How To Divorce My Husband

How To Divorce My Husband
0038. Une Nuit Pleine D’intrigues et De Luxure (Malam penuh Intrik & Nafsu)



Warning : bab ini sangat abjsdtkllvsjk 😵 diharapkan untuk stok kesabaran ekstra. Jangan lupa dukungannya 😘


0038. Une Nuit Pleine D’intrigues et De Luxure (Malam penuh Intrik & Nafsu)


“Sebenarnya apa pria itu pikirkan ketika memilih pakaian ini?” gerutuan itu berasal dari wanita cantik yang tengah menatap keseluruhan tubuhnya di hadapan sebuah cermin.


Benda tersebut menggambarkan penampilannya malam ini yang terlihat sangat cantik juga … sexy. Mengingat tubuh idealnya dibalut sleep wear night vintage dress berwarna putih yang dibuat dari kain terbaik. Namun, tidak dapat menutupi seluruh tubuhnya dengan sempurna.



Pakaian tersebut diberikan oleh sang suami—yang akan segera diceraikan. Rasanya agak aneh, ketika pria itu mengirimkan sleep wear night vintage dress model seperti itu. Padahal biasanya ia menggunakan vintage nightgown sederhana untuk tidur, bukan sleep wear night vintage dress yang saat ini ia kenakan. Yang penting nyaman digunakan ketika hendak terlelap.



...(Vintage nightgown Kayena)...


“Anda pasti membutuhkan ini, Yang Mulia?”


“Tentu saja,” jawab Kayena. Membuat Kima tersenyum tipis seraya membantu Ratunya menggunakan jubah berbulu cukup tebal untuk melindungi tubuhnya.


“Apa … seharusnya aku tidak menggunakan pakaikan ini?”


“Yang Mulia pasti akan merasa tersinggung jika Anda tidak menggunakannya,” kata Kima. “Lagipula saya yakin jika Anda bisa menjaga diri dari Yang Mulia.”


Kayena terdiam, kemudian mengangguk tipis. Ia dengar dokter kerajaan sore tadi datang untuk memeriksa Kaizen. Pria itu pasti melakukan pemeriksaan rutin pasca menerima Low blow dari Kayena. Entah apa yang akan pria itu berikan malam ini sebagai bentuk “hukuman” yang belum terselesaikan. Pemberian sleep wear night vintage dress itu tak lantas membuat Kayena berpikir jika Kaizen akan berbuat macam-macam, karena pria itu bisa saja berbuat macam-macam kapan saja. Lagipula hari ini penuh dengan kejanggalan.


Kejanggalan berikutnya adalah ketika para pelayan Kayena dilarang ikut mengantar Kayena ke istana Raja. Hanya empat prajurit dari kediaman Raja yang menjemput, kemudian mengantarkan ke istana Raja.


“Kenapa kita melewati jalan ini?” tanya Kayena, ketika rute yang diambil empat prajurit dari kediaman Raja itu jalan memutar.


“Yang Mulia Raja menunggu Anda di rumah Kaca,” kata salah satu dari empat prajurit tersebut.


“Rumah Kaca?” bingung Kayena. Pasalnya semenjak insiden “ketahuan” berbuat asusila di tempat tersebut bersama Katarina, Kaizen tidak pernah lagi menginjakkan kaki di sana. Semua itu dilakukan Kaizen karena merasa bersalah telah menodai tempat yang dianggap sangat berharga oleh istrinya.


“Kalian pikir aku percaya?” Kayena menghentikan langkahnya. Membuat keempat prajurit itu ikut terdiam. Saat ini posisi mereka sudah jauh dari jalan utama menuju istana Raja, maupun istana Ratu. “Siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini?” tanya Kayena to the point.


Kontan, empat prajurit itu langsung terdiam. Jelas sekali keterkejutan tergambar di wajah mereka.


“Yang Mulia, kami …”


“Katakan, kemudian aku akan menganggap penghianatan ini berakhir sampai di sini!” tekan Kayena pada mereka. Ia tampak menunjukkan aura intimidasi yang berhasil mendominasi.


“Kami hanya menjalankan perintah,” sahut salah satu dari keempat prajurit tersebut. Ia bahkan lancang mencengkram pergelangan tangan Kayena agar tidak melarikan diri.


“Berani sekali kau menyentuh Ratu negeri ini!” Kayena tak segan-segan menyentakkan cengkraman tersebut.


Walaupun ia akan segera bercerai, namun sebagai seorang istri serta Ratu negeri ini, ia masih harus menjaga harkat serta martabatnya sebagai wanita terhormat. Tidak dibenarkan bagi seorang pria dengan sengaja menyentuh Senora yang jelas-jelas merupakan wanita terhormat serta istri dari seorang pemimpin negeri.


