus lagi-lagi didasari oleh kebenaran yang tidak dapat dibantah. Ia juga mulai sadar jika selama ini ia sudah kelewatan dalam bermain. Alhasil, sekarang ia terjebak dalam permainannya sendiri.
“Lalu, bagaimana jika Kayena mengandung? Bukankah bayi itu seharusnya menjadi milikku?” Kaizen bertanya dengan bola mata yang bergerak gelisah.
Kaelus yang tertunduk dengan pandangan tertuju pada lantai, hanya bisa menghela napas gusar. Kedua tangannya terkepal di sisi kanan dan kiri tubuh. “Jika iya, memangnya Anda mau apa, Yang Mulia? Anda pikir Nona Kayena akan menyerahkan bayinya begitu saja setelah kesalahan yang Anda lakukan?”
“…”
“Walaupun Nona Kayena membenci Anda, saya yakin jika Nona Kayena tidak akan pernah menyerahkan bayinya,” ujar Kaelus kemudian. “Tidak sedikit wanita yang memilih membunuh bayinya sendiri karena frustasi atau depresi. Yang Mulia seharusnya bersyukur jika Nona Kayena masih berbesar hati untuk melahirkan dan membesarkan keturunan Anda.”
Kaizen tahu jika Kaelus sudah bicara dengan sesuka hati—mengindahkan aturan antara atasan dan bawahan—semenjak kebenaran itu terungkap. Namun, Kaizen tidak merasa tersinggung, karena memang apa yang diucapkan oleh Kaelus selalu saja benar. Tangan kanannya itu memang lebih rasional, sekali pun diharuskan berpikir dalam keadaan terdesak.
“Sekarang Nona Kayena sudah membuka lembaran baru bersama Tuan Muda Kaezar. Ada atau tidaknya anak yang lahir dari kesalahan fatal Anda malam itu, tidak akan mengubah apa pun selain menjadi pengingat, bahwa kesalahan fatal yang Anda lakukan telah melahirkan kehidupan baru.”
Kaizen menggelengkan kepala dengan tegas. Menolak setuju pada ucapan Kaelus. “Bagaimana bisa aku membiarkan darah dagingku menyebut orang lain dengan sebutan Ayah? Akulah ayahnya. Aku yang berhak atas anak yang dikandung oleh Kayena.”
“Yang Mulia, biar saya tekankan satu kali lagi, jika benar ada kehidupan baru yang dititipkan pada Nona Kayena, maka kehidupan baru itu mutlak milik Nona Kayena. Anda hanya akan dianggap sebagai penyumbang benih serta penyumbang luka yang menjadi cikal-bakal kehidupan baru itu, kemudian lepas tanggung jawab begitu saja.”
“Siapa yang berkata aku tidak akan bertanggung jawab?” jawab Kaizen dengan cepat. “Jika benar Kayena mengandung darah dagingku, maka akulah yang akan bertanggung jawab.”
Kaelus memejamkan mata seraya menahan rasa geram yang meletup di dalam dada. “Kesempatan itu sudah tidak dimiliki oleh Anda lagi, Yang Mulia. Dikarenakan sekarang Nona Kayena adalah istri dari Tuan Muda Kaezar. Itu berarti sudah sangat jelas jika Tuan Muda Kaezarlah yang mendapatkan hak serta tanggung jawab penuh terkait Nona Kayena beserta bayi yang bisa jadi telah hadir di perutnya.”
Kaizen terbungkam juga tertampar.
Mungkin Kaizen lupa, tetapi Kaelus tidak. Kaelus sudah menyampaikan bahwa Kayena dan Kaezar telah menikah. Mereka sudah resmi menjadi sumi-istri di kekaisaran Astoria. Perjalanan menuju Edinburgh pun diperkirakan bertujuan untuk mengesahkan pernikahan keduanya, mengingat Grand Duke Pexley juga sudah menetap di Edinburgh. Satu lagi, sekarang Kaelus yakin bahwa informasi yang ia dapatkan tentang kehamilan Kayena waktu itu pasti benar adanya.
