
00137. La demande du roi à sa nouvelle proie (Permintaan sang Raja pada mangsa barunya)
“Kenapa harus saya?”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh suara lembut milik Lady cantik yang dapat menyihir lawan bicara lewat tatapan mata teduhnya. Di tengah alunan musik The Second Waltz yang baru saja dimainkan oleh rombongan orkestra, suaranya tetap terdengar jernih dan jelas di telinga lawan bicaranya. Tepat di bawah lampu Chandelier yang berkilauan, menggantung cantik di langit-langit ballroom istana utama, pasangan pembuka itu tengah melakukan waltz—salah stau jenis tarian ruangan (ballroom dance) dan tarian rakyat dalam ketukan ¾ yang dilakukan dalam posisi tertutup atau closed position—tampak menarik perhatian seluruh undangan—disaksikan oleh seluruh undangan yang hadir, tidak terkecuali Selir Tingkat IV.
“Karena itu kamu,” jawab Raja Robelia yang masih menampilkan raut wajah biasanya, yaitu flat. “Selain Caecilia, kamu adalah kandidat paling cocok untuk menjadi pendamping Matahari Kekaisaran.”
“Yang Mulia terlalu berlebihan,” jawaban bicaranya ketika mereka mulai memasuki gerakan inti.
Senandung The Second Waltz masih menjadi pengiring mereka ketika mulai memasuki bagian inti. Waltz sendiri adalah salah stau jenis tarian ruangan (ballroom dance) dan tarian rakyat yang cukup populer. Gerakan dasar utama dari waltz adalah putaran penuh dengan dua tahap dengan tiga langkap per tahap. Sejauh yang Raja Robelia ingat, tidak ada wanita yang lebih pandai menari waltz selain pemilik julukan “Dancing Queen”. Setelah pemilik julukan itu resmi meninggalkan Robelia, tidak ada lagi yang dapat menggantikan famour-nya.
Namun, hari ini Raja Robelia menemukan keluwesan yang hampir sama pada teman lama mantan ratunya, yaitu Lady Cyrene Asterya d’Oclean. Lady yang gagal menikah dua kali karena masalah internal yang tidak diketahui dengan jelas oleh khalayak umum. Keluarga d’Oclean sepertinya sengaja menutup rapat setiap alasan yang membuat pernikahan putri kebanggaan mereka.
Padahal usia putri mereka sudah cukup untuk membina rumah tangga. Terlebih lagi, semenjak menjadi debutan, Cyrene Asterya d’Oclean adalah salah satu Lady paling diminati sebagai calon istri pada masanya. Di saat kedua teman dekatnya sudah menikah, ia masih betah menyandang status single. Bahkan tidak keberatan jika dijuluki “perawan tua milik d’Oclean”.
Statusnya yang belum menikah masih menjadi perbicangan hingga saat ini, padahal para pria lajang dari keluarga aristokrat telah banyak mengirimkan lamaran pernikahan. Namun, belum ada satupun pria muda dari keluarga aristokrat yang mampu meluluhkan benteng pertahanan putri kesayangan keluarga d’Oclean.
“Saya tidak bodoh seperti wanita itu,” ujar Lady Cyrene Asterya d’Oclean tiba-tiba.
“Siapa yang kamu maksud?” balas Raja Robelia seraya meningkatkan intensitas kedekatan di antara mereka.
“Tentu saja wanita Anda. Memangnya Anda memiliki berapa wanita sekarang?”
Pertanyaan tersebut berhasil membuat Kaizen menyeringai sangat tipis. “Untuk saat ini hanya satu,” jawabnya kemudian. “Awalnya aku berencana untuk menghidupkan lagi keramaian harem istana. Tetapi, aku sadar bahwa aku tidak mampu mengoleksi terlalu banyak wanita.”
Lady Cyrene Asterya d’Oclean tampak menatap lawan bicaranya lekat. “Saya tahu jika Anda hanya mencintai Kayena.”
“Itu memang kebenarannya.” Kaizen tidak menampik. Toh, ia tahu lawan bicaranya pandai menelisik gerak-gerik.
“Sejak awal saya tidak pernah tertipu, tidak seperti wanita itu.”
“Jadi, apa maumu?” Kaizen balik bertanya ketika iringan musik The Second Waltz mulai mencapai bagian akhir. “Tidakkah lebih baik jika kamu mempertimbangkan tawaranku terlebih dahulu? Aku memang tidak dapat menjanjikan posisi Ratu kepadamu. Tetapi, setelah melahirkan keturunanku, posisi itu bukanlah suatu yang mustahil kamu miliki.”
“…”
“Aku bukan hanya butuh pendamping. Akan tetapi, aku juga butuh calon ibu yang potensial bagi calon pewarisku.”
Lady Cyrene Asterya d’Oclean tampak bimbang dalam ketenangan. “Anda tahu siapa pria yang saya cintai? Pria yang membuat saya melajang selama ini?”
Kali ini Kaizen tanpa sembunyi-sembunyi menunjukkan smirk-nya. “Salah satu tangan kananku?”
“Jika Anda tahu, lantas kenapa Anda tetap memilih saya? Keinginan saya hanya satu, yaitu menikah dengan dia. Sekalipun saya harus melepaskan segalanya, saya rela.”
Kaizen menatap lawan bicaranya lagi. Kali ini lebih lekat dari awal mereka membuat kontak mata. Ia bahkan tidak segan ketika mengikis jarak yang tersisa di antara wajah mereka. “Kalau begitu aku sudah menemukan jawabannya.”
