How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00149. Le vilain petit canard perd l’usage de ses belles pattes (Itik buruk rupa



00149. Le vilain petit canard perd l’usage de ses belles pattes (Itik buruk rupa kehilangan fungsi kaki indahnya)


Kabar soal kepergian mantan Ratu Robelia dari kekaisaran Astoria tiba di telinga Raja Robelia beberapa hari kemudian. Pria yang sedang disibukkan dengan urusan pemberontakan serta pernikahan itu langsung murka begitu utusannya tiba di istana. Hampir saja utusan yang tersisa dihabisi nyawanya, karena kemurkaan sang Raja Robelia yang tidak lagi terbendung. Untung saja Kaelus datang tepat waktu untuk menengahi kemurkaan tersebut. Jika tidak, citra rajanya akan semakin tercoreng.


“Bagaimana bisa kalian kehilangan wanitaku?” bentak Kaizen, King of Robelia ketika Kaelus telah menyelamatkan utusan yang jauh-jauh datang dari kekaisaran Astoria.


“Tenanglah, Yang Mulia. Kita masih mencari solusi untuk melacak keberadaan Nona Kayena.”


“Bagaimana caranya, Kaelus?” bentak Kaizen dengan raut wajah merah. “Aku sudah berkata supaya mereka lebih waspada. Lalu, apa hasilnya? Meraka bekerja dengan kebodohan yang sama.”


Kaelus yang baru saja pulang dari perjalanan panjang menuju London, Harrogate, lalu kembali ke London lagi, baru berlanjut ke Robelia menggunakan perjalanan jalur darat dan perairan tentunya. Untung saja sarana transportasi di Inggris atau Britania Raja sudah jauh lebih maju dari Robelia. Jadi, perjalanan Kaelus bisa dipercepat dengan sarana transportasi darat yang sangat membantu mobilitas warga Inggris. Setibanya di Robelia, ia malah dikejutkan dengan informasi yang dibawa dari kekaisaran Astoria.


Rupanya mantan Ratu Robelia telah meninggalkan kekaisaran tersebut. Tidak diketahui kapan mereka pergi. Namun, ada kesaksian seorang nelayan yang mengatakan sempat melihat dua kapal layar besar datang ke perairan Robelia, sebelum informasi terkait sang ratu menghilang diketahui. Sekarang, tidak ada satu pun saksi yang mengetahui kapan dan pukul berapa mantan ratu Robelia meninggalkan kekaisaran Astoria. Orang-orang suruhan Raja Robelia yang ada di kekaisaran Astoria, semuanya telah dibodohi. Tidak ada satu pun dari mereka yang sadar akan perginya Kayena bersama yang lainnya.


“Jika perlu, saya yang akan turun tangan langsung untuk mencari Nona Kayena.”


Kaizen yang sudah berkacak pinggang dengan buku-buku tangan memerah oleh darah utusannya tampak mendengus kasar. “Lalu bagaimana dengan masalah si pengkhianat Klautviz de Meré? Aku membutuhkan bantuanmu untuk menyelesaikan semua kekacauan di sini!”


Kini giliran Kaelus yang menghela napas. Jika bisa, ia ingin sekali membelah diri seperti amoeba.


“Jika Anda percaya pada saya, Yang Mulia. Tarik semua orang yang diterjunkan untuk mencari Nona Kayena. Kerahkan mereka untuk mencaritahu taktik yang sedang digunakan oleh Klautviz de Meré. Masalah Nona Kayena, saya bisa menjamin bahwa mereka membawanya ke Inggris.” Dengan pikiran tenang dan tetap kristis, Kaelus langsung memberikan solusi terbaik yang telah melintas di kepala. Untuk saat ini, tidak ada yang dapat dipilih Raja Robelia, selain mengikuti sarannya.


“Anda tidak perlu terlalu buru-buru untuk menjemput Nona Kayena, karena masalah yang sedang ditanggung Robelia lebih mengkhawatirkan. Selain itu, Anda juga harus menghargai Nona Claudiane yang akan segera menjadi pendamping Anda.”