Kendati demikian, ia sempat berpikir jika Kayena mengandung buah cintanya dengan Kaezar. Sekarang, ia yakin jika wanita itu tengah mengandung darah daging dari Raja Tiran yang kebetulan tuannya sendiri. Kaelus juga sudah memutuskan untuk tidak menambah permasalahan lain—lewat menyembunyikan fakta yang ada. Toh, adanya informasi yang diberikan oleh Killian, telah membuka tabir kebenaran sehingga kesalahan fatal sang raja Robelia yang sempat terkubur, kembali mencuat ke permukaan.
“Yang Mulia.” Masih dengan kondisi Kaizen yang terbungkam dengan ekspresi wajah yang tidak dapat di baca, Kaelus kembali siap menjatuhkan bom waktu yang dapat meledak kapan saja. “Satu informasi lagi yang belum sempat saya sampaikan.”
Kaizen merespon singkat lewat sorot mata tidak terbaca yang kini menatap tangan kanannya.
“Saya harap Anda berpikir bijak setelah mengetahui informasi ini,” ujar Kaelus dengan sikap tubuh yang kembali pada posisi tegap dan siap. “Sebelum meninggalkan kekaisaran Astoria, orang-orang suruhan Anda juga mendapatkan informasi bahwa Nona Kayena memang sedang mengandung.”
Bom waktu yang dijatuhkan oleh Kaelus benar-benar langsung meledak detik itu pula. Buktinya, raja Robelia yang sempat menunjukkan reaksi tidak terbaca, tiba-tiba diselimuti oleh berbagai macam emosi.
Kaelus pun langsung siaga, jaga-jaga jika raja Robelia tiba-tiba menghajarnya karena telat menyampaikan informasi penting tersebut. Ketika baru berandai-andai saja, raja Robelia sudah ngotot ingin bertanggungjawab terkait keturunannya. Apalagi sekarang, pasca Kaelus menyampaikan kebenarannya.
Sementara itu, di lain tempat juga sempat terjadi kecanggungan yang sama di antara dua orang pria gagah yang baru saja keluar dari ruang kemudi kapal layar. Salah satu di antara pria rupawan itu bahkan keluar dengan bibir terus menggerutu.
“Kenapa Kakak tidak bicara sejak awal?”
“Ah, sudahlah. Lagi pula semuanya sudah terjadi. Toh, tidak ada yang tahu apa yang sedang direncanakan oleh putra Klautviz de Meré.” Pria rupawan yang berjalan dengan langkah lebar itu memilih jalan yang berbeda dengan kakaknya. “Kalau begitu, aku akan memanggil Kaezar. Kita harus membicarakan masalah ini dengannya. Bagaimana pun juga dia harus tahu soal rencana putra Klautviz de Meré yang telah membocorkan informasi tentang kehamilan Kayena.”
Cesare—pria rupawan yang baru saja berkata itu tentu memiliki alasan kuat kenapa harus melibatkan calon adik iparnya. Pertama, karena Kaezar adalah calon suami Kayena—bahkan bisa dibilang sudah menjadi suami. Kedua, Kaezar memiliki hak untuk ikut campur terkait masalah apa pun yang berhubungan dengan Kayena dan bayinya. Ke-tiga, Kaezar juga harus mengetahui fakta bahwa sumber utama dari trauma dan mysophobia yang menghantuinya adalah Klautviz de Meré.
Pasca obrolan singkat tersebut, Cesare memutuskan untuk berpisah dengan sang kakak. Ia mengambil jalan ke arah kiri karena ingin menuju tempat peristirahatan calon adik iparnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai tempat tujuan. Ketukan pun langsung ia layangkan pada pintu kayu yang dilapisi oleh cat berwarna coklat.
