How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
00132. Les alliés commencent à se battre (Sekutu yang mulai beradu)



00132. Les alliés commencent à se battre (Sekutu yang mulai beradu)


“Ayahku pernah berkata; tidak pernah mudah memimpin banyak pasang kepala, tetapi dengan keyakinan, kamu pasti bisa melakukannya.”


Kaelus yang duduk di kursi—tidak jauh dari ranjang tempat Raja Robelia yang sedang bicara berada—tampak menautkan kening.


“Aku sudah membuktikan kebenaran dari perkataan mendiang Ayah, semenjak mahkota Raja Robelia tersemat di kepalaku. Benar-benar tidak mudah mengemban tugas sebagai orang nomer satu di negeri ini. Aku bahkan tetap harus membatasi diri, ketika ingin mencurahkan segalanya pada wanita yang aku cintai.”


Kaelus tidak tahu kenapa, namun belakangan ini Raja Robelia memang “agak” berbeda. Dimulai dari gejala mual dam muntah yang dapat menyerang secara tiba-tiba, hingga perubahan suasana hati yang signifikan. Perubahan lain yang paling mencolok adalah respon sang Raja ketika menghadapi para Senorita atau Senora. Di matanya tergambar dengan jelas rasa tidak nyaman, enggan, hingga jijik, ketika mereka—para wanita—terlalu memberikan kesan berlebihan kepadanya. Entah kemana perginya sang Raja yang memiliki “hasrat” layaknya Raja Rimba di masa kawin.


“Aku banyak belajar dari mendiang Ayah, terutama soal kepemimpinan. Sedangkan dari mendiang Ibuku, aku belajar bagaimana cara menyelamatkan diri serta hal-hal yang aku sayangi, sebelum kemalangan datang menghampiri.”


Kaizen yang sudah merasa lebih baik—daripada semalam—sudah berniat untuk kembali beraktifitas seperti biasa. Ada banyak tugas yang harus dikerjakan. Sebagai pemimpin, ia memiliki kewajiban untuk mengembalikan keseimbangan Robelia, pasca kehilangan Ratu, Pangeran, serta Grand Duke dan keluarganya yang sangat berpengaruh bagi kerajaan Robelia.


“Aku membutuhkan bantuanmu untuk satu hal,” ujar Kaizen kemudian. “Hubungi para Lady yang masuk daftar pertimbangan, tidak terkecuali Lady Cyrene Asterya d’Oclean. Undang mereka ke istana minggu depan. Selain itu, pertimbangkan kandidat paling cocok untuk aku per-istri.”


Kaelus hampir saja tersedak air liur sendiri, karena pada akhirnya mendengar persetujuan Kaizen untuk memiliki pendamping.


“Kali ini aku menginginkan pernikahan palatonik,” tambah Kaizen, meluruskan. “Benar-benar pernikahan palatonik.”


Kaelus mengangguk, walaupun ia sedikit tidak yakin dengan niat sang Raja untuk melakukan pernikahan palatonik—hubungan yang bebas dari nafsu birahi dan cinta. Namun, hubungan semacam itu bisa saja berhasil, selama Raja Robelia masih enggan melakukan Skinship—aktivitas saling bersentuhan—dengan wanita lain, kecuali mantan Ratu Robelia—Kayena de Pexley.


“Lalu nantinya bagaimana dengan masalah keturunan, Yang Mulia?” tanya Kaelus, hati-hati. Topik ini memang selalu terdengar sensitif.


“Melahirkan keturunan memang penting, karena sudah menjadi kewajibanku untuk meneruskan darah keluarga kerajaan. Hanya saja … aku ingin wanita yang melahirkan keturunanku adalah Kayena.”


Sulit. Keinginan tersebut terlalu sulit jika menilik ke belakang maupun ke depan. Kaizen telah menyakiti wanita sebaik Kayena dengan begitu dalam. Di masa depan, sudah tidak ada lagi kemungkinan untuk mereka bersama, karena Kaelus yakin bahwa banyak pria di luar sana yang menginginkan Kayena. Salah satunya adalah Elang Muda Kekaisaran. Sebagai sesama pria, Kaelus bisa melihat ketulusan seorang Kaezar ketika memperjuangkan Kayena. Adik tiri Raja Robelia itu terbilang lebih dewasa dan lebih cocok menjadi suami mantan Ratu Robelia di masa depan.


Sedangkan Kaizen, tidakkah memiliki kesempatan untuk mendapatkan wanitanya lagi? menurut Kaelus pribadi; terlalu sulit. Benteng yang akan melindungi Kayena dari jangkauan Kaizen terlalu tinggi, terjal, serta kokoh. Kesalahan sang Raja sudah teramat fatal.