Saking larutnya dalam kekalutan dan kemurkaan, Kaizen sampai lupa dengan kedatangan calon tunangan dan calon istrinya, yaitu Claudiane. Wanita itu tiba di Robelia bersama Kaelus dan saat ini tengah menginap di hotel Serenity. Kemungkinan besar, besok atau lusa barulah sosok itu ditempatkan di istana Robelia. Tentunya setelah ia memiliki status resmi sebagai tunangan dari King of Robelia.


“Saya yakin Nona Kayena akan dibawa ke Inggris, lebih tepatnya ke Edinburgh. Sebelum meninggalkan Harrogate, saya sempat mengirim seseorang ke Edinburgh. Rupanya Grand Duke Pexley, maksud saya Tuan Khiev de Pexley juga ada di sana semenjak meninggalkan Robelia. Dengan adanya informasi ini, Anda tidak perlu risau. Kita hanya perlu mengirimkan beberapa mata-mata untuk berjaga di sekitar manor Duke of Edinburgh.”


Kaizen yang mulai tenang, tidak punya pilihan lain selain setuju pada Kaelus. Sejauh ini Kaelus adalah orang paling rasional, bahkan jika dibandingkan dengan penasihat hukum Kerajaan Robelia.


“Lalu bagaimana dengan kondisi wilayah yang diserang oleh organisasi hitam? Apakah Yang Mulia sudah mendapat informasi terbaru.”


“Satu wilayah terluar Robelia sudah berhasil mereka rebut,” jawab Kaizen dengan langkah yang dibawa menuju singgasana miliknya. “Mereka membunuh semua rakyatku di wilayah itu. Si pengkhianat Klautviz bahkan sudah berani mengirim tantangan terbuka kepadaku.”


“Jangan ditanggapi dengan emosi, Yang Mulia. Klautviz de Meré adalah orang yang lebih paham tentang kenegaraan sekaligus medan pertempuran. Selain itu, setelah saya mencari tahu lebih lanjut terkait organisasi hitam, selama ini mereka memang bekerja untuk Klautviz de Meré. Tetapi, mereka selalu bekerja dengan professional. Mereka juga tidak akan membawa-bawa nama Klautviz de Meré jika mereka mendapati situasi darurat. Intinya, Klautviz de Meré selalu bermain aman dan tidak pernah mengotori tangannya sendiri untuk menghabisi setiap musuhnya.”


“Dari dulu hingga sekarang, bajing*n itu memang picik. Pantas saja jika putrinya bisa berbuat lebih gila.”


Kaelus tidak menanggapi lebih lanjut, karena setelah mengintrogasi Katarina, ia mengetahui sudut pandang dari wanita malang itu. Sebenarnya Katarina juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Toh, wanita itu tidak tahu jika dirinya adalah anak haram Klautviz de Meré. Alasan terkuat yang membuat dirinya seperti sekarang adalah rasa cinta yang tumbuh menjadi obsesi. Sehingga ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


“Urus para mata-mata itu, Kaelus. Sebelum aku memenggal kepala mereka karena tidak becus bekerja.”


“Baik, Yang Mulia.”


“Setelah itu bantu aku memilih cincin untuk pertunangan dan pernikahan. Aku sangat tidak berbakat dalam memilih perhiasan untuk wanita.”


“Apalagi saya, Yang Mulia.” Ingin sekali Kaelus berkata seperti itu dengan lantang. Namun, pada akhirnya ia hanya berkata di dalam hatinya. Mana mungkin ia berani bersuara seperti itu. “Baik, Yang mulia. Saya akan mencoba membantu Anda untuk memilih cincin.”


“Bantu pilihkan juga masing-masing dua set perhiasan. Selain Claudiane, aku akan menghadiahkannya pada Lady yang menempati posisi teratas sebagai calon Selir Tingkat I.”