Satu kali ketukan dilayangkan, tidak ada jawaban. Dua kali ketukan, masih tidak ada jawaban juga dari dalam. Cesare sempat berpikir bahwa calon adik iparnya itu bisa jadi belum bangun tidur. Akan tetapi, matahari sudah beranjak cukup tinggi. Mana mungkin calon adik iparnya yang terkenal disiplin itu belum bangun. Baru saja hendak melayangkan ketukan ke sekian, Cesare dikejutkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka. Namun, pintu di sampinglah yang terbuka. Bukan pintu kayu dengan lapisan cat coklat yang tengah diketuk oleh Cesare.
“Aku tidak akan bertanya jika saja tidak melihatmu keluar dari pintu ruangan Adikku,” ucap Cesare dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Sorot matanya langsung memicing ketika melihat calon adik iparnya yang keluar dengan kondisi pakaian yang belum digunakan dengan rapih.
“Semalam aku menemani Kayena dan tidak sengaja tertidur di ruangannya,” balas lawan bicara Cesare itu dengan tangan sibuk membenahi pakaiannya sendiri. Walaupun raut wajahnya tampak datar, padahal diam-diam ia menekan rasa terkejut akan kehadiran calon kakak iparnya. “Kami hanya tidur bersama,” tambahnya sebagai keterangan. Meluruskan kesalahpahaman yang bisa saja tercipta karena kondisinya yang cukup menimbulkan tanda tanya.
“Tidur bersama dengan tidak berpakaian?” seloroh Cesare tiba-tiba. Sungguh di luar dugaan lawan bicaranya.
“Tentu saja tidak.” Kaezar tentu saja bergegas menjawab dengan jujur. Dikarenakan kejadiannya memang tidak seperti tebakan Cesare. “Aku sudah berjanji tidak akan melewati batasan yang telah ditentukan.”
Cesare masih tetap menatap Kaezar dengan mata memicing. Namun, sepersekian detik berikutnya, sorot mata itu digantikan dengan sorot mata jenaka. Setelahnya, ia lekas merangkul bahu calon adik iparnya.
“Bagus, bagus. Tetap jaga janjimu, Adik ipar. Lagi pula kandungan Kayena masih terlalu muda, melakukan berhubungan badan sangat beresiko jika tidak memastikan dahulu kondisi kandungan Kayena. Ada beberapa kasus kehamilan yang sangat rentan sehingga dokter melarang melakukan hubungan badan di awal masa kehamilan.” Ditepuk-tepuk bahu calon adik iparnya itu dengan senyum jenaka yang tiba-tiba menghiasi bibir Cesare. “Sebelum menikah, kamu bisa bertanya secara langsung kepada dokter keluarga kami. Ingat, kenyamanan Kayena dan bayinya harus menjadi yang utama.”
Kaezar yang masih agak shock dengan kecepatan perubahan suasana hati calon kakak iparnya hanya bisa mengangguk. Walaupun terdengar agak vulgar, tetapi topik yang dibicarakan Cesare adalah edukasi bagi Kaezar. Sebagai calon suami juga calon ayah, Kaezar tentu saja harus siaga serta memiliki wawasan luas dan lebih open minded. Cesare bisa menjadi salah satu narasumber yang dapat memberikan banyak edukasi, karena Cesare sendiri sudah lebih berpengalaman soal hubungan asmara dan rumah tangga.
“Istri yang sedang mengandung tidak boleh dijadikan alasan bagi kebej*dan seorang suami. Banyak kenalanku yang menggunakan alasan istri sedang mengandung untuk menghabiskan malam dengan pelac*r di rumah bordil.” Cesare melanjutkan pembicaraan selagi mereka melanjutkan perjalanan. “Padahal, istri yang sedang mengandung tetap bisa memenuhi kewajibannya di atas ranjang. Tentu saja dengan catatan mengutamakan kenyamanan istri serta keselamatan si bayi. Intinya, sebagai suami kita tidak boleh egois. Wanita mengalami banyak perubahan fisik maupun psikis ketika mengandung. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Oleh karena itu, kita harus bisa menjadi sosok yang peduli, perhatian, siap dan sedia, setiap kali dibutuhkan.”