“Kalian lupa siapa aku?” tanya Kayena dengan raut wajah yang sudah mengeras. Empat prajurit itu mulai terlihat gentar. Mereka mungkin sadar jika perbuatan mereka salah, namun di sisi lain ada alasan yang membuat mereka harus melakukan perbuatan tersebut.


Saat ini posisi Kayena sedang diawasi oleh mereka berempat, jauh dari istana Raja dan Ratu. Namun, cukup dekat dengan rumah kaca. Kayena bisa berlindung di tempat tersebut, jika berhasil kabur dari mereka berempat. Walaupun berkata akan membawanya ke rumah kaca, kayena tak lantas percaya. Mereka bisa saja berbohong, membuatnya jauh dari lalu-lalang penjaga supaya bisa menghilangkan kesadaran, atau bahkan menghilangkan nyawanya.


Sekelebat bayangan ketika disandera oleh para perampok tiba-tiba muncul. Tubuh kayena kontak terdiam. Sampai sebuah suara berhasil membuatnya tersentak.


“Pergilah, Yang Mulia. Mereka biar saya yang urus!”


Kejadian itu terjadi sangat cepat, ketika salah satu dari empat prajurit itu menebas satu rekannya hingga tewas di tempat. Membuat dua prajurit lain langsung bersiaga, mengeluarkan senjata serta memasang kuda-kuda.


“Penghianat! Kau lupa apa yang kita pertaruhkan demi tugas ini?!”


Mereka mulai berdebat dengan sengit. Kayena sendiri dibuat semakin bingung, karena tiba-tiba salah satu prajurit itu membelot dan memilih melindungi dirinya. Apa maksud dari semua ini?


“Lari, Yang Mulia. Hanya ini yang dapat saya lakukan!” ujar prajurit yang membelot—mengkhianati kawan-kawannya demi membela Kayena.


Entah apa yang telah Kayena lakukan di masa lalu, sampai-sampai sosok yang diperintahkan untuk berbuat jahat padanya mengurungkan niat secara tiba-tiba. Sekarang sosok itu bahkan rela mempertaruhkan nyawa demi menolong Kayena. Perkelahian tak dapat lagi terhindarkan. Walaupun belum sepenuhnya dapat mencerna situasi, Kayena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia berlari, meninggalkan mereka yang terlibat perkelahian sengit.


Tujuan Kayena adalah rumah kaca, tempat dimana ia bisa berlindung dengan segera. Di tempat itu juga ada terowongan rahasia yang hanya diketahui oleh para Raja dan Ratu Robelia. Jalan rahasia yang akan membawa mereka ke tempat peristirahatan masing-masing.


Kayena akan menggunakan terowongan tersebut untuk menuju kediaman Raja. Ada yang perlu ia tanyakan pada pria itu, terkait peristiwa yang baru saja terjadi.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba prajurit Kaizen berkhianat. Apa tujuan mereka?” batin Kayena di dalam hati.


💰👑👠


“Suasananya sudah sangat mendukung,” komentar pria rupawan yang tengah menyesap sedikit red wine dalam gelas bertangkai. Ia baru saja selesai berendam dengan air hangat yang telah dicampur dengan esensial oil, sehingga tubuh tegapnya yang saat ini hanya dilindungi jubah mandi lebih segar dan wangi.


Dalam ketenangan serta aroma harum dari lilin aroma terapi yang menyala di beberapa sudut ruangan, ia menunggu istri cantiknya. Membayangkan wanita itu hadir dengan sleep wear night vintage dress berwarna putih yang ia pilih sendiri, berhasil membuat hormon endorphin—hormon yang bertanggung jawab atas rasa senang—dalam tubuh meningkat pesat. Wanitanya pasti cantik sekali. Oleh karena itu, malam ini rencana yang telah ia susun matang-matang tidak boleh gagal lagi.


“Wine dari Berry Bros memang cocok untuk menemani malam istimewa kami,” katanya seraya menghabiskan sisi red wine yang ada dalam gelas. Wine yang didapatkan dari pemasok wine segar semenjak masa pemerintahan Raja George III, tahun 1760 di United Kingdom.


Kaizen telah memerintahkan prajurit untuk menjemput sang istri, namun sampai saat ini wanita itu belum juga muncul. Apa jangan-jangan wanita itu menolak untuk hadir? Kenapa juga ia baru terpikirkan. Baru saja hendak beranjak, tiba-tiba ada jemari lentik yang melewati kedua sisi tubuhnya. Membuat tautan tepat di pinggang liatnya, sehingga tubuh mereka bertemu tanpa jarak yang berarti.


Kaizen yang sedang berdiri membelakangi pintu masuk kontan terdiam. Indra penciuman serta perabanya mulai bekerja. Menerka-nerka apakah benar tindakan inisiatif yang cenderung agresif itu berasal dari istrinya? kenapa juga ia tidak menyadari kehadirannya? Apa karena ia terlalu larut dalam lamunan?