Kali ini Kaelus benar-benar membeku mendengar ucapan sang Raja Robelia. “Maksud Anda apa, Yang Mulia? Anda memiliki calon Selir Tingkat I?”


“Hm. Aku lupa membicarakannya denganmu. Selain Claudiane, aku juga menyimpan beberapa kandidat calon selir. Mereka semua dapat memperkuat posisiku di kerajaan Robelia lewat ekonomi maupun kekuatan militer. Kau tahu sendiri bahwa salah satu kekuatan seorang raja adalah lewat pernikahan politik. Ayahku mungkin tidak mau menerapkan sistem ini, tetapi aku sedang mempertimbangkannya. Selain itu, lewat pernikahan politik, semakin banyak juga peluang untuk memastikan keturunan keluarga kerajaan agar tidak putus.”


Kaelus langsung merasa kepalanya diserang migren mendengar rencana sang Raja Robelia. Membenahi pernikahan pertama serta selirnya saja masih keteteran, sekarang ia malah memiliki pikiran untuk membuat harem istana kembali ramai oleh banyaknya selir Raja Robelia. Kaelus semakin tidak paham dengan pola pikir rajanya.


“Bagaimana, Kaelus? Kau setuju dengan ideku?”


“Saya …” Kaelus tampak ragu-ragu ketika hendak menjawab. Posisinya terselamatkan oleh kehadiran seorang wanita berpakaian pelayan yang datang diantar oleh seorang pengawal.


“Hormat saya Yang Mulia.” Wanita itu langsung menunduk hormat di depan Kaizen dengan kedua tangan terlihat gemetaran.


“Ada apa?” tanya Kaizen dengan kening bertaut. Ia mengenali wanita berseragam pelayan itu sebagai pelayan pribadi yang ia tunjuk untuk mengurusi Katarina di ruang rahasia. Yang menjadi pertanyaan, kenapa ia ada di sini? Bukannya mengurus Katarina.


“Selir Katarina, Yang Mulia.”


“Ada apa dengan Katarina? Apa dia masih belum bangun? Seharusnya dia sudah bangun sejak dua jam yang lalu.”


“Selir Katarina menangis histeris, Yang Mulia.”


Jawaban dari pelayan wanita itu membuat Kaizen semakin kebingungan. Begitu pula dengan Kaelus.


“Maksudmu? Apa yang terjadi dengannya, sampai-sampai dia menangis? Dia bukan wanita yang cengeng.”


Kaizen tentu tidak langsung percaya, karena Katarina memang bukan wanita yang cengeng. Rasanya sulit dipercaya, hanya karema diberi ramuan yang mengandung zat halusinogen, wanita itu bangun-bangun menangis histeris.


“Selir Katarina … tidak bisa merasakan kedua kakinya.”


Kaizen mendadak terpaku mendengar informasi itu. Kaelus juga tidak kalah terkejut.


“Kedua kaki Selir Katarina tidak dapat digerakkan semenjak siuman. Oleh karena itu, Selir Katarina menangis histeris dan memukul-mukul kakinya.”


Setelah mendengar informasi itu hingga selesai, tanpa banyak bicara, Kaizen langsung mengambil langkah lebar untuk kembali ke peraduannya. Berbagai prasangka buruk mulai hingga di kepala, membuat ia mulai berpikiran negatif. Sampai-sampai jantungnya pun berdebar tidak karuan.


“Bagaimana bisa muncul efek kelumpuhan pada organ tubuh seperti ini?” ia bergumam kecil di sepanjang jalan menuju peraduannya.


Tidak jauh di belakangnya, Kaelus juga ikut menyusul Kaizen. Ada yang tidak beres dengan wanita itu, tebak Kaelus. Dilihat dari raut wajah Kaizen, Kaelus yakin seratus persen jika ada yang tidak beres dengan efek samping dari ramuan yang mengandung zat halusinogen.