“Para tetua serta perwakilan bangsawan pasti akan mendesak Anda untuk segera memiliki keturunan setelah memilih pendamping.”


“Itu sudah pasti.” Ada nada frustasi ketika sang Raja berkata demikian. “Aku tahu harus ada pewaris yang dilahirkan. Namun, aku tidak mau pewarisku lahir dari rahim wanita yang tidak aku cintai. Aku tidak mau membuat wanita selain Kayena mengandung benihku. Aku takut … mengulangi kesalahan mendiang Ayahku,” lirih Kaizen di akhir kalimat.


Ada jeda yang diambil cukup lama oleh Raja Robelia. Jeda tersebut menandakan bahwa ada suatu hal yang masih bergulat dalam pikiran. Berkaca pada kalimat terakhir sang Raja, Kaelus dapat menyimpulkan alasan kenapa Rajanya tidak mau wanita lain mengandung pewarisnya, karena tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.


Kelahiran pangeran dari dua wanita Raja biasanya mengundang intrik; perebutan tahta dan sebagainya. Namun, dalam kasus ini, Raja Robelia tidak memiliki dua wanita seperti mendiang ayahnya. Ia hanya akan memiliki satu wanita untuk mengandung penerusnya, namun ia tetap bersikukuh pada niat awal.


Hanya Kayena yang dapat mengandung benihnya, padahal Kayena sudah tidak dapat ia jangkau. Adapun Katarina, citra wanita itu sesungguhnya hanya pemuas nafsu bagi Kaizen. Ia sejak awal tidak berniat untuk memberikan hatinya, apalagi sebagian dari dirinya—benihnya.


“Jika Yang Mulia benar-benar membutuhkan saran, tolong pertimbangkan saran saya dengan baik.” Kaelus berkata. Menyingkirkan keheningan yang sempat berkuasa. “Jika dalam kurun waktu tertentu Yang Mulia tidak dapat membawa Nona Kayena kembali, maka jangan ragu untuk mempercayakan keturunan Anda pada wanita lain. Selain Nona Kayena, masih banyak wanita baik-baik dari keluarga bangsawan yang siap menjadi ibu dari penerus Anda.”


“Saya tahu Yang Mulia hanya mencintai Nona Kayena. Namun, tugas Yang Mulia terhadap kerajaan Robelia juga harus dipertimbangkan dengan baik. Kehadiran seorang Pangeran sebagai penerus, dapat menjamin keberlangsungan keluarga kerajaan Robelia.”


Kaizen masih terdiam. Tampak meresapi setiap kalimat yang keluar dari mulut orang nomer satu yang sekarang ia percayai.


“Memiliki keturunan tidak harus melibatkan perasaan,” tambah Kaelus. “Namun, ada satu hal yang perlu Yang Mulia ingat. Seorang anak tidak dapat memilih dari orang tua mana ia akan terlahir. Namun, Anda dapat memilih; wanita mana yang cocok untuk dijadikan pendamping serta ibu dari calon penerus Anda.”


Kaelus kemudian beranjak—berdiri dari tempat duduknya. Sekali lagi, ia memberikan peringatan lewat sebuah contoh. “Mendiang Raja Klein tidak pernah mencintai wanita lain, selain mendiang Ratu Carlein. Namun, beliau tetap mencintai dan menyayangi darah dagingnya yang dilahirkan oleh wanita lain.”


Kaelus tahu bahwa role model Raja Robelia yang saat ini berkuasa adalah mendiang ayahnya sendiri. Oleh karena itu, sejak kecil ia sudah berusaha untuk menjadi anak yang paling menonjol, supaya dapat membanggakan kedua orang tuanya. Di sisi lain, mendiang Raja Robelia—Raja Klein—tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang terhadap kedua putranya, apalagi mengingat Kaezar yang tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ibu.


“Aku paham, Kael.”


Kaelus tersenyum tipis. Lega rasanya jika sang Raja paham dengan apa yang ia maksud.


“Untuk saat ini, bantu aku memilih calon pendamping paling potensial. Lewat pernikahan politik ini, kita harus mendapatkan keuntungan berlipat ganda.”


“Baik, Yang Mulia.”


“Selain itu, tolong awasi gerak-gerik Katarina. Ada yang salah dengan wanita itu.”