Cesare menoleh ketika selesai berkata demikian. “Aku sendiri tidak tahu bagaimana dulu Kayena melewati kehamilan pertamanya. Mengingat Raja Tiran itu tengah tergila-gila pada wanita simpanannya. Tetapi, kedepannya aku berharap jika Kayena bisa melewati masa kehamilannya dengan damai dan bahagia. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan di masa-masa kehamilan yang sangat berat.”
“Aku pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Kayena bahagia. Bukan hanya selama masa kehamilan terjadi, tetapi sampai aku tidak lagi berada di dunia ini.”
Cesare tersenyum tipis mendengarnya. “Lagi-lagi akan kupegang janjimu, Pangeran Kwang Min. Satu kali saja kamu mengingkari janjimu, maka aku akan membawa Little peach of June ke tempat yang sangat jauh. Tempat di mana kamu tidak akan dapat menemukannya.”
Kaezar mengangguk, tanda jika ia paham dengan maksud dari ancaman tersebut.
“Satu lagi, sebenarnya alasanku mencarimu karena masalah putra Klautviz de Meré.” Cesare mengalihkan topik pembicaraan begitu mereka tiba di depan pintu sebuah ruangan. Ia juga telah melepaskan bahu calon adik iparnya. “Ada yang harus kita bicarakan bersama Kak Khayansar.”
“Sebenarnya ada apa, Kak? Apa semuanya baik-baik saja?” Kaezar tentu saja kebingungan, karena tiba-tiba ia dipanggil dengan alasan masalah putra Klautviz de Meré.
“Semuanya baik-baik saja,” jawab Cesare ketika hendak meraih daun pintu. “Hanya saja kita perlu bicara soal rencana putra Klautviz de Meré yang telah memberikan informasi tentang kehamilan Kayena.”
Kaezar tidak dapat menutupi rasa terkejut yang tampak dari sorot matanya. “Raja Robelia sudah mengetahuinya?”
Cesare mengangguk. “Kemungkinan besar sudah, karena aku yakin jika Raja Tiran itu tidaklah bodoh. Salah satu tangan kanannya bahkan dikenal sebagai pemilik otak brilliant.”
Si pemilik otak brilliant yang dimaksud Cesare pasti ksatria yang selalu ada di sisi kakak tirinya itu. Kaezar mengenalnya, karena sempat beberapa kali bersinggungan. Namun, bukan itu yang menganggu pikirannya. Melainkan informasi tentang Kaizen yang telah mengetahui kehadiran dari penerusnya di rahim Kayena. Kaezar merasa sedikit risau. Pria itu bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan Kayena bersama penerusnya.
Sampai tiba-tiba tepukan ringan mampir di bahunya dan berhasil membuat ia kembali sadar dari rasa kecemasan sementara.
“Jangan risau, Adik ipar. Raja Tiran itu memang ayah biologis dari bayi yang Kayena kandungan. Akan tetapi, kamu tetaplah Ayahnya. Aku dan keluargaku sepenuhnya akan mendukung kamu untuk melindungi Kayena dan bayinya, karena memang kamu yang lebih berhak. Raja Tiran itu tidak ubahnya bajing*n tengik yang hanya menyumbang sp*rma di rahim Kayena. Selebihnya, kamu unggul dalam berbagai aspek.”
“…”
“Ingat, kamu adalah pemenangnya. Kamu adalah tempat yang dipilih Kayena untuk menjatuhkan hati. Alasan itu saja sudah membuatmu unggul dari siapa pun, termasuk Kaisar Kwang Sun.”
💰👑👠
Bersambung
Tanggerang 10-10-23