Ketika indra peraba menemukan kulit halus, kenyal, serta sehat terawat yang melingkari pinggangnya, ia belum juga menemukan sebuah jawaban. Sampai kemudian indra penciumannya menemukan aroma lembut dari jenis bunga yang sangat familiar; yaitu mawar. Barulah ia sadar jika pemilik sepasang tangan dengan jemari lentik itu bukan istrinya, melainkan kekasih hatinya.


“Sedang apa kau di sini, Katarina?” tanyanya dengan segera melepaskan diri. Menciptakan jarak agar bisa menatap pemilik nama tersebut. “Bukan kau yang seharusnya ada di sini malam ini,” katanya, to the point.


“Malam ini diperuntukkan khusus bagi Kayena,” potong Kaizen. “Apa perlu aku membuatmu lebih mengerti dari ini?”


“Malam ini Yang Mulia Ratu tidak akan datang ke sini.” Katarina berkata dengan percaya diri. Ia datang dengan sleep wear night vintage dress berwarna merah yang kontras di kulitnya yang putih.


“Kau bercanda? Memangnya sejak kapan Kayena berani menolak perintahku?”


“Apa Anda masih belum sadar, Yang Mulia?” Katarina bertanya seraya mengigit bibirnya yang dipoles perona berwana merah dengan gerakan sensual. “Ratu telah berubah. Buktinya dia dengan gamblang menginginkan perceraian, kemudian terang-terangan menunjukkan kedekatan bersama Pangeran Kaezar.”


“Hentikan omong kosong mu, Katarina. Ratu hanya sedang bermain tarik-ulur demi menarik perhatian ku,” bantah Kaizen.


“Lalu … permainan tarik-ulur itu berhasil mengelabui Anda?” Katarina tersenyum miring. “Jika Anda tahu Ratu sedang bermain Tarik-ulur, lalu kenapa Anda meladeni permainannya? Apa karena Anda kembali menyadari perasaan Anda?”


“Katarina …”


“Kenapa? Saya hanya perlu jawaban Anda!” seru Katarina, emosi. Ia hanya ingin tahu kenapa Kaizen akhir-kahir ini tertarik pada Kayena. Padahal pria itu beranggapan bahwa perubahan sikap Kayena adalah bentuk dari trik Tarik-ulur. Bukannya bersikap abai dan acuh seperti biasa, Kaizen malah meladeni trik murahan Kayena. Bagaimana Katarina bisa percaya?


“Dengar Katarina, kau tetap menempati posisi istimewa di hatiku,” bujuk Kaizen.


Namun, bukan itu yang Katarina inginkan. Bukan hanya menginginkan posisi istimewa di hati Kaizen, tetapi ia juga ingin menjadi satu-satunya. Hati pria itu harus dimonopoli serta dikuasai oleh dirinya sendiri.


“Tetapi saya tidak rela jika malam ini Anda habiskan bersama Ratu.” Katarina mendekat, kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Kaizen. “Saya cemburu!” jujurnya. “Saya cemburu melihat perhatian Anda terbagi.”


Kaizen menatap wanitanya dalam diam. Jadi, alasan Katarina berbuat sejauh ini karena cemburu? kekanakan sekali.


Kaizen sebenarnya hanya tidak suka fakta jika Kayena tiba-tiba berubah dan menginginkan perceraian. Oleh karena itu, ia gencar mendekati Kayena, agar calon ibu paling potensial untuk melahirkan pewarisnya tidak pergi kemana-mana. Namun, ia melupakan Katarina dengan sifat kekanakan serta sifat posesifnya yang akut.


“Katarina, dengar. Malam ini …”


“Anda milik saya,” potong Katarina. Detik berikutnya ia meriah tengkuk belakang Kaizen agar semakin merunduk, kemudian ia membungkam pria itu dengan ciuman.


Kaizen tentu saja terkejut. Walaupun Katarina yang berinisiatif, namun Kaizen tetap tidak suka. Mengingat situasi serta kondisi saat ini tidak sesuai. Ia sedang menunggu Kayena, sedangkan Katarina tiba-tiba datang dengan sifat keras kepalanya. Kendati demikian, respon tubuhnya mencerminkan sebaliknya. Kaizen juga tidak tahu kenapa tiba-tiba tubuhnya panas dan bergairah. Seolah-olah ciuman Katarina memantik nafsu dan gairah.


Selagi masih memiliki kesadaran, Kaizen pun segera mendorong Katarina agar tautan bibir mereka terlepas.


“Pergi dari sini, Katarina. Sebelum aku menyeret mu keluar!” perintahnya dengan tangan mengusap bibir, kasar. Seolah-olah menghapus jejak kemahiran bibir selirnya.