Kaelus kembali mengangguk. Tanpa diminta pun, ia akan mengawasi gerak-gerik satu-satunya wanita Raja yang saat ini berada di harem istana. Beberapa minggu lagi, wanita itu akan kedatangan pesaing yang tidak kalah potensial dari mantan Ratu Robelia. Minusnya tidak dapat memiliki hati sang Raja. Kendati demikian, jika wanita lain dapat mengandung keturunan Raja, di saat Katarina tidak mendapatkan kesempatan yang sama, wanita itu pasti tidak akan tinggal diam. Di saat itulah Kaelus udah seharusnya bekerja.


“Kemarin malam, siapa yang keluar-masuk dari peraduan Raja sebelum saya?” tanya Kaelus pada rekannya, pasca pamit undur diri dari peraduan Kaizen.


“Selir tingkat IV, Kapten.”


Tanpa banyak kata, Kaelus kemudian mengangguk paham. Ia tidak salah menduga ketika menyadari kehadiran orang lain kemarin malam. Rupanya pemilik julukan “itik buruk rupa”, “rubah betina”, hingga “benalu” itu telah menguping pembicaraan.


Selesai menjalankan tugas dari Kaizen—mengundang para Lady untuk datang ke istana minggu depan—langsung saja ia pergi ke ruang arsip untuk mencaritahu informasi lebih lanjut mengenai Dokter Christoper. Namanya terdengar tidak asing, namun Kaelus awam dengan wajah dari pemilik nama tersebut.


“Ahli obat terbaik dari Akademi Kedokteran Robelia?” Kaelus hampir tidak percaya dengan informasi yang tersimpan di ruang arsip tentang Dokter Christoper.


Setelah dibaca lebih lanjut, pemilik nama lengkap Dokter Christoper von Dyssel itu tercatat pernah menjadi dokter magang di kediaman mendiang Ratu Carlein Meidia Kadheston. Ia juga tercatat pernah menjadi dokter kerajaan yang menangani masalah kesehatan mantan Ratu Sebelumnya, yaitu Kayena de Pexley.


Dokter Christoper von Dyssel mempelajari pengobatan sejak kecil, kemudian fokus pada penelitian penyakit dalam serta meracik obat-obatan dari berbagai jenis tanaman herbal. Namun, riwayat hitup dokter terbaik dari Akademi Kedokteran Robelia itu hanya sampai di sana. Tidak ada informasi lain yang dimuat, setelah Dokter Christoper von Dyssel memutuskan untuk ke luar dari tim medis kerajaan Robelia, kemudian pergi mengembara sebagai Ahli Obat yang haus akan pengetahuan.


“Seorang jenius di bidang pengobatan … bersekutu dengan Klautviz de Meré? Jangan-jangan, kematian mendiang Ratu Carlein dan Putra Mahkota Carcel ada hubungannya dengan orang ini?”


Entah kenapa, tiba-tiba saja Kaelus berpikir ke arah sana. Mengingat sang ahli obat terbaik di Robelia sudah ada di istana ketika mendiang Ratu Carlein dan Putra Mahkota Carcel meregang nyawa. Kematian keduanya bisa dibilang janggal. Namun, hingga saat ini belum ada yang dapat mengungkapkan alasan sebenarnya yang mendasari kematian mereka. Jika disebabkan oleh zat beracun, maka seharusnya mudah dikuak, karena ada ahli obat terbaik pada saat itu.


“Kaelus.”


Pemilik nama tersebut menegang di tempatnya berdiri, ketika mendengar namanya dipanggil dari belakang.


“Sedang apa kau di sini?”


Kaelus langsung berbalik, kemudian membungkuk—memberikan hormat pada lawan bicaranya. “Hormat saya, Yang Mulia. Ada beberapa informasi yang sedang saya cari di tempat ini. Yang Mulia sendiri, sedang apa di tempat ini?”


Tumben, batin Kaelus. Jika membutuhkan arsip atau dokumen penting, biasanya sang Raja tidak perlu jauh-jauh datang kesini. Seseorang bisa diperintahkan untuk mengambil arsip atau dokumen yang dibutuhkan.


“Informasi apa yang kau cari?” tanya Kaizen dengan tangan terlipat di depan dada. Melihat tangan kanannya tampak seperti pencuri yang tertangkap basah, membuatnya penasaran.


“Dokter Christoper von Dyssel.” Kaelus memutuskan untuk jujur. Raja Robelia nyatanya tidak mudah dibohongi. Jadi, ia memutuskan untuk bicara secara terbuka. “Saya menaruh curiga kepada Dokter Christoper von Dyssel yang sudah lama menghilang, tiba-tiba muncul di peraduan Selir Katarina. Dia pernah terbukti berinteraksi dengan organisasi hitam yang menguasai sebagian wilayah seberang perbatasan.”


“Christoper von Dyssel, mantan murid dari Guru Besarku,” ujar Kaizen tiba-tiba. “Dia adalah seniorku di akademi alchemist.”


