How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0093. Démêler le fil rouge emmêlé (Mengurai benang merah yang kusut)



0093. Démêler le fil rouge emmêlé (Mengurai benang merah yang kusut)


“Aku dengar kamu sakit. Apa sekarang kondisi mu sudah lebih baik?”


Pemimpin kekaisaran Astoria itu bertanya setelah mengambil posisi duduk di depan penghuni Yeowang-ui bang yang sudah dirindukan semenjak beberapa hari belakangan. Sayang, semenjak neneknya membuat ulah dengan dalih mengundang cinta pertamanya ke jamuan minum teh, ia belum memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Yeowang-ui bang. Kemarin ia mendapatkan informasi bahwa cinta pertamanya seharian tidak keluar dari Yeowang-ui bang. Setelah ditelusuri, wanita cantik itu rupanya kurang enak badan sepulang jalan-jalan di luar istana.


Jelas saja Kaisar Astoria itu langsung mencari waktu luang untuk berkunjung ke Yeowang-ui bang. Ia juga ingin meminta maaf terkait sikap neneknya yang terbilang impulsif. Belakangan ia juga mulai menerima protes dari beberapa pihak, terutama soal perlakuan istimewa yang diberikan pada janda Raja Robelia. Namun, Kaisar Astoria itu tidak mau ambil pusing. Toh, selama ini mereka mendesak dirinya untuk dekat dengan wanita, supaya lekas menikah. Sekarang ia memenuhi keinginan tersebut, tetapi mereka tetap saja tidak merasa puas.


“Apakah aku perlu memanggilkan tabib terbaik di istana untuk memeriksa kondisi mu?”


“Tidak perlu, Yang Mulia.” Tawaran itu ditolak halus oleh janda Raja Robelia. “Kondisi saya sudah baik-baik saja, mungkin kemarin hanya sedikit kelelahan.”


“Kalau begitu, aku akan menyuruh kepala koki istana untuk membuatkan sup ayam dengan ginseng yang bagus bagi daya tahan tubuh.”


“Tidak perlu, Yang Mulia,” tolak janda Raja Robelia itu, untuk ke sekian kalinya.


Sang lawan bicara sampai dibuat terheran-heran dengan hobinya yang suka menolak perlakuan khusus yang hanya ditujukan untuknya. “Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mu?”


“Tidak ada, Yang Mulia.” Wanita cantik itu menjawab dengan sopan. “Untuk saat ini, saya sedang tidak membutuhkan apa-apa. Kecuali, izin dari Yang Mulia.”


“Izin?”


“Benar, Yang Mulia. Saya hendak berjumpa dengan kerabat lama, namun kesulitan mengatasi perizinan, karena ini adalah wilayah kekuasaan Anda. Saya tidak berhak untuk seenaknya mengizinkan orang lain keluar masuk ke Yeowang-ui bang.”


“Memangnya siapa yang ingin kamu jumpai?” tanya Kaisar Kwang Sun, penuh telisik. Bohong jika ia tidak penasaran.


“Seperti yang telah saya ucapkan tadi, saya hendak berjumpa dengan kerabat lama, Yang Mulia. Dulu dia tinggal di Robelia. Akan tetapi, kemarin kita berjumpa di ibu kota Kekaisaran Astoria.”


“Laki-laki atau perempuan?” interogasi Kaisar Kwang Sun, sudah seperti pria yang posesif terhadap pasangannya.


“Laki-laki,” jawab Kayena jujur. “Dulu dia bekerja sebagai penjahit pribadi saya, ketika saya masih tinggal di istana.”


Oke, pria itu tampak mempertimbangkan. Pasalnya setelah mendengar penjelasan Kayena, ia tidak langsung memberikan persetujuan.


“Baiklah. Akan aku berikan dia izin, namun dengan waktu kunjungan yang terbatas.”


Senyum merekah di bibir Kayena. Janda Raja Robelia itu perlu berjumpa lagi dengan Killian guna menyelesaikan rasa penasaran yang ditinggalkan. Mungkin mengobrol dengan Killian juga dapat membuatnya mengurangi sedikit rasa cemas soal kebar sang Pangeran Berkuda Putih.


“Jika terjadi sesuatu pada mu, lekaslah memberitahukannya kepada ku. Selama kamu tinggal di Astoria, keselamatan dan kenyamanan mu adalah tanggung jawab ku.”


Jika wanita lain yang diperlakukan demikian oleh seorang Kaisar, bagaimana jadinya? Seorang Kaisar yang kekuasaannya melebihi seorang Raja, mau menyerahkan diri begitu saja terhadap Kayena. Bahkan tanpa pikir panjang, pria itu siap memberikan gelar Permaisuri bagi Kayena. Sayangnya, hati Kayena sudah menemukan pemilik yang baru. Walaupun belum diklaim secara resmi, calon pemilik hatinya itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan keseriusan. Walaupun tidak seperti sang Kaisar yang memiliki segalanya, pengorbanan pria itu cukup bagi Kayena untuk menjatuhkan pilihan.