“Tidak. Tidak mungkin efek samping ramuan itu sampai merenggut fungsi kedua kaki Katarina,” lirih Kaizen ketika tiba di depan pintu yang akan membawanya ke ruang rahasia.


Dengan segenap keyakinan, Kaizen pun masuk ke dalam melewati pintu itu. Suara tangisan langsung menyambut indra pendengarannya. Perasaan Kaizen semakin tidak karuan.


“Katarina,” panggilnya pelan.


Wanita yang duduk dan bersandar di kepala tempat tidur itu mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Gerakan kedua tangannya yang memukul bagian paha hingga lutut pun terhenti seketika itu juga.


“Katakan kepadaku, apa yang sudah terjadi? Apa yang tangan kananmu berikan kepadaku? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku?” berondong wanita itu dengan suara parau. “Katakan sekarang, bajing*n!” serunya kemudian dengan kebencian yang terpatri di bola matanya.


“Katarina, dengarkan aku dulu.”


Kaizen buru-buru mendekat guna menenangkan Katarina. Sedangkan Kaelus tampak terpaku di dekat pintu menuju ruangan lain. Melihat kondisi Katarina, ia langsung merasa bersalah. Bagaimana pun juga ialah yang telah memberikan ramuan itu.


“Tutup mulutmu dan segera berikan aku obat yang dapat mengembalikan fungsi ke-dua kakiku.” Katarina menolak ketika Kaizen meraih kedua tangannya. Air mata kembali berderai di kedua netranya. “Apa tidak cukup kamu membuat aku tidak dapat menjadi seorang ibu? sekarang kamu juga membuatku tidak bisa berjalan,” katanya dengan suara sembilu yang menyakiti hati siapa pun yang mendengarnya.


Isi kepala Kaizen langsung buntu. Ia tidak tahu ada efek fatal seperti ini, karena dari semua bahan herbal telah ia pelajari dan tidak ada bahan herbal yang dapat menimbulkan efek seperti ini, selama digunakan dengan takaran yang tepat. Bohong jika ia merasa tidak bersalah terhadap wanita yang telah menjadi kekasihnya. Bagaimana pun juga ia tidak pernah berniat untuk membuat kedua kakinya kehilangan fungsi.


Katarina menatap Kaizen dengan lekat. Air mata masih mengalir dengan deras. Namun, ada satu yang berbeda dari wajah itu. Sorot matanya yang biasa diselimuti oleh cinta hingga keinginan untuk memiliki Kaizen secara egois. Sorot mata itu sekarang telah berganti dengan kebencian, kemarahan, serta kekecewaan.


“Pulangkan saja aku kepada Ayahku,” ucapnya, di luar perkiraan Kaizen, apalagi Kaelus. “Pulangkan anak haram ini kepada ayahnya, setelah kamu mengembalikan fungsi kedua kakiku.”


“Tidak, tidak.”


Kaizen tentu saja langsung menolak ide tersebut. Memulangkan Katarina dalam kondisi seperti ini bukanlah sebuah solusi. Apalagi jika Klautviz de Meré sampai mengetahui apa yang menimpa putrinya. Ada kemungkinan bahwa kepala Kaizen akan langsung menjadi buruan utama Klautviz de Meré.


“Kamu akan tetap berada di istana. Aku janji akan menyembuhkan kakimu,” ucap Kaizen, sungguh-sungguh.


Kendati demikian, Katarina masih tidak menggubris dan memilih buang muka. Air mata masih terus mengalir di wajahnya, seumpama air yang tidak ada habisnya. Kaizen yang mendapat respon demikian, diam-diam mengepalkan tangannya. Ia tidak pernah menyangka jika akan ada peristiwa seperti ini.


“Nona Katarina, sayalah yang seharusnya disalahkan.”


Kaelus tiba-tiba ikut buka suara. Katarina tidak mau menghadapnya, namun sempat merespon.


“Ya. Kau juga bersalah, karena mengikuti perintah bajing*n ini.”