Kalimat tersebut tentu saja membuat Lady Cyrene Asterya d’Oclean kebingungan. Ia memang tidak dapat menolak tawaran Kaizen secara gamblang, karena ayahnya yang telah menyodorkan namanya sebagai calon pendamping Matahari Kekaisaran Robelia. Namun, jika pihak bersangkutan yang menolaknya sendiri, itu akan jauh lebih baik lagi bagi Lady Cyrene Asterya d’Oclean.
“Setelah pesta ini selesai, ikutlah denganku. Priamu saat ini pasti sedang menger*ng kesakitan, karena baru saja menenggak racun tingkat menengah.”
Ketenangan yang dibangun oleh Lady Cyrene Asterya d’Oclean hancur seketika itu pula Tubuhnya hampir saja berhenti menari, padahal mereka sudah berada di bagian akhir. Untungnya Kaizen dengan cepat bereaksi, sehingga bisa membuat lawannya menguasai kembali situasi.
“Apa yang ingin Anda lakukan?” tanya Ladi cantik itu, was-was.
“Percayalah kepadaku. Aku hanya ingin kau membantuku malam ini.” kaizen berkata seraya memasang senyum tulus.
Senyum jenis itu memang sangat jarang diperlihatkan. Bahkan Lady Cyrene Asterya d’Oclean pribadi juga baru pernah melihatnya beberapa kali, itupun ditujukkan pada satu orang, yaitu Courtney dari manor Pexley kesayangan mereka.
“Baik. Saya percaya pada Anda.”
Kaizen semakin memperpanjang durasi senyum tulusnya. “Kalau begitu, pejamkan matamu ketika The Second Waltz selesai dimainkan.”
Lady Cyrene Asterya d’Oclean tampak kebingungan, namun ia tetap mengikuti perintah Kaizen. Ketika alunan musik The Second Waltz selesai dimainkan, ia memejamkan mata sesuai arahan. Setelahnya, ia dapat mendengar tepukan riuh dari para penonton. Bersamaan dengan itu, ia merasakan hembusan napas lawan bicaranya mendera sebagian wajahnya. Itu berarti … jarak wajah di antara mereka sangatlah minim.
Semua orang yang melihat pertunjukkan keduanya langsung dibuat terpana. Bisik-bisik mulai terdengar setelahnya. Sedangkan bagi satu-satunya wanita Raja yang sejak tadi menonton ditemani amaran dan kecemburuan, kakinya langsung dibawa menjauh dari ballroom istana utama. Terlihat sekali jika ia muak besar dengan pertunjukkan yang diprakasai oleh kekasihnya dan teman lama dari mantan istri kekasihnya itu.
Dalam perjalanan meninggalkan ballroom, ia sempat mendengar celetukan seorang Lady yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Dari posisinya, Lady itu tidak menyadari kehadiran Katarina yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
“Kira-kira bagaimana perasaan Selir Katarina, ya?”
“Entahlah. Awalnya saya berpikir jika Selir Katarina tidak akan setuju jika Yang Mulia mencari wanita lain.”
“Tidak setuju bagaimana? Yang Mulia Raja punya hak untuk melakukan tindakan seperti itu. Apalagi jika Selir Katarina tidak dapat memberi keturunan kepada Yang Mulia.”
Dari tempatnya berdiri, Katarina yang menangkap dengan jelas pembicaraan tersebut, berhasil dibuat naik pitam. Kedua tangannya telah terkepal.
“Tiba-tiba aku jadi berpikir,” ujar salah seorang Lady. Kembali membuka obrolan ketika Katarina hendak melabrak mereka. “Apa hari ini Selir Katarina dapat merasakan apa yang dirasakan Ratu Kayena ketika suaminya lebih memilih wanita lain ketimbang istrinya?”
Langkah Katarina tiba-iba tersendat. Mendengar kalimat tersebut meluncur bebas dari mulut seorang Lady. Bahkan, masih ada lanjutan dari kalimat tersebut.
“Ini hanya pertunjukkan dansa bersama calon pendamping baru, bukan seperti Selir Katarina merebut dan memonopoli Yang Mulia. Jika Selir Katarina tidak terima, apakah dia merasa memiliki hak untuk marah? Ratu Kayena yang terlahir sebagai wanita nyaris sempurna saja diduakan. Apalagi dirinya yang hanya mengandalkan tubuh selayaknya courtesan.”
Courtesan? Katarina berteriak di dalam hati. Istilah courtesan tersendiri mengandung arti pelacur atau kekasih gelap berkelas yang melayani masyarakat kelas atas (bangsawan)—sumber : manhwa Bastian.
“Tunggu dan lihat saja. Akan segera aku tunjukkan siapa wanita yang baru saja kalian sebut sebagai courtesan,” tukas Katarina dalam posisinya yang kini berubah. Alih-alih mendekat, ia memilih untuk menjauhi gerombolan Lady yang tengah bergosip itu.
“Pelayan,” panggil Katarina ketika telah tiba di luar istana.
Tak lama setelahnya, para pelayan yang bertugas melayani datang secara tergopoh-gopoh. “Iya, Nona?”
“Siapkan kereta kuda. Aku akan pergi ke suatu tempat,” kata Katarina seraya berjalan meninggalkan ballroom istana utama. Membawa serta rasa kecewa, patah hati, serta benci yang semakin membengkak. “Penghinaan hari ini tidak akan pernah aku lupakan, Yang Mulia.”
💰👑👠
TBC
Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇
Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗
Tanggerang 21-08-23