“Kenapa, Yang Mulia? bukan kah Anda juga menginginkan saya?” Katarina masih tak gentar. Ia bahkan telah bersiap untuk menelanjangi diri sendiri.


“Katarina!” sentak Kaizen. Tubuh serta pikirannya mulai tidak sejalan.


Kaizen juga sadar jika ada yang aneh dengan reaksi tubuhnya yang berlebihan, sedangkan pikirannya masih menolak dengan keras. Apa yang ia butuhkan dan inginkan adalah Kayena, bukan Katarina.


“Pergi dari sini sekarang juga, sebelum aku murka,” tekan Kaizen dengan sorot mata tajam yang siap membuat lawan bicaranya menciut kapan saja.


Ditolak bukan sekali atau dua kali, Katarina menyadari jika ia telah gagal lagi. Padahal ia sangat yakin jika Kaizen juga menginginkannya. Jika berhasil melabuhkan satu ciuman lagi, pria itu pasti luluh. Toh, Kayena juga tidak akan pernah datang kesini.


“Sekali lagi kau berbuat semena-mena, kedepannya jangan harap bisa tinggal di istana,” ancam Kaizen. Seolah-olah bisa membaca pikiran selirnya. “Pergilah sebelum aku membuatmu menyesal.”


Ternyata, ancaman itu berhasil membuat Katarina gentar. “Yang Mulia …”


“Pergi, Katarina!”


Tubuh Katarina berjengit kaget mendengar bentakan Kaizen. Baru pertama kali ini pria itu membentaknya dengan nada tinggi. Hancur sudah kepercayaan diri yang ia miliki. Maka satu-satunya jalan yang dapat ia pilih adalah melarikan diri, meninggalkan pria tersebut dengan sesak yang merajalela di dalam dada.


Sepeninggalan Katarina, Kaizen memilih mendudukkan dirinya di bibir tempat tidur. Napasnya memburu. Jantungnya bertalu-talu. Reaksi berlebihan yang timbul dalam tubuhnya semakin menjadi-jadi. Entah apa sebabnya. Apa mungkin karena ciuman Katarina?


Tubuhnya bisa bereaksi berlebihan seperti ini jika bersama Kayena. Mengingat belakangan ini ia membatasi diri dari Katarina. Lantas kenapa sekarang tubuhnya bergairah? Apa ia salah makan atau minum?


Tubuh yang kian bergairah membuatnya semakin frustasi. Apalagi saat ini ia seorang diri. Ditemani suasana hati yang buruk. Semakin lama bukannya semakin membaik, tubuhnya malah semakin bergairah.


Coba saja tadi ia tidak mengusir Katarina, mungkin wanita itu bisa sedikit membantu. Namun, wanita itu juga telah lancang membuat suasana hatinya kacau karena bicara sembarang tentang Kayena. Akan tetapi, hingga saat ini Kayena tak kunjung datang. Apa benar … wanita itu tidak akan datang?


Semakin dipikirkan, semakin buruk pula suasana hatinya. Semakin tersiksa juga tubuhnya oleh gairah yang tiba-tiba melonjak pesat.


“Pers*tan, Katarina. Jika kau kembali lagi, aku akan menghabisi mu di ranjang ku!” geram Kaizen dengan suara serak menahan gairah. Sorot matanya sudah tampak sayu di bawah temaramnya cahaya lilin.


Biarlah ia dibilang menjilat ludah sendiri. Jika Katarina kembali, mereka akan berc*nta habis-habisan malam ini. Masalah Kayena akan ia urus belakangan. Wanita itu sepertinya tidak bisa diberi peringatan secara baik-baik.


“Yang Mulia …”


Ketika tubuhnya bergairah, bukan hanya indra perasa yang menjadi sensitif, indra pendengarannya pun jadi berkali-kali lipat lebih sensitif. Maka, ketika menangkap suara lembut tersebut, diiringi dengan langkah kaki yang terdengar sangat dekat, Kaizen yang sudah tidak dapat menahan diri langsung berbalik dan menyerang si pemilik suara dengan ciuman ganas. Ia menyadari adanya penolakan, namun tak menggubris sama sekali. Insting berburunya telah lepas dan mengambil alih.


Jika sudah demikian, jangan harap ia akan bermain lembut dengan buruannya.


“Malam ini aku akan membuatmu kelelahan berc*nta, Katarina.”


💰👑👠


TBC


Gimana perasaan readers setelah baca bab ini? jujur, Author nulisnya sambil nahan pas di bagian akhir 😤 kira² itu yang datang siapa? Katarina atau Kayena?


Semoga suka 😘 Maaf belum bisa daily update apalagi crazy up 🥲. Jangan lupa like, vote, tabur bunga tau secangkir kopi, rate bintang 5 🌟 komentar, dan follow Author Kaka Shan + IG Karisma022 🤗


Tanggerang 19-05-23