Kaizen hampir saja lepas kendali, jika tidak harus memaklumi. Kondisi Katarina menjadi seperti ini karena dirinya. Jadi, mau tidak mau, ia harus mengalah untuk saat ini. Jika tidak, ia hanya akan memperkeruh keadaan.


Sekarang, baik Kaizen maupun Kaelus sama-sama terdiam. Mereka serba salah. Terutama Kaelus yang merasa dirinyalah dalang utama yang menyebabkan kondisi Katarina menjadi seperti ini. Kaizen juga merasa bersalah, kebingungan, serta ketakutan. Kondisi Katarina yang tiba-tiba menjadi seperti ini benar-benar di luar prediksi.


“Biarkan aku memeriksa kakimu.”


Katarina tidak bersuara. Ia memilih diam dan terus menitihkan air mata. Kemudian dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, Kaizen mencoba untuk mengecek kondisi kedua kaki Katarina. Disentuhnya salah satu permukaan kaki Katarina.


“Apa … kau tidak merasakan apapun?”


Katarina menoleh, menatap kedua kakinya. Kemudian ia berbicara dengan sorot mata kosong. “Tidak.”


“Kamu sudah berusaha untuk menggerakkan kakimu?”


“Ya, dan aku tidak bisa merasakan kakiku bergerak,” balas Katarina dengan sengit. “Untuk apa kamu terus bertanya jika kamu tidak bisa mengobatinya!”


Kaizen memejamkan mata guna menahan luapan emosi. Ia kemudian berkata dengan penuh penekanan. “Dengar baik-baik, aku akan menyembuhkan kakimu. Aku berjanji.”


“Cepat buktikan jika kamu memang bisa membuat kakiku seperti sedia kala.”


“Aku akan segera membuktikannya,” balas Kaizen. Setelahnya ia mengambil alih tubuh Kayena untuk dibawa keluar dari ruangan rahasia. Mungkin jika kondisinya seperti biasa, Katarina akan senyum kegirangan ketika diperlakukan demikian. Namun, pada saat ini hanya ada raut wajah marah dan muram.


Sepanjang dibawa keluar dari ruang rahasia, bibir Katarina juga terkunci. Suaranya sudah hampir habis, karena ia menangis dan histeris semenjak siuman—sekitar dua lalu. ketika bangun dari tidur yang terasa begitu panjang, kepalanya langsung diserang rasa pusing yang hebat. Langit-langit ruang rahasia tempatnya di kurung bahkan seperti berputar-putar. Tepat pada saat itu, ada seorang pelayan wanita yang membantunya untuk duduk bersandar pada tempat tidur, karena ia merasa aneh dengan bagian bawah tubuhnya.


Dari bagian paha ke bawah, Katarina tidak dapat merasakan fungsi dari kedua kakinya. Padahal ia sudah mengerahkan semua tenaga, tetapi tidak ada gerakan sama sekali. Katarina mulai histeris ketika menyadari ada yang salah dengan kedua kakinya. Ia juga tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya, kecuali ketika tangan kanan Kaizen memberinya ramuan herbal yang memabukkan. Semakin berjalannya waktu, Katarina semakin kalut, sehingga pelayan wanita yang ada bersamanya langsung pergi mencari Kaizen.


“Tunggu sebentar, aku akan mengambil obat untukmu,” ucap Kaizen setelah membaringkan Katarina di tempat tidur miliknya. Ia kemudian bergegas pergi lagi ke ruangan rahasia untuk mengambil obat yang dimaksud.


Tersisa Katarina dan Kaelus yang langsung sigap—mengambilkan segelas air putih untuk Katarina.


“Minumlah air ini.”


“Jangan sok peduli padaku. Aku menjadi seperti ini juga karena kau,” kata Katarina setelah menepis gelas berisi air putih yang diulurkan Kaelus, sampai benda itu jatuh dan pecah pasca bertemu permukaan lantai.