Bersamanya, Kayena bisa melihat gambaran hidup bahagia dengan bingkai kehangatan sebuah keluarga dalam kesederhanaan.


Di kehidupan sebelumnya, Kayena telah membuktikan bahwa hidup dengan harta dan tahta saja tidak menjamin bahagia. Jadi, pada kehidupan kali ini ia rela hidup sederhana, jika jaminannya adalah kebahagiaan, kehangatan, serta kebebasan.


“Saya bisa mengurus diri saya sendiri, Yang Mulia. Lagipula saya juga tidak perlu terus mengandalkan Anda untuk perihal yang bersifat remeh. Saya di sini hanya tamu, saya tahu betul bagaimana harus bersikap.”


“Akan tetapi, saya tidak menginginkan itu, Yang Mulia.” Kayena kembali menjawab dengan tegas. “Saya datang ke sini sebagai janda Raja Robelia. Astoria adalah pelarian untuk saya, karena setelah rencana Kakak saya selesai, saya akan kembali ke …” kalimat Kayena tergantung begitu saja, karena ia juga masih kebingungan akan pergi ke mana setelah rencana sang kakak selesai. Kemungkinan besarnya ia akan tinggal di Edinburgh bersama sang kakak, atau menetap di Hygria.


“Apapun keinginan mu, akan aku wujudkan.”


Sekali bebal, tetap bebal. Walaupun telah menunjukkan penolakan, sang Kaisar tetap bebal.


“Sekalipun kamu menolak tawaran menjadi Permaisuri, tetap izinkan aku untuk membuat hari-hari mu selama di Astoria menjadi sangat istimewa.”


“…”


“Kamu tidak melakukan apapun, terima saja semua fasilitas yang aku berikan. Anggap semua itu sebagai rasa terima kasih ku, karena kamu telah terlahir ke dunia.”


Sejatinya, Kayena tidak tahu apa maksud dari Kaisar Kwang Sun melakukan semua itu. Padahal sudah jelas-jelas Kayena tidak dapat menerima perasannya, karena banyak faktor yang membuat Kayena tidak mungkin bisa bersanding dengan Kaisar Kwang Sun. Namun, pria itu tetap tulus memberikan yang terbaik bagi Kayena.


“Seharusnya kamu sudah tahu, apa tujuan ku memanggil kamu. Jadi, jangan bertele-tele. Segera ceritakan apa yang terjadi setelah aku meninggal di kehidupan pertama.”


Siang hari itu pula, Kayena meminta Killian untuk datang ke Yeowang-ui bang. Izin telah ia kantong, jadi ia lekas memanggil Killian untuk melanjutkan pembicaraan soal kehidupan sebelumnya, karena rasanya masih mengganjal ketika pembicaraan tersebut belum mencapai titik akhir.


“Killian. Segera ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi setelah aku meninggal di kehidupan pertama?”


Pria muda yang rupanya baru berusia awal dua puluhan pada kehidupan kali itu tampak menanggapi dengan santai. Setelah meneguk setengah cangkir teh yang disajikan untuknya, baru ia bersiap untuk membuka cerita.


“Pertumpahan darah.”


Singkat, padat, serta jelas. Itu adalah kalimat pembuka sebelum ia melanjutkan cerita.


“Terjadi pertumpahan darah di kerajaan Robelia, dimana pelaku dan korbannya masih orang-orang terdekat Anda. Salah satu contohnya adalah Raja Robelia yang saat ini berkuasa, pada kehidupan sebelumnya harus berupaya keras untuk membunuh keluarganya sendiri demi mengamankan posisi.”


“Tunggu!” Kayena langsung waspada ketika Killian membawa-bawa Raja Robelia. “Maksud kamu, siapa yang dibunuh oleh Raja Robelia yang saat ini berkuasa?”


“Siapa lagi,” jawab Killian dengan bahu terangkat satu kali. “Tentu saja Elang Muda Kekaisaran yang menjadi pemimpin pasukan pemberontakan terhadap Raja Robelia yang saat itu berkuasa.”


“Apa?” kaget Kayena. “Kaezar menjadi pemimpin pasukan pemberontakan?”


“Benar.” Killian menjawab dengan bibir yang tertarik satu sudut. “Elang Muda Kekaisaran juga yang akhirnya memahkotai putra Anda sebagai Raja Robelia berikutnya.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT dulu di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 22-07-23