Bohong jika Kaelus tidak terkejut. Rupanya Raja Robelia cukup mengenal Dokter Christoper von Dyssel.


“Aku juga sempat curiga padanya ketika Ibuku ditemukan meninggal secara tidak wajar. Namun, karena kekurangan bukti dan saksi, Christoper von Dyssel lolos begitu saja dari investigasi.” Kaizen melangkah lagi, mendekati Kaelus. Setiap bicara soal orang tuanya, ada aura suram yang tercermin di kedua matanya. “Kau mengetahui sesuatu tentang Katarina?”


Kaelus mengangguk ragu-ragu. “Menurut saya, Selir Katarina mendengar semua pembicaraan kemarin malam.”


Kaizen tidak memberikan respon atas ucapan Kaelus. Namun, ada helaan napas yang terdengar lebih berat dari biasanya. “Jika sudah seperti ini, aku harus lebih berhati-hati menghadapi rubah betina itu. Dia pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya. Terlebih lagi ada indikasi jika dia menjalin kerjasama dengan Paman Klautviz.”


“Saya juga sedang menyelidikinya, Yang Mulia. Walaupun belum terbukti, saya meyakini bahwa Dokter Christoper von Dyssel ada hubungannya dengan paman Anda.”


Kaizen berbalik badan, menatap langsung ke arah tangan kanannya. “Jangan membawa dirimu ke dalam bahaya, Kael. Biarkan aku mengirim kaki-tangan ku yang lain untuk menyelidiki hubungan mereka. Lebih baik kau tetap bekerja di sisiku. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk dipercayai, selai kau.”


Tertegun. Itulah respon Kaelus ketika mendengar ungkapan hati sang Raja. Rupanya, ia masih begitu dipercayai.


“Saya akan baik-baik saja, Yang Mulia.” Kaelus tersenyum kecil seraya menunduk hormat. “Selagi saya bisa mengurus semuanya sendiri, saya yang akan pergi.”


“Baiklah, keras kepala,” setuju Kaizen. “Tetapi aku tidak mengizinkan kau meninggalkan istana. Bekerjalah dari sini. Semua akses akan aku berikan untuk mempermudah pencarianmu.”


“Terima kasih, Yang Mulia. Saya pasti tidak akan mengecewakan Anda.” Kaelus berkata seraya menyimpan kepalan tangan di depan dada—tanda jika ia berjanji dengan segenap hati. Ia memang tidak pernah setengah-setengah ketika bekerja pada tuannya.


“Aku juga memiliki satu tugas tambahan untuk mu.” Kaizen kembali berkata pasca ia membuka pintu rahasia yang tersembunyi di balik rak-rak arsip serta dokumen. “Kirimkan undangan rahasia pada Duke, Archduke, Marques, Earl, Viscount, dan Baron yang namanya telah aku catat. Jika benar rubah betina itu bekerjasama dengan Paman Klautviz, aku harus mendapatkan lebih banyak dukungan serta perlindungan dari kalangan bangsawan. Kali ini, kembalinya Paman Klautviz pasti masih ada hubungannya dengan topik lama.”


Kaizen berjalan masuk ke dalam ruangan di balik pintu rahasia tersebut, diikuti oleh Kaelus.


“Kau juga harus mencaritahu tentang …” ada jeda yang diambil ketika pintu berhasil ditutup. Bersamaan dengan itu, Kaelus menekan saklar yang langsung membuat lampu-lampu di dalam ruangan menyala. “ …anak haram Paman Klautviz. Dari yang aku ketahui, Paman Klautviz memiliki sepasang anak kembar dari hubungan terlarangnya dengan seorang pelac*r.”


Kaelus kembali dibuat terkejut dengan fakta yang baru saja ia ketahui. Rupanya, selama ini banyak kebenaran yang terkubur bersama dengan meninggalnya para oknum yang bersangkutan.


“Anak-anak haram yang mewarisi darah kaum rendahan itu akan digunakan untuk menyingkirkan Kaezar dan aku dari garis keturunan keluarga kerajaan yang sah.” Sembari melanjutkan langkah, Kaizen kembali bersuara. “Temukan mereka. Kemudian bawa ke hadapanku. Aku ingin melihat tampang para anak haram yang dipersiapkan untuk memuluskan rencana ayah mereka yang tidak tahu diri. Aku sendiri yang akan memberikan mereka hukuman.”


💰👑👠


TBC


Gimana readers setelah baca bab ini 🤧 Masih mau lanjut? Spam komentar NEXT di sini 👇


Jangan lupa like, vote tiap hari SENIN, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 15-08-23