Kaelus hanya bisa menarik napas dalam, kemudian menghembuskan perlahan. Ia kembali mengulangi pekerjaan yang sama, mengambil segelas air putih yang baru untuk Katarina.


“Tenggorokan Anda pasti kering setelah menangis seperti tadi.”


“Apa pedulimu?”


“Saya memang tidak suka dengan Anda. Akan tetapi, saya masih memiliki rasa kemanusiaan sehingga saya peduli pada Anda. Bagaimanapun juga Anda berada dalam kondisi ini karena campur tangan saya.”


“Kenapa kau tidak membunuhku saja?” alih-alih menerima gelas kedua yang diberikan Kaelus, Katarina justru bertanya perihal lain. “Kau bilang tidak menyukaiku.”


“Saya tidak memiliki hak untuk membunuh manusia dengan alasan yang tidak jelas. Dalam hidup saya, golongan manusia yang diperbolehkan untuk dibunuh adalah penjahat dan pengkhianat kerajaan. Anda jelas bukan salah satu dari keduanya.”


Katarina terdiam di tempatnya duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Kaelus ini adalah salah satu robot berwujud manusia yang setia pada tuannya. Katarina benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa ada manusia seperti Kaelus yang mau bekerja bahkan mempertaruhkan nyawa untuk kesetiannya pada Raja.


“Sebenarnya apa yang kau berikan kepadaku? Apa ramuan itu mengandung opium atau racun?”


“Tidak,” balas Kaizen, ragu-ragu. “Dari aroma yang dapat saya kenali, tidak ada kandungan opium di dalamnya. Saya juga sebenarnya kurang tahu ramuan itu terbuat dari bahan-bahan apa saja.”


“Dasar bajing*n licik,” umpat Katarina dengan ke-dua tangan terkepal. “Apa dia belum puas menyakiti aku?”


Kaelus terdiam. Tidak berniat untuk merespon, karena ia merasa itu bukan ranahnya. Sedangkan sang lawan bicara telah kembali menangis tersedu-sedu.


“Apa kau bisa menolongku?” tanya Katarina tiba-tiba, di antara tangisnya.


“Saya tidak bisa.” Kaelus menjawab dengan segera. “Apa pun yang Anda ingin lakukan, sebaiknya tunda saja. Yang Mulia Raja tidak mungkin menyerahkan Anda pada Klautviz de Meré.”


“Lalu untuk apa aku di sini? Dia bahkan berencana mengoleksi banyak selir setelah pernikahannya dengan janda saudaranya sendiri dilangsungkan. Dia sudah puas menikmati tubuhku. Kemudian tega membuatku tidak bisa menjadi seorang ibu. Sekarang kakiku bahkan …” Katarina tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia menangis dengan kedua tangan menutupi wajah. Membiarkan Kaelus menjadi saksi bisu dari puncak kehancuran jiwa dan raganya.


Hilang sudah kesombongan dan keangkuhan Chatarina Kannelite de Meré. Sekarang yang tersisa hanya wanita rusak yang sudah seperti mayat hidup.


“Jika suatu saat nanti Anda mau memperbaiki diri, mengakui semua kejahatan yang telah Anda lakukan, lalu meminta maaf dengan tulus, saya adalah orang pertama yang akan mengulurkan tangan untuk membantu Anda.”


Tangis Katarina mereda. Dengan gerakan perlahan, ia membuat kedua telapak tangannya yang menutupi wajah. “Maksudmu?”


“Tuhan Maha Memaafkan bagi umat-Nya yang sungguh-sungguh ingin bertaubat,” ucap Kaelus seraya memberikan gelas berisi air putih di tangannya pada Katarina. Ada sorot mata yang lebih bersahabat di kedua bola matanya. “Anda seharusnya tahu apa yang harus dilakukan.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Dua hari ini author bakar CRAZY UP. So, jangan lupa support Author 😚😚🫡


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA KEREN SATU INI 👇



Tanggerang 